27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Kerajaan Arab Saudi menuai kehebohan setelah menangkap qari ternama Sheikh Abdullah Basfar. Pandangan Basfar ini berbeda dengan Imam Masjidil Haram Sheikh Abdurrahman as-Sudais, yang pro-Kerajaan dan ingin Saudi-Israel berdamai.

Ulama yang memiliki nama lengkap Sheikh Abdurrahman bin Abdul Aziz bin Muhammad as-Sudais ini lahir di Riyadh pada 10 Februari 1960. Dia kini menjabat imam dan Khatib Masjidil Haram sekaligus sebagai Ketum Pengurus Masjidil Haram.

Dia menyelesaikan studi magisternya dengan predikat cum laude dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Fakultas Syari'ah Jurusan Ushul Fiqih. Namun ia kemudian dikenal luas di kalangan umat Islam dunia sebagai qari bersuara merdu. Album rekaman qiroahnya tersebar di berbagai platform digital.

Namun Sheikh As-Sudais bukanlah sosok ulama yang kerap mengkritik kerajaan. Dia bahkan memiliki pandangan yang sering kali sejalan dengan arah politik Kerajaan.

Misalnya, pada Juni 2019, Sheikh As-Sudais turut mengutuk serangan yang dilancarkan oleh milisi Houthi di Bandara Abha, Yaman. Dalam konflik di Yaman, Houthi merupakan musuh pasukan yang dipimpin oleh Arab Saudi. Selain itu, Houthi didukung oleh Iran, yang notabene musuh politik Saudi.

Seperti dilansir Antara, Kamis (13/6/2019), Sheikh As-Sudais mengutuk serangan milisi Houthi dan menyebutnya melanggar syariah. "Tindakan ini tidak ditolerir oleh syariah, adat, atau norma apa pun. Ia tak lain adalah kerusakan di muka bumi," ujar sang Imam Masjidil Haram. Kendati demikian, kutukan itu tak pernah diarahkan untuk pasukan dari kubu Saudi.

Sang imam baru-baru ini juga sempat melontar penyataan kontroversial. Dia telah menyebabkan kehebohan di media sosial setelah ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai awal normalisasi Saudi dengan Israel.

Seperti dilansir Middle East Eye, Sudais menyampaikan khotbah Jumat (4/9/2020) tentang dialog dan kebaikan kepada nonmuslim, membuat referensi khusus untuk orang Yahudi.

Komentar itu muncul kurang dari empat minggu setelah Uni Emirat Arab dan Israel mengumumkan rencana menormalisasi hubungan diplomatik di tengah spekulasi mengenai apakah Arab Saudi akan mengikuti.

Imam itu mendesak jemaah menghindari 'kesalahpahaman tentang keyakinan yang benar di hati yang berdampingan dengan hubungan yang sehat dalam pertukaran antarpribadi dan hubungan internasional'.

Dia melanjutkan dengan menyebutkan beberapa cerita dari kehidupan Nabi Muhammad, yang menjaga hubungan baik dengan nonmuslim. "Ketika jalannya dialog manusia yang sehat diabaikan, bagian-bagian peradaban masyarakat akan bertabrakan, dan bahasa yang akan menjadi lazim adalah kekerasan, pengucilan, dan kebencian," ujar sang imam.

Dia menekankan pentingnya tetap patuh terhadap para pemimpin dan otoritas serta menyadari faksi dan kelompok yang sesat.

Pernyataan itu menuai kritik di media sosial, dengan banyak pengguna menuduh Sudais menyalahgunakan masjid paling suci Islam.

Untuk diketahui, kesepakatan normalisasi antara Israel dan UEA telah menimbulkan kekhawatiran tentang status sensitif Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam.

Ini bukan pertama kalinya Sudais menimbulkan kontroversi. Pada 2017, dia dikritik karena mengklaim dalam sebuah wawancara TV bahwa Presiden AS Donald Trump, AS, dan Arab Saudi mengarahkan dunia menuju perdamaian.

Dia juga dicemooh selama ceramah yang dia berikan di sebuah masjid di Jenewa pada 2018 ketika dia ditanya oleh seorang anggota hadirin: "Bagaimana Anda bisa menguliahi kami tentang perdamaian saat Anda memboikot dan membuat kelaparan saudara-saudara Anda di Yaman dan Qatar?"

Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, tetapi negara-negara Teluk Arab semakin dekat hubungan publiknya dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu didorong oleh persaingan bersama mereka dengan Iran dan keuntungan menghubungkan ekonomi mereka.

Pandangan As-Sudais ini jelas bertolak belakang dengan ulama yang menolak modernisasi. Dilansir Middle East Monitor (MEMO), Selasa (8/9) akun Twitter the Prisoners of Conscience menyampaikan bahwa Sheikh Basfar ditangkap pada Agustus lalu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana dan di mana dia ditangkap.

Basfar adalah seorang profesor di departemen Sharia dan Islamic Studies di King Abdul Aziz University di Jeddah. Ia juga mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunnah Dunia.

Laporan tentang penahanan Sheikh Basfar bertepatan dengan laporan tentang penahanan Sheikh Saud al-Funaisan, yang ditangkap pada Maret.

Isu yang berkembang di masyarakat Saudi, penangkapan ulama ini dikaitkan dengan kritik terhadap sang putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Sejak 2017, ketika putra mahkota mengambil alih kekuasaan, dia telah menindak ulama, jurnalis, akademisi, dan aktivis dunia maya atas pandangan kritis mereka tentang cara dia memerintah negara dan rencananya mengubah Arab Saudi menjadi sekuler. [yy/news.detik]

 

Fiqhislam.com - Kerajaan Arab Saudi menuai kehebohan setelah menangkap qari ternama Sheikh Abdullah Basfar. Pandangan Basfar ini berbeda dengan Imam Masjidil Haram Sheikh Abdurrahman as-Sudais, yang pro-Kerajaan dan ingin Saudi-Israel berdamai.

Ulama yang memiliki nama lengkap Sheikh Abdurrahman bin Abdul Aziz bin Muhammad as-Sudais ini lahir di Riyadh pada 10 Februari 1960. Dia kini menjabat imam dan Khatib Masjidil Haram sekaligus sebagai Ketum Pengurus Masjidil Haram.

Dia menyelesaikan studi magisternya dengan predikat cum laude dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Fakultas Syari'ah Jurusan Ushul Fiqih. Namun ia kemudian dikenal luas di kalangan umat Islam dunia sebagai qari bersuara merdu. Album rekaman qiroahnya tersebar di berbagai platform digital.

Namun Sheikh As-Sudais bukanlah sosok ulama yang kerap mengkritik kerajaan. Dia bahkan memiliki pandangan yang sering kali sejalan dengan arah politik Kerajaan.

Misalnya, pada Juni 2019, Sheikh As-Sudais turut mengutuk serangan yang dilancarkan oleh milisi Houthi di Bandara Abha, Yaman. Dalam konflik di Yaman, Houthi merupakan musuh pasukan yang dipimpin oleh Arab Saudi. Selain itu, Houthi didukung oleh Iran, yang notabene musuh politik Saudi.

Seperti dilansir Antara, Kamis (13/6/2019), Sheikh As-Sudais mengutuk serangan milisi Houthi dan menyebutnya melanggar syariah. "Tindakan ini tidak ditolerir oleh syariah, adat, atau norma apa pun. Ia tak lain adalah kerusakan di muka bumi," ujar sang Imam Masjidil Haram. Kendati demikian, kutukan itu tak pernah diarahkan untuk pasukan dari kubu Saudi.

Sang imam baru-baru ini juga sempat melontar penyataan kontroversial. Dia telah menyebabkan kehebohan di media sosial setelah ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai awal normalisasi Saudi dengan Israel.

Seperti dilansir Middle East Eye, Sudais menyampaikan khotbah Jumat (4/9/2020) tentang dialog dan kebaikan kepada nonmuslim, membuat referensi khusus untuk orang Yahudi.

Komentar itu muncul kurang dari empat minggu setelah Uni Emirat Arab dan Israel mengumumkan rencana menormalisasi hubungan diplomatik di tengah spekulasi mengenai apakah Arab Saudi akan mengikuti.

Imam itu mendesak jemaah menghindari 'kesalahpahaman tentang keyakinan yang benar di hati yang berdampingan dengan hubungan yang sehat dalam pertukaran antarpribadi dan hubungan internasional'.

Dia melanjutkan dengan menyebutkan beberapa cerita dari kehidupan Nabi Muhammad, yang menjaga hubungan baik dengan nonmuslim. "Ketika jalannya dialog manusia yang sehat diabaikan, bagian-bagian peradaban masyarakat akan bertabrakan, dan bahasa yang akan menjadi lazim adalah kekerasan, pengucilan, dan kebencian," ujar sang imam.

Dia menekankan pentingnya tetap patuh terhadap para pemimpin dan otoritas serta menyadari faksi dan kelompok yang sesat.

Pernyataan itu menuai kritik di media sosial, dengan banyak pengguna menuduh Sudais menyalahgunakan masjid paling suci Islam.

Untuk diketahui, kesepakatan normalisasi antara Israel dan UEA telah menimbulkan kekhawatiran tentang status sensitif Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam.

Ini bukan pertama kalinya Sudais menimbulkan kontroversi. Pada 2017, dia dikritik karena mengklaim dalam sebuah wawancara TV bahwa Presiden AS Donald Trump, AS, dan Arab Saudi mengarahkan dunia menuju perdamaian.

Dia juga dicemooh selama ceramah yang dia berikan di sebuah masjid di Jenewa pada 2018 ketika dia ditanya oleh seorang anggota hadirin: "Bagaimana Anda bisa menguliahi kami tentang perdamaian saat Anda memboikot dan membuat kelaparan saudara-saudara Anda di Yaman dan Qatar?"

Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, tetapi negara-negara Teluk Arab semakin dekat hubungan publiknya dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu didorong oleh persaingan bersama mereka dengan Iran dan keuntungan menghubungkan ekonomi mereka.

Pandangan As-Sudais ini jelas bertolak belakang dengan ulama yang menolak modernisasi. Dilansir Middle East Monitor (MEMO), Selasa (8/9) akun Twitter the Prisoners of Conscience menyampaikan bahwa Sheikh Basfar ditangkap pada Agustus lalu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana dan di mana dia ditangkap.

Basfar adalah seorang profesor di departemen Sharia dan Islamic Studies di King Abdul Aziz University di Jeddah. Ia juga mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunnah Dunia.

Laporan tentang penahanan Sheikh Basfar bertepatan dengan laporan tentang penahanan Sheikh Saud al-Funaisan, yang ditangkap pada Maret.

Isu yang berkembang di masyarakat Saudi, penangkapan ulama ini dikaitkan dengan kritik terhadap sang putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Sejak 2017, ketika putra mahkota mengambil alih kekuasaan, dia telah menindak ulama, jurnalis, akademisi, dan aktivis dunia maya atas pandangan kritis mereka tentang cara dia memerintah negara dan rencananya mengubah Arab Saudi menjadi sekuler. [yy/news.detik]

 

Saudi Pernah Dikudeta

Saudi Pernah Dikudeta karena Modernisasi


Fiqhislam.com - Otoritas Arab Saudi belakangan menangkap sejumlah ulama, yang salah satunya qari ternama Sheikh Abdullah Basfar. Isu yang berkembang, Basfar ditangkap karena kritiknya terhadap putra mahkota yang hendak memodernisasi Saudi. Berpuluh-puluh tahun silam, pernah terjadi upaya kudeta untuk menggulingkan pemerintahan Kerajaan Saudi.

Seperti dilansir BBC, peristiwa itu terjadi pada 20 November 1979. Sekitar 50 ribu orang Islam dari seluruh dunia berkumpul untuk salat Subuh di halaman besar yang mengelilingi Ka'bah di Mekah.

Di antara mereka, berbaur 200 pria yang dipimpin oleh seorang pengkhotbah karismatik berusia 40 tahun bernama Juhayman al-Utaybi. Dia adalah tentara Saudi yang tak puas terhadap sistem monarki Saudi.

Horor upaya perebutan kekuasaan itu dimulai dengan penempatan peti mati tertutup di tengah halaman, suatu tradisi mencari berkah untuk orang yang baru meninggal. Ketika peti mati dibuka, mereka mengeluarkan pistol dan senapan, yang dengan cepat didistribusikan kepada para pria.

Salah satu dari mereka mulai membaca pidato yang sudah dipersiapkan: "Rekan-rekan muslim, kami mengumumkan hari ini kedatangan Mahdi... yang akan memerintah dengan keadilan dan keadilan di bumi setelah dipenuhi dengan ketidakadilan dan penindasan."

Bagi para peziarah yang berada halaman, ini adalah pengumuman yang luar biasa. Imam Mahdi ialah seorang juru selamat umat Islam yang diramalkan dalam hadis Nabi Muhammad. Mahdi sang penyelamat yang dimaksud ialah Mohammed bin Abdullah al-Qahtani.

Dalam rekaman audio pidato, Juhayman terdengar menginterupsi pembicara dari waktu ke waktu untuk mengarahkan orang-orangnya menutup gerbang masjid dan mengambil posisi sebagai penembak jitu di menara tinggi, yang kala itu mendominasi Kota Mekah. Hanya dalam satu jam pengambilalihan yang berani itu selesai.

Kelompok bersenjata tersebut akhirnya memegang kendali penuh atas Masjid al-Haram, memunculkan tantangan langsung kepada otoritas keluarga Kerajaan Saudi.

Mereka yang menduduki Masjidil Haram itu adalah kelompok ultrakonservatif muslim Sunni bernama Al-Jamaa al-Salafiya al-Muhtasiba (JSM). Mereka mengutuk apa yang disebut degenerasi nilai sosial dan agama di Arab Saudi.

Dibanjiri dengan uang dari bisnis minyak, saat itu Saudi secara perlahan berubah menjadi masyarakat konsumerisme. Mobil-mobil dan alat elektronik menjadi hal yang biasa. Negara ini mulai mengenal urbanisasi dan beberapa pria dan perempuan religius mulai bercampur di publik.

Sayangnya, kepemimpinan Saudi bereaksi lamban terhadap perebutan Masjid al-Haram. Putra mahkota Fahd bin Abdulaziz al-Saud saat itu berada di Tunisia untuk menghadiri KTT Liga Arab dan Pangeran Abdullah, kepala Garda Nasional--pasukan keamanan elite yang bertugas melindungi para pemimpin Kerajaan--berada di Maroko.

Insiden itu kemudian diserahkan kepada Raja Khaled dan Menteri Pertahanan Pangeran Sultan, yang sedang sakit, untuk mengoordinasi keadaan. Baku tembak pun sempat terjadi antara polisi Saudi dan para pemberontak. Namun, pada akhirnya gerakan ini bisa dikalahkan oleh para tentara keamanan Arab Saudi. Korban pun bergelimpangan.

Juhayman diarak di depan kamera dan sebulan kemudian, 63 pemberontak dieksekusi di delapan kota di Arab Saudi. Juhayman adalah yang pertama mati.

Peristiwa ini nantinya dikenang sebagai salah satu peristiwa berdarah di Saudi. Sementara itu, menurut seorang jurnalis internasional, Yaroslav Trofimov, dalam bukunya 'Kudeta Makkah', peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori Al-Qaeda. [yy/news.detik]