25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Anak-anak malang itu menjadi yatim piatu di antaranya karena orangtua mereka tewas akibat kekerasan yang dilakukan militer Myanmar di Negara Bagian Rakhine sejak Agustus 2017.

Dalam survei di kamp pengungsian, Save the Children mendapati setengah dari anak-anak di bawah umur sudah menyandang status yatim piatu sejak sebelum tiba ke Bangladesh. Bahkan anak-anak itu menyaksikan sendiri orangtua mereka dibunuh dengan kejam.

Menurut Save the Chlidren, sangat kecil kemungkinan sebagian anak-anak lainnya di kamp pengungsian Bangladesh bisa bertemu kembali dengan orangtua. Sampai saat ini tidak ada kabar mengenai kondisi mereka. Jika mereka masih di Rakhine maka akan sulit sekali untuk bertahan dan lolos dari kekejaman tentara Myanmar.

"Kami tahu ini buruk. Bahkan seorang manajer perlindungan anak yang sudah berpengalaman terkejut dengan temuan ini," kata Beatriz Ochoa, manajer advokasi kemanusiaan Save the Children di Cox's Bazar, seperti dikutip dari AFP, Kamis (23/8/2018).

"Beberapa dari anak-anak ini menyaksikan orangtua mereka meninggal. Bisakah Anda bayangkan?" katanya lagi.

Save the Children mengakui tak memiliki angka pasti mengenai jumlah anak-anak yatim piatu di kamp pengungsian Bangladesh. Namun mereka yakin jika jumlah pastinya diketahui, maka angkanya akan jauh lebih besar dari 6.000. Mereka telah terpisah dengan orangtua selama setahun lebih.

Anak-anak tersebut terpisah dari orangtua mereka saat gelombang pengungsian mengalir ke perbatasan Bangladesh. Ada yang mengungsi bersama kerabat, ada pula yang ikut dengan tetangga mereka. Bahkan ada yang melintasi perbatasan sendiri tanpa sanak saudara.

Upaya untuk mempertemukan kembali dengan orangtua atau keluarga mereka sudah dilakukan sejak tahun lalu, namun hal itu tidak mudah. Sekitar 700.000 muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak setahun terakhir. [yy/iNews]