25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Warga Azerbaijan yang terusir dari Shusha, yang diduduki Armenia selama lebih dari 28 tahun, sangat senang setelah tanah air mereka telah dibebaskan saat ini. Warga Azerbaijan, pemilik asli kota Shusha, merayakan kemenangan mereka dan turut mengibarkan bendera Azerbaijan di atas tanah air mereka.

Keluarga Necefova dari Baku termasuk di antara mereka yang merayakannya. Taleh Necefov, 54, dan istrinya Vesile Necefov berharap mendengar instruksi dari pemerintah untuk kembali ke Shusha, kota masa muda mereka.

Pasangan itu menikah di Shusha pada 1991. Namun, mereka harus meninggalkan tempat kelahiran mereka ke Baku tanpa bisa menikmati kebahagiaan mereka di tempat itu karena pendudukan Armenia. Selama beberapa dekade, pasangan yang rindu kampung halaman itu membesarkan anak-anak mereka, yang belum pernah ke Shusha.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Taleh Necefov mengatakan dirinya memimpikan Shusha selama 28 tahun hingga dibebaskan baru-baru ini. “Saya merindukan dan mencintai Shusha, kota yang indah. Kami punya rumah di Baku, tapi tidak sama dengan tanah air kami. Alhamdulillah tanah air kami sudah kembali,” tutur dia.

Taleh juga berterima kasih kepada rakyat Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan atas dukungannya kepada Azerbaijan. “Shusha sangat berarti bagiku. Kami dibesarkan di Karabakh dan menjadi tamu di Baku selama 28 tahun. Syukur kepada Allah, kami akan segera kembali ke tanah air,” tambah istri Taleh, Vesile.

Muzaffer Babayev, warga Azerbaijan lain asal Shusha yang berusia 68 tahun. Dia adalah seorang guru dan penyair yang menulis tentang Shusha. Mengekspresikan kebahagiaan atas cinta dan kerinduannya pada Shusha, Babayev mengatakan bahwa selama 28 tahun dia telah mengharapkan dan berdoa untuk kembali ke tanah airnya.

“Shusha adalah kota suci bagiku. Saya tidak pernah membayangkan diri saya tanpanya. Jika diizinkan, saya akan memulai perjalanan kembali ke tanah air dengan berjalan kaki,” kata dia lagi.

Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 permukiman, termasuk kota strategis Shusha, dan desa-desa dari pendudukan Armenia dalam beberapa minggu terakhir.

Hubungan antara bekas republik Soviet Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah lainnya yang berdekatan.

Bentrokan baru meletus 27 September dan berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia enam minggu kemudian. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Warga Azerbaijan yang terusir dari Shusha, yang diduduki Armenia selama lebih dari 28 tahun, sangat senang setelah tanah air mereka telah dibebaskan saat ini. Warga Azerbaijan, pemilik asli kota Shusha, merayakan kemenangan mereka dan turut mengibarkan bendera Azerbaijan di atas tanah air mereka.

Keluarga Necefova dari Baku termasuk di antara mereka yang merayakannya. Taleh Necefov, 54, dan istrinya Vesile Necefov berharap mendengar instruksi dari pemerintah untuk kembali ke Shusha, kota masa muda mereka.

Pasangan itu menikah di Shusha pada 1991. Namun, mereka harus meninggalkan tempat kelahiran mereka ke Baku tanpa bisa menikmati kebahagiaan mereka di tempat itu karena pendudukan Armenia. Selama beberapa dekade, pasangan yang rindu kampung halaman itu membesarkan anak-anak mereka, yang belum pernah ke Shusha.

Berbicara kepada Anadolu Agency, Taleh Necefov mengatakan dirinya memimpikan Shusha selama 28 tahun hingga dibebaskan baru-baru ini. “Saya merindukan dan mencintai Shusha, kota yang indah. Kami punya rumah di Baku, tapi tidak sama dengan tanah air kami. Alhamdulillah tanah air kami sudah kembali,” tutur dia.

Taleh juga berterima kasih kepada rakyat Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan atas dukungannya kepada Azerbaijan. “Shusha sangat berarti bagiku. Kami dibesarkan di Karabakh dan menjadi tamu di Baku selama 28 tahun. Syukur kepada Allah, kami akan segera kembali ke tanah air,” tambah istri Taleh, Vesile.

Muzaffer Babayev, warga Azerbaijan lain asal Shusha yang berusia 68 tahun. Dia adalah seorang guru dan penyair yang menulis tentang Shusha. Mengekspresikan kebahagiaan atas cinta dan kerinduannya pada Shusha, Babayev mengatakan bahwa selama 28 tahun dia telah mengharapkan dan berdoa untuk kembali ke tanah airnya.

“Shusha adalah kota suci bagiku. Saya tidak pernah membayangkan diri saya tanpanya. Jika diizinkan, saya akan memulai perjalanan kembali ke tanah air dengan berjalan kaki,” kata dia lagi.

Azerbaijan membebaskan beberapa kota dan hampir 300 permukiman, termasuk kota strategis Shusha, dan desa-desa dari pendudukan Armenia dalam beberapa minggu terakhir.

Hubungan antara bekas republik Soviet Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah lainnya yang berdekatan.

Bentrokan baru meletus 27 September dan berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia enam minggu kemudian. [yy/republika]

 

Khawatir Manuver Turki

Prancis Minta Pengawasan Internasional di Nagorno-Karabakh, Khawatir Manuver Turki


Fiqhislam.com - Prancis mendorong pengawasan internasional dalam pelaksanaan gencatan senjata Armenia-Azerbaijan di Nagorno-Karabakh. Prancis khawatir Rusia dan Turki memangkas kekuatan Barat dari pembicaraan damai di masa depan.

Rusia bersama Amerika Serikat dan Prancis yang tergabung dalam Minsk Group--kelompok pegawas konflik Nagorno-Karabakh--sempat berkontribusi menggagas gencatan senjata pertama pada Oktober lalu. Namun, upaya tersebut gagal setelah dua negara berkonflik, Armenia dan Azerbaijan, melanggar gencatan senjata.

Setelah enam pekan pertempuran di Nagorno-Karabakh, Armenia dan Azerbaijan akhirnya menyepakati penghentian pertempuran secara total pada awal November ini. Kesepakatan tersebut ditengahi oleh Rusia tanpa melibatkan Minsk Group.

Menyusul kesepakatan damai Armenia-Azerbaijan, Rusia telah mengadakan pembicaraan dengan Turki--sekutu Azerbaijan dan pengkritik keras kelompok Minsk--yang dikhawatirkan kesempatan itu dimanfaatkan Ankara mengerahkan pasukan ke wilayah Nagorno-Karabakh.

Dalam pembicaraan telepon dengan presiden Azerbaijan dan perdana menteri Armenia, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pentingnya menjaga kesepakatan damai serta bersama-sama memfasilitasi kepentingan penduduk terdampak perang.

"Akhir pertempuran sekarang harus memungkinkan dimulainya kembali negosiasi dengan itikad baik untuk melindungi penduduk Nagorno-Karabakh dan memastikan kembalinya puluhan ribu orang yang telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir dalam kondisi keamanan yang baik," kata Macron dikutip dari Reuters, Jumat (20/11/2020).

Populasi Prancis mencakup antara 400.000 hingga 600.000 orang asal Armenia. Macron telah berhati-hati untuk tidak mendukung pihak konflik tetapi menghadapi kritik di dalam negeri yang menganggap dia tidak mengambil tindakan yang cukup membantu Armenia.

Sumber kepresidenan Prancis mengatakan Macron mendorong pengawasan internasional terhadap gencatan senjata untuk memungkinkan kembalinya pengungsi, mengatur kembalinya pejuang asing, terutama dari Suriah, serta memulai pembicaraan mengenai status Nagoro-Karabakh.

"Kami ingin Minsk Group memainkan perannya dalam menetapkan pengawasan gencatan senjata," kata sumber.

Pernyataan Prancis diyakini sebagai upaya meredam keterlibatan Turki dalam kesepakatan damai di Kaukasus. Hubungan antara Prancis dan Turki sangat buruk beberapa bulan. Paris menuduh Ankara memicu krisis di Nagorno-Karabakh.

"Kami memahami bahwa Rusia sedang berbicara dengan Turki mengenai formula yang mungkin tidak kami inginkan serta akan meniru (proses) Astana untuk membagi peran mereka di wilayah sensitif ini," lanjutnya.

Forum Astana memungkinkan Rusia dan Turki untuk berdiskusi di antara mereka bagaimana menangani konflik Suriah dan mengesampingkan kekuatan Barat.

"Kita tidak bisa memiliki di satu sisi Minsk dan di sisi lainnya Astana. Pada satu titik, Rusia harus membuat pilihan," ucapnya. [yy/inews]