AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Kesempurnaan Shalat dan Khusyu Sewaktu Shalat
    Selasa, 23 September 2014
  2. Laporan Sogokan Mesir: Sinai jadi Bagian Palestina
    Selasa, 23 September 2014
  3. Menlu Iran Isyarakatkan Pencairan Hubungan Dingin dengan Arab Saudi
    Selasa, 23 September 2014
  4. Alasan Tidak Berdasar, John Howard Malu pada Perang Irak 2003
    Selasa, 23 September 2014
  5. Di Suriah AS tak Hanya Serang ISIS
    Selasa, 23 September 2014
  6. Kemenag: Sertifikat Halal Bisa Dikeluarkan Setelah Ada Fatwa MUI
    Selasa, 23 September 2014
  7. Panetta Salahkan Presiden Obama dalam Krisis ISIS
    Selasa, 23 September 2014
  8. Rusia pada AS: Hormati Kedaulatan Suriah
    Selasa, 23 September 2014
  9. Agen Mossad Paling Terkenal Meninggal Dunia
    Selasa, 23 September 2014
  10. Turki Cabut Larangan Hijab di Sekolah Umum
    Selasa, 23 September 2014
  11. Semangat Dakwah dan Bermusik Yusuf Islam yang tak Pernah Pudar
    Selasa, 23 September 2014
  12. Muhammadiyah: Hari Raya Idul Adha Jatuh pada 4 Oktober 2014
    Selasa, 23 September 2014
  13. Tzipi Livni Tolak Perluasan Permukiman Yahudi
    Selasa, 23 September 2014
  14. Profesor Uighur Pecinta Damai Dihukum Seumur Hidup
    Selasa, 23 September 2014
  15. Rafsanjani: Israel Ditakdirkan Gagal dalam Sejarah
    Senin, 22 September 2014
  16. Anggota Parlemen Irak Tolak Kehadiran Militer AS
    Senin, 22 September 2014
  17. Demonstran Saudi Menuntut Pembebasan Sheikh Nimr
    Senin, 22 September 2014
  18. Komunis (Tetap) Bahaya Laten
    Senin, 22 September 2014
  19. Krisis Militer Dunia Makin Untungkan Pabrik Senjata AS
    Senin, 22 September 2014
  20. Lavrov: Barat Terbiasa Menuduh Tanpa Bukti
    Senin, 22 September 2014
  21. Pembuat Buku Agama Kontroversial Diusulkan Dihukum
    Senin, 22 September 2014
  22. Paus: Agama Tidak Bisa Dijadikan Pembenaran Kekerasan
    Senin, 22 September 2014
  23. Istri Henning Minta ISIS Bebaskan Suaminya
    Senin, 22 September 2014
  24. Tiga Bukti Kejayaan Islam di Libya
    Senin, 22 September 2014
  25. Inggris Dituding Tipu Warga Skotlandia
    Senin, 22 September 2014
  26. Malaysia dalam Waspada Kerjasama Abu Sayyaf-ISIS
    Senin, 22 September 2014
  27. Kondisi Memanas, PM Yaman Mundur
    Senin, 22 September 2014
  28. Shanon Abulnasr: Islam Mengajariku Dapatkan Kebahagiaan
    Senin, 22 September 2014
  29. Polri: Kelompok Radikal Memiliki Jaringan dengan ISIS
    Senin, 22 September 2014
  30. Lagi, Jamaah Haji Nonkuota Telantar di Arab Saudi
    Senin, 22 September 2014
Belasan Tahun Murtad, Al-Fatihah Menuntunnya Kembali ke Pelukan Islam PDF Print E-mail

Belasan Tahun Murtad, Al-Fatihah Menuntunnya Kembali ke Pelukan Islam

Fiqhislam.com - Dia pernah menjadi Muslim. Tapi, impian duniawi membawanya pada kesibukan dan kealpaan hingga melupakan Allah. Raya Shokatfard, wanita asal Iran itu melanglang ke negeri Paman Sam untuk memenuhi ''impian Amerika''-nya yang menggebu.

Namun, setelah kesuksesan diraih, hatinya terasa kosong. Ia pun kembali mencari eksistensi Tuhan. Tak langsung kembali kepada Islam, ia lebih dulu mempelajari agama Buddha, Hindu, lalu Kristen. Tapi, hasil kajiannya terhadap tiga agama itu justru mengantarnya kembali kepada Allah. Ia pun mendapatkan kembali hidayah keislaman yang pernah ia tinggalkan. Air mata menderas di pipi Raya saat mengisahkan perjalanan panjangnya itu.

Kisah pilu Raya bermula saat ia hijrah dari Iran ke Amerika pada 1968. Saat itu usianya masih sangat belia, 19 tahun. Tak hanya meninggalkan negaranya, Raya pun menanggalkan gaya hidupnya sebagai orang Iran, termasuk keislamannya. "Aku meninggalkan Iran, pindah ke AS. Aku tinggalkan pula Islam dan identitas sebagai Muslim,'' kisahnya, seperti dikutip dari kanal milik Raya di Youtube.

Saat tinggal di AS, ia pun hidup seperti remaja AS pada umumnya: bersenang-senang dan diliputi kilau duniawi. Raya kemudian memulai ''impian Amerika''-nya dengan merintis bisnis di Manhattan, Kalifornia Selatan. Butuh beberapa tahun bagi Raya untuk mencapai impiannya menjadi kaya dan sukses. Wanita yang meraih gelar sarjana dari Southern Oregon University (SOU) itu berhasil menggapai mimpinya di usia yang terbilang amat muda. Berawal dari bisnis toko pakaian, ia meraih puncak kesuksesan saat beralih ke bisnis real estate. Ia menjadi maestro real estate di kawasan Pantai Manhattan. "Alhamdulillah, saya sangat sukses di bisnis real estate. Saya sangat beruntung," ujarnya bersyukur.

Menjadi pebisnis sukses, mudah bagi Raya membeli segala kemewahan dunia. Ia punya mobil Rolls Royce dan tinggal di rumah megah di tepi pantai. Kebunnya amat luas dengan aneka ternak hidup di dalamnya. Jalan-jalan keliling dunia pun amat gampang dilakoninya. Namun, setelah gemerlap dunia ia dapatkan, Raya justru merasakan kekosongan jiwa. Alih-alih bahagia, ia merasa hatinya begitu hampa. "Saya mulai merasakan sesuatu yang hilang, terasa sangat kosong," ujar Raya dengan mata sayu.

Kekosongan hati terus melandanya. Wanita bergelar master bidang jurnalisme dan komunikasi publik ini pun kemudian mencari tahu penyebab kekosongan hatinya. Ia mengikuti beragam workshop dan kuliah, tapi tak menjawab permasalahannya. Entah mengapa, kemudian tumbuh keinginannya untuk mencari eksistensi Tuhan. Maka itu, dimulailah perjalanannya mencari Tuhan.

Perjalanan itu ia awali dari agama Hindu. Ia amat tertarik dengan kedamaian dalam ajaran agama tersebut. Dia pun menjadi penganut Hindu. Merasa kurang puas, ia lalu mencari Tuhan di agama lain. Kali ini, pilihannya jatuh ke agama Buddha. Ia pun menjadi umat Buddha. Tak lama, ia keluar dari agama ini karena kembali gagal menemukan eksistensi Tuhan.

                                                                     ***

Raya lalu bergabung dengan gerakan New Age, sebuah gerakan yang mengajarkan kebebasan diri tanpa Tuhan. Gerakan yang pamornya amat mencorong di Amerika kala itu membawa Raya pada kehidupan yang bebas dan mandiri tanpa Tuhan. "Anda adalah master dalam kehidupan Anda, Anda memiliki takdir sendiri, Anda adalah Tuhan dalam kehidupan Anda, dan banyak elemen lain yang saya pelajari di sana. Tapi, kemudian saya berpikir, saya tak mampu menjadi master dalam perjalanan hidup saya. Saya tidak dapat membayangkan ke mana hidup saya akan pergi. Saya pun tak nyaman di sana," demikian Raya berkisah.

Menjadi Kristiani
Dari New Age, Raya kemudian menjadi penganut Kristiani. Ia bertahan cukup lama sebagai seorang Kristen, yakni tujuh setengah tahun. Ia begitu tertarik dan terpesona dengan kebersamaan dan persaudaraan umat Kristiani yang kuat. Lalu, jadilah Raya penganut Kristen yang taat ke gereja, mempelajari Alkitab, bahkan mengajarkannya. Ia juga belajar teologi Kristen di sebuah universitas. Tapi, lagi-lagi Raya merasa gelisah. Ia merasa belum menemukan Tuhan yang diinginkannya.

Nah, di titik inilah ia mulai tertarik kembali pada Islam. Sebelum memantapkan diri kembali ke pangkuan Islam, ia sempat pamit pada pastur yang selama ini membimbingnya dalam agama Kristen. Raya sangat gembira karena sang pastur amat terbuka dan membebaskannya memilih agama yang diyakini.

Selama 15 tahun, Raya jatuh bangun mencari eksistensi Tuhan. Beragam agama sudah ia anut. Namun, siapa sangka, ia justru kembali pada agama yang dianutnya saat masih tinggal di Iran, Islam.

Raya amat pilu saat mengenang perjalanannya hingga kembali kepada Allah. Linangan air mata membasahi pipinya karena menyesal pernah melupakan Allah. Ia merasa bodoh pernah melepaskan hidayah yang begitu nikmat, hidayah Islam. Namun, Allah begitu mencintai hamba-Nya sehingga Raya diberi kesempatan kedua untuk kembali mendapatkan hidayah itu.
                                                                
                                                                     ***

Sungguh indah kisah kembalinya Raya ke pangkuan Islam. Ia hanya membaca Surah al-Fatihah saat pertama kali membuka Alquran setelah kemurtadannya selama belasan tahun. Hanya dengan tujuh ayat dalam surah pembuka Kitabullah, Raya sudah menyadari kesalahannya dan menyadari bahwa Allahlah satu-satunya Tuhan, tiada yang berhak disembah selain Allah.

Baru saja membaca Basmalah, Raya sudah merinding.  Ayat pertama al-Fatihah membuatnya menyadari bahwa Allahlah Tuhan segala sesuatu, Tuhan semesta alam. Sedangkan, manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta itu. Membaca ayat kedua, air matanya tak kuasa lagi terbendung. "Saya melupakan-Nya, tapi Dia tak pernah melupakan saya.'' Ia sungguh merasa malu pada Allah.

Setiap ayat dalam al-Fatihah benar-benar meresap ke jiwa Raya. Saat tiba di ayat yang berbunyi, "Hanya kepada-Nya kami menyembah dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan," hati Raya serasa tercambuk. Ia tak habis pikir mengapa bisa melupakan Allah dan justru mencari pertolongan kepada selain-Nya. "Saat membaca ayat ini, saya merasa sebuah batu besar dari langit jatuh dan memukul saya," ujar Raya dengan air mata yang tak henti mengalir.

Ayat berikutnya hingga terakhir, benar-benar membuat Raya menemukan jalan kembali pada Islam. Jalan lurus yang disebut dalam al-Fatihah sangat diinginkan Raya. Ia pun merasa Allah telah menunjukkan "Sirath al-Mustaqim" tersebut kepadanya. "Terakhir, saya meminta padanya jalan yang lururs dan Dia membimbing saya pada jalan lurus tersebut," pungkas Raya bersyukur.

Maka, kembalilah Raya pada agamanya, agama yang lurus yang diridhai Allah, yakni Islam. Saat ini, Raya berusia 62 tahun. Meski tak muda lagi, ia sangat aktif dalam menyebarkan ajaran Islam. Berbekal pendidikannya, ia pernah menjadi asisten editor di SOU untuk situs islam yang berbasis di Los Angeles.

Ia pun menjadi koresponden asing, penulis, editor dan produser film dokumenter untuk web onislam.net. Ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi dan konsultan untuk situs Reading Islam. Melalui jurnalistik, Raya aktif menyuarakan perdamaian dan hak asasi perempuan. [yy/republika.co.id]

Oleh Afriza Hanifa

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.