25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Ray memenangkan gugatan terhadap Pemerintah Negara Bagian Alabama untuk meminta didampingi ustaz saat eksekusi.

Dia berargumen, prosedur eksekusi di Alabama lebih disukai narapidana beragama Kristen karena penjara menyediakan pendeta. Seorang pendeta akan berada di ruang eksekusi selama proses suntik mati berlangsung.

Ray meminta agar pendeta itu digantikan oleh ustaz saat eksekusi. Masalahnya, hukum di Alabama tak membolehkan seseorang yang bukan pekerja lembaga pemasyarakatan berada di ruang eksekusi dengan alasan keamanan.

Akhirnya, ustaz yang diminta Ray, Yusef Maisonet, menyaksikan eksekusi dari ruang saksi yang lokasinya bersebelahan. Maisonet juga sempat mengunjungi Ray selama dua hari sebelum eksekusi, seperti dikutip dari Associated Press, Jumat (8/2/2019).

Dilaporkan, tidak ada pendeta di ruangan eksekusi, sebagiamana permintaan Ray yang akhirnya disetujui oleh pemerintah negara bagian.

Sebelum cairan disutikkan ke tubuh, Ray, yang dalam kondisi terikat di kursi eksekusi, ditanya oleh sipir apakah ada kata-kata terakhir yang ingin disampaikan.

Pria 42 tahun itu hanya menyebut kalimat dalam bahasa Arab, "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah."

Ray divonis hukuman mati pada 1999 karena membunuh remaja 15 tahun Tiffany Harville. Perempuan itu hilang dari rumahnya di Selma, Alabama, pada Juli 1995. Ray memeluk Islam saat menjalani hukuman penjara. [yy/iNews]