21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Anggota biro politik gerakan perlawanan Palestina, Ezat Rasyiq dalam pernyataanya mengatakan, operasi Beer Sheba merupakan lompatan specktakuler dalam intifadhah rakyat Palestina.

Dalam pernyataan kemarin Senin (19/10/2015) yang dilansir pusat Infopalestina, Rasyiq menegaskan, operasi tersebut telah memasukan intifadhah Al-Quds ke dalam kancah baru memasuki tahapan tak kan kembali dan lebih kaut dari sebelumnya.

Ia mengisyaratkan, berlanjutnya aksi perlawanan merupakan deklarasi atas kegagalan Netanyahu dan pemerintahanya berikut tentaranya serta seluruh rencana dan upayanya.

Operasi Beer Sheba merupakan operasi kepahlawanan yang tak pernah diperhitungkan Israel, disamping membuka lapak baru intifadhah.

Intifadhah rakyat dan perlawanannya akan terus berlanjut selama penjajahan masih bercokol di bumi Palestina dan menodai tempat suci kita Al-Aqsha.

Fakta-Fakta Operasi Beer Sheba

Mahmud Zehar, pemimpin senior Hamas menegaskan, operasi Beer Sheba mempunyai fakta yang belum pernah terjadi di Al-Quds. Namun operasi ini akan terus membesar meluas hingga mencakup semua wilayah jajahan. Dan semuanya akan berakhir di Beer Sheba.

Dalam akun facebooknya, Senin (19/10/2015) Zehar mengungkapkan fakta-fakta ini. “Kalau kita katakan bahwa pemuda pelaku operasi Beer Sheba berhasil merebut senjata milik serdadu Zionis maka beginilah kejadianya sebagaimana terjadi kemarin di Beer Sheba. Tapi kalau seandainya ia punya senjata dari awal atau ia sendiri menyimpan amunisi bersama teman-temanya, maka tentu ia akan mampu membebaskan Beer Sheba seluruhnya. Ia bersama teman-temanya akan mampu membebaskan Beer Sheba dari para serdadu Zionis yang ketakutan dan gemeteran, bersembunyi dibalik ranselnya. Apa yang terjadi di Beer Sheba merupakan scenario terbatas bagaimana membebaskan Palestina seluruhnya.

Scenario ini sangat jelas bagi yang masih meragukan atau para komparador yang takut pada tentara Israel. Lihatlah bagaimana pemuda ini sendirian berbuat. Sementara serdadu Zionis yang lengkap dengan senjatanya apa yang mereka perbuat. Gambaran ini sangat penting bagi para prajurit akhirat.

Dalam pada itu, Zehar membantah tidak ada militerisasi intifadhah. Yang berkata tidak ada militerisasi intifadhah ia tak paham tabiat konflik. Serdadu Zionis dimiliterisasi dan dipersenjatai, demikian juga dengan polisinya, bahkan para pemukim sipil Israel pun dipersenjatai dan dimiliterisasi. Kalau begitu apa yang menghalangi kita untuk tidak memiliterisasi intifadhah ?.

Apa yang terjadi setelahnya ?

Pemimpin Hamas ini kemudian menyatakan, intifadhah Al-Quds mempunyai masa depan yang tidak bisa dibayangkan siapapun sebelumnya. Bukan hanya karena ini sebuah mimpi, tetapi juga terkait dengan keyakinan kaum Zionis dan para pimpinannya.

Bangsa Palestina adalah bangsa yang bersatu. Baik yang ada di wilayah 67 maupun wilayah 48. Kemenangan adalah tuntunannya. Sebagaimana disebutkan, kemenangan mempunyai ribuan tuntutan sementara kekalahan sendirian.

Salah satu keistimewaan operasi Al-Quds bahwa operasi ini tidak ada intervensi organisasi manapun. Apalagi organisasi yang tidak menginginkan militerisasi rakyatnya. Operasi ini berangkat dari semua keyakinan. Bukan tekanan pimpinannya.

Dalam hal ini Zehar meminta pihak-pihak yang tidak menginginkan militerisasi rakyatnya untuk membebaskan mereka mempersiapkan dirinya yang berakhir dengan penggunaan senjata. Hari ini ada militerisasi intifadhah dengan senjata. Kalaupun mereka tak punya senjata, mereka bisa merebutnya dari serdadu Zionis dan menembakanya kepada mereka.

Zehar kembali menegaskan, Tepi Barat adalah gudangnya pahlawan. Kita harus percaya itu. Ini harus dibangunkan dan membiarkan mereka mahir dalam perlawananya dan inilah yang terjadi di intifadhah Al-Quds yang Mubarak ini, ungkapnya. [yy/muslimdaily]

Tewaskan Tentara Israel, Hamas Apresiasi Aksi Serangan Beer Sheba

Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengapresiasi aksi kepahlawanan di Beer Sheba yang menewaskan seorang tentara Zionis. Hamas menegaskan bahwa itu adalah balasan alami atas aksi-aksi eksekusi dengan darah dingin yang dilakukan militer penjajah Zionis dan para pemukim Yahudi terhadap warga Palestina.

Jurubicara Gerakan Hamas Hussam Badran mengatakan bahwa para pahlawan pelaku aksi kepahlawanan berhasil memukul sistem keamanan penjajah Zionis yang sedang dalam keadaan siaga penuh.

Badran berpendapat bahwa aksi kepahlawanan ini menegaskan kegigihan rakyat Palestina pada perlawanan dan tidak akan bisa dihentikan oleh apapun. Dia mengatakan, “Intifadhah akan terus berlanjut dan berkesinambungan serta meningkat sampai tujuannya terwujud dalam menghentikan penjajah Zionis dan mengakhirinya secara final.”

Seorang tentara Zionis tewas dan 11 lainnya terluka, termasuk 4 tentara, pada Ahad (18/10) malam dalam dua aksi kepahlawanan di stasiun pusat bus di Beer Sheba. Diumumkan kematian pelaku namun belum diketahui identitasnya. Sementara itu seorang warga Eritrea ditembak mati pasukan penjajah Zionis setelah diduga sebagai pelaku aksi yang kedua. [yy/infopalestina]

Polisi Israel Keliru Tembak, Migran Eritrea Tewas

Seorang migran Eritrea tewas hari Minggu akibat ditembak polisi Israel, setelah seorang lelaki lain menewaskan seorang tentara Israel dan melukai 10 lainnya dalam serangan penikaman. 

Polisi menyatakan, tentara menembak migran Eritria itu karena keliru mengiranya sebagai penyerang ke-dua. Laporan media menyebutkan orang itu juga dipukuli oleh massa Israel di lokasi kejadian. 

Para pejabat keamanan Israel hari Senin mengidentifikasi pelaku penikaman sebagai seorang warga Arab Israel berusia 21 tahun yang tidak memiliki catatan aktivitas militan sebelumnya. 

Serangan di stasiun bus utama di Beersheba itu adalah insiden tunggal yang paling banyak menimbulkan korban dalam serangan kekerasan dua pekan terhadap warga Israel yang menyebabkan delapan warga Israel dan 41 Palestina tewas. 

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry hari Senin menyerukan semua pihak agar menahan diri, sewaktu ia bersiap-siap untuk bertemu secara terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas pekan ini. 

“Kami ingin ketenangan dipulihkan dan kekerasan dihentikan, dan saya kira semua orang di Israel dan kawasan ingin melihat kedua hal itu terjadi,” ujar Kerry. Ia menambahkan bahwa Israel berhak melindungi rakyatnya dari kekerasan secara acak. 

Gelombang serangan warga Palestina terhadap warga Israel dimulai sewaktu desa-desas beredar di daerah-daerah Palestina bahwa Israel berencana akan mengambil alih sebuah tempat di Yerusalem Timur yang dianggap suci oleh umat Islam dan Yahudi. Muslim menyebutnya sebagai masjid al-Aqsa dan Yahudi menyebutnya sebagai Temple Mount. 

Kerry hari Senin mengatakan Israel telah menjelaskan kepadanya bahwa mereka tidak berniat mengubah ketentuan yang telah lama berlaku mengenai siapa yang dapat dan tidak dapat beribadah di tempat suci itu. 

Israel menuding Hamas, Otorita Palestina dan kelompok Gerakan Islam yang menyebarkan kebohongan mengenai Israel dan menghasut para pemuda agar melakukan kerusuhan. 

Tetapi warga Palestina telah bosan dengan bayangan perdamaian yang suram, kurangnya peluang ekonomi dan aktvitas permukiman Yahudi di daerah-daerah yang mereka inginkan sebagai negara Palestina kelak. 

Israel menyatakan permukiman itu diperlukan demi keamanannya dan bahwa tidak akan ada perdamaian tercapai sebelum Palestina mengakui hak Israel untuk eksis. [yy/voaindonesia]

Pelaku Aksi Beersheba Badui Nagev, Israel dan Medianya Kebingungan

Kondisi “kebingungan” menguasai institusi keamanan dan media di entitas Zionis, setelah aksi serangan Beersheba pada Ahad (18/10) malam, yang membentuk pola berbeda dari aksi-aksi sebelumnya, sejak meletus intifadhah al Quds dari awal Oktober 2015 ini.

Ada kondisi kebingungan yang dialami entitas Zionis pasca aksi serangan yang menewaskan seorang tentara Zionis dan melukai tidak kurang dari 11 orang lainnya itu, di samping tewasnya seorang peziarah asal Eritrea, setelah diintimidasi dan ditembak pemukim Yahudi dan polisi penjajah Zionis setelah dicurigai sebagai pelaku serangan.

Kabar Simpang Siur

Indikasi kebingugan pertama muncul dalam kabar simpang siur seputar aksi dan jumlah pelakunya, sebelum pihak dinas intelijen umum Zionis Shabak (Shin Bet) mengeluarkan perintah tidak menyebarkan seputar pelaku aksi. Hal itu yang mendorong saluran TV10 Zionis mengatakan bahwa mungkin akan ada kejutan besar setelah pengumuman rincian peristiwa.

Kabar pertama dari pihak penjajah Zionis menyebutkan tentang aksi ganda yang dilakukan dua pemuda, salah satunya melakukan penembakan menggunakan pistol dan yang kedua melakukan aksi penikaman. Akhirnya diketahui bahwa pelaku adalah satu orang, yang melakukan aksi penikaman dan berhasil membunuh salah seorang serdadu Zionis, dan menggunakan senjata serdadu tersebut untuk menembak para serdadu yang lainnya. Sementara itu polisi Israel menembak seorang peziarah asal Eritrea yang diduga sebagai pelaku, juga serangan yang dialami korban dari para pemukim Zionis adalah salah satu indikasi kuat betapa besarnya rasisme di dalam entitas Zionis.

Cemas dan Kacau

Kejutan kedua diungkap oleh jurubicara polisi Zionis, Loba Samiri, yang mengumumkan bahwa pelaku aksi adalah Muhannad Khalil Salim berusia 21 tahun dari daerah pinggiran Haurah di Beersheba, wilayah selatan Palestina terjajah sejak tahun 1948. Ibu pelaku dulunya datang dari kamp pengungsi Nushairat di Jalur Gaza dan menetap di Nagev setelah menikah dengan salah seorang warga Palestina di sana.

Saluran TV2 Zionis menyatakan bahwa polisi Zionis yang paling bertanggung jawab atas aksi ini. “Seharusnya aksi serangan Beersheba digagalkan sebelum terlaksanana,” ungkapnya. TV Zionis ini mempertanyakan, “Bagaimana pelaku berhasil masuk ke terminal pusat bus dan menahan skuriti di tempatnya padahal dia bersenjata pistol dan pisau.”

Tidak ada yang menduga bahwa pelaku aksi memiliki hubungan dengan masyarakat badui di wilayah selatan Palestina terjajah tahun 1948. Karena itu, Kepala Polisi Daerah Selatan "Yoram Halevy" bermusyawarah dengan para pemimin masyarakat Badui di wilayah selatan, guna menjaga sikap menghormati hubungan baik antara warga Yahudi dan badui yang hidup berdampingan satu sama lain. Suatu tindakan yang jelas tidak bernilai di hadapan kesewenangan dan intimidasi yang dialami badui dari pihak penjajah Zionis, secara khusus dalam kasus-kasus penghancuran rumah non permanen dan perkemahan mereka.

Melihat adanya hubungan kuat pelaku dengan sebagian badui di Nagev, "Yoram Halevy", mengatakan bahwa mereka lebih baik bergabung dalam militer dan kepolisian sera membantu dalam menjaga keamanan negara.

PM Zionis Benjamin Netanyahu menunjukkan kecemasan yang sangat setelah mengetahui bahwa pelaku aksi dari kabilah badui sebagaimana disebutkan saluran TV7 Zionis. Sementara itu Menteri Kebudayaan Zionis "Regev" mengomentasi masalah ini dengan mengatakan, “Sekarang kami punya alasan untuk melucuti keluarga ini dari kewarganegaraan Israel dan mengusirnya ke Jalur Gaza.” [yy/infopalestina]