27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), Amerika Serikat, bunuh diri adalah penyebab kematian kedua di kalangan pemuda berusia 10-34 tahun. Data yang cukup mengagetkan terutama karena hal ini menjadi suatu yang dilarang bagi Muslim.

Dilansir dari About Islam, Senin (3/1), secara umum, bunuh diri dipandang oleh umat Islam sebagai mengambil hadiah hidup yang diberikan oleh Tuhan. Alquran mengatakan bahwa manusia harus percaya kepada Tuhan dan tidak mengambil nyawa orang lain tanpa hak, bahkan nyawa diri sendiri.

Meski begitu, sebuah studi baru-baru ini yang menemukan Muslim AS dua kali lebih mungkin untuk mencoba bunuh diri daripada mereka yang beragama lain telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan Muslim. Dalam sebuah artikel USA Today, Rania Awaad dan Taimur Kouser membahas krisis bunuh diri yang dihadapi Muslim di Amerika saat ini dan mendesak diakhirinya tabu untuk membicarakannya.

Penyakit mental masih sangat distigmatisasi di seluruh dunia, tetapi stigmanya di komunitas Muslim sangat kuat. Alih-alih melihat tantangan kesehatan mental sebagai masalah medis yang membutuhkan solusi medis, banyak Muslim melihat tantangan seperti itu sebagai masalah spiritual murni yang dapat didoakan atau diatasi dengan solusi spiritual serupa.

Bunuh diri, khususnya, adalah tabu dalam tabu bukan hanya karena hubungannya dengan kosakata kesehatan mental, tetapi juga karena itu dilarang secara moral dalam Islam.

Kombinasi ayat-ayat Alquran dan Hadits menggarisbawahi larangan eksplisit Allah untuk membunuh diri sendiri. Islam menekankan bahwa setiap kehidupan manusia akan diiringi dengan cobaan hidup dan pentingnya kesabaran dalam menghadapi dan menanggungnya.

Tapi larangan moral saja tidak memberikan kekebalan bagi Muslim dari penderitaan untuk berpikir bunuh diri atau mati karena bunuh diri. Penelitian menunjukkan bahwa sejumlah besar Muslim mencoba dan mati karena bunuh diri setiap tahun, meskipun fakta bahwa tingkat kematian Muslim karena bunuh diri yang dilaporkan rendah.

Mungkin juga ada alasan bagus untuk percaya bahwa angkanya sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan. Selain stigma sosialnya, bunuh diri dikriminalisasi di banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim yang dapat menghasilkan pelaporan yang tidak tepat atau kesalahan klasifikasi kematian dengan menyebut bunub diri sebagai kematian karena kecelakaan. [yy/Alkhaledi Kurnialam/ihram]