FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
BERITA INTERNASIONAL
Amerika Akan Gunakan Hak Vetonya, Gagalkan Upaya Palestina
BERITA INTERNASIONAL
UE Siap Hapus Status Hamas, Israel Kalang Kabut
BERITA INTERNASIONAL
Dituduh Tolak Perangi Boko Haram, 54 Serdadu Dihukum Mati
BERITA INTERNASIONAL
BERITA INTERNASIONAL
230 Jenazah Ditemukan di Kuburan Massal di Suriah
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Bank Syariah Harus Siap Hadapi MEA
ISLAM INDONESIA
Nilai-Nilai Agama Mulai Terkikis Secara Sistematis
ISLAM INDONESIA
Sirah Nabawiyah Telah Diganti Kisah Fiksi Doraemon
DUNIA ISLAM
Darurat al Aqsha Akibat Kepungan Warga Yahudi
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Aurat terhadap Anak Angkat
16 Desember 2014
Aurat terhadap Anak Angkat
BERITA INTERNASIONAL
84 Anak Tewas dalam Serangan ke Satu Sekolah di Pakistan
BERITA INTERNASIONAL
Ini Man Haron Monis, Penyandera Kafe Sydney
BERITA INTERNASIONAL
Mantan Petinju Inggris Bantu ISIS
BERITA INTERNASIONAL
Sejak Tegang dengan AS, Belanja Militer Rusia Gila-gilaan
DUNIA ISLAM
Merkel: Islamofobia tidak Diterima di Jerman
ISLAM INDONESIA
Zionisme dan Penghapusan Agama
ISLAM INDONESIA
Menko Polhukam Deteksi Pergerakan ISIS di Poso
BERITA INTERNASIONAL
Sebagian Warga AS Setuju Cara Interogasi CIA
BERITA INTERNASIONAL
Penyanderaan Sydney Berakhir, Dua Orang Dinyatakan Tewas
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
12 Orang yang Didoakan Malaikat
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Ciri-ciri Orang Ikhlas
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Sebab-Sebab Turunnya Rezeki
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Rezeki Itu Datang Mencari Seseorang
ARTIKEL ISLAMI
Rezeki Kita, Soal Rasa
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Dahsyatnya Kengerian di Alam Kubur
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Allah pun Tertawa
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
3 Keutamaan Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim
NABI MUHAMMAD SAW
Rasulullah dan Uang 8 Dirham
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Tiga Kali Murtad
Siapakah Pemimpin Hebat itu? PDF Print E-mail

Siapakah Pemimpin Hebat itu?Fiqhislam.com - Kepemimpinan dalam organisasi, termasuk di dalamnya perusahaan, masih tetap menjadi isu penting. Dalam lingkup organisasi yang kecil sekalipun, isu kepemimpinan dapat berkembang menjadi persoalan yang membelah orang-orang di dalamnya dalam kutub-kutub yang berseberangan. Perbedaan pandangan yang tidak lagi terakomodasi atau tidak menghasilkan titik temu berpotensi mendorong sebagian orang untuk keluar dari organisasi.

Isu kepemimpinan bukan hanya menyangkut ‘siapa’, melainkan juga ‘bagaimana’. Dalam studi manajemen, para guru berusaha mencari unsur-unsur apa sebenarnya yang menjadikan kepemimpinan itu berhasil. “Seperti apa pemimpin yang hebat itu?” adalah salah satu pertanyaan yang berusaha mereka jawab.

“Apakah seorang pemimpin layak disebut hebat hanya karena ia memiliki banyak pengikut (follower)?” Tom Peters, guru manajemen yang bukunya, In Search of Excellence, begitu mashur, mengobservasi bahwa pemimpin terbaik atau pemimpin hebat bukan menciptakan lebih banyak pengikut; mereka justru menciptakan lebih banyak pemimpin (baru).

Alih-alih berusaha mengukuhkan kekuatan dalam organisasi untuk mempertahankan posisinya, para pemimpin hebat ini justru berbagi kepemimpinan. Para pemimpin seperti ini, menurut Peters, memiliki visi jauh ke depan bahwa organisasi akan menghadapi tantangan yang bisa jadi jauh lebih sukar. Dengan berbagi kepemimpinan, organisasi dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih cerdas, lebih gesit, dan lebih kapabel dalam menghadapi tantangan-tantangan itu.

Kepemimpinan yang hebat lebih memikirkan organisasi dan tugas ketimbang dirinya sendiri. Meminjam kata-kata guru manajemen Peter Drucker, “Pemimpin hebat memahami betapa tidak penting dirinya saat dibandingkan dengan tugas yang diembannya.” Banyak chief executive officer (CEO) yang menyuburkan lahan bagi tumbuhnya kepemimpinan di dalam organisasi. CEO ini melihat, semakin banyak orang yang dapat mengasah kemampuan-memimpinnya di tiap-tiap jenjang organisasi, itu semakin baik. Ia mengambil posisi sebagai penyedia lahan dan bekal bagi pemimpin-pemimpin baru.

Apakah mereka tidak takut tersaingi? Tidak. Para pemimpin hebat percaya bahwa karakter kepemimpinan tertentu dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tertentu. Orang seperti mendiang Winston Churchill mungkin tidak tepat bila memimpin di masa damai. Karakter dan kekuatan kepemimpinannya dibutuhkan justru ketika dunia sedang kisruh karena perang. Lebih penting dari itu, Churchill sendiri memahami bahwa di masa damai tugasnya sudah usai.

Pemimpin hebat tidak takut tersaingi sebab dengan menyediakan lahan dan kesempatan bagi lahirnya pemimpin baru, ia akan dilihat oleh orang lain sebagai pemimpin berkarakter yang mendahulukan organisasi dan tugas. Bagi orang-orang seperti ini, jabatan hanyalah salah satu sarana, bukan satu-satunya dan bukan yang utama. Pada akhirnya, mengembangkan watak dan visi adalah cara pemimpin untuk menciptakan dirinya—dan inilah tantangan yang tidak mudah diatasi oleh orang-orang yang tengah mengasah kepemimpinannya.

Nelson Mandela berjuang keras untuk menghapus apartheid yang mencengkeram bangsanya. Ia memang sempat menjadi presiden Afrika Selatan, tapi dengan segera ia memilih untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk menduduki posisi itu. Ia dipenjara selama 27 tahun oleh rezim apartheid, dan ia hanya mau menjadi presiden untuk satu kali masa jabatan (5 tahun). Tanpa menjabat sebagai presiden, kepemimpinan Mandela tetap dibutuhkan bangsanya.  [yy/tempo]

Dian R. Basuki