21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Kendati demikian, Lieberman mengatakan Israel tidak dapat mencegah jenazah anggota Hamas tersebut  dibawa ke wilayah Palestina melalui Mesir, yang telah berbagi perbatasan dengan Gaza.

Sebelumnya, keluarga Al-Batsh mengatakan bahwa mereka berusaha untuk mengirim jenazah dosen tersebut ke Gaza melalui penyeberangan Rafah di Mesir.

Keluarga Al Batsh mengatakan bahwa agen mata-mata Israel Mossad berada di balik pembunuhan itu.

Sementara itu, media Israel mengisyaratkan bahwa Israel bisa jadi berada di belakang pembunuhan itu.

Koran Israel Hayom mengatakan pembunuhan al-Batsh secara teknis mirip pembunuhan sebelumnya Fathi Shaqaqi, co-founder dan Sekjen Jihad Islam yang tewas di Malta pada tahun 1995.

Netanyahu Bungkam soal Dugaan Mossad Dalangi Pembunuhan Ilmuan Palestina di Malaysia

Surat kabar itu mengutip bahwa pembunuhan seorang insinyur penerbangan Tunisia Mohamed al-Zawari pada 2016, yang dilaporkan berada di belakang program drone Hamas.

Pada tahun 1997, para agen Mossad tercatat pernah mencoba dan gagal membunuh kepala politik Hamas Khaled Meshaal di Yordania dengan menyemprotkan racun ke telinganya.

Mossad juga diyakini berada di balik pembunuhan tahun 2010 atas komandan Hamas Mahmud al-Mabhuh di sebuah hotel Dubai. Walau demikian, Israel tidak pernah mengkonfirmasi atau membantah keterlibatannya dalam pembunuhan Mabhuh.

Israel disebut-sebut telah membunuh banyak aktivis perlawanan Palestina di masa lalu, yang banyak dari mereka sedang berada di luar negeri.

Namun, pada Ahad (22/4/2018) lalu, Lieberman membantah keterlibatan Israel dalam pembunuhan Al Batsh di Malaysia. Padahal, sebelum peristiwa pembunuhan itu terjadi, pihak Israel telah mengeluarkan ancaman terhadap Hamas dan Palestina.

Al Batsh yang merupakan ahli dalam pembuatan roket, dilaporkan telah ditembak oleh dua orang berkendara motor saat akan berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh di Malaysia. [yy/islampos]