29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) menyuaraan keprihatinannya terkait pelarangan jilbab di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di negara bagian Karnataka, India selatan, yang kontroversial.

Duta besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Rashad Hussain, dalam sebuah tweet mengatakan bahwa larangan jilbab akan menstigmatisasi danmemarginalkan perempuan dan anak perempuan.

“Kebebasan beragama mencakup kemampuan untuk memilih pakaian keagamaan seseorang,” tweet Hussain.

“Negara bagian Karnataka di India seharusnya tidak menentukan kebolehan pakaian keagamaan. Larangan hijab di sekolah melanggar kebebasan beragama dan menstigmatisasi serta meminggirkan perempuan dan anak perempuan,” sambungnya seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (13/2/2022).

Cuitan dari Hussain memicu bantahan keras dari New Delhi. Kementerian urusan luar negeri India membalas apa yang disebutnya "komentar motivasi" tentang masalah internalnya, menambahkan bahwa kasus itu sedang dalam pemeriksaan yudisial.

“Kerangka dan mekanisme konstitusional kami, serta etos dan politik demokrasi kami, adalah konteks di mana masalah dipertimbangkan dan diselesaikan. Komentar bermotivasi tentang masalah internal kami tidak diterima,” kata juru bicara kementerian Arindam Bagchi.

Sebelumnya, keprihatinan yang sama juga diungkapkan oleh peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai dan bintang sepak bola asal klub Manchester United Paul Pogba.

Dalam sebuah tweet, Malala Yousafzai mendesak para pemimpin India untuk menghentikan marginalisasi perempuan Muslim.

“Perguruan tinggi memaksa kita untuk memilih antara studi dan hijab,” cuitnya pada Selasa lalu.

Paul Pogba juga menyatakan keprihatinannya terhadap perempuan Muslim di Karnataka, berbagi video di Instagram dengan judul "Massa Hindu terus melecehkan gadis-gadis Muslim yang mengenakan jilbab ke perguruan tinggi di India."

Perselisihan itu meletus bulan lalu, ketika sekelompok mahasiswa Muslim memprotes setelah mereka dilarang masuk perguruan tinggi karena mereka mengenakan jilbab. Sejak itu beberapa perguruan tinggi lain telah menyaksikan aksi protes baik mendukung maupun menentang larangan jilbab, dengan kelompok sayap kanan Hindu yang mengenakan selendang safron mengadakan aksi protes terhadap jilbab. [yy/Berlianto/sindonews]