25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Umat Islam Saatnya Tingalkan Masalah KhilafiahFiqhislam.com - Umat Islam di Bali disarankan tidak lagi memperuncing masalah khilafiah. Karena, kata penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Roichan Muhlis, masalah khilafiah sudah lama tidak dipermasalahkan di lagi.

"Masalah-masalah furuiyah 50 tahun lalu sudah tidak menjadi penghalang lagi bagi persatuan umat Islam di Bali," ungkap Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Roichan di Denpasar, Jumat (24/6) petang.

Menurut Roichan, umat Islam di Bali sangat akur dan satu sama lain saling membantu. Saat pembangunan Masjid Baiturrahman, Kampung Jawa beberapa puluh tahun lalu sebut Roichan, dia selaku sekretaris Muhammadiyah Daerah Badung ikut membantu mengurus izin dan penggalian dananya. Padahal sebut Roichan, masjid itu sejak awal diketahui sebagai milik Nahdiyin.

Sebaliknya, sebut Roichan, saat warga Muhammadiyah membangun SD Muhammadiyah, warga Nahdiyin di Denpasar juga ikut membantu menyumbang dana. Bahkan sampai sekarang katanya, banyak anak-anak Nahdiyin yang disekolahkan di sekolah Muhammadiyah. "Kami sudah sejak lama sangat akur, tidak lagi mempersoalkan masalah-masalah khilafiyah," kata Roichan.

Karena itu, sebut Roichan, dia heran, bila ada ustaz-ustaz muda yang belakangan datang ke Bali, kembali mempersoalkan masalah-masalah khilafiyah. Padahal dulu sebutnya, Ketua MUI Bali, HSH Adenan yang juga ketua umum PW Muhammadiyah Bali, saat diminta menjadi imam shalat di kalangan warga Nahdiyin, dia shlah Subuh dengan berqunut.

"umat Islam di Bali seharusnya memperkuat persatuannya, agar saat tampil dengan umat lain memnyelesaikan masalah bangsa, bisa tampil dengan full power," kata salah seorang anggota Forum Komunikasi umat Provinsi Bali (FKUB) itu. [yy/republika]

Umat Islam Saatnya Tingalkan Masalah KhilafiahFiqhislam.com - Umat Islam di Bali disarankan tidak lagi memperuncing masalah khilafiah. Karena, kata penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Roichan Muhlis, masalah khilafiah sudah lama tidak dipermasalahkan di lagi.

"Masalah-masalah furuiyah 50 tahun lalu sudah tidak menjadi penghalang lagi bagi persatuan umat Islam di Bali," ungkap Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, Roichan di Denpasar, Jumat (24/6) petang.

Menurut Roichan, umat Islam di Bali sangat akur dan satu sama lain saling membantu. Saat pembangunan Masjid Baiturrahman, Kampung Jawa beberapa puluh tahun lalu sebut Roichan, dia selaku sekretaris Muhammadiyah Daerah Badung ikut membantu mengurus izin dan penggalian dananya. Padahal sebut Roichan, masjid itu sejak awal diketahui sebagai milik Nahdiyin.

Sebaliknya, sebut Roichan, saat warga Muhammadiyah membangun SD Muhammadiyah, warga Nahdiyin di Denpasar juga ikut membantu menyumbang dana. Bahkan sampai sekarang katanya, banyak anak-anak Nahdiyin yang disekolahkan di sekolah Muhammadiyah. "Kami sudah sejak lama sangat akur, tidak lagi mempersoalkan masalah-masalah khilafiyah," kata Roichan.

Karena itu, sebut Roichan, dia heran, bila ada ustaz-ustaz muda yang belakangan datang ke Bali, kembali mempersoalkan masalah-masalah khilafiyah. Padahal dulu sebutnya, Ketua MUI Bali, HSH Adenan yang juga ketua umum PW Muhammadiyah Bali, saat diminta menjadi imam shalat di kalangan warga Nahdiyin, dia shlah Subuh dengan berqunut.

"umat Islam di Bali seharusnya memperkuat persatuannya, agar saat tampil dengan umat lain memnyelesaikan masalah bangsa, bisa tampil dengan full power," kata salah seorang anggota Forum Komunikasi umat Provinsi Bali (FKUB) itu. [yy/republika]

Umat Islam Jangan Gontok-gontokan Terus

Umat Islam Jangan Gontok-gontokan Terus

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengingatkan agar umat Islam terus menjaga persatuan dan menjauhkan diri dari perbedaan yang tidak perlu. Hal ini penting karena ada persoalan yang jauh lebih besar untuk dipikirkan bersama-sama demi kemajuan umat Islam pada masa mendatang.

"Janganlah kita gontok-gontokan terus antar kita. Marilah kita bangun kekuatan umat Islam dengan ilmu, ekonomi, dan ikut terlibat secara aktif di kekuasaan," katanya dalam Safari Kebangsaan Merajut Kebhinekaan di Pondok Pesantren Baitul Muttaqin DPD LDII, Cengkareng, Jakarta Barat Ahad, (26/6). Zulkifli, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini, meminta masyarakat wajib memenuhi kebutuhan pendidikan bagaimana pun kondisi dan keadaannya.

Kalau pendidikan kalah dengan kebutuhan lain, maka Indonesia akan jadi pecundang. "Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan kita semua. Kita kirim orang ke Arab, Cina, dan Malaysia semuanya jadi pembantu rumah tangga. Kondisi ini tidak boleh terus dibiarkan. Pendidikan adalah nomor satu dan ini harus kita rebut," ujarnya.

Zulkifli juga meminta agar umat Islam melupakan pertengkaran dan perbedaan. Rakyat harus mulai belajar ekonomi agar anak-anak Indonesia menjadi pengusaha yang tangguh.

Kalau rakyat tidak sungguh-sungguh belajar atau menjadi pengusaha-pengusaha yang tangguh, maka Indonesia akan semakin tertinggal. Mantan menteri kehutanan ini mengimbau agar rakyat jangan hanya mengeluh dan marah dengan keadaan saat ini.
Jadilah orang Islam yang gagah. Sebab kalau tidak, Indonesia akan terus diremehkan negara lain.

"Lupakan perbedaan dan cari persamaannya. Baru yang terakhir adalah kekuasaan. Tapi kalau ilmu tidak, ekonomi tidak dan kekuasaan juga tidak maka kita akan jadi pengikut terus," kata Zulkifli. Ikut mendampingi Zulkifli dalam acara tesrebut antara lain Ketua DPW PAN DKI Jakarta Eko Hendro Purnomo dan Ketua DPP PAN Azis Subekti. [yy/republika]