19 Syawal 1443  |  Sabtu 21 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Komunitas Muslim Uighur di Turki merasa khawatir dengan pemerintah Turki yang telah melakukan perjanjian ekstradisi baru dengan China. Kendati demikian, pemerintah Turki menegaskan Muslim Uighur tidak akan didiportasi dari ibu kota Turki, Ankara.

Sekitar 20 warga Uighur dengan kewarganegaraan Turki telah mendatangi konsulat China di Istanbul setelah parlemen China meratifikasi perjanjian 2017 pada Sabtu (26/12) lalu. Ankara belum meratifikasi perjanjian itu, tetapi persetujuannya di Beijing telah membuat komunitas Uighur Turki yang diperkirakan berjumlah 50 ribu orang merasa gelisah.

Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu belum menentukan kapan parlemen Turki akan membahas kesepakatan tersebut. Namun, dia mengatakan persetujuan tersebut bukan berarti Turki akan mendeportasi Muslim Uighur ke China.

“Hingga saat ini, masih ada permintaan pemulangan dari China terkait Uighur di Turki. Dan Anda tahu Turki belum mengambil langkah seperti ini, "kata Cavusoglu kepada wartawan di Ankara seperti dikutip dari Al Arabiya, Kamis (31/12).

Dia pun mengakui masalah muslim Uighur sangat sensitif. Karena itu, menurut dia, tidak adil jika perjanjian ekstradisi baru dikatakan sebagai kesepatakan untuk ekstradisi muslim Uighur. “Salah dan tidak adil untuk mengatakan itu adalah kesepakatan untuk ekstradisi Uighur. Kami lebih sensitif terhadap masalah seperti itu dibanding yang lain, ”katanya.

Orang-orang Uighur yang bisa berbahasa Turki telah memiliki ikatan budaya dengan Turki, sehingga Turki menjadi tujuan mereka untuk menghindari penganiayaan di wilayah Xinjiang di barat laut China. Namun, dalam pemberitaan Turki dituduh secara diam-diam mengembalikan warga Uighur ke China melalui negara ketiga.

Pada Rabu (30/12), Etnis Uighur berunjuk rasa untuk mengungkapkan ketakutan mereka tentang perjanjian ekstradisi tersebut. “Insya Allah, kami berharap negara kami tidak akan menyetujui hal seperti itu,” kata Omer Farah, seorang Uighur dengan kewarganegaraan Turki yang mengatakan bahwa anak-anaknya sedang ditahan di China.

“Tapi jika ya, kami sangat khawatir. Karena bagi China, 50 ribu orang Uighur yang tinggal di sini adalah penjahat,” jelasnya. [yy/republika]