19 Syawal 1443  |  Sabtu 21 Mei 2022

basmalah.png

Umat Islam di Yokohama Bersyukur Miliki Masjid Jami


Fiqhislam.com - Masjid Jami Yokohama merupakan satu-satunya masjid dan yang paling diimpikan warga Yokohama. Meski bangunannya sederhana, mereka amat bahagia dan bersyukur.

Luas masjid sekitar 200 meter persegi, berlokasi di kawasan Hayabuchi, Tsuzuki. Bangunan seperti rumah pada umumnya, namun berbentuk kubus dengan tiga lantai.

Amat sederhana, tanpa kubah ataupun menara. Penanda masjid dengan papan nama masjid bertuliskan Arab dan Jepang. Selain itu, hiasan seperti kubah dan ujung menara juga ditemui di atap bangunan yang didominasi warna cokelat muda itu.

Terdapat seorang imam di Masjid Jami Yokohama. Sang imam berasal dari Myanmar dan mampu tiga bahasa, yakni Inggris, Arab, dan Jepang. Adapun pengurus masjid didominasi imigran asal Pakistan.

Beragam aktivitas pun dilaksanakan. Tak hanya shalat, tapi juga pendidikan Islam untuk anak, kajian keislaman untuk dewasa, dan acara untuk Muslimah.

Masjid Yokohama juga terkenal dapat mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah dengan jumlah yang besar. Setiap bulan, infak mencapai 1.000 yen.

Dari pendapatan tersebut, pengurus membaginya tak hanya untuk aktivitas masjid, tapi juga untuk bantuan kemanusiaan kepada Muslimin yang tertimpa bencana di seluruh dunia. [yy/republika]

Umat Islam di Yokohama Bersyukur Miliki Masjid Jami


Fiqhislam.com - Masjid Jami Yokohama merupakan satu-satunya masjid dan yang paling diimpikan warga Yokohama. Meski bangunannya sederhana, mereka amat bahagia dan bersyukur.

Luas masjid sekitar 200 meter persegi, berlokasi di kawasan Hayabuchi, Tsuzuki. Bangunan seperti rumah pada umumnya, namun berbentuk kubus dengan tiga lantai.

Amat sederhana, tanpa kubah ataupun menara. Penanda masjid dengan papan nama masjid bertuliskan Arab dan Jepang. Selain itu, hiasan seperti kubah dan ujung menara juga ditemui di atap bangunan yang didominasi warna cokelat muda itu.

Terdapat seorang imam di Masjid Jami Yokohama. Sang imam berasal dari Myanmar dan mampu tiga bahasa, yakni Inggris, Arab, dan Jepang. Adapun pengurus masjid didominasi imigran asal Pakistan.

Beragam aktivitas pun dilaksanakan. Tak hanya shalat, tapi juga pendidikan Islam untuk anak, kajian keislaman untuk dewasa, dan acara untuk Muslimah.

Masjid Yokohama juga terkenal dapat mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah dengan jumlah yang besar. Setiap bulan, infak mencapai 1.000 yen.

Dari pendapatan tersebut, pengurus membaginya tak hanya untuk aktivitas masjid, tapi juga untuk bantuan kemanusiaan kepada Muslimin yang tertimpa bencana di seluruh dunia. [yy/republika]

Umat Islam di Yokohama tak Sulit Mencari Makanan Halal

Umat Islam di Yokohama tak Sulit Mencari Makanan Halal


Umat Islam di Yokohama tak Sulit Mencari Makanan Halal


Fiqhislam.com - Ooki Michiyo (12 tahun) tampak sangat berbeda dari teman-temannya di sebuah SMP di Yokohama, Jepang. Baju seragamnya berbeda dari siswa lain pada umumnya.  Kemejanya berlengan panjang dan rok pendeknya pun dirangkap celana panjang.

Tak hanya itu, wajahnya yang cantik berbalut jilbab nan rapi. Tentu itu sebuah pemandangan yang sangat langka di sekolah-sekolah di Jepang yang mayoritas warganya beragama Shinto. Kendati demikian, Michiyo tak terasing. Ia berbaur dengan teman-temannya tanpa menjadikan perbedaan sebagai hambatan.

Aktivitas Michiyo tersebut merupakan salah satu gambaran Muslimin Jepang yang ditulis majalah Nikkei Kids Plus. Dikisahkan kehidupan gadis muda itu yang telah berjilbab sejak kelas tiga sekolah dasar, namun ia dapat berbaur meski berjilbab dan beragama Islam.

“Saya sudah terbiasa. Pertama kali mungkin banyak sekali keraguan, tapi sekarang sama sekali tidak terasa. Sudah menjadi hal yang lazim,” ujar salah seorang sahabat Michiyo di SMP Yokohama, Yamamoto Misaki, dikutip majalah tersebut, dari laman web resmi komunitas Midori-Takodai.

Inilah gambaran Islam di Yokohama. Tak hanya Michiyo, ratusan Muslimin hidup aman dan nyaman meski sebagai minoritas. Jumlah pasti Muslimin Yokohama tak terdata jelas. Bahkan, untuk jumlah keseluruhan di Jepang pun, tak ada data yang akurat.

Beberapa sumber menyebut Muslim Jepang berjumlah satu banding 10 ribu penduduk. Sumber lain menyebut Muslim di Jepang mencapai 70 ribu dengan 90 persennya merupakan imigran. Adapun PEW Research menyebutkan jumlah Muslim di Jepang mencapai 183 ribu.

Namun, menurut imam masjid Yokohama, jumlah Muslimin yang tinggal di  kota tersebut berjumlah sekitar 300 orang. Jumlah yang sangat kecil dibanding jumlah penduduk Yokohama yang mencapai 3,7 juta. Kota di kawasan Kanto tersebut memang nomor wahid dalam hal populasi dibanding kota-kota Jepang lain.

Meski jumlahnya sangat minim, Muslimin dapat hidup dengan bebas. Warga Yokohama sangat menghormati antarumat beragama. Mereka hidup berdampingan tanpa gesekan apa pun. Pemandangan Muslimin bercengkerama dengan tetangga mereka sudah hal lumrah.

Dalam memenuhi kebutuhan pun, Muslimin Yokohama tak banyak mendapat kesulitan. Untuk beribadah, mengkaji agama, hingga merayakan hari raya, mereka berkumpul di Masjid Jami Yokohama.

Untuk pangan halal sehari-hari, mereka pun mendapatkannya dengan mudah. Terdapat pemasok yang menjual segala pangan halal setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Dalam tiga hari itu, Muslimin pun berbondong-bondong mendatangi pemasok yang juga dikelola pengurus Masjid Jami.

Tak hanya itu, di kota pelabuhan utama Jepang itu juga tersebar beragam restoran halal. Tak sedikit pula yang menawarkan jasa penjualan pangan halal secara online sehingga memungkinkan Muslimin memesan barang pangan yang langka didapat dan dikirimkan hingga pintu rumah. [yy/republika]

Jasa Ottoman dalam Syiar Islam di Jepang

Jasa Ottoman dalam Syiar Islam di Jepang


Jasa Ottoman dalam Syiar Islam di Jepang


Fiqhislam.com - Sejarah Islam di Yokohama tak lepas dari kedatangan Muslimin di Jepang. Sedikit terlambat dengan negara-negara sekitarnya, Islam baru dikenal di Jepang pada abad ke-19.

Sejarah Islam di negeri sentra teknologi itu berawal ketika menjalin hubungan dengan emparium Islam terbesar, Turki Utsmani. Disebutkan oleh Direktur Islamic Center Jepang Prof Dr Shalih Mahdy al-Samarray dalam artikelnya “Islam di Jepang; Sejarah dan Perkembangannya”.

Pada masa awal kebangkitan Jepang pada 1868 atau disebut era Meiji, terdapat dua negara Asia yang merdeka dari Barat, yakni Jepang dan negara Islam Turki Utsmani. Alhasil, keduanya pun menjalin hubungan erat dan saling berkunjung.

Pada 1890, Sultan Abdul Hamid II mengirim armada dengan 600 awak untuk bertemu kaisar Jepang. Namun, di perjalanan pulang, armada tersebut karam terkena badai di kawasan Osaka. Sekitar 500 awak Turki meninggal, beberapa lain selamat dan kembali ke Istanbul dengan bantuan Jepang.

Setahun pascainsiden tersebut, seorang jurnalis, Osotara Noda, mengumpulkan sumbangan untuk diberikan kepada korban kapal di Turki. Pada 1891, ia pun pergi ke ibu kota Istanbul.

Saat tinggal di sana, ia memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul Halim Noda. Pada 1893, hal yang sama dilakukan Yamada. Ia pergi ke Istanbul untuk memberikan sumbangan korban kemudian jatuh cinta pada Islam saat tinggal di sana.

Namun, rupanya hubungan dengan Turki Utsmani tak banyak berperan dalam membentuk komunitas Muslim di Jepang. Hingga kemudian, para pedagang India dan Arab banyak menetap di kawasan Tokyo, Kobe, dan Yokohama.

Di tiga kawasan itulah komunitas Islam pertama tumbuh di Jepang. Namun, hubungan dengan Turki masih terjalin. Ketika komunitas Muslim telah tumbuh, seorang utusan Sultan Hamid II bernama Muhammad Ali berkunjung ke Yokohama pada 1902.

Ia bahkan sempat berencana membangun masjid di Yokohama. Sayangnya, tak dapat terlaksana. Sejak itu, hubungan Timur Tengah dan Jepang pun terbuka lebar. Islam mulai tumbuh di Negeri Sakura. Tiga kota komunitas Muslim awal makin berkembang pesat dan makin bertambah banyak jumlah Muslimin.

Saat ini, jumlah Muslimin Yokohama pun terus bertambah. Bukan hanya karena adanya imigran, tapi juga banyaknya mualaf asli warga Jepang. Berbagai organisasi yang menaungi Muslimin pun bermunculan.

Salah satunya, yakni Asosiasi Muslim Yokohama atau Yokohama Muslim Association (Yokoms). Berdiri sejak 1998, Yokoms telah banyak membantu Muslimin Yokohama, terutama para mahasiswa Muslim. [yy/republika]