25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan konstitusi negaranya menjamin hak-hak dasar dan kebebasan beragama semua warganya, termasuk komunitas minoritas Muslim yang populasinya mencapai 14 persen dari total penduduk India.

“Kami tidak melihat locus stan di (kedudukan hukum) untuk entitas asing yang menyatakan status hak warga negara kami yang dilindungi secara konstitusional,” ujarnya pada Ahad (23/6).

Oleh sebab itu India tak terlalu menghiraukan laporan yang dirilis Departemen Luar Negeri AS tentang kebebasan beragama. India bangga dengan kepercayaan sekulernya, statusnya sebagai (negara) demokrasi terbesar dan masyarakat majemuk dengan komitmen jangka panjang terhadap toleransi.

Dalam laporan yang dirilis pada Jumat (21/6) lalu, AS menyebut bahwa beberapa pejabat senior dari partai Perdana Menteri India Narendra Modi, yakni Bharatiya Janata Party (BJP) telah membuat pidato yang bersifat menghasut terhadap pemeluk agama minoritas di negara itu tahun lalu.

Ia juga mencatat laporan-laporan oleh organisasi non-pemerintah yang mengklaim bahwa Pemerintah India terkadang gagal menindak serangan massa terhadap pemeluk agama minoritas.

Departemen Luar Negeri AS turut memeriksa serangan terhadap pemeluk agama minorirtas sepanjang 2018. “Serangan gerombolan oleh kelompok Hindu ekstremis yang kejam terhadap komunitas minoritas, terutama Muslim, berlanjut sepanjang tahun di tengah rumor bahwa para korban telah berdagang atau membunuh sapi untuk dagingya,” katanya laporan itu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dijadwalkan mengunjungi India pada Selasa (25/6) mendatang. Belum diketahui apakah laporan Departemen Luar Negeri AS tentang praktik kebebasan beragama di India akan mengganggu kunjugannya ke negara tersebut. [yy/republika]

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan konstitusi negaranya menjamin hak-hak dasar dan kebebasan beragama semua warganya, termasuk komunitas minoritas Muslim yang populasinya mencapai 14 persen dari total penduduk India.

“Kami tidak melihat locus stan di (kedudukan hukum) untuk entitas asing yang menyatakan status hak warga negara kami yang dilindungi secara konstitusional,” ujarnya pada Ahad (23/6).

Oleh sebab itu India tak terlalu menghiraukan laporan yang dirilis Departemen Luar Negeri AS tentang kebebasan beragama. India bangga dengan kepercayaan sekulernya, statusnya sebagai (negara) demokrasi terbesar dan masyarakat majemuk dengan komitmen jangka panjang terhadap toleransi.

Dalam laporan yang dirilis pada Jumat (21/6) lalu, AS menyebut bahwa beberapa pejabat senior dari partai Perdana Menteri India Narendra Modi, yakni Bharatiya Janata Party (BJP) telah membuat pidato yang bersifat menghasut terhadap pemeluk agama minoritas di negara itu tahun lalu.

Ia juga mencatat laporan-laporan oleh organisasi non-pemerintah yang mengklaim bahwa Pemerintah India terkadang gagal menindak serangan massa terhadap pemeluk agama minoritas.

Departemen Luar Negeri AS turut memeriksa serangan terhadap pemeluk agama minorirtas sepanjang 2018. “Serangan gerombolan oleh kelompok Hindu ekstremis yang kejam terhadap komunitas minoritas, terutama Muslim, berlanjut sepanjang tahun di tengah rumor bahwa para korban telah berdagang atau membunuh sapi untuk dagingya,” katanya laporan itu.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dijadwalkan mengunjungi India pada Selasa (25/6) mendatang. Belum diketahui apakah laporan Departemen Luar Negeri AS tentang praktik kebebasan beragama di India akan mengganggu kunjugannya ke negara tersebut. [yy/republika]

Pria Muslim di India Diduga Wafat Usai Dikeroyok Massa

Pria Muslim di India Diduga Wafat Usai Dikeroyok Massa


Fiqhislam.com - Seorang pemuda Muslim di India bernama Tabrez Ansari dilaporkan tewas, beberapa hari setelah mengalami penyiksaan oleh sekelompok orang pada 18 Juni lalu. 

Menurut informasi pihak berwenang, dia dipukuli oleh kerumunan orang yang memaksanya untuk memanjatkan doa-doa dalam kepercayaan Hindu.

Sebelum diserang sekelompok orang, Ansari dituding telah melakukan pencurian di sebuah rumah di Negara Bagian Jharkand. Dia juga dituduh mengambil sepeda motor. 

Beberapa video yang beredar secara daring terkait serangan Ansari, terlihat pemuda itu dipukul kerumunan orang-orang yang membawa tongkat. Di waktu yang sama, terdengar sekelompok orang tersebut memaksa pria berusia 22 tahun itu untuk menyanyikan lagu pujian Jai Shri Ram dan Jai Hanuman.  

Nyanyian yang diartikan sebagai kemenangan untuk Dewa Rama dan kemenangan untuk Hanuman selama ini digunakan umat Hindu yang taat sebagai sebuah doa. 

Dalam video tersebut, terdengar bahwa Ansari telah memohon agar sekelompok orang tersebut berhenti memukulinya dan melantunkan lagu tersebut, sesuai permintaan.   

Polisi kemudian menemukan Ansari dalam keadaan sudah terikat ke pohon saat tiba di lokasi kejadian. Menurut penyelidik, pemuda tersebut telah mengaku melakukan pencurian di sebuah rumah, bersama dengan dua rekannya yang sudah terlebih dahulu melarikan diri. 

Ansari berada dalam tahanan polisi hingga Sabtu (22/6) lalu. Pria tersebut dilaporkan mengalami sakit, hingga kemudian dibawa ke rumah sakit di Kota Jamshedpur. Dia dinyatakan meninggal saat tiba di sana.  

Beberapa surat kabar India mengatakan, polisi tidak mencatat dugaan penyerangan dalam insiden yang melibatkan Ansari. Padahal, dia diyakini meninggal akibat serangan tersebut yang dikatakan oleh keluarganya berlangsung tanpa henti, hingga empat jam. 

“Mari kita asumsikan dia ditangkap karena pencurian, tetapi mengikatnya dan memukulinya berjam-jam dan kemudian memintanya untuk mengucapkan doa Hindu itu sangat mengejutkan,” ujar paman dari Ansari, Maqsood Alam, dilansir The Independent, Senin (24/6). 

Alam bahkan menilai bahwa kesalahan terbesar dari Ansari adalah karena dia seorang Muslim. Perlakuan sewenang-wenang tersebut diyakini tak akan terjadi jika keponakannya tersebut tidak menganut agama Islam. 

“Kesalahan yang ia (Ansari) miliki adalah dia seorang Muslim, jika tidak, ia akan tetap hidup,” kata Alam menambahkan. 

Penyebab kematian Ansari akan diselidiki dalam pemeriksaan post-mortem. Pihak berwenang mengatakan, terdapat kemungkinan bahwa dia meninggal karena serangan jantung atau penyumbatan pembuluh darah. 

Saat ini, polisi telah menangkap satu orang sehubungan dengan kematian Ansari. Penyelidikan masih akan dilakukan secara lebih lanjut.  

Dalam sebuah laporan Pemerintah Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu tentang kebebasan beragama internasional, disebutkan bahwa serangan massa terhadap Muslim di India terjadi sepanjang 2018. Bahkan, terdapat laporan pembunuhan, serangan kerusuhan, hingga diskriminasi yang membatasi hak-hak individu untuk melakukan kebebasan beragama. [yy/republika]