21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Islam dan Demokrasi di Indonesia Jadi Aset Dunia


Fiqhislam.com - Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi aset dunia. Hal ini menepis pandangan banyak negara dan penduduk dunia yang menyebut keduanya tak bisa berjalan beriringan.

"Demokrasi dan Islam di Indonesia menjadi aset pluralisme dunia," kata Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi dalam Bali Democracy Forum (BDF) IX di Nusa Dua, Kamis (8/12).

Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi aset dunia karena banyak negara selalu membahas keduanya dalam berbagai forum demokrasi. Di Indonesia, keduanya menciptakan situasi dan suasana nyaman di mana semua orang bisa menyampaikan pendapat dan pengalaman masing-masing, khususnya dalam kehidupan berdemokrasi.

Presiden Joko Widodo mengatakan sejak berabad lalu agama memainkan peran penting bagi kehidupan manusia, sosial, ekonomi, dan politik di tatanan nasional, regional dan global. Selain agama, budaya dan toleransi menjadi benang merah yang mempersatukan dunia yang  berbeda. "Pemerintah perlu aktif mendorong sinergi agama, demokrasi, dan toleransi di mana semuanya terefleksikan dalam kebijakan nasional," kata Jokowi.

Caranya adalah melakukan pendekatan top down, baik itu terkait praktik good governance, supremasi hukum, dan demokrasi di tingkat akar rumput. Jokowi meyakini bahwa seluruh negara di dunia sepakat akan pentingnya arti demokrasi bagi kehidupan bernegara, serta hubungan antarnegara di dunia. "Tugas kita semua adalah memastikan bagaimana demokrasi berjalan baik, mendukung stabilitas dan perdamaian, serta mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat," katanya.

Mantan Sekretaris Jenderal PBB 1997-2006, Kofi Annan mengatakan dirinya percaya bahwa agama, demokrasi, dan pluralisme tidak saling menghalangi satu sama lain. Agama pada faktanya menggiring kemajuan dalam kehidupan sosial dan bernegara, bahkan di negara sekuler sekalipun.

"Agama tidak mengajarkan membunuh sesama. Agama adalah bagian dari prinsip pluralisme," katanya. Semboyan Indonesia 'Bhinneka Tunggal Ika,' kata Kofi menjadi contoh bagi banyak negara di dunia. Kebudayaan Bali menjadi contoh unik di mana perbedaan bisa berjalan dengan damai di sebuah negara. [yy/republika]

Islam dan Demokrasi di Indonesia Jadi Aset Dunia


Fiqhislam.com - Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi aset dunia. Hal ini menepis pandangan banyak negara dan penduduk dunia yang menyebut keduanya tak bisa berjalan beriringan.

"Demokrasi dan Islam di Indonesia menjadi aset pluralisme dunia," kata Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi dalam Bali Democracy Forum (BDF) IX di Nusa Dua, Kamis (8/12).

Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi aset dunia karena banyak negara selalu membahas keduanya dalam berbagai forum demokrasi. Di Indonesia, keduanya menciptakan situasi dan suasana nyaman di mana semua orang bisa menyampaikan pendapat dan pengalaman masing-masing, khususnya dalam kehidupan berdemokrasi.

Presiden Joko Widodo mengatakan sejak berabad lalu agama memainkan peran penting bagi kehidupan manusia, sosial, ekonomi, dan politik di tatanan nasional, regional dan global. Selain agama, budaya dan toleransi menjadi benang merah yang mempersatukan dunia yang  berbeda. "Pemerintah perlu aktif mendorong sinergi agama, demokrasi, dan toleransi di mana semuanya terefleksikan dalam kebijakan nasional," kata Jokowi.

Caranya adalah melakukan pendekatan top down, baik itu terkait praktik good governance, supremasi hukum, dan demokrasi di tingkat akar rumput. Jokowi meyakini bahwa seluruh negara di dunia sepakat akan pentingnya arti demokrasi bagi kehidupan bernegara, serta hubungan antarnegara di dunia. "Tugas kita semua adalah memastikan bagaimana demokrasi berjalan baik, mendukung stabilitas dan perdamaian, serta mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat," katanya.

Mantan Sekretaris Jenderal PBB 1997-2006, Kofi Annan mengatakan dirinya percaya bahwa agama, demokrasi, dan pluralisme tidak saling menghalangi satu sama lain. Agama pada faktanya menggiring kemajuan dalam kehidupan sosial dan bernegara, bahkan di negara sekuler sekalipun.

"Agama tidak mengajarkan membunuh sesama. Agama adalah bagian dari prinsip pluralisme," katanya. Semboyan Indonesia 'Bhinneka Tunggal Ika,' kata Kofi menjadi contoh bagi banyak negara di dunia. Kebudayaan Bali menjadi contoh unik di mana perbedaan bisa berjalan dengan damai di sebuah negara. [yy/republika]

Agama, Demokrasi, Pluralisme Bisa Sejalan

Agama, Demokrasi, Pluralisme Bisa Sejalan


Agama, Demokrasi, Pluralisme Bisa Sejalan


Fiqhislam.com - Presiden Joko Widodo secara resmi membuka Bali Democracy Forum (BDF) IX di Nusa Dua, Kamis (8/12). Jokowi dalam sambutannya menekankan agama, demokrasi, dan pluralisme bisa berjalan beriringan.

"Ini sangat relevan dengan situasi di berbagai kawasan dunia saat ini. Kita meyakini bahwa agama merupakan karunia bagi semesta alam, rahmatan lil alamin. Demokrasi membawa kehendak rakyat untuk kebaikan seluruh umat, sedangkan toleransi diperlukan karena kita seluruhnya berbeda," kata Jokowi di Nusa Dua, Kamis (8/12).

Setiap menghadiri pertemuan internasional beberapa tahun terakhir, Jokowi menangkap adanya kegamangan dan kekhawatiran dari negara-negara di dunia. Pandangan ini, tak lepas dari situasi dunia, saat ini, di mana banyak negara menghadapi konflik lama dan baru. "Ini termasuk perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina yang  masih belum mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan," katanya.

Kegamangan lainnya adalah berkembang pesatnya radikalisme, ekstremisme di berbagai pelosok dunia. Menurunnya, rasa toleransi dan kemauan menerima perbedaan, serta xenofobia, yaitu ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing.

Kekhawatiran tersebut, kata Jokowi, juga dibarengi kondisi ekonomi dunia yang tak pasti, tantangan dalam negeri, politik, sosial, dan ekonomi hampir di seluruh negara. Karenanya, Presiden mengajak, seluruh peserta BDF untuk menumbuhkan optimisme yang dapat dihasilkan dari diskusi dan saling berbicara satu sama lain. Optimisme itu juga berkembang dari bertukar pikiran dan pengalaman. [yy/republika]

Kofi Annan: Indonesia Sangat Hebat!

Kofi Annan: Indonesia Sangat Hebat


Kofi Annan: Indonesia Sangat Hebat


Fiqhislam.com - Kehadiran Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Kofi Annan menjadi salah momen istimewa dalam Bali Democracy Forum 2016 di Nusa Dua, Bali. Diplomat asal Ghana itu didaulat sebagai salah satu pembicara kunci untuk membuka rangkaian Forum Demokrasi Bali ke-9 yang mengangkat tema "Religion, Democracy, and Pluralism".

"Adalah suatu kehormatan bagi saya untuk membahas tema tersebut karena ketiganya harus berjalan selaras. Agama telah memberikan panduan bagi kemanusiaan dan menginspirasi banyak aturan bahkan di negara sekuler," ujar Mantan Sekjen PBB Kofi Annan dalam pidatonya di Mangapura Hall, The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Kamis (8/12/2016).

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa agama kadang dijadikan alasan untuk menyiksa dan membunuh orang lain. Karena itu, menurut Annan, demokrasi adalah sistem yang paling pas untuk memelihara pluralisme dalam jangka panjang di zaman sekarang. Secara khusus, pria berusia 78 tahun itu memuji Indonesia dan slogan Bhinneka Tunggal Ika.

"Indonesia sangat hebat! Lebih dari 300 etnis dengan ribuan bahasa ada di Indonesia. Ini adalah contoh pluralisme yang nyata. Saya berterima kasih bagi Indonesia karena kemajemukan dan pluralisme yang tertuang dalam slogan Bhinneka Tunggal Ika," sambung Annan.

Annan melihat, tantangan yang dihadapi dunia saat ini terkait pluralisme cukup banyak. Salah satunya adalah adanya kelompok yang berusaha memisahkan ikatan kemanusiaan lewat isu ras, agama, dan antargolongan. Pengungsi dan etnis minoritas di suatu negara turut disiksa atas nama kemurnian identitas.

"Kita harus berbagi nilai agama yang universal yakni kasih sayang dan solidaritas. Jangan sampai masuk ke dalam jebakan oleh ekstremis-ekstremis agama yang menolak kemanusiaan. Problem bukan pada agamanya, tetapi pada penganutnya. Agama mengajarkan kebaikan, tetapi bisa disalahgunakan," tutup Annan. [yy/okezone]