25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Salah seorang korban serangan di Masjid Quebec, Said Akjour tengah duduk di ruang sholat yang sama, di mana dia terluka dalam penembakan mematikan hampir lima tahun lalu. Akjour mengingat serangan mengerikan itu seolah-olah itu baru terjadi kemarin.

"Saya masih bisa melihat Aboubaker Thabti," kata Akjour sambil menunjuk ke tempat terakhir kali dia melihat rekan seimannya, dilansir dari laman CBC pada Jumat (28/1). "Saya masih bisa melihat Azzedine Soufiane," lanjut dia.

Satu per satu, dia mencantumkan nama semua pria yang terbunuh di Islamic Cultural Center pada 29 Januari 2017: Mamadou Tanou Barry, Abdelkrim Hassane, Ibrahima Barry, dan Khaled Belkacemi.

Pada konferensi pers Kamis (27/1) di masjid yang baru direnovasi, Akjour dan anggota masyarakat lainnya menguraikan rincian acara peringatan yang dijadwalkan pada Sabtu (29/1). Ini untuk menandai peringatan kelima dari serangan tersebut.

Salah satu pendiri Islamic center, Boufeldja Benabdallah mengatakan, bahwa peringatan tersebut biasanya sederhana. Namun, tahun ini, komunitas menyerukan lebih banyak tindakan pemerintah untuk memerangi Islamofobia, termasuk mengubah bagian dari undang-undang sekularisme kontroversial Quebec, yang dikenal sebagai Bill 21. Selain itu mereka juga meminta memperketat undang-undang kontrol senjata Kanada.

"Kita perlu mengambil tindakan, dan tindakan adalah perang melawan diskriminasi dan rasisme sistemik, itu adalah perang melawan senjata yang membunuh anak-anak kita, orang dewasa kita," kata Benabdallah.

Pada Rabu (26/1), para pemimpin masjid memperbarui seruan mereka untuk larangan pistol di seluruh Kanada. Mereka mengirim surat kepada pemerintah federal dan Quebec, mendesak semua pihak untuk memastikan bahwa undang-undang pengendalian senjata baru diterapkan di seluruh negeri.

Sementara Pemerintah federal Liberal telah merencanakan untuk memberikan hak hukum kepada kotamadya untuk melarang senjata di wilayah mereka. Akan tetapi sayangnya undang-undang itu tidak pernah disahkan.

Enam korban penembakan massal 2017 ditembak dengan pistol Glock 9mm dalam waktu sekitar dua menit. Penembak memiliki setidaknya lima senjata lain, termasuk tiga senapan serbu. Semua senjata yang dimilikinya diperoleh secara legal.

“Sungguh berbahaya dan memalukan untuk dicatat bahwa dalam lima tahun, tidak ada yang dilakukan untuk mengubah keadaan yang memungkinkan individu ini memperoleh atau menyimpan persenjataan semacam itu,” tulis para pemimpin masjid.

"Dengan kata lain, seorang individu dengan profil yang sama hari ini dapat memiliki senjata dan aksesoris yang sama," lanjutnya.

Adapun senjata serbu dilarang secara federal pada Mei 2020. Senjata yang beredar sebelum tanggal tersebut tetap berada di tangan pemilik, sementara mereka menunggu rincian program pembelian kembali federal.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau dan Menteri Keamanan Publik Marco Mendicino, Benabdallah dan para pemimpin Muslim lainnya meminta pemerintah menghentikan upaya untuk membebaskan pemerintah federal dari tanggung jawab atas masalah pistol. [yy/Rossi Handayani/republika]