25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

ARSA: Siapakah Tentara Solidaritas Rohingya Arakan


Fiqhislam.com - Lebih dari 300.000 etnis Rohingya telah dipaksa meninggalkan tanah leluhur mereka di wilayah barat Rakhine Myanmar di tengah sebuah kampanye pembunuhan, penyiksaan, pembakaran dan pemerkosaan massal oleh pasukan keamanan Myanmar dan massa Buddha.

Eksodus besar-besaran terakhir, yang dimulai sejak 25 Agustus, terjadi setelah sekelompok kecil lelaki Rohingya menyerang sekitar 30 polisi dan pos-pos polisi di Rakhine, menewaskan 12 polisi, menurut pemerintah.

Para penduduk dan saksi mata telah mengatakan pada Aljazeera bahwa pasukan keamanan membalas dengan kekuatan yang tidak seimbang, meluluhlantakan sejumlah rumah dan desa Rohingya sementara mereka mencoba memburu para penyerang.

Tentara Myanmar telah menyatakan korban tewas sekitar 400, mengatakan kebanyakan yang terbunuh merupakan pemberontak. Namun, para penduduk mengatakan bahwa jumlahnya lebih dari 1.000.

Kelompok yang melancarkan serangan telah bersikeras bahwa mereka bertindak demi kepentingan Rohingya – tetapi siapakah mereka dan apa yang mereka inginkan?

Siapakah ARSA?

Tentara Solidaritas Rohingya Arakan (ARSA), yang sebelumnya dikenal sebagai   Harakah al-Yaqin, pertama kali tampil pada Oktober 2016 ketika kelompok itu menyerang tiga pos polisi di Maungdaw dan Rathedaung, membunuh sembilan petugas polisi.

Meski menghadapi penindasan selama berdekade, sebagian Muslim Rohingya telah menahan diri dari kekerasan.

Etnis Rohingya yang tinggal di kota Maungdaw mengatakan Aljazeera  bahwa para lelaki, berjumlah hanya beberapa lusin, menyerang pos terdepan polisi dengan tongkat dan pisau, dan setelah membunuh petugas polisi, mereka kabur dengan persenjataan  ringan.

Dalam pernyataan video berdurasi 18 menit yang dikeluarkan pada Oktober lalu, Ataullah Abu Amar Jununi, pemimpin kelompok itu, memberikan pembelaan terkait serangan itu, menyalahkan tentara Myanmar yang memicu kekerasan.

“Selama 75 tahun telah terjadi berbagai kejahatan kekejaman yang dilakukan terhadap Rohingya … itulah mengapa kami melakukan serangan pada 9 Oktober 2016 – untuk mengirim pesan bahwa jika kekerasan tidak dihentikan, kami mempunyai hak untuk membela diri kami,” katanya.

Maung Zarni, seorang anggota non-residen di Pusat Studi Ekstrimisme Eropa, mengatakan pada Aljazeera  bahwa aksi kelompok itu membuktikan “perlakuan kejam sistematis dengan ukuran genosida” oleh militer Myanmar.

“Itu bukanlah sebuah kelompok teroris yang bertujuan menyerang ke jantung masyarakat Myanmar seperti yang diklaim oleh pemerintah Myanmar,” kata Zarni.

“Mereka ialah sekelompok lelaki putus asa yang memutuskan untuk membentuk semacam kelompok pertahanan diri dan melindungi rakyat mereka yang  hidup dalam kondisi yang mirip dengan kamp konsentrasi Nazi,” dia menambahkan.

“Aksi-aksi ARSA mirip para tahanan Yahudi di Auschwitz yang bangkit melawan Nazi pada Oktober 1944.”

Apa yang mereka inginkan?

ARSA mengatakan kelompoknya bertempur atas nama lebih dari satu juta Rohingya, yang hak dasarnya telah ditolak, termasuk kewarganegaraan.

“Pembelaan diri sah kami merupakan sebuah perjuangan yang dibutuhkan serta dibenarkan oleh kebutuhan kelangsungan hidup manusia,” Jununi mengatakan dalam sebuah video yang diupload ke sosial media pada 15 Agustus, 2017.

“ARSA telah ada di Arakan selama tiga tahun dan tidak membawa kerusakan apapun pada kehidupan dan harta benda rakyat Rakhine dan Rohingya.”

Namun, otoritas Myanmar menggambarkan sebuah gambaran yang berbeda, mengatakan bahwa mereka adalah “para teroris” Muslim yang ingin menerapkan hukum Islam.

Anagha Neelakantan, Direktur Program Asia di Kelompok Krisis Internasional, mengatakan Aljazeera  bahwa tidak ada ideologi jelas yang mendasari aksi kelompok itu.

“Dari apa yang kami mengerti kelompok itu bertempur untuk melindungi Rohingya dan tidak ada yang lain,” katanya.

Belumlah jelas berapa banyak petempur yang kelompok itu miliki, Neelakantan menjelaskan, dan “tidak ada bukti kalau ARSA memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok Jihadis lokal atau internasional, atau bahwa mereka menginkan untuk bersekutu”.

Mengapa mereka terbentuk?

Selama beberapa dekade, Rohingya telah menghadapi diskriminasi yang mengakar dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya dari pemerintah militer negara itu.

Pada 1948, ketika Inggris meninggalkan Myanmar, militer yang menggantikannya melancarkan sebuah kampanye untuk menciptakan rasa kebangsaan.

Meskipun mereka memiliki sejarah mendalam dan leluhur yang mengakar di perbatasan-perbatasan Myanmar pra-penjajahan, militer akan memulai beberapa operasi militer untuk secara etnis membersihkan negara itu dari Rohingya.

Sejak 2012, insiden-insiden intoleransi agama dan penghasutan telah meningkat di sepanjang negara itu, dengan Rohingya dan Muslim lainnya secara berkala diserang dan digambarkan sebagai sebuah “ancaman terhadap ras dan agama”.

Apakah mereka berhubungan dengan al-Qaeda atau ISIS?

Aziz Khan, seorang Rohingya yang tinggal di Kota Maungdaw, mengatakan pada Aljazeera bahwa militer dan pemerintah sipil “menakut-nakuti” dan “tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kelompok itu memiliki hubungan apapun dengan kelompok teroris manapun”.

“Media terkunci dalam pernyataan pemerintah yang mengatakan bahwa lelaki-lelaki ini adalah ‘teroris,’ itu bohong, [Aung San] Suu Kyi [pemimpin de facto Myanmar] berbohong, begitu juga tentara, tidak ada al-Qaeda di Rakhine.”

“Orang-orang ini tidak memiliki perlengkapan. Yang mereka punya hanyalah tongkat, pedang dan senjata yang mereka dapatkan dari pos militer. Tidak ada bom.”

Dalam pernyataan yang dirilis pada 14 September, ARSA mengatakan “tidak memiliki hubungan dengan al-Qaeda, ISS, Lashkar-e-Taiba atau kelompok teroris transnasional lainnya”.

“Sementara kelompok tersebut mungkin mereka dana dari diaspor Rohingya di Arab Saudi,” Zarni mengatakan, “kelompok itu tidak meminta sebuah negara Islam dan bukan pula separatis, yang mereka minta ialah kedamaian dan persamaan etnis.” [yy/hidayatullah]

Faisal Edroos, Penulis adalah jurnalis di  Al Jazeera English

ARSA: Siapakah Tentara Solidaritas Rohingya Arakan


Fiqhislam.com - Lebih dari 300.000 etnis Rohingya telah dipaksa meninggalkan tanah leluhur mereka di wilayah barat Rakhine Myanmar di tengah sebuah kampanye pembunuhan, penyiksaan, pembakaran dan pemerkosaan massal oleh pasukan keamanan Myanmar dan massa Buddha.

Eksodus besar-besaran terakhir, yang dimulai sejak 25 Agustus, terjadi setelah sekelompok kecil lelaki Rohingya menyerang sekitar 30 polisi dan pos-pos polisi di Rakhine, menewaskan 12 polisi, menurut pemerintah.

Para penduduk dan saksi mata telah mengatakan pada Aljazeera bahwa pasukan keamanan membalas dengan kekuatan yang tidak seimbang, meluluhlantakan sejumlah rumah dan desa Rohingya sementara mereka mencoba memburu para penyerang.

Tentara Myanmar telah menyatakan korban tewas sekitar 400, mengatakan kebanyakan yang terbunuh merupakan pemberontak. Namun, para penduduk mengatakan bahwa jumlahnya lebih dari 1.000.

Kelompok yang melancarkan serangan telah bersikeras bahwa mereka bertindak demi kepentingan Rohingya – tetapi siapakah mereka dan apa yang mereka inginkan?

Siapakah ARSA?

Tentara Solidaritas Rohingya Arakan (ARSA), yang sebelumnya dikenal sebagai   Harakah al-Yaqin, pertama kali tampil pada Oktober 2016 ketika kelompok itu menyerang tiga pos polisi di Maungdaw dan Rathedaung, membunuh sembilan petugas polisi.

Meski menghadapi penindasan selama berdekade, sebagian Muslim Rohingya telah menahan diri dari kekerasan.

Etnis Rohingya yang tinggal di kota Maungdaw mengatakan Aljazeera  bahwa para lelaki, berjumlah hanya beberapa lusin, menyerang pos terdepan polisi dengan tongkat dan pisau, dan setelah membunuh petugas polisi, mereka kabur dengan persenjataan  ringan.

Dalam pernyataan video berdurasi 18 menit yang dikeluarkan pada Oktober lalu, Ataullah Abu Amar Jununi, pemimpin kelompok itu, memberikan pembelaan terkait serangan itu, menyalahkan tentara Myanmar yang memicu kekerasan.

“Selama 75 tahun telah terjadi berbagai kejahatan kekejaman yang dilakukan terhadap Rohingya … itulah mengapa kami melakukan serangan pada 9 Oktober 2016 – untuk mengirim pesan bahwa jika kekerasan tidak dihentikan, kami mempunyai hak untuk membela diri kami,” katanya.

Maung Zarni, seorang anggota non-residen di Pusat Studi Ekstrimisme Eropa, mengatakan pada Aljazeera  bahwa aksi kelompok itu membuktikan “perlakuan kejam sistematis dengan ukuran genosida” oleh militer Myanmar.

“Itu bukanlah sebuah kelompok teroris yang bertujuan menyerang ke jantung masyarakat Myanmar seperti yang diklaim oleh pemerintah Myanmar,” kata Zarni.

“Mereka ialah sekelompok lelaki putus asa yang memutuskan untuk membentuk semacam kelompok pertahanan diri dan melindungi rakyat mereka yang  hidup dalam kondisi yang mirip dengan kamp konsentrasi Nazi,” dia menambahkan.

“Aksi-aksi ARSA mirip para tahanan Yahudi di Auschwitz yang bangkit melawan Nazi pada Oktober 1944.”

Apa yang mereka inginkan?

ARSA mengatakan kelompoknya bertempur atas nama lebih dari satu juta Rohingya, yang hak dasarnya telah ditolak, termasuk kewarganegaraan.

“Pembelaan diri sah kami merupakan sebuah perjuangan yang dibutuhkan serta dibenarkan oleh kebutuhan kelangsungan hidup manusia,” Jununi mengatakan dalam sebuah video yang diupload ke sosial media pada 15 Agustus, 2017.

“ARSA telah ada di Arakan selama tiga tahun dan tidak membawa kerusakan apapun pada kehidupan dan harta benda rakyat Rakhine dan Rohingya.”

Namun, otoritas Myanmar menggambarkan sebuah gambaran yang berbeda, mengatakan bahwa mereka adalah “para teroris” Muslim yang ingin menerapkan hukum Islam.

Anagha Neelakantan, Direktur Program Asia di Kelompok Krisis Internasional, mengatakan Aljazeera  bahwa tidak ada ideologi jelas yang mendasari aksi kelompok itu.

“Dari apa yang kami mengerti kelompok itu bertempur untuk melindungi Rohingya dan tidak ada yang lain,” katanya.

Belumlah jelas berapa banyak petempur yang kelompok itu miliki, Neelakantan menjelaskan, dan “tidak ada bukti kalau ARSA memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok Jihadis lokal atau internasional, atau bahwa mereka menginkan untuk bersekutu”.

Mengapa mereka terbentuk?

Selama beberapa dekade, Rohingya telah menghadapi diskriminasi yang mengakar dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya dari pemerintah militer negara itu.

Pada 1948, ketika Inggris meninggalkan Myanmar, militer yang menggantikannya melancarkan sebuah kampanye untuk menciptakan rasa kebangsaan.

Meskipun mereka memiliki sejarah mendalam dan leluhur yang mengakar di perbatasan-perbatasan Myanmar pra-penjajahan, militer akan memulai beberapa operasi militer untuk secara etnis membersihkan negara itu dari Rohingya.

Sejak 2012, insiden-insiden intoleransi agama dan penghasutan telah meningkat di sepanjang negara itu, dengan Rohingya dan Muslim lainnya secara berkala diserang dan digambarkan sebagai sebuah “ancaman terhadap ras dan agama”.

Apakah mereka berhubungan dengan al-Qaeda atau ISIS?

Aziz Khan, seorang Rohingya yang tinggal di Kota Maungdaw, mengatakan pada Aljazeera bahwa militer dan pemerintah sipil “menakut-nakuti” dan “tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kelompok itu memiliki hubungan apapun dengan kelompok teroris manapun”.

“Media terkunci dalam pernyataan pemerintah yang mengatakan bahwa lelaki-lelaki ini adalah ‘teroris,’ itu bohong, [Aung San] Suu Kyi [pemimpin de facto Myanmar] berbohong, begitu juga tentara, tidak ada al-Qaeda di Rakhine.”

“Orang-orang ini tidak memiliki perlengkapan. Yang mereka punya hanyalah tongkat, pedang dan senjata yang mereka dapatkan dari pos militer. Tidak ada bom.”

Dalam pernyataan yang dirilis pada 14 September, ARSA mengatakan “tidak memiliki hubungan dengan al-Qaeda, ISS, Lashkar-e-Taiba atau kelompok teroris transnasional lainnya”.

“Sementara kelompok tersebut mungkin mereka dana dari diaspor Rohingya di Arab Saudi,” Zarni mengatakan, “kelompok itu tidak meminta sebuah negara Islam dan bukan pula separatis, yang mereka minta ialah kedamaian dan persamaan etnis.” [yy/hidayatullah]

Faisal Edroos, Penulis adalah jurnalis di  Al Jazeera English

Alasan Nasionalis Buddha Myanmar Tolak Kehadiran Rohingya

Alasan Nasionalis Buddha Myanmar Tolak Kehadiran Rohingya


Alasan Nasionalis Buddha Myanmar Tolak Kehadiran Rohingya


Fiqhislam.com - Kaum nasionalis Buddha Myanmar telah memanfaatkan serangan milisi Rohingya, ARSA, sebagai senjata untuk membendung Islamisasi di negara itu.

Serangan ke pos polisi pada 25 Agustus lalu menewaskan sedikitnya selusin anggota pasukan keamanan Myanmar dan memicu bentrokan yang mengakibatkan kematian sekitar 400 orang. Lebih dari 370 ribu pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Bagi kaum nasionalis Buddha garis keras, kekacauan menjadi alasan untuk membentuk pencitraan negatif terhadap minoritas muslim Rohingya di negara itu.

Ma Ba Tha, sebuah kelompok yang dipimpin oleh biksu Buddha ultranasionalis, menggunakan serangan pada 25 Agustus sebagai propaganda di surat kabar mingguan mereka, Aung Zay Yatu, yang slogannya adalah "Ras dan Agama Harus Ada Sampai Dunia Berakhir."

Pada terbitan 1 September media itu, ada judul berita utama berbunyi Bahaya Berbeda bagi Muslim Bengali. Surat kabar itu juga menampilkan sebuah wawancara dengan Ashin Wirathu, seorang biksu garis keras dan pemimpin Ma Ba Tha, yang dipenjara karena menghasut kekerasan anti-muslim.

Beberapa hari setelah serangan Agustus di Rakhine, Wirathu tampil di sebuah demonstrasi di depan Balai Kota di Yangoon. Wirathu menyuarakan ketakutan akan Islamisasi di negara itu.

"Kami pernah ke beberapa sekolah menengah di Maungdaw dan kami tidak melihat orang-orang etnis kami di sekolah-sekolah ini," kata Wirathu merujuk pada salah satu dari tiga kota utama di Negara Bagian Rakhine utara yang terkena dampak konflik militer di sana. "Semuanya mahasiswa Bengali. Akankah dunia tahu siapa mayoritas atau siapa minoritas saat melihat kondisi itu?"

Pemimpin redaksi koran Aung Zay Yatu, Maung Thway Chun, mengatakan dia tidak memiliki kebencian terhadap muslim dan memiliki teman-teman muslim tapi ancaman "Islamisasi" adalah sebuah masalah.

"Kami tidak menindas muslim, dan kami mengenali keberadaan mereka. Tapi kita tidak ingin umat Islam menelan negara kita. Mereka tidak akan selesai dengan menyerang hanya Rakhine. Mereka juga akan menyerang wilayah Chin State atau Irrawaddy," kata Maung merujuk pada dua negara bagian yang terletak di selatan dan timur laut Rakhine State.

"Kalau begitu negara ini akan menjadi negara muslim. Sungguh memalukan bagi kita bahwa tanah yang kita warisi dari generasi kita sebelumnya akan hilang pada zaman kita."

Umat muslim berjumlah hanya sekitar 4 persen dari 53 juta orang di negara itu, dan Rohingya merupakan bagian dari kelompok minoritas ini. Tapi kondisi di Rakhine State memicu kecemasan eksistensial nasional bagi sebagian kalangan Buddha karena warga etnis Rohingya terkonsentrasi di wilayah itu dengan lebih dari 1,1 juta orang tinggal di sana.

Seperti yang dilansir The Atlantic pada 7 September 2017, Francis Wade, penulis buku Buddhist Violence and Making of a Muslim Other, mengatakan ada juga kecemasan lokal yang dirasakan oleh Rakhine (Buddhis) yang sering bersifat materialistis bahwa Rohingya akan mengambil alih tanah dan sumber daya lainnya.

Maraknya kekerasan di Rakhine State telah mempersulit upaya pemerintah Aung San Suu Kyi untuk menghadapi Ma Ba Tha. Banyak kritikus Barat melihat Suu Kyi sebagai orang yang berperasaan dalam menghadapi penindasan Rohingya, nasionalis Buddhis juga marah kepadanya tapi untuk alasan yang berlawanan. Mereka mengira dia lemah terhadap Rakhine dan "Islamisasi".

Salah satu hal pertama yang dilakukan Suu Kyi setelah berkuasa pada 2016, yakni menunjuk sebuah komisi yang dipimpin mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan untuk memberikan rekomendasi mengenai solusi terhadap konflik itu.

Namun, kurang dari dua bulan setelah dia mengumumkan kabar itu, kelompok yang kemudian dikenal sebagai Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan atau ARSA membunuh sembilan petugas di pos-pos penjagaan perbatasan dan memicu bentrokan yang menewaskan puluhan warga etnis Rohingya dan memaksa hampir 90 ribu orang memasuki Bangladesh.

Munculnya kelompok Rohingya, ARSA, memberi "oksigen baru" pada kelompok nasionalis Buddha, Ma Ba Tha. [yy/tempo]