19 Syawal 1443  |  Sabtu 21 Mei 2022

basmalah.png

Dilansir di Middle East Monitor, Kamis (9/1), Wakil Direktur Departemen Wakaf Muslim di wilayah Yerusalem yang diduduki, Najeh Bkerat mengatakan pendudukan itu meningkatkan frekuensi pelanggaran di Masjid Al-Aqsha. Hal itu termasuk dalam kinerja ritual Talmud di lingkungan komplek area tersebut, yang disebut membatasi pergerakan umat Islam.

Menurut Brekat, Israel juga mengancam akan menutup Rahma Gate (Gerbang Rahma) di area tersebut dalam upaya meningkatkan kehadiran negara tersebut dan mendapat pijakan di dalam tembok Masjid Al-Aqsha. Pada akhirnya, Israel terus berusaha memaksakan kedaulatannya di tempat ibadah yang sangat berarti dalam sejarah umat Islam tersebut.



Israel juga menganggu kekuatan Wakaf Islam, termasuk dengan mencegah Muslim dari melakukan pekerjaan apa pun di dalam komplek, termasuk kegiatan restorasi dan rekonstruksi.  Brekat menunjukkan sejak awal tahun ini, Israel telah menangkap lebih dari 15 warga di Yerusalem. Tak hanya itu, pihak berwenang Israel juga menyerang laki-laki dan perempuan di Masjid Al-Aqsha.

Pendudukan Israel telah membuka jalan untuk mengubah Yerusalem sebagai Ibu Kota negara itu dengan melancarkan perang ideologis melawan narasi Arab-Islam di Kota Suci tersebut. Brekat mengatakan adanya sikap diam Arab-Islam dan konfik, serta kekacauan di sekitar Palestina membantu Israel dalam usaha memonopoli Masjid Al-Aqsha dan Yerusalem.

Dengan demikian, otoritas Israel tetap kebal dan menghindari  pertanggungjawaban atas pelanggaran mereka. “Secara jelas Israel berusaha hari demi hari memasuki Masjid Al-Aqsha untuk mengubah persamaan secara signifikan,” kata Brekat. [yy/republika]