25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Brenton Tarrant, pelaku penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menyebabkan 51 orang tewas telah dijatuhi penjara seumur hidup. Hakim pengadilan negara itu juga menjatuhkan hukuman, tanpa adanya kemungkinan pembebasan bersyarat pada Kamis (27/8).

Hukuman yang dijatuhkan pada Tarrant merupakan hukuman maksimum yang untuk pertama kalinya juga seseorang mendapatkan hukuman ini di Selandia Baru. Hakim Cameron Mander mengatakan kejahatan yang dilakukan oleh pria berusia 29 tahu itu sangatlah kejam.

Bahkan, Mander mengatakan hukuman seumur hidup di penjara tetap tidak dapat menebus kejahatan yang Tarrant sudah lakukan. Akibat dari peristiwa yang didalanginya, korban tak bersalah berjatuhan, hingga tak terhitung berbagai kerugian lainnya bagi umat Muslim di Selandia Baru.

“Tindakan Anda tidak manusiawi. Anda bahkan dengan sengaja membunuh anak berusia tiga tahun yang menempel di kaki ayahnya,” ujar Mander, mengacu pada detail peristiwa penembakan, dilansir Fox News, Kamis (27/8).

Penembakan yang dilakukan oleh Tarrant terjadi pada 15 Maret 2019. Saat itu, ia menargetkan orang-orang, mayoritas para pria Muslim yang akan melaksanakan ibadah sholat Jumat di masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch. Peristiwa ini telah mendorong diberlakukannya undang-undang yang melarang jenis senjata semi-otomatis paling mematikan.

Insiden juga mendorong perubahan global pada protokol media sosial setelah Tarrant menyiarkan langsung serangan yang dilakukannya di dua masjid tersebut melalui Facebook. Sebanyak 90 orang yang selamat dalam kejadian itu mengatakan selama sidang betapa mengerikan situasi yang mereka hadapi dan trauma yang tidak mudah hilang hingga saat ini.

Tarrant sebelumnya telah memecat pengacaranya dan memberi tahu hakim bahwa dia tidak ingin berbicara di persidangan. Seorang pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan mengatakan kepada hakim bahwa ia tidak menentang hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat dijatuhkan padanya.

Menurut Mander, Tarrant dalam beberapa waktu terakhir mengatakan telah menolak filosofi ekstremis yang diyakini olehnya dan menganggap serangan yang telah dilakukannya sebagai sesuatu yang tidak rasional dan menjijikkan. Namun, tidak ada empati yang ditunjukkan oleh pria asal Australia itu terhadap para korban, termasuk kesedihan atas apa yang telah dilakukan. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Brenton Tarrant, pelaku penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menyebabkan 51 orang tewas telah dijatuhi penjara seumur hidup. Hakim pengadilan negara itu juga menjatuhkan hukuman, tanpa adanya kemungkinan pembebasan bersyarat pada Kamis (27/8).

Hukuman yang dijatuhkan pada Tarrant merupakan hukuman maksimum yang untuk pertama kalinya juga seseorang mendapatkan hukuman ini di Selandia Baru. Hakim Cameron Mander mengatakan kejahatan yang dilakukan oleh pria berusia 29 tahu itu sangatlah kejam.

Bahkan, Mander mengatakan hukuman seumur hidup di penjara tetap tidak dapat menebus kejahatan yang Tarrant sudah lakukan. Akibat dari peristiwa yang didalanginya, korban tak bersalah berjatuhan, hingga tak terhitung berbagai kerugian lainnya bagi umat Muslim di Selandia Baru.

“Tindakan Anda tidak manusiawi. Anda bahkan dengan sengaja membunuh anak berusia tiga tahun yang menempel di kaki ayahnya,” ujar Mander, mengacu pada detail peristiwa penembakan, dilansir Fox News, Kamis (27/8).

Penembakan yang dilakukan oleh Tarrant terjadi pada 15 Maret 2019. Saat itu, ia menargetkan orang-orang, mayoritas para pria Muslim yang akan melaksanakan ibadah sholat Jumat di masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch. Peristiwa ini telah mendorong diberlakukannya undang-undang yang melarang jenis senjata semi-otomatis paling mematikan.

Insiden juga mendorong perubahan global pada protokol media sosial setelah Tarrant menyiarkan langsung serangan yang dilakukannya di dua masjid tersebut melalui Facebook. Sebanyak 90 orang yang selamat dalam kejadian itu mengatakan selama sidang betapa mengerikan situasi yang mereka hadapi dan trauma yang tidak mudah hilang hingga saat ini.

Tarrant sebelumnya telah memecat pengacaranya dan memberi tahu hakim bahwa dia tidak ingin berbicara di persidangan. Seorang pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan mengatakan kepada hakim bahwa ia tidak menentang hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat dijatuhkan padanya.

Menurut Mander, Tarrant dalam beberapa waktu terakhir mengatakan telah menolak filosofi ekstremis yang diyakini olehnya dan menganggap serangan yang telah dilakukannya sebagai sesuatu yang tidak rasional dan menjijikkan. Namun, tidak ada empati yang ditunjukkan oleh pria asal Australia itu terhadap para korban, termasuk kesedihan atas apa yang telah dilakukan. [yy/republika]

 

PM Selandia Baru

PM Selandia Baru Sambut Baik Bui Seumur Hidup untuk Pembantai 51 Muslim


Fiqhislam.com - Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyambut baik vonis penjara seumur hidup yang dijatuhkan terhadap pelaku penembakan masjid di Christchurch yang menewaskan 51 warga muslim. PM Ardern bahkan menyebut pelaku layak mendapatkan 'kebungkaman total' seumur hidupnya.

Seperti dilansir AFP, Kamis (27/8/2020), penembakan brutal pada Maret 2019 yang didalangi Brenton Tarrant dalam menargetkan para jemaah Masjid Al Noor dan Majid Linwood di Christchurch, mengejutkan publik Selandia Baru. Penembakan dilakukan saat para jemaah sedang menunaikan ibadah salat Jumat.

Penembakan itu mendorong pemberlakuan aturan hukum baru yang melarang senjata semi-otomatis yang mematikan, yang digunakan pelaku dalam aksinya.

Hakim Cameron Mander dalam putusannya menjatuhkan vonis maksimum, yakni hukuman penjara seumur hidup, terhadap Tarrant (29) yang berkewarganegaraan Australia. Ini merupakan pertama kalinya vonis penjara seumur hidup dijatuhkan oleh pengadilan Selandia Baru.

Disebutkan hakim Mander bahwa tindak kejahatan Tarrant sangat jahat sehingga hukuman penjara seumur hidup tidak cukup untuk menebusnya.

Dalam sidang putusan yang berlangsung empat hari, sedikitnya 90 korban selamat dan anggota keluarga mereka menceritakan kengerian serangan brutal tersebut dan trauma yang mereka rasakan hingga saat ini. PM Ardern, dalam tanggapannya, memuji 'kekuatan' komunitas muslim di Selandia Baru setelah vonis dijatuhkan pengadilan.

"Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa sakitnya, tapi saya harap Anda bisa merasakan pelukan Selandia Baru di sekitar Anda selama keseluruhan proses ini," ucapnya.

"Trauma 15 Maret tidak mudah disembuhkan, tapi hari ini saya berharap ini menjadi yang terakhir di mana kita memiliki alasan untuk mendengar atau menyebut nama teroris di balik itu," ujar PM Ardern, yang dipuji secara luas atas respons tegasnya terhadap penembakan brutal itu.

"Dia pantas untuk mendapatkan kebungkaman total seumur hidup," tandasnya. [yy/news.detik]