21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Asal Mula Studi Islam di Barat


Fiqhislam.com - Pada abad ke-21 kini, memperhadapkan Islam dengan Barat cenderung tidak faktual. Sebab, di Barat, sekelompok kaum Muslim dapat menetap dan dilindungi hak-haknya, terutama dalam bingkai demokrasi.

Demikian pula di Timur (Asia/Afrika), baik non-Muslim maupun Muslim, keduanya dapat hadir setara sebagai warga negara demokratis. Dengan perkataan lain, Barat dalam era kekinian lebih sebagai sebuah konsep di tataran budaya, alih-alih identitas agama tertentu.

Namun, sejarah hingga abad ke-20 mengungkapkan narasi yang berbeda.Barat lebih sebagai wajah peradaban Kristen yang datang dari Benua Eropa.Kolonialisme menjadikan hubungan kian frontal antara umat Islam dan Barat, khususnya setelah Revolusi Industri.

Jauh sebelumnya, sejak Abad Pertengahan, konfrontasi yang lebih bersifat fisik telah terjadi dalam rentang waktu yang lama dan cukup signifikan. Puncaknya adalah Perang Salib yang berlangsung secara periodik dua abad lamanya.

Perang ini diawali agitasi Paus Urban II pada 1095. Karen Armstrong melalui bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World(2001), meng kritisi mental perang-suci yang diusung sang paus. Sebab, Armstrong mengungkapkan, di masa itu sesungguhnya orang-orang Kristen, Yahudi, dan Islam hidup dalam harmoni di Yerusalem.

Ujaran Paus Urban II bahwa orang Kristen hidup menderita akibat tekanan kaum kafir (Muslim) di tanah kelahiran Nabi Isa itu, dengan demikian, hanya fantasi. Beranjak dari sekadar mengon struksi fantasi menuju kajian yang sistematis. Di sinilah alasan keberadaan (raison d'etre) mula-mula studi keislaman atau Islamic studiesdi Eropa. [yy/republika]

Asal Mula Studi Islam di Barat


Fiqhislam.com - Pada abad ke-21 kini, memperhadapkan Islam dengan Barat cenderung tidak faktual. Sebab, di Barat, sekelompok kaum Muslim dapat menetap dan dilindungi hak-haknya, terutama dalam bingkai demokrasi.

Demikian pula di Timur (Asia/Afrika), baik non-Muslim maupun Muslim, keduanya dapat hadir setara sebagai warga negara demokratis. Dengan perkataan lain, Barat dalam era kekinian lebih sebagai sebuah konsep di tataran budaya, alih-alih identitas agama tertentu.

Namun, sejarah hingga abad ke-20 mengungkapkan narasi yang berbeda.Barat lebih sebagai wajah peradaban Kristen yang datang dari Benua Eropa.Kolonialisme menjadikan hubungan kian frontal antara umat Islam dan Barat, khususnya setelah Revolusi Industri.

Jauh sebelumnya, sejak Abad Pertengahan, konfrontasi yang lebih bersifat fisik telah terjadi dalam rentang waktu yang lama dan cukup signifikan. Puncaknya adalah Perang Salib yang berlangsung secara periodik dua abad lamanya.

Perang ini diawali agitasi Paus Urban II pada 1095. Karen Armstrong melalui bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World(2001), meng kritisi mental perang-suci yang diusung sang paus. Sebab, Armstrong mengungkapkan, di masa itu sesungguhnya orang-orang Kristen, Yahudi, dan Islam hidup dalam harmoni di Yerusalem.

Ujaran Paus Urban II bahwa orang Kristen hidup menderita akibat tekanan kaum kafir (Muslim) di tanah kelahiran Nabi Isa itu, dengan demikian, hanya fantasi. Beranjak dari sekadar mengon struksi fantasi menuju kajian yang sistematis. Di sinilah alasan keberadaan (raison d'etre) mula-mula studi keislaman atau Islamic studiesdi Eropa. [yy/republika]

Sosok Perintis Studi Islam di Eropa

Sosok Perintis Studi Islam di Eropa


Sosok Perintis Studi Islam di Eropa


Fiqhislam.com - Perang Salib tidak semata-mata menghadirkan pertempuran. Pada akhirnya, ini menjadi ajang perjumpaan yang dialami orang-orang Katolik. Mereka mengenal budaya-budaya baru yang dibawa umat Islam setempat, baik dari Semenanjung Arab maupun kota-kota penting Asia Barat dan Afrika.

Namun, para misionaris Katolik, termasuk yang mengikuti langsung Perang Salib di Asia Barat, secara sadar mengumbar prasangka dalam studi keislaman.Yang dominan adalah tendensi ingin menguasai, alih-alih mengetahui apa adanya, Islam dan umat yang memeluk agama ini.

Peter the Venerable (meninggal 1156), seorang kepala biara di Cluny, Prancis, dianggap sebagai perintis studi keislaman di Eropa. Dia secara sistematis melakukannya sambil menjalankan misi penyebaran Kristen di Asia Barat (Timur Tengah).

Upaya ini bermula pada 1142. Saat itu, Peter pergi ke Spanyol untuk mengunjungi biara Cluniac yang diketahui memiliki perpustakaan dengan koleksi berbahasa Arab yang cukup beragam.

Dari sana, dia kembali ke Prancis dengan memboyong sejumlah naskah tentang Islam. Peter ingin kandungan segenap naskah itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sehingga dapat dibaca publik Katolik serta dikomentari.

Himpunan naskah yang diboyong Peter dari Cluniac ini merupakan korpus awal studi keislaman oleh Barat. Banyak terjemahan awal Alquran ke dalam bahasa-bahasa Eropa mengambil rujukan dari naskah Cluniac.

Peter the Venerable kemudian membentuk sebuah tim yang antara lain diisi seorang pakar bahasa Arab terkenal, Robert of Ketton. Tugas tim ini ialah menerjemahkan Alquran, hadis, dan teks sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Ada pula teks-teks yang menyoal beragam topik lainnya ikut diterjemahkan.

Berkat inisiasi Peter, sirkulasi teks yang mempelajari Islam kian tersebar luas di wilayah Eropa yang dikuasai pengaruh Roma. Dalam sebuah suratnya untuk pemimpin Pasukan Salib gelombang pertama, Peter berharap studi tekstual ini juga mendukung kemenangan Kristen atas Islam di tanah suci Yerusalem.

Meskipun dengan tegas mendukung Kristen, Peter the Venerable ternyata memiliki mental sarjana yang cukup matang. Sebab, dia juga dengan lugas mengkritik tulisan-tulisan orang Kristen yang dianggap terlalu melenceng dalam membahas Islam, sosok Nabi Muhammad, atau Alquran.

Dalam masa itu di Eropa, kandungan te ks terjemahan dari bahasa Arab tentang aga ma ini masih sarat prasangka anti-Islam. Penulisan ulang sejarah kehidupan Ra sulullah SAW, misalnya, sering begitu vulgar menyimpang. Sosok mulia itu di olok-olok sebagai penggila seks atau pendusta. [yy/republika]