25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Selamatkan Mali


Fiqhislam.com - Saat ini, negeri peradaban Islam tersebut sedang bergolak. Konflik berdarah di Mali berawal pada Januari tahun lalu. Pemberontakan bersenjata pecah di bagian utara negara ini di bawah komando kelompok Tuareg.

Mereka menginginkan sebuah negara baru di wilayah Mali Utara bernama Azawad yang berlandaskan Islam. Konflik makin rumit ketika pihak militer melakukan kudeta, sementara Tuareg terus menguasai Mali Utara. Dalam kudeta itu, militer menggulingkan Presiden Mali, Amadou Toumani Toure, karena dianggap tak mampu menangani krisis di Mali Utara tersebut.

Azawad yang merupakan Tanah Air komunitas Tuareg pun berhasil direbut dari tangan pemerintah. Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA) kemudian menyatakan kemerdekaan Azawad pada April 2012. Belakangan, MNLA yang awalnya dibantu kelompok militan, Islamis Ansar Dine, terlibat konflik dengan mitranya tersebut dalam memerintah Azawad. Mereka pun bertempur dan melibatkan Gerakan Persatuan dan Jihad di Afrika Barat (MOJWA) yang merupakan pecahan kelompok Alqaidah.

Kudeta militer ditambah pertempuran MNLA dengan Ansar Dine dan MOJWA, membuat pemerintahan Mali porak poranda. Konflik kian rumit ketika bekas penjajah Mali, yakni Prancis, ikut campur. Januari 2013, militer Prancis menggelar operasi di  Mali dengan mengerahkan 3.500 tentara dilengkapi pesawat tempur dan kendaraan lapis baja.

Tak hanya Prancis, Republik Ceska pun berniat mengirim pasukan ke Mali. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Jerman, Denmark, Kanada, dan Belgia pun ramai-ramai mendukung Prancis. Badan pengungsi PBB, UNHCR, mencatat, lebih dari lima ribu masyarakat Mali mengungsi ke Mauritania sejak Prancis melancarkan operasi. Hingga detik ini, Mali masih bergolak.

Melihal hal ini, sudah sepatutnya negara-negara Islam turun tangan. Mali, negeri peradaban Islam itu, harus diselamatkan. [yy/republika]

Selamatkan Mali


Fiqhislam.com - Saat ini, negeri peradaban Islam tersebut sedang bergolak. Konflik berdarah di Mali berawal pada Januari tahun lalu. Pemberontakan bersenjata pecah di bagian utara negara ini di bawah komando kelompok Tuareg.

Mereka menginginkan sebuah negara baru di wilayah Mali Utara bernama Azawad yang berlandaskan Islam. Konflik makin rumit ketika pihak militer melakukan kudeta, sementara Tuareg terus menguasai Mali Utara. Dalam kudeta itu, militer menggulingkan Presiden Mali, Amadou Toumani Toure, karena dianggap tak mampu menangani krisis di Mali Utara tersebut.

Azawad yang merupakan Tanah Air komunitas Tuareg pun berhasil direbut dari tangan pemerintah. Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA) kemudian menyatakan kemerdekaan Azawad pada April 2012. Belakangan, MNLA yang awalnya dibantu kelompok militan, Islamis Ansar Dine, terlibat konflik dengan mitranya tersebut dalam memerintah Azawad. Mereka pun bertempur dan melibatkan Gerakan Persatuan dan Jihad di Afrika Barat (MOJWA) yang merupakan pecahan kelompok Alqaidah.

Kudeta militer ditambah pertempuran MNLA dengan Ansar Dine dan MOJWA, membuat pemerintahan Mali porak poranda. Konflik kian rumit ketika bekas penjajah Mali, yakni Prancis, ikut campur. Januari 2013, militer Prancis menggelar operasi di  Mali dengan mengerahkan 3.500 tentara dilengkapi pesawat tempur dan kendaraan lapis baja.

Tak hanya Prancis, Republik Ceska pun berniat mengirim pasukan ke Mali. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Jerman, Denmark, Kanada, dan Belgia pun ramai-ramai mendukung Prancis. Badan pengungsi PBB, UNHCR, mencatat, lebih dari lima ribu masyarakat Mali mengungsi ke Mauritania sejak Prancis melancarkan operasi. Hingga detik ini, Mali masih bergolak.

Melihal hal ini, sudah sepatutnya negara-negara Islam turun tangan. Mali, negeri peradaban Islam itu, harus diselamatkan. [yy/republika]

Mali, Timbuktu dan Kejayaan Universitas Sankore

Mali, Timbuktu dan Kejayaan Universitas Sankore


Mali, Timbuktu dan Kejayaan Universitas Sankore


Fiqhislam.com - Islam dibawa ke Afrika Barat oleh pedagang Muslim Berber dan Tuareg. Tak hanya sebatas keyakinan, Islam juga membentuk sistem politik, sosial, hingga seni dan budaya. Kerajaan Mali telah berdiri kokoh di sana jauh sebelum negeri ini kemudian dijajah Prancis. Mansa Musa, merupakan salah satu raja di kerajaan tersebut yang paling banyak berkiprah dan membawa pengaruh bagi peradaban Islam di Mali.

Pada masa keemasan Kerajaan Mali, ilmu matematika, astronomi, sastra, dan seni berkembang pesat. Peradaban Islam terus berkembang hingga pada abad ke-19 saat Mali dikuasai Prancis. Mali baru merdeka sebagai negara Republik tahun 1960.

Tiga kota di Mali, yakni Timbuktu, Gaio, dan Kano, bahkan akan segera menjadi pusat pembelajaran Islam internasional. Salah satu dari tiga kota itu, yakni Timbuku, dulu merupakan kota peradaban Islam. Di sana, banyak manuskrip Islam yang disalin atau ditulis sejak abad ke-14.

Selama lebih dari 600 tahun, Timbuktu menjadi pusat agama dan budaya Islam. Kota ini pun berkembang menjadi kota perdagangan, khususnya bagi para pedagang Mediterania yang mendapat emas dari Afrika Barat dan Selatan.

Hingga kini, Kota Timbuktu memiliki reputasi tinggi dalam bidang pendidikan Islam. Terdapat sebuah perguruan tinggi bernama Universitas Timbuktu yang kondang di seluruh dunia Islam. Di universitas ini pula, manuskrip peradaban Islam dipelajari.

Terdapat pula Madrasah dan Universitas Sankore yang berada di Masjid Sankore, sebuah masjid yang dibangun dari lumpur pada 1325 Masehi. Masjid ini difungsikan sebagai  universitas sejak awal abad ke-14. Seorang cendekiawan Muslim, Ahmad Baba, lulus dari universitas tersebut. Sedikitnya 25 ribu pelajar dapat menimba ilmu di sana. Perpustakaannya menyimpan 400 ribu hingga 700 ribu manuskrip.

Beragam ilmu umum diajarkan, selain ilmu Islam, bahasa Arab, serta menghafal Alquran. Universitas ini merupakan salah satu tempat pembelajaran terkemuka di dunia Islam, selain Universitas Al-Azhar dan Universitas Qurtuba.

Selain sebagai pusat pendidikan, Timbuktu juga menjadi magnet destinasi wisata para pelancong asing. Ratusan bangunan kuno di kota tersebut menjadi situs warisan dunia UNESCO. Namun, sejak konflik politik meletup di Mali, Timbuktu menjadi kota yang suram. Kota ini dilaporkan menjadi pusat latihan kelompok oposisi. Beberapa situs budaya juga hancur akibat konflik yang masih berlangsung hingga kini. [yy/republika]