10 Dzulhijjah 1439  |  Rabu 22 Augustus 2018

Serangan Koalisi Arab Saudi Tewaskan 45 Orang di Yaman

Fiqhislam.com - Pesawat tempur koalisi Arab, pimpinan Arab Saudi, melancarkan serangan udara yang keliru menghantam satu pasar di bagian timur-laut Ibu Kota Yaman, Sana,a, Sabtu (27/2/2016), dan menewaskan 45 warga sipil

"Beberapa serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi secara langsung menghantam orang yang berkumpul di pasar yang padat pengunjung di Kabupaten Nehm, Provinsi Sana'a, dan menewaskan sebanyak 45 warga sipil. Sementara itu, 50 orang lagi cedera di lokasi," kata seorang warga kepada Xinhua.

"Pemboman udara tersebut mula-mula ditujukan ke pasar terkenal di Nehm kemudian kembali untuk menyerang petugas pertolongan dalam dua serangan udara," sambungnya.

Sementara itu, stasiun televisi yang berafiliasi pada milisi Al-Houthi, Masirah, melaporkan, Lebih dari 25 orang tewas dan hampir 20 orang lagi cedera selama serangan udara oleh koalisi pimpinan Arab Saudi di Pasar Nehm." Bentrokan sengit bersenjata masih berkecamuk antara pasukan pro-pemerintah dan petempur milisi Syiah, Al-Houthi, di Kabupaten Nehm dan daerah lain yang berada pada posisi lebih tinggi dari Sana'a.

Pasukan Pemerintah Yaman, yang didukung Arab Saudi, telah bergerak maju sejauh 50 kilometer dari Sana'a pada awal Februari, setelah merebut kembali pos militer di Kabupaten Nehm dan pegunungannya, yang berada di atas Ibu Kota Yaman, yang dikuasai gerilyawan, dari arah timur-laut.

Gerakan maju tersebut, yang didukung oleh pesawat tempur koalisi pimpinan Arab Saudi, berjalan sangat lamban akibat ranjau darat yang dipasang gerilyawan di jalan menuju Sana'a.

Koalisi pimpinan Arab Saudi memulai pemboman udara setiap hari terhadap gerilyawan Al-Houthi dan pasukan sekutu mereka sejak Maret 2015, dan berikrar akan mengusir gerilyawan Syiah serta merebut kembali Sana'a.

Lebih dari 6.000 orang telah tewas dalam pertempuran darat dan serangan udara, separuh dari mereka adalah warga sipil. [yy/rimanews]

Uni Eropa serukan Embargo Senjata untuk Arab Saudi

Parlemen Eropa telah mengadopsi resolusi yang menyerukan embargo senjata kepada Arab Saudi atas tuduhan pelanggaran hukum internasional di Yaman.

Parlemen Uni Eropa meminta kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini untuk memulai sebuah inisiatif yang bertujuan untuk memberlakukan embargo senjata Uni Eropa kepada negara yang tidak sesuai dengan aturan penggunaan senjata.

Baca juga: Lulusan Universitas dari Bandung Ini Laris di Singapura

Meskipun usulan tersebut tidak mengikat secara hukum, anggota parlemen berharap ini akan menekan pemerintah Uni Eropa untuk menyetujui embargo, menyusul permohonan 750 ribu warga Eropa.

Anggota parlemen Eropa asal Skotlandia, Alyn Smith, yang memimpin gerakan itu, mengatakan senjata buatan Uni Eropa yang diekspor ke Arab Saudi melanggar hukum internasional.

Anna MacDonald, Direktur kelompok kampanye Arms Control yang memimpin petisi oleh masyarakat Eropa, mengatakan kelompok itu menyambut langkah pertama ini sebagai jalan menuju pencegahan penggunaan senjata Eropa dari digunakan untuk penderitaan manusia di Yaman dan di tempat lain.

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi dan beranggotakan sembilan negara telah banyak dikritik atas korban warga sipil yang tewas dari serangan bom di Yaman.

Menurut PBB, sekitar 7.000 orang telah tewas dan lebih dari 35.000 terluka sejak koalisi pimpinan Arab Saudi ikut dalam konflik pada bulan Maret 2015. Hampir setengah dari yang tewas dan terluka adalah warga sipil.

Arab Saudi memulai pemboman di Yaman untuk mendukung presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang berada di bawah ancaman pasukan Houthi yang didukung Iran.

Richard Howitt, anggota parlemen Eropa dari Patai Buruh meminta pemerintah Inggris untuk menghentikan penjualan senjata ke Riyadh. "Inggris adalah salah satu pemasok terbesar senjata ke Arab Saudi dan perlu mengindahkan panggilan ini," katanya, seperti yang dilansir Guardian pada 25 Februari 2016.

Amerika Serikat adalah pemasok internasional terbesar senjata ke Arab Saudi. Inggris dan Perancis adalah pemasok utama Eropa, sementara Jerman juga memiliki lisensi ekspor senjata ke kerajaan terbesar di Timur Tengah tersebut. [yy/atjehcyber]

Koalisi Negara Islam Kembali Lakukan Latihan Militer Bersama

Arab Saudi sebagai ketua dalam koalisi Negara Islam kembali mengadakan latihan militer dengan anggota-anggotanya, latihan militer kali ini termasuk yang dianggap paling besar bila dilihat dari peserta dan senjata yang digunakan.

Untuk latihan kali ini Negara kaya minyak itu menyebutnya dengan “North Thunder” dilaksanakan di bagian utara Saudi pada Sabtu kemarin. Diikuti oleh puluhan negara anggota koalisi Negara Islam.

Seperti yang dilaporkan Alarabiya, Sabtu (28/2) Negara-negara tersebut antara lain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Senegal, Sudan, Kuwait, Maladewa, Maroko, Pakistan, Chad, Turki, Tunisia, Komoro, Djibouti, Oman, Qatar, Malaysia, Mesir dan Mauritania.

Semantara itu, laman Saudi Press Agency latiah militer kali ini difokuskan dalam rangka membentuk persiapan Negara-negara itu dari kemungkinan serangan dari orgnasasi-organisasi yang dianggap sebagai kelompok teror. [yy/muslimdaily]

khaz.jpg
khaz.jpg
2007 ~ 2018  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine