19 Syawal 1443  |  Sabtu 21 Mei 2022

basmalah.png

Di Islandia, Umat Islam Hidup Bahagia


Fiqhislam.com - Umat Islam memang sangat luwes dan mudah beradaptasi. Mereka bisa hidup di bagian bumi mana saja, termasuk di tanah es, Islandia. Di negeri yang sangat dekat dengan kutub utara ini, Muslimin hidup bahagia.

Islam memang bukan sesuatu yang baru bagi Islandia. Negeri ini telah mengenal Islam sejak 1627. Kontak pertama Islam dengan Islandia terjadi setelah sebagian wilayah Islandia dikuasai perompak laut dari Afrika Utara, yakni dari Maroko dan Aljazair.

Rakyat Islandia mengingat peristiwa tersebut sebagai Tyrkjaránið atau “Turkish Abductions” yang berarti “Penculikan Turki”. Kala itu, mereka mendarat di Islandia tanpa mengusung dakwah Islam. Namun, peristiwa tersebut diprediksi menjadi awal mula Islandia mengenal Islam. Apalagi, dalam sejarahnya, banyak pemukim Islandia yang dibawa ke Afrika Utara di wilayah yang dikuasai Kekhalifahan Turki Utsmani.

Hingga saat ini pun Islam tetap eksis di negara pecahan Denmark tersebut meski masih merupakan kelompok minoritas di tengah dominasi Kristen. Jumlahnya tak mencapai satu persen, atau lebih tepatnya hanya 0,2 persen dari total populasi negara sebanyak 312 ribu jiwa, atau sekitar 1.200 orang. Kendati demikian, mereka selalu kompak. Mereka bersatu dalam ukhuwah Islamiyah. Selain warga asli Islandia, Muslim negeri ini juga terdiri dari para imigran dan warga asing yang memeluk Islam.

Selain kompak, Muslim Islandia juga sangat aktif dalam kegiatan keislaman. Sebagian dari mereka tergabung dalam Asosiasi Muslim Islandia. Sebagian lain bergabung dalam Pusat Kebudayaan Islam Islandia (Islamic Cultural Centre of Iceland / ICCI). Kedua organisasi ini sangat kompak dalam mendakwahkan Islam di negara seluas 103 kilometer persegi tersebut.

Dua organisasi tersebut mendapat pakta resmi dari pemerintah. Asosiasi Muslim Islandia didirikan pada 1997 oleh seorang imigran Palestina bernama Salman Tamimi. Saat ini anggota asosiasi tersebut telah mencapai sekitar 419 orang. Sebelum berdirinya masjid di Reykjavik, ibu kota Islandia, organisasi ini memiliki sebuah tempat berkumpul yang juga difungsikan sebagai tempat ibadah.

Selain menjadi ajang berkumpul untuk membahas berbagai hal, tempat itu juga menjadi tempat anak-anak Muslim belajar Islam. Bangunan multifungsi tersebut berlokasi di lantai tiga sebuah perkantoran di Ármúli 38, Reykjavík. Selain shalat lima waktu, shalat Jumat pun dihelat di sana sebelum mereka memiliki masjid di ibu kota.

Adapun ICCI didirikan sekitar 2009. Merekalah ujung tombak dakwah Islam di negara yang berlokasi di lingkaran antartika tersebut. Begitu banyak kegiatan keislaman yang mereka helat. April tahun lalu mereka bahkan mendapat izin untuk menyebarkan buku Islam di perpustakaan perguruan tinggi di Reykjavík. [yy/republika]

Di Islandia, Umat Islam Hidup Bahagia


Fiqhislam.com - Umat Islam memang sangat luwes dan mudah beradaptasi. Mereka bisa hidup di bagian bumi mana saja, termasuk di tanah es, Islandia. Di negeri yang sangat dekat dengan kutub utara ini, Muslimin hidup bahagia.

Islam memang bukan sesuatu yang baru bagi Islandia. Negeri ini telah mengenal Islam sejak 1627. Kontak pertama Islam dengan Islandia terjadi setelah sebagian wilayah Islandia dikuasai perompak laut dari Afrika Utara, yakni dari Maroko dan Aljazair.

Rakyat Islandia mengingat peristiwa tersebut sebagai Tyrkjaránið atau “Turkish Abductions” yang berarti “Penculikan Turki”. Kala itu, mereka mendarat di Islandia tanpa mengusung dakwah Islam. Namun, peristiwa tersebut diprediksi menjadi awal mula Islandia mengenal Islam. Apalagi, dalam sejarahnya, banyak pemukim Islandia yang dibawa ke Afrika Utara di wilayah yang dikuasai Kekhalifahan Turki Utsmani.

Hingga saat ini pun Islam tetap eksis di negara pecahan Denmark tersebut meski masih merupakan kelompok minoritas di tengah dominasi Kristen. Jumlahnya tak mencapai satu persen, atau lebih tepatnya hanya 0,2 persen dari total populasi negara sebanyak 312 ribu jiwa, atau sekitar 1.200 orang. Kendati demikian, mereka selalu kompak. Mereka bersatu dalam ukhuwah Islamiyah. Selain warga asli Islandia, Muslim negeri ini juga terdiri dari para imigran dan warga asing yang memeluk Islam.

Selain kompak, Muslim Islandia juga sangat aktif dalam kegiatan keislaman. Sebagian dari mereka tergabung dalam Asosiasi Muslim Islandia. Sebagian lain bergabung dalam Pusat Kebudayaan Islam Islandia (Islamic Cultural Centre of Iceland / ICCI). Kedua organisasi ini sangat kompak dalam mendakwahkan Islam di negara seluas 103 kilometer persegi tersebut.

Dua organisasi tersebut mendapat pakta resmi dari pemerintah. Asosiasi Muslim Islandia didirikan pada 1997 oleh seorang imigran Palestina bernama Salman Tamimi. Saat ini anggota asosiasi tersebut telah mencapai sekitar 419 orang. Sebelum berdirinya masjid di Reykjavik, ibu kota Islandia, organisasi ini memiliki sebuah tempat berkumpul yang juga difungsikan sebagai tempat ibadah.

Selain menjadi ajang berkumpul untuk membahas berbagai hal, tempat itu juga menjadi tempat anak-anak Muslim belajar Islam. Bangunan multifungsi tersebut berlokasi di lantai tiga sebuah perkantoran di Ármúli 38, Reykjavík. Selain shalat lima waktu, shalat Jumat pun dihelat di sana sebelum mereka memiliki masjid di ibu kota.

Adapun ICCI didirikan sekitar 2009. Merekalah ujung tombak dakwah Islam di negara yang berlokasi di lingkaran antartika tersebut. Begitu banyak kegiatan keislaman yang mereka helat. April tahun lalu mereka bahkan mendapat izin untuk menyebarkan buku Islam di perpustakaan perguruan tinggi di Reykjavík. [yy/republika]

Ujung Tombak Dakwah di Islandia

Ujung Tombak Dakwah di Islandia


Ujung Tombak Dakwah di Islandia


Fiqhislam.com - Asosiasi Muslim Islandia dan Pusat Kebudayaan Islam Islandia (Islamic Cultural Centre of Iceland / ICCI), merekalah ujung tombak dakwah Islam di negara yang berlokasi di lingkaran antartika tersebut. Begitu banyak kegiatan keislaman yang mereka helat. April tahun lalu mereka bahkan mendapat izin untuk menyebarkan buku Islam di perpustakaan perguruan tinggi di Reykjavík.

Dengan kehadiran dua asosiasi tersebut, Muslimin Islandia dapat hidup nyaman dan tenteram. Keduanya merupakan payung dalam pengembangan Islam di negeri tersebut. Perkembangan Islam terasa kian pesat sejak adanya pernikahan mualaf asli Islandia untuk kali pertama. Hjalti Bjorn Valthorsson dan Gunnhildur Aevarsdottir merupakan pasangan mualaf tersebut.

Pernikahan yang digelar pada 2009 lalu itu menjadi bukti mulai berakarnya Islam di kalangan warga asli Islandia. Warga asli Islandia memang mulai memperlihatkan ketertarikan pada Islam. Seperti dikatakan Tamimi, banyak pemuda yang tertarik menjadi Muslim. “Dua atau tiga tahun yang lalu Anda bisa menghitungnya hanya dengan jari satu tangan, tapi sekarang (2009) ada antara 30 dan 40 di Asosiasi Muslim. Hal ini tampaknya akan menjadi pertanda baik bagi umat Islam, baik di sini maupun di tempat lain di Islandia,” ujar Tamimi.

Kehidupan Muslimin Islandia yang menarik ini pernah menjadi perhatian stasiun televisi Al-Jazeera dengan menayangkan sebuah dokumenter tentang kehidupan sehari-hari Muslimin Islandia. Tergambar di film dokumenter itu, betapa Muslimin Islandia amat taat beribadah. Mereka tetap giat berpuasa Ramadhan meski harus menahan lapar dan dahaga jauh lebih lama dibanding Muslimin di belahan dunia lain, apalagi Indonesia.

Aljazirah juga memperlihatkan kehati-hatian Muslimin Islandia dalam hal pangan halal. Mereka rupanya memiliki sistem penyembelihan hewan secara Islami. Hebatnya, daging sapi dan domba halal itu tak hanya untuk memasok kebutuhan Muslimin Islandia, namun  juga diekspor negara-negara lain, termasuk negara-negara Islam. [yy/republika]