AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Militan Nigeria kembali Culik Puluhan Perempuan
    Jumat, 24 Oktober 2014
  2. AS Jatuhkan 1.700 Bom Untuk Lumpuhkan ISIS
    Jumat, 24 Oktober 2014
  3. Dibalik Pernyataan 'Anti-Barat' Pejabat Rusia
    Jumat, 24 Oktober 2014
  4. Menlu Kanada: Penembak Gedung Parlemen Tak Terkait ISIS
    Jumat, 24 Oktober 2014
  5. Istri Pembohong, Haruskah Ditalak Tiga Sekalian?
    Jumat, 24 Oktober 2014
  6. ISIS Diduga Gunakan Senjata Kimia
    Jumat, 24 Oktober 2014
  7. Kelakar Rasulullah Saw
    Jumat, 24 Oktober 2014
  8. Takwa Sosial
    Jumat, 24 Oktober 2014
  9. PBNU Imbau Pemerintah Bersikap Tegas Terhadap Kelompok Radikal
    Jumat, 24 Oktober 2014
  10. Empat Pekerja Blackwater Dinyatakan Bersalah Membunuh 14 Warga Irak
    Kamis, 23 Oktober 2014
  11. Politisi Australia Minta Mahkamah Internasional Periksa PM Tony Abbott
    Kamis, 23 Oktober 2014
  12. Erdogan: Senjata AS yang Didrop di Kobani Jatuh ke Tangan ISIS
    Kamis, 23 Oktober 2014
  13. Suriah Beri Dukungan Militer kepada Kurdi di Kobane
    Kamis, 23 Oktober 2014
  14. Al Qaida Tewaskan 30 Gerilyawan Syiah di Yaman Tengah
    Kamis, 23 Oktober 2014
  15. Aminah Fogarty: Saya Tahu, Mengapa Allah Memberikan Hidayah
    Kamis, 23 Oktober 2014
  16. Padang Mahsyar, Bumi Lain di Akhir Zaman
    Rabu, 22 Oktober 2014
  17. Ingatlah, Perbuatan Kita di Dunia Akan Dihisab
    Rabu, 22 Oktober 2014
  18. Analis: AS Jalin Hubungan Militer dengan Jepang untuk Lawan China-Rusia
    Rabu, 22 Oktober 2014
  19. Uni Eropa Larang Israel Lintasi “Garis Merah” di Tepi Barat
    Rabu, 22 Oktober 2014
  20. Yahudi Ajukan UU Pembagian Al-Aqsha
    Rabu, 22 Oktober 2014
  21. Pertemuan Kerry-Jokowi Bahas ISIS?
    Rabu, 22 Oktober 2014
  22. Titik Terang Rencana Pembangunan Indonesia Islamic Center di Afghanistan
    Rabu, 22 Oktober 2014
  23. RI Terpilih Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB
    Rabu, 22 Oktober 2014
  24. Iran Bekuk Agen Asing di Lokasi Reaktor Nuklir
    Rabu, 22 Oktober 2014
  25. Di Penjara, An-Naje Jones Melihat Keindahan Islam
    Rabu, 22 Oktober 2014
  26. 'Sampai Bendera Hitam Berkibar di Istana Buckingham'
    Rabu, 22 Oktober 2014
  27. ISIS Luncurkan Serangan ke Wilayah Kurdi di Irak
    Rabu, 22 Oktober 2014
  28. Muharram (Suro), Bulan Yang Mulia
    Selasa, 21 Oktober 2014
  29. Sayiyid Sabiq, Sosok Bersahaja di Balik Buku “Fiqih Sunnah”
    Selasa, 21 Oktober 2014
  30. Istana Golestan Jejak Imperium Persia Islam
    Selasa, 21 Oktober 2014
Belasan Tahun Murtad, Al-Fatihah Menuntunnya Kembali ke Pelukan Islam PDF Print E-mail

Belasan Tahun Murtad, Al-Fatihah Menuntunnya Kembali ke Pelukan Islam

Fiqhislam.com - Dia pernah menjadi Muslim. Tapi, impian duniawi membawanya pada kesibukan dan kealpaan hingga melupakan Allah. Raya Shokatfard, wanita asal Iran itu melanglang ke negeri Paman Sam untuk memenuhi ''impian Amerika''-nya yang menggebu.

Namun, setelah kesuksesan diraih, hatinya terasa kosong. Ia pun kembali mencari eksistensi Tuhan. Tak langsung kembali kepada Islam, ia lebih dulu mempelajari agama Buddha, Hindu, lalu Kristen. Tapi, hasil kajiannya terhadap tiga agama itu justru mengantarnya kembali kepada Allah. Ia pun mendapatkan kembali hidayah keislaman yang pernah ia tinggalkan. Air mata menderas di pipi Raya saat mengisahkan perjalanan panjangnya itu.

Kisah pilu Raya bermula saat ia hijrah dari Iran ke Amerika pada 1968. Saat itu usianya masih sangat belia, 19 tahun. Tak hanya meninggalkan negaranya, Raya pun menanggalkan gaya hidupnya sebagai orang Iran, termasuk keislamannya. "Aku meninggalkan Iran, pindah ke AS. Aku tinggalkan pula Islam dan identitas sebagai Muslim,'' kisahnya, seperti dikutip dari kanal milik Raya di Youtube.

Saat tinggal di AS, ia pun hidup seperti remaja AS pada umumnya: bersenang-senang dan diliputi kilau duniawi. Raya kemudian memulai ''impian Amerika''-nya dengan merintis bisnis di Manhattan, Kalifornia Selatan. Butuh beberapa tahun bagi Raya untuk mencapai impiannya menjadi kaya dan sukses. Wanita yang meraih gelar sarjana dari Southern Oregon University (SOU) itu berhasil menggapai mimpinya di usia yang terbilang amat muda. Berawal dari bisnis toko pakaian, ia meraih puncak kesuksesan saat beralih ke bisnis real estate. Ia menjadi maestro real estate di kawasan Pantai Manhattan. "Alhamdulillah, saya sangat sukses di bisnis real estate. Saya sangat beruntung," ujarnya bersyukur.

Menjadi pebisnis sukses, mudah bagi Raya membeli segala kemewahan dunia. Ia punya mobil Rolls Royce dan tinggal di rumah megah di tepi pantai. Kebunnya amat luas dengan aneka ternak hidup di dalamnya. Jalan-jalan keliling dunia pun amat gampang dilakoninya. Namun, setelah gemerlap dunia ia dapatkan, Raya justru merasakan kekosongan jiwa. Alih-alih bahagia, ia merasa hatinya begitu hampa. "Saya mulai merasakan sesuatu yang hilang, terasa sangat kosong," ujar Raya dengan mata sayu.

Kekosongan hati terus melandanya. Wanita bergelar master bidang jurnalisme dan komunikasi publik ini pun kemudian mencari tahu penyebab kekosongan hatinya. Ia mengikuti beragam workshop dan kuliah, tapi tak menjawab permasalahannya. Entah mengapa, kemudian tumbuh keinginannya untuk mencari eksistensi Tuhan. Maka itu, dimulailah perjalanannya mencari Tuhan.

Perjalanan itu ia awali dari agama Hindu. Ia amat tertarik dengan kedamaian dalam ajaran agama tersebut. Dia pun menjadi penganut Hindu. Merasa kurang puas, ia lalu mencari Tuhan di agama lain. Kali ini, pilihannya jatuh ke agama Buddha. Ia pun menjadi umat Buddha. Tak lama, ia keluar dari agama ini karena kembali gagal menemukan eksistensi Tuhan.

                                                                     ***

Raya lalu bergabung dengan gerakan New Age, sebuah gerakan yang mengajarkan kebebasan diri tanpa Tuhan. Gerakan yang pamornya amat mencorong di Amerika kala itu membawa Raya pada kehidupan yang bebas dan mandiri tanpa Tuhan. "Anda adalah master dalam kehidupan Anda, Anda memiliki takdir sendiri, Anda adalah Tuhan dalam kehidupan Anda, dan banyak elemen lain yang saya pelajari di sana. Tapi, kemudian saya berpikir, saya tak mampu menjadi master dalam perjalanan hidup saya. Saya tidak dapat membayangkan ke mana hidup saya akan pergi. Saya pun tak nyaman di sana," demikian Raya berkisah.

Menjadi Kristiani
Dari New Age, Raya kemudian menjadi penganut Kristiani. Ia bertahan cukup lama sebagai seorang Kristen, yakni tujuh setengah tahun. Ia begitu tertarik dan terpesona dengan kebersamaan dan persaudaraan umat Kristiani yang kuat. Lalu, jadilah Raya penganut Kristen yang taat ke gereja, mempelajari Alkitab, bahkan mengajarkannya. Ia juga belajar teologi Kristen di sebuah universitas. Tapi, lagi-lagi Raya merasa gelisah. Ia merasa belum menemukan Tuhan yang diinginkannya.

Nah, di titik inilah ia mulai tertarik kembali pada Islam. Sebelum memantapkan diri kembali ke pangkuan Islam, ia sempat pamit pada pastur yang selama ini membimbingnya dalam agama Kristen. Raya sangat gembira karena sang pastur amat terbuka dan membebaskannya memilih agama yang diyakini.

Selama 15 tahun, Raya jatuh bangun mencari eksistensi Tuhan. Beragam agama sudah ia anut. Namun, siapa sangka, ia justru kembali pada agama yang dianutnya saat masih tinggal di Iran, Islam.

Raya amat pilu saat mengenang perjalanannya hingga kembali kepada Allah. Linangan air mata membasahi pipinya karena menyesal pernah melupakan Allah. Ia merasa bodoh pernah melepaskan hidayah yang begitu nikmat, hidayah Islam. Namun, Allah begitu mencintai hamba-Nya sehingga Raya diberi kesempatan kedua untuk kembali mendapatkan hidayah itu.
                                                                
                                                                     ***

Sungguh indah kisah kembalinya Raya ke pangkuan Islam. Ia hanya membaca Surah al-Fatihah saat pertama kali membuka Alquran setelah kemurtadannya selama belasan tahun. Hanya dengan tujuh ayat dalam surah pembuka Kitabullah, Raya sudah menyadari kesalahannya dan menyadari bahwa Allahlah satu-satunya Tuhan, tiada yang berhak disembah selain Allah.

Baru saja membaca Basmalah, Raya sudah merinding.  Ayat pertama al-Fatihah membuatnya menyadari bahwa Allahlah Tuhan segala sesuatu, Tuhan semesta alam. Sedangkan, manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta itu. Membaca ayat kedua, air matanya tak kuasa lagi terbendung. "Saya melupakan-Nya, tapi Dia tak pernah melupakan saya.'' Ia sungguh merasa malu pada Allah.

Setiap ayat dalam al-Fatihah benar-benar meresap ke jiwa Raya. Saat tiba di ayat yang berbunyi, "Hanya kepada-Nya kami menyembah dan hanya kepada-Nya kami memohon pertolongan," hati Raya serasa tercambuk. Ia tak habis pikir mengapa bisa melupakan Allah dan justru mencari pertolongan kepada selain-Nya. "Saat membaca ayat ini, saya merasa sebuah batu besar dari langit jatuh dan memukul saya," ujar Raya dengan air mata yang tak henti mengalir.

Ayat berikutnya hingga terakhir, benar-benar membuat Raya menemukan jalan kembali pada Islam. Jalan lurus yang disebut dalam al-Fatihah sangat diinginkan Raya. Ia pun merasa Allah telah menunjukkan "Sirath al-Mustaqim" tersebut kepadanya. "Terakhir, saya meminta padanya jalan yang lururs dan Dia membimbing saya pada jalan lurus tersebut," pungkas Raya bersyukur.

Maka, kembalilah Raya pada agamanya, agama yang lurus yang diridhai Allah, yakni Islam. Saat ini, Raya berusia 62 tahun. Meski tak muda lagi, ia sangat aktif dalam menyebarkan ajaran Islam. Berbekal pendidikannya, ia pernah menjadi asisten editor di SOU untuk situs islam yang berbasis di Los Angeles.

Ia pun menjadi koresponden asing, penulis, editor dan produser film dokumenter untuk web onislam.net. Ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi dan konsultan untuk situs Reading Islam. Melalui jurnalistik, Raya aktif menyuarakan perdamaian dan hak asasi perempuan. [yy/republika.co.id]

Oleh Afriza Hanifa

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.