25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Menyelami Islam di Singapura


Fiqhislam.com - Singapura sering kali dijadikan tempat yang tepat untuk berwisata singkat. Meski negara kecil, Singapura memiliki segala macam yang diperlukan untuk menyegarkan pikiran. Perpaduan kosmopolitan dan beragam kultur menawarkan pengalaman yang selalu berbeda di setiap kunjungan. Salah satu yang bisa dijelajahi adalah mengenal komunitas Muslimnya melalui jejak-jejak nenek moyang.

Komunitas Muslim Singapura menyajikan fusi dari kuliner dan sejarah. Dilansir The National, cara yang paling efektif untuk merasakannya adalah dengan mengunjungi Kampong Glam, sebuah wilayah yang didominasi Muslim. Kampong Glam berjarak sekitar 15 menit berkendara dari hotel butik M Social Singapore atau 40 menit dari bandara Changi. Tempatnya sunyi di sekitar Robertson Quay.

Begitu menjejak kaki di sana, aroma rempah-rempah akan cukup kuat menggoda hidung. Tempat ini mungkin akan mengingatkan pada cafe dengan teh hitam di Abu Dhabi. Seorang pemandu wisata, Abdul Rahim mengatakan tempat ini dulu dikenal sebagai taman bumbu.

"700 tahun lalu, rempah-rempah disebut emas oleh teman-teman Arab kami," kata dia.

Di tempat ini, rempah-rempah memainkan peran penting dalam masakan Singapura, juga dalam mempelajari kultur Islam Singapura. Sama seperti di negara-negara tetangga, Islam datang ke Singapura melalui perdagangan. Tempatnya yang strategis dari sisi barat dan timur menjadikannya wilayah perekonomian. Pedagang-pedangan Arab jaman dulu menggunakan Singapura sebagai penghubung untuk pengiriman rempah lokal ke Eropa. Mereka kadang tidak hanya mampir tapi juga memutuskan tinggal.

Abdul Rahim mengatakan pedagang Arab banyak yang akhirnya menikah dengan orang Melayu lokal dan membangun bisnis bersama. Kampong Glam adalah kota tua yang jadi saksi. Di sana, banyak tempat makan dan bangunan-bangunan dengan desain khas. Ada rumah mode abaya, warung kopi, tempat jual kosmetik halal, madu, juga tempat makanan tanpa minuman beralkohol.

Toko-toko dijaga oleh perawakan Arab yang sudah menjalankan bisnis secara turun temurun. Selain sebagai tempat singgah perdagangan, Singapura juga tempat yang strategis untuk tempat singgah para calon jamaah haji pada 1960-1970an. Saat itu, Kampong Glam beradaptasi juga menjadi tempat menjual segala kebutuhan berhaji. Mulai dari ihram, Alquran, tasbih dan segala panduan. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Sejak banyaknya pedagang kebutuhan ibadah calon jamaah haji, tempat itu kini dinamai Haji Lane.

"Ayah saya berkata jalan ini sering jadi lautan putih," kata seorang penduduk lokal, Kareem yang memiliki sebuah toko kain.

Meskipun sekarang bukan lagi tempat transit jamaah, ruh Islam di sana masih tertinggal. "Aneh saja, saya merasa damai di sini, mungkin ini pengingat pada nenek moyang yang biasa bekerja di sini," kata dia.

Jalan-jalan lain juga bernama kearaban. Mulai dari Jalan Arab yang menjadi tempat toko-toko milik orang Timur Tengah atau mediterania. Juga, jalan Kandahar, Busra, Muscat dan Baghdad yang dinamai karena populasinya yang merupakan hasil percampuran.

Di wilayah, ada satu masjid yang sangat ikonik, Masjid Sultan. Pertama kali dibangun pada 1824 di bawah kepemimpinan Sultan Malaysia, Hussein Shah. Kini bangunan itu berdiri dengan desain dari seorang arsitek Irlandia pada 1932.

Area beribadahnya sangat luas dan terang karena didesain agar cahaya matahari bisa masuk secara alami. Jika berjalan mengelilingi perimeter luarnya, akan terlihat kubah berwarna bawang. Dari kejauhan, apa yang dililitkan di sekitar dasarnya nampak seperti batu permata pudar. Abdul Rahim mengatakan itu bukan batu permata melainkan botol kaca.

"Mereka sebenarnya botol kaca, yang sebagian besar bekas saus yang digunakan untuk makanan. Mereka disumbangkan oleh penduduk untuk rekonstruksi pada saat itu," katanya.

Pesannya adalah pemerintah duduk di atas memimpin tapi dengan dukungan rakyat. Seperti semua distrik bisnis, Kampong Glam telah melewati puncak dan lembahnya selama dekade ini. Mereka juga pernah mengalami krisis global yang melemahkan. Tapi kini, itu sudah benar-benar terlewati. [yy/republika]