21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png


Fiqhislam.com - Pemimpin de fakto Myanmar Aung San Suu Kyi melakukan kunjungan perdananya ke Negara Bagian Rakhine yang dilanda konflik, Kamis (2/11). Dalam perjalanan tanpa pemberitahuan ini, Suu Kyi akan melihat penduduk Muslim Rohingya yang mengalami kekerasan akibat operasi militer tentara Myanmar.

"Penasihat Negara (jabatan resmi Suu Kyi) sekarang berada di Sittwe dan akan pergi ke Maungdaw dan Buthiduang juga. Perjalanan ini akan dilakukan dalam sehari," ujar juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay, tanpa menjelaskan lebih jauh mengenai jadwal Suu Kyi, dikutip New Strait Times.

Tidak jelas apakah Suu Kyi akan mengunjungi beberapa dari ratusan desa Rohingya yang dibakar oleh tentara, yang diduga dibantu oleh penduduk asli etnis Rakhine. Suu Kyi juga tidak dikabarkan akan mengunjungi kelompok-kelompok Muslim Rakhine yang masih tersisa yang tinggal dalam ketakutan dan kelaparan.

 

Ribuan warga etnis Rohingya diyakini masih berkemah di pantai dekat Maungdaw. Mereka menunggu kapal yang akan menuju Bangladesh dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

 

Perjalanan kali ini adalah kunjungan pertama Suu Kyi ke Rakhine utara. Reputasi Myanmar secara global telah rusak setelah kekerasan komunal terjadi di wilayah itu sejak 2012.

 

Suu Kyi, peraih nobel perdamaian yang memimpin partai pro-demokrasi Myanmar, telah dikecam oleh masyarakat internasional karena gagal menggunakan kekuatan moralnya untuk membela Rohinyga. Sekitar 600 ribu minoritas Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak akhir Agustus lalu.

 

Mereka membawa laporan tentang pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran rumah oleh tentara Myanmar. PBB mengatakan tindakan keras itu sama dengan aksi pembersihan etnis, dan menekan Myanmar untuk memberikan keamanan bagi Rohingya dan mengizinkan mereka untuk kembali pulang.

 

Pengamat mengatakan, Suu Kyi selama ini memilih tidak mengkritik tentara karena takut mendapat serangan balasan dari militer Myanmar yang mengendalikan semua masalah keamanan. Di sisi lain, situasi buruk Rohingya telah menimbulkan sedikit simpati terhadap Myanmar.

 

Suu Kyi mengepalai sebuah komite yang bertugas membangun kembali Rakhine dan memulangkan Rohingya dari Bangladesh. Namun ia memberlakukan persyaratan yang ketat untuk para pengungsi yang hendak masuk kembali ke Myanmar.

 

Pada Rabu (1/11), Htay menuduh Bangladesh sengaja menunda dimulainya proses repatriasi para pengungsi. Menurutnya, Dhaka belum mengirim daftar resmi nama-nama pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri sejak 25 Agustus itu.

 

Warga Rohingya telah memadati kamp-kamp darurat di tanah perbatasan Cox's Bazar yang sudah penuh sesak di Bangladesh. Sejumlah kelompok bantuan mengatakan, risiko wabah penyakit cukup tinggi, kebutuhan akan makanan dan persediaan dasar juga sangat besar. [yy/republika]