25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett menyebut kelompok Islam radikal ingin mengambil alih dunia. Dia lantas menuduh rezim Iran sebagai representasi kelompok tersebut.

Komentar PM Bennett disampaikan dalam pidatonya untuk Christian Media Summit, pertemuan puncak tahunan ketujuh Organisasi Pers Pemerintah pada hari Kamis (11/11/2021).

“Di sini, di Israel, kami memerangi musuh yang sangat terlihat, militan Islam radikal,” kata Bennett dalam pesan pidatonya yang telah direkam sebelumnya, yang dikirim ke konferensi virtual tersebut.

"Teror yang dimulai di Teheran berusaha untuk menghancurkan Israel, mendominasi dunia, dan mendorongnya ke jurang yang gelap," ujarnya, seperti dikutip Jerusalem Post, Jumat (12/11/2021).

Bennett mengatakan bahwa orang tidak boleh membunuh atau menyebarkan perang dan kebencian atas nama Tuhan, kedamaian dan cinta.

Dia mengeklaim bahwa satu-satunya tempat di Timur Tengah yang sepenuhnya melindungi orang Kristen adalah Israel. "Di mana komunitas Kristen tumbuh, berkembang, dan makmur,” katanya.

“Lebih dari sebelumnya, Israel bersatu dengan orang-orang Kristen. Kami bersaudara. Kami bersatu. Kami tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan cahaya kami," ujarnya.

Bennett berterima kasih kepada orang-orang Kristen karena membela Israel dan kebenaran.

Tema Christian Media Summit tahun ini adalah Kesepakatan Abraham, yang disebut Bennett sebagai fajar baru bagi kedudukan Israel di wilayah tersebut.

Menurutnya, kesepakatan itu meningkatkan stabilitas dan kemakmuran regional.

“Sama seperti pintu kemah Abraham terbuka, pintu Israel terbuka untuk masa depan yang lebih baik dan lebih cerah,” ujar perdana menteri.

Bennett menekankan pentingnya Yerusalem bagi orang Kristen dan Yahudi. “Yerusalem adalah jantung Israel yang berdetak, dan hati kami berdetak dengan cinta untuk Yerusalem dan Negara Israel," katanya.

Presiden Isaac Herzog memuji Kesepakatan Abraham sebagai konsekuensi dari budaya toleransi dan menghormati agama yang berbeda, di Israel, Uni Emirat Arab dan Bahrain. "Dan keyakinan bersama mereka bahwa jalan menuju perdamaian dan masa depan yang lebih cerah terletak pada kerjasama, bukan daripada konflik, dalam dialog, menggantikan ketidakpercayaan," paparnya.

Herzog juga memperingatkan tentang meningkatnya antisemitisme dan delegitimasi Israel, sambil mengatakan Israel dapat mengandalkan sekutu Kristennya untuk menjadi mitra dalam upaya melawan kebohongan dan menyebarkan kebenaran tentang Israel. [yy/sindonews]