25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Bom Madinah, Bukti bahwa Terorisme tak Memandang Agama

Fiqhislam.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Farouk Muhammad mengatakan keprihatinan dan duka cita mendalam atas peristiwa pemboman yang terjadi di Madinah, Arab Saudi.

Dia menyesalkan teror bom ini terjadi di salah satu tempat suci umat Islam dan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah.

"Kebiadaban para pelaku teror dengan menyerang tempat yang dimuliakan umat Islam di seluruh dunia ini, apalagi di bulan Ramadhan, menunjukkan bahwa pelakunya tidak memandang agama dan mengusik nilai-nilai kemanusiaan," ujar Farouk kepada media, Selasa (5/7).

Sebagaimana diinformasikan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi sebanyak empat petugas keamanan tewas saat menghentikan pelaku di lapangan parkir Masjid Nabawi, Senin malam (4/7). Belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Senator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berharap kejadian tersebut dapat segera ditangani pemerintah Saudi dan tidak menganggu aktivitas umat Islam untuk tetap beribadah di Masjid Nabawi.

Peristiwa ini adalah pemboman ketiga yang terjadi di Saudi pada hari tersebut, setelah bom meledak di dekat Kedubes AS di Jeddah dan Qatif, daerah yang dihuni oleh banyak penganut syiah. Pemilihan lokasi-lokasi yang dijadikan target juga menunjukkan bahwa siapapun pelakunya, yang mereka inginkan adalah kekacauan besar di kawasan tersebut. Karena itu, ia menyerukan umat Islam dan masyarakat dunia tidak terpancing.

"Semoga aparat yang berwenang dapat segera mengembalikan situasi damai dan umat Islam di dunia dapat kembali beribadah dengan tenang," kata dia.

Farouk juga menyampaikan bahwa aparat dan masyarakat Indonesia dapat menambah kewaspadaan untuk mencegah kejadian serupa terjadi di tanah air. Semua pihak harus saling mendukung untuk mencegah dan menanggulangi ancaman bagi kemanusiaan ini. [yy/republika]

Bom Madinah, Bukti bahwa Terorisme tak Memandang Agama

Fiqhislam.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Farouk Muhammad mengatakan keprihatinan dan duka cita mendalam atas peristiwa pemboman yang terjadi di Madinah, Arab Saudi.

Dia menyesalkan teror bom ini terjadi di salah satu tempat suci umat Islam dan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah.

"Kebiadaban para pelaku teror dengan menyerang tempat yang dimuliakan umat Islam di seluruh dunia ini, apalagi di bulan Ramadhan, menunjukkan bahwa pelakunya tidak memandang agama dan mengusik nilai-nilai kemanusiaan," ujar Farouk kepada media, Selasa (5/7).

Sebagaimana diinformasikan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi sebanyak empat petugas keamanan tewas saat menghentikan pelaku di lapangan parkir Masjid Nabawi, Senin malam (4/7). Belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Senator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berharap kejadian tersebut dapat segera ditangani pemerintah Saudi dan tidak menganggu aktivitas umat Islam untuk tetap beribadah di Masjid Nabawi.

Peristiwa ini adalah pemboman ketiga yang terjadi di Saudi pada hari tersebut, setelah bom meledak di dekat Kedubes AS di Jeddah dan Qatif, daerah yang dihuni oleh banyak penganut syiah. Pemilihan lokasi-lokasi yang dijadikan target juga menunjukkan bahwa siapapun pelakunya, yang mereka inginkan adalah kekacauan besar di kawasan tersebut. Karena itu, ia menyerukan umat Islam dan masyarakat dunia tidak terpancing.

"Semoga aparat yang berwenang dapat segera mengembalikan situasi damai dan umat Islam di dunia dapat kembali beribadah dengan tenang," kata dia.

Farouk juga menyampaikan bahwa aparat dan masyarakat Indonesia dapat menambah kewaspadaan untuk mencegah kejadian serupa terjadi di tanah air. Semua pihak harus saling mendukung untuk mencegah dan menanggulangi ancaman bagi kemanusiaan ini. [yy/republika]

Dewan Ulama Senior Saudi Sebut Pelaku Bom Golongan Khawarij

Dewan Ulama Senior Saudi Sebut Pelaku Bom Golongan Khawarij

Dewan Ulama Senior Arab Saudi menyebut aksi bom yang di Kompleks Masjid Nabawi, Madinah, Jeddah, dan Qatif, adalah perilaku Kaum Khawarij yang keluar dari agama dan barisan umat Islam.  

Dalam pernyataannya yang dirilis melalui laman resminya, institusi keulamaan tertinggi di Kerajaan Arab Saudi ini, mengatakan bahwa mereka telah melewati batas-batas dan tak lagi menghindari perkara yang dilarang dan kesucian agama. Mereka tak punya agama dan tanggung jawab.

Lembaga ini mengutip penegasan Rasulullah SAW dalam hadisnya, yang menyatakan, akan muncul pada akhir zaman, usia mereka relatif muda, terbuai mimpi dan tidak bijak, banyak menyitir hadis, membaca Alquran tak melebihi kerongkongan mereka.

Mereka mencabik agama layaknya melepas anak panah dari busurnya. Dalam sejarah aksi kejahatan mereka terekam dengan membunuh Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib RA.  

Lembaga ini juga menegaskan kelancangan pelaku yang menargetkan Masjid Nabawi, Madinah. Padahal, dalam sebuah hadis jelas-jelas Rasul menyatakan, bahwa Kota Madinah adalah kota suci.

Barangsiapa yang berulah atau melindungi peneror, ia akan mendapat laknat Allah, para malaikat, dan segenap umat manusia. Pada pengunjung pernyataannya, umat Islam untuk waspada dan menyerahkan sepenuhnya keamanan pada pihak yang berwajib.

Aksi bom bunuh diri terjadi di kota Madinah, Arab Saudi, pada Senin (4/7) malam. Pelaku bom bunuh diri yang diketahui hanya satu orang itu melakukan aksinya tak jauh dari lokasi Masjid Nabawi, Madinah. [yy/republika]

Pengebom Jeddah Warga Pakistan

Pengebom Jeddah Warga Pakistan

Juru bicara keamanan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menyatakan pengebom bunuh diri, Senin pagi (4/7) di Jeddah merupakan warga Pakistan.

Saudi Gazette, mengutip dari SPA, Selasa (5/7) mengatakan pria tersebut bernama Abdullah Qalzar Khan.

Dia lahir di Pakistan dan bertempat tinggal di Kota Jeddah bersama istri dan orang tuanya. Dia datang ke Arab Saudi 12 tahun lalu untuk bekerja sebagai sopir pribadi. [yy/republika]

Serangan Bom Madinah Dinilai tak Menguntungkan Bagi ISIS

Serangan Bom Madinah Dinilai tak Menguntungkan Bagi ISIS

Sebuah bom bunuh diri menghantam Kota Madinah pada Senin (4/7) petang waktu setempat. Peristiwa tersebut merupakan rangkaian ledakan, setelah terjadi di Kota Qatif dan Jeddah, Arab Saudi dalam satu hari.

Pengamat terorisme, Harits Abu Ulya menuturkan, berdasarkan opini yang berkembang, ledakan tersebut merupakan aksi bom. Kendati, belum ada rilis resmi dari pemerintah Arab Saudi.

Ia menilai, apabila fokus pada opini yang berkembang, maka kuat dugaan dalang dibalik aksi bom bunuh diri tersebut merupakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). "Itu memang strategi yang hari ini diadopsi oleh ISIS. Untuk membuat trigger perang besar keterlibatan banyak negara untuk di Suriah," kata Peneliti Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu kepada Republika.co.id, Selasa (5/7).

ISIS, kata dia, mencoba melibatkan banyak negara dalam konfliknya dengan cara melakukan sejumlah aksi teror oleh para simpatisannya. Namun dia menganalisa, jika benar dalang dibalik serangan tersebut ISIS, maka hal itu sangat kontra produktif. Sebab, tindakan itu akan menjadikan posisi ISIS sulit, karena dimusuhi oleh dunia Islam.

Kedua, ia melanjutkan, peristiwa itu akan membuat pemerintah Arab Saudi mengawasi pergerakan ISIS, termasuk asal-muasal aliran dana. Ia menyebut, serangan itu tidak berdampak menguntungkan untuk kalkulasi kekuatan ISIS.

"Tapi kalau ini betul (ISIS), dipaksakan, maka pihak ISIS ingin menarik Arab Saudi, dalam pusaran perang yang lebih besar. Jadi itu yang mereka lakukan," kata Harist.

Ia beranggapan, apabila ISIS merupakan pihak yang bertanggung jawab, serangan tersebut bukan untuk mencari popularitas. Sebab, saat ini, ISIS merupakan organisasi yang paling populer dalam serangkaian aksi teror.

"Tentu dengan pilihan Madinah, dengan momentum Ramadhan, tentu ada target politik yang jauh lebih besar. Yang paling masuk akal, menarik banyak negara untuk masuk dalam perang besar Suriah, dalam catatan kalau benar itu pelakunya ISIS," jelasnya. [yy/republika]