25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - NASA Amerika Serikat (AS) ternyata menyewa 24 ahli agama termasuk imam Masjid Makkah di Leeds, Inggris. Mereka didanai untuk meneliti bagaimana dunia akan bereaksi jika kehidupan di luar Bumi atau alien ditemukan di planet lain.

Ke-24 ahli agama itu berpartisipasi dalam sebuah program di Princeton University’s Centre of Theological Inquiry (CTI) di New Jersey. CTI menerima dana hibah dari NASA sebesar USD1,1 juta.

Beberapa ahli agama yang terlibat dalam program itu di antaranya Uskup Buckingham Alan Wilson, Rabi Jonathan Romain dari Sinagog Maidenhead, dan Imam Qari Asim dari Masjid Makkah [Makkah Mosque] di Leeds.

Mereka, seperti dikutip dari The Times, Kamis (30/12/2021), mengatakan bahwa ajaran Kristen, Yahudi, dan Islam tidak akan terpengaruh oleh penemuan kehidupan alien.

Salah satu ahli agama dalam program itu, Pendeta Dr Andrew Davidson, mengatakan karyanya berfokus pada hubungan antara astrobiologi dan teologi Kristen dan prospek adanya "banyak inkarnasi" Yesus Kristus.

Davidson mengatakan dalam sebuah buku yang akan terbit nanti bahwa sejumlah besar orang akan mencari bimbingan agama jika alien ditemukan.

Andrew Davison, yang juga cendekiawan dari Universitas Cambridge, dalam sebuah wawancara dengan The Times mengaku bahwa dia termasuk di antara 23 teolog lain dalam program yang disponsori NASA di Princeton University’s Centre of Theological Inquiry dari 2016 hingga 2017.

Davison mengatakan dia dan rekan-rekannya memeriksa bagaimana masing-masing agama besar dunia kemungkinan akan merespons jika mereka diberi tahu tentang keberadaan alien. Karyanya sendiri berfokus pada hubungan antara astrobiologi dan teologi Kristen.

Will Storrar, direktur CTI, mengatakan NASA ingin melihat program serius ini diterbitkan dalam buku dan jurnal, mengatasi keajaiban dan misteri yang mendalam dan implikasi dari penemuan kehidupan mikroba di planet lain.

Dalam sebuah pernyataan yang di-posting ke blog Fakultas Keilahian Universitas Cambridge, Davison mengatakan penelitiannya sebagian besar terkonsentrasi pada konsep Kristologi, atau studi tentang siapa Yesus sebagai manusia dan makhluk ilahi.

“Pertanyaan paling signifikan yang mungkin ada adalah apakah seseorang akan menanggapi secara teologis prospek kehidupan di tempat lain dalam hal ada banyak inkarnasi, atau hanya satu-satunya yang dibicarakan para teolog di dalam Yesus,” tulisnya.

"Saya juga telah memikirkan tentang doktrin penciptaan, terutama dalam kaitannya dengan tema multiplisitas dan keragaman.”

Davidson menambahkan dalam posting blog bahwa penelitiannya tidak terbatas pada teks-teks agama, di mana penelitian lain tentang topik kehidupan di luar Bumi cenderung berpusat.

“Dalam berpikir secara teologis tentang kehidupan di tempat lain di alam semesta, ada kecenderungan untuk mengambil terutama dari bagian-bagian dari karya teologis sebelumnya di mana kehidupan lain telah menjadi topik yang sedang dibahas. Saya ingin bergerak lebih dari itu, dan bergabung dalam diskusi ke materi dan perspektif yang lebih luas,” lanjut Davidson.

“Mungkin penemuan utama yang akan saya laporkan hingga saat ini adalah menemukan seberapa sering teologi dan astrobiologi telah menjadi topik dalam tulisan populer setidaknya selama satu setengah abad: di majalah bulanan misalnya,” imbuh dia.

Buku Davidson yang akan terbit tahun 2022, “Astrobiology and Christian Doctrine,” akan mencakup sebagian dari karyanya dengan CTI dan NASA.

Menurut sebagian dari buku Davidson yang diperoleh The Times, sejumlah besar orang akan beralih ke tradisi agama mereka untuk mendapatkan bimbingan jika alien ditemukan.

“Deteksi [kehidupan alien] mungkin datang dalam satu dekade atau hanya di abad mendatang atau mungkin tidak pernah sama sekali, tetapi jika atau di mana itu terjadi, akan berguna untuk memikirkan implikasinya terlebih dahulu,” tulis Davison.

Pihak NASA mengonfirmasi kepada Changing America bahwa program Astrobiologi NASA memberikan sebagian dana melalui hibah kepada CTI pada tahun 2015, dengan bagian proyek yang didanai lembaga berakhir pada tahun 2017.

NASA tidak terlibat langsung dalam pemilihan 24 ahli agama untuk penelitian tersebut. [yy/Muhaimin/sindonews]