25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Amerika Serikat menegaskan komitmennya pada hak asasi manusia dan menyerukan diakhirinya kejahatan kemanusiaan dan genosida etnis Uighur di Xinjiang, China. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada Selasa (6/7/2021).

Pada Selasa, Blinken bertemu dengan tujuh penyintas kamp interniran Uighur, para pembela dan pegiat has asasi, serta keluarga dari individu-individu yang ditahan di Xinjiang. Dalam pertemuan itu, Blinken mengatakan bahwa AS akan bekerja sama dengan sekutu dan mitranya untuk menyerukan diakhirinya genosida terhadap etnis Uighur di Xinjiang.

AS juga akan mengambil langkah mencegah kembalinya penyintas kamp interniran ke China dan mendesak akuntabilitas Beijing terkait kejahatan terhadap etnis Uighur serta menyerukan keadilan bagi para korban beserta keluarga mereka.

“Amerika Serikat akan terus menempatkan hak asasi manusia di baris terdepan kebijakan kami terkait China dan akan selalu mendukung suara para aktivis, penyintas, dan anggota keluarga korban yang dengan berani bersuara menentang kekejaman ini,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price mengutip pernyataan Blinken sebagaimana dilansir dalam keterangan pers, Rabu.

Menurut laporan PBB, lebih dari satu juta warga etnis Uighur ditahan di kamp-kamp interniran di Xinjiang. Sejumlah laporan di media menampilkan kesaksian para penyintas yang mengungkap kondisi buruk yang diterima etnis Uighur dan minoritas lain yang ditahan di kamp-kamp tersebut.

Pemerintah China membantah laporan tersebut, mengatakan bahwa 'kamp' itu adalah sekolah untuk pendidikan vokasi bagi warga Uighur. [yy/okezone]