25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png


Fiqhislam.com - Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (Bakomubin) mengelar Musyawarah Nasional (Munas) II di Grand Cemara Hotel, Jakarta pada Jumat (16/12), malam. Di dalam munas tersebut, Bakomubin membahas berbagai program kerja, salah satu yang menjadi topik pembahasan adalah anggaran untuk para penyebar agama.

Ketua Bakomubin, Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, Bakomubin sudah berdiri selama 20 tahun. Organisasi yang mewadahi para mubaligh ini mulai bergerak lagi pada 2012. Bakomubin disambut dan diterima di seluruh wilayah Indonesia.

"Musyawarah nasional merupakan forum tertinggi di mana para da'i bermusyawarah dan berpikir untuk membuat rekomendasi bagaimana Bakomubin ke depannya," kata Ali kepada Republika.co.id, usai membuka Munas II Bakomubin pada Jumat (16/12) pukul 23.00 WIB.

Ia menerangkan, munas akan menghasilkan rekomendasi program-program Bakomubin di daerah. Di munas ini juga, dikatakan dia, menyiapkan draf regulasi Undang-undang (UU) yang mengatur para penyebar agama menjadi tanggung jawab negara.

Untuk itu, Ali menjelaskan, Bakomubin akan mengundang pimpinan ormas agama lain seperti Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha. Kemudian akan berkoordinasi dengan mereka karena mubaligh tidak akan beda dengan pendeta, pastor, dan biksu.

Menurutnya, negara harus terlibat membuat UU yang mengatur alokasi anggaran dari APBN untuk mengurus para penyebar agama. Sehingga bisa membagi uang rakyat agar sampai kepada mubaligh. "Karena kita malu sebagai muballigh saat ditelepon, kemudian ditanyakan berapa honornya, bagaimana naik kapal terbangnya, mau menginap di mana," ujarnya.

Menurutnya, mubaligh tidak boleh berorientasi pada materi. Mubaligh tidak boleh tertekan oleh kepentingan apapun, termasuk oleh kepentingan amplop beserta isinya. Di masa Rasulullah tidak pernah terjadi mubaligh berorientasi pada materi. Di masa modern juga tidak boleh terjadi.

Artinya, negara harus mengurus mubaligh dan negara harus mengalokasikan dana untuk para mubaligh. Sehingga, mubaligh tidak pusing mengurusi anaknya sekolah dan mencari makan serta minum untuk keluarganya. "Karena dia (muballigh) mewakafkan dirinya untuk bangsa dan negara dalam membina umat," jelasnya.

Ia menegaskan, kalau umat Islam baik, maka baiklah negeri ini. Kalau umat Islam hancur, maka hancurlah negeri ini. Tangan-tangan para mubaligh sangat penting untuk memperbaiki umat. Hal ini akan menjadi program yang harus dibicarakan di Munas II Bakomubin. [yy/republika]