25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Wawacara Khusus Imam di Militer Inggris, Asim Hafiz


Fiqhislam.com - Kementerian Pertahanan Inggris memiliki seorang penasihat khusus bidang agama Islam. Dialah Asim Hafiz yang memiliki jabatan resmi Islamic Religious Advisor to Chief of the Defence Staff and Service Chiefs serta Muslim pertama dan satu-satunya yang menduduki jabatan tersebut.

Imam Asim Hafiz lulus pada 1999 dari sebuah sekolah Islam di England, Inggris. Ia dikenal sebagai imam sekaligus cendekiawan Muslim. Hafiz meraih gelar Master of Art dalam bidang Contemporary Islamic Studies di University of London.

Pada 2003 Hafiz ditunjuk untuk menjadi penceramah di Penjara Wandsworth. Di sana, ia memberikan bimbingan dan nasihat keagamaan kepada para tahanan Muslim. Ia juga memberi masukan kepada manajemen penjara terkait dengan kebutuhan khusus tahanan Muslim serta mendorong agar agama menjadi bagian integral dari program rehabilitasi tahanan.

Dua tahun kemudian, yakni pada Oktober 2005, Hafiz ditunjuk untuk menjadi imam yang pertama dan satu-satunya di Angkatan Bersenjata Inggris.

Antara 2010 dan 2012, ia ditugaskan di Afghanistan untuk mendukung tugas membangun perdamaian, stabilisasi, dan resolusi konflik. Atas peran aktifnya di militer Inggris, Hafiz dianugerahi penghargaan Officer of the Order of the British Empire (OBE) dari Kerajaan Inggris pada 2014.

Pekan ini, Hafiz berkesempatan berbincang dengan Kamran Dikarma, Darmawan, dan Yeyen Rostiyani dari Republika. Berikut petikan perbincangan kami.

Apa sebenarnya tugas Anda?
Saya bergabung dengan Angkatan Bersenjata Inggris 12 tahun lalu. Saat itu, saya mendapat tawaran menjadi imam dan ditugaskan untuk memberikan bimbingan keagamaan kepada tentara Muslim yang bernaung di Angkatan Bersenjata Inggris. Ini merupakan tawaran yang pertama kali untuk saya.

Saya pun memutuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Tujuannya, tak lain untuk memastikan bahwa kebutuhan rohani dan spiritual tentara-tentara Muslim di militer Inggris terpenuhi.

Di sisi lain, saya juga ingin komunitas Muslim di Inggris juga memahami lebih baik tentang militer Inggris. Karena, di antara mereka mungkin ada yang mempertanyakan bagaimana juga mereka sebagai Muslim, juga bisa menjadi anggota militer Inggris.

Saya juga memberi masukan terkait isu-isu Islam kepada Angkatan Bersenjata Inggris. Sedangkan, secara eksternal, ia bertugas meningkatkan kesadaran para personel militer Inggris akan Islam dan Muslim, khususnya melalui pelatihan sebelum mereka ditempatkan di wilayah Muslim.

Saya ingin militer Inggris memahami dengan baik tentang Islam. Mereka harus memahami Islam dalam dua hal, baik sebagai cara hidup maupun saat Islam sebagai alat politik.

Jadi, pada prinsipnya saya membangun jembatan. Membangun jembatan antara Angkatan Bersenjata Inggris, pemerintah, dan komunitas Muslim.

Anda pernah ditempatkan di Afghanistan? Apa tugas Anda di sana?
Pada 2010 saya melakukan sejumlah kunjungan singkat ke Afghanistan dan ditugaskan untuk memberikan nasihat religus kepada komandan Inggris dan Amerika Serikat. Pada 2011 saya memimpin tim lintas Pemerintah Inggris untuk Keterlibatan dan Penjangkauan Agama dalam mendukung stabilitas serta rekonsiliasi di Afghanistan Selatan.

Pada 2012 saya ditugaskan untuk tur operasional selama enam bulan penuh di Afghanistan sebagai bagian dari upaya Inggris atau Tentara Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) guna meningkatkan peran pemahaman keagamaan untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan penghentian konflik.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi Muslim yang juga menjadi personel militer Inggris?
Ini terkait dengan tugas saya sebagai penasihat. Menjadi warga Inggris yang Muslim dan masuk menjadi anggota militer bukanlah hal yang tidak mungkin. Saya membantu umat Islam Inggris untuk memahami bahwa ketiganya compatible dan bisa menjadi satu kesatuan.

Saat seorang tentara Inggris yang Muslim kemudian ditugaskan ke negara Muslim, mungkin akan muncul pertanyaan pada diri mereka. Namun, mereka juga harus memahami bahwa kehadiran mereka di negara tersebut bukanlah untuk memerangi Islam.

Mereka hadir di negara tersebut dengan alasan untuk menjaga keamanan. Bahkan, tidak jarang negara tersebutlah yang meminta Inggris hadir di sana. Jadi, mereka pun hadir di negara tersebut atas permintaan tuan rumah.

Selain itu, tugas militer Inggris di negara tersebut bukan untuk menghambat kegiatan ibadah umat Islam. Sebaliknya, mereka justru ingin memastikan umat Islam di sana tetap dapat menjalankan ibadah mereka di tengah keadaan yang aman.

Sebagai Muslim yang juga bertugas di Pemerintah Inggris, apa peran Anda dalam memerangi Islamofobia?
Satu hal yang menjadi masalah adalah ignorance, ketidakpahaman. Orang kerap tidak memahami dan mengenal Islam demikian juga sebaliknya umat Islam tidak memahami umat lain.

Saya akui, memang di kalangan tertentu ada elemen kecil yang ingin memecah belah budaya, agama, dan negara Inggris melalui aksi teror. Tapi, kita harus membangun rasa saling menghormati dengan mengikis ignorance itu. Harapannya adalah agar semua agama, baik itu Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, Islam, bahkan mereka yang ateis bisa menunjukkan sikap saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain.

Saat kita menyadari hidup kita penting bagi kita, hidup orang lain pun penting bagi mereka. Inilah yang harus kami bangun untuk menciptakan perdamaian.

Apa pengalaman menarik Anda dalam tugas ini?
Ada dua hal. Pertama, begitu banyak hal yang bisa kita lakukan dengan tugas yang saya emban ini. Saya bisa menjadi jembatan yang menghubungkan antarkomunitas, membantu orang memahami tentang Islam. Saya merasa senang bahwa dengan agama dan pengetahuan yang saya miliki, ada sesuatu yang bisa saya perbuat.

Hal itu kemudian mengarahkan saya pada hal kedua. Pekerjaan saya telah membuat saya bisa berkeliling dunia. Ke Timur Tengah, Afrika, hingga ke Indonesia, negara yang sangat indah.

Setelah saya bepergian ke begitu banyak negara, saya menyadari bahwa manusia itu sebetulnya satu ras yang sama. Manusia di mana pun, mereka mengingnkan hal yang sama. Yaitu, ada makanan tersedia di meja makan, ada pakaian yang melindungi tubuh, serta ada atap yang menaungi kepala kita.

Kita sering menyebut diri kita berbeda dengan yang lain sebagai ras manusia, tapi sebenarnya kita sebetulnya sama. Itulah hal yang menarik.

(Imam Hafiz tersenyum--Red).

Jadi, bisa dikatakan, Anda adalah orang yang bahagia?
Saya merasa prihatin dengan kondisi yang ada saat ini, tapi saya optimistis dengan masa depan kita.

Lantas, bagaimana pendapat Anda selama kunjungan di Indonesia?
Saya sangat senang berada di Indonesia. Kerendahan hati, keramahtamahan, dan kehangatan orang-orang yang saya jumpai di sini. Selain itu, makanannya juga sangat lezat, seperti satai, misalnya. Ada satu lagi, nasi putih yang dibungkus dengan daun. (Imam Hafiz tertawa--Red).

Tapi, hal yang paling berkesan, menurut saya, adalah tentang begitu kuatnya upaya untuk menciptakan rasa kebersamaan untuk memastikan setiap komunitas tetap bersama dan merasa aman di Indonesia. Saya sangat tertarik dengan filosofi nasional Indonesia, yaitu Pancasila. Lima prinsip yang dimaksudkan agar orang-orang memiliki rasa identitas dan kebersamaan yang kuat.

Saya pikir, memiliki sebuah negara yang mengenal identitasnya adalah hal yang sangat penting. Dan satu hal yang paling membuat saya terkesan adalah, walaupun kita tahu di sini merupakan negara mayoritas Muslim, kalian mengakui enam agama yang berbeda. Kalian mau bekerja sama dan menghormati agama lainnya. [yy/republika]