29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

6.700 Warga Rohingya Tewas dalam Operasi Militer Myanmar di Rakhine


Fiqhislam.com - Setidaknya 6.700 warga muslim Rohingya dilaporkan tewas dalam bulan pertama operasi militer Myanmar di Rakhine yang dimulai pada akhir Agustus lalu.

Angka yang disampaikan kelompok kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) tersebut merupakan angka estimasi tertinggi mengenai kekerasan di Rakhine yang pecah sejak 25 Agustus lalu dan memicu krisis pengungsi besar-besaran. Lebih dari 620 ribu warga Rohingya telah kabur dari Myanmar ke Bangladesh dalam tiga bulan.

PBB dan Amerika Serikat telah menyebut operasi militer Myanmar di Rakhine itu sebagai pembersihan etnis Rohingya. Namun kedua pihak tersebut tidak merilis estimasi korban tewas secara spesifik.

"Setidaknya 6.700 warga Rohingya, dalam estimasi paling konservatif, diperkirakan telah tewas, termasuk setidaknya 730 anak-anak di bawah usia lima tahun," demikian disampaikan MSF seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (14/12/2017).

Temuan kelompok tersebut berasal dari enam survei yang dilakukan di lebih dari 2.434 rumah tangga di kamp-kamp pengungsi Rohingya dan mencakup kurun waktu satu bulan.

"Kami bertemu dan berbicara dengan para korban yang selamat dari kekerasan di Myanmar, yang kini berlindung di kamp-kamp penuh sesak dan tidak sehat di Bangladesh," ujar direktur medis MSF, Sidney Wong.

"Apa yang kami temukan sangat mengejutkan, baik dalam hal jumlah orang yang melaporkan anggota keluarga tewas akibat kekerasan, dan cara-cara mengerikan mereka dibunuh atau terluka parah," imbuh Wong.

Menurut survei yang dilakukan MSF, luka-luka akibat tembakan merupakan penyebab kematian dari 69 persen korban. Sebanyak 9 persen korban dilaporkan hangus terbakar di dalam rumah, sedangkan lima persen lainnya tewas akibat pemukulan parah. Untuk anak-anak di bawah usia lima tahun, hampir 60 persen di antaranya tewas akibat ditembak.

Sebelumnya, militer Myanmar telah membantah melakukan kekerasan terhadap warga sipil Rohingya dalam operasi militernya di Rakhine. Menurut militer Myanmar, hanya 400 orang yang tewas -- termasuk 376 militan Rohingya -- dalam minggu-minggu pertama operasi militer tersebut. [yy/news.detik]

6.700 Warga Rohingya Tewas dalam Operasi Militer Myanmar di Rakhine


Fiqhislam.com - Setidaknya 6.700 warga muslim Rohingya dilaporkan tewas dalam bulan pertama operasi militer Myanmar di Rakhine yang dimulai pada akhir Agustus lalu.

Angka yang disampaikan kelompok kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) tersebut merupakan angka estimasi tertinggi mengenai kekerasan di Rakhine yang pecah sejak 25 Agustus lalu dan memicu krisis pengungsi besar-besaran. Lebih dari 620 ribu warga Rohingya telah kabur dari Myanmar ke Bangladesh dalam tiga bulan.

PBB dan Amerika Serikat telah menyebut operasi militer Myanmar di Rakhine itu sebagai pembersihan etnis Rohingya. Namun kedua pihak tersebut tidak merilis estimasi korban tewas secara spesifik.

"Setidaknya 6.700 warga Rohingya, dalam estimasi paling konservatif, diperkirakan telah tewas, termasuk setidaknya 730 anak-anak di bawah usia lima tahun," demikian disampaikan MSF seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (14/12/2017).

Temuan kelompok tersebut berasal dari enam survei yang dilakukan di lebih dari 2.434 rumah tangga di kamp-kamp pengungsi Rohingya dan mencakup kurun waktu satu bulan.

"Kami bertemu dan berbicara dengan para korban yang selamat dari kekerasan di Myanmar, yang kini berlindung di kamp-kamp penuh sesak dan tidak sehat di Bangladesh," ujar direktur medis MSF, Sidney Wong.

"Apa yang kami temukan sangat mengejutkan, baik dalam hal jumlah orang yang melaporkan anggota keluarga tewas akibat kekerasan, dan cara-cara mengerikan mereka dibunuh atau terluka parah," imbuh Wong.

Menurut survei yang dilakukan MSF, luka-luka akibat tembakan merupakan penyebab kematian dari 69 persen korban. Sebanyak 9 persen korban dilaporkan hangus terbakar di dalam rumah, sedangkan lima persen lainnya tewas akibat pemukulan parah. Untuk anak-anak di bawah usia lima tahun, hampir 60 persen di antaranya tewas akibat ditembak.

Sebelumnya, militer Myanmar telah membantah melakukan kekerasan terhadap warga sipil Rohingya dalam operasi militernya di Rakhine. Menurut militer Myanmar, hanya 400 orang yang tewas -- termasuk 376 militan Rohingya -- dalam minggu-minggu pertama operasi militer tersebut. [yy/news.detik]

Protes Konflik Rohingya, Irlandia Cabut Penghargaan Suu Kyi

Protes Konflik Rohingya, Irlandia Cabut Penghargaan Suu Kyi


Protes Konflik Rohingya, Irlandia Cabut Penghargaan Suu Kyi


Fiqhislam.com - Anggota dewan Dublin telah memilih mencabut penghargaan yang diberikan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. Pencabutan ini sebagai bentuk protes karena sikap Suu Kyi dalam menangani kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negaranya. Dilansir The Guardian, Kamis (14/12), sebagian besar anggota dewan mendukung langkah mencabut penghargaan Freedom of the City of Dublin, dengan 59 suara mendukung, dua menentang dan satu abstain.

"Penindasan harian orang-orang Rohingya tidak dapat diizinkan dilanjutkan dan jika pencabutan kehormatan ini memberikan kontribusi dan tekanan pada pemerintah Myanmar untuk menghormati sesama warga negara mereka, maka akan dilakukan," kata anggota dewan Cieran Perry, dikutip dari Independen Irlandia

Keputusan dewan kota tersebut terjadi sebulan setelah musisi Bob Geldof mengembalikan penghargaannya ke balai kota Dublin sebagai bentuk penentangan terhadap Suu Kyi.

Keputusan ini juga datang setelah lebih dari 620 ribu minoritas Muslim Rohingya Myanmar melarikan diri menyeberangi perbatasan ke Bangladesh. Mereka melarikan diri dari tindakan keras oleh tentara yang menurut para pengungsi melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran.

Suu Kyi telah menghadapi kritik internasional atas kegagalannya membela minoritas Rohingya.

Palang Merah memperkirakan hanya sekitar 300 ribu orang Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine di Myanmar utara sejak eksodus massal dimulai pada Agustus, dengan sekitar 300 orang terus melintasi perbatasan setiap hari.

Bangladesh dan Myanmar bulan lalu menandatangani sebuah kesepakatan memulangkan pengungsi Rohingya, meskipun PBB mengatakan kondisi tidak aman bagi Rohingya untuk kembali. [yy/republika]