FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
BERITA INTERNASIONAL
Lebih 100 Anggota Boko Haram Tewas oleh Tentara Chad
BERITA INTERNASIONAL
Pasukan Yaman Berhasil Rebut Aden
BERITA INTERNASIONAL
Taliban Tunjuk Pengganti Mullah Omar
BERITA UMRAH DAN HAJI
Nomor Layanan SMS Center Haji dan Umrah di Jeddah
ISLAM INDONESIA
GIDI Harus Dibubarkan
31 Juli 2015
GIDI Harus Dibubarkan
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Pemerintah Tentukan Sikap Soal BPJS Syariah Pekan Depan
BERITA INTERNASIONAL
Iran Bantah Tuduhan Teror Bahrain
ISLAM INDONESIA
Said Jamin Islam Nusantara Bukan Sekte Baru
BERITA INTERNASIONAL
Taliban Berkeras Pimpinannya Masih Hidup
ISLAM INDONESIA
Iran Tawarkan Kerja Sama Bahas Islam
BERITA INTERNASIONAL
Turki Tolak Seruan Damai dengan Kurdi
BERITA INTERNASIONAL
Parade Gay dan Lesbi Berdarah di Israel
BERITA INTERNASIONAL
Kuwait Klaim Ketahui Jaringan ISIS di Lima Negara Ini
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Dalil MUI Keluarkan Fatwa BPJS Haram
BERITA INTERNASIONAL
Gedung Putih: AS tak Akan Maafkan Edward Snowden
BERITA INTERNASIONAL
Sejak Konflik, 4.000 Warga Yaman Tewas
BERITA UMRAH DAN HAJI
Setoran Awal Haji Nasional Rp 76 Triliun
SEJARAH ISLAM DUNIA
10 Warisan Ilmuan Muslim yang Dilupakan Dunia
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Cara Mengatasi Ujub
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
9 Nama Anak Cucu Setan beserta ‘Perannya’
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Ibadah Sekeping Dunia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Syarat-syarat Agar Sedekah Tidak Sia-sia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Pakai Pakaian Baru, Ada Adabnya
Siapakah Pemimpin Hebat itu? PDF Print E-mail

Siapakah Pemimpin Hebat itu?Fiqhislam.com - Kepemimpinan dalam organisasi, termasuk di dalamnya perusahaan, masih tetap menjadi isu penting. Dalam lingkup organisasi yang kecil sekalipun, isu kepemimpinan dapat berkembang menjadi persoalan yang membelah orang-orang di dalamnya dalam kutub-kutub yang berseberangan. Perbedaan pandangan yang tidak lagi terakomodasi atau tidak menghasilkan titik temu berpotensi mendorong sebagian orang untuk keluar dari organisasi.

Isu kepemimpinan bukan hanya menyangkut ‘siapa’, melainkan juga ‘bagaimana’. Dalam studi manajemen, para guru berusaha mencari unsur-unsur apa sebenarnya yang menjadikan kepemimpinan itu berhasil. “Seperti apa pemimpin yang hebat itu?” adalah salah satu pertanyaan yang berusaha mereka jawab.

“Apakah seorang pemimpin layak disebut hebat hanya karena ia memiliki banyak pengikut (follower)?” Tom Peters, guru manajemen yang bukunya, In Search of Excellence, begitu mashur, mengobservasi bahwa pemimpin terbaik atau pemimpin hebat bukan menciptakan lebih banyak pengikut; mereka justru menciptakan lebih banyak pemimpin (baru).

Alih-alih berusaha mengukuhkan kekuatan dalam organisasi untuk mempertahankan posisinya, para pemimpin hebat ini justru berbagi kepemimpinan. Para pemimpin seperti ini, menurut Peters, memiliki visi jauh ke depan bahwa organisasi akan menghadapi tantangan yang bisa jadi jauh lebih sukar. Dengan berbagi kepemimpinan, organisasi dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih cerdas, lebih gesit, dan lebih kapabel dalam menghadapi tantangan-tantangan itu.

Kepemimpinan yang hebat lebih memikirkan organisasi dan tugas ketimbang dirinya sendiri. Meminjam kata-kata guru manajemen Peter Drucker, “Pemimpin hebat memahami betapa tidak penting dirinya saat dibandingkan dengan tugas yang diembannya.” Banyak chief executive officer (CEO) yang menyuburkan lahan bagi tumbuhnya kepemimpinan di dalam organisasi. CEO ini melihat, semakin banyak orang yang dapat mengasah kemampuan-memimpinnya di tiap-tiap jenjang organisasi, itu semakin baik. Ia mengambil posisi sebagai penyedia lahan dan bekal bagi pemimpin-pemimpin baru.

Apakah mereka tidak takut tersaingi? Tidak. Para pemimpin hebat percaya bahwa karakter kepemimpinan tertentu dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tertentu. Orang seperti mendiang Winston Churchill mungkin tidak tepat bila memimpin di masa damai. Karakter dan kekuatan kepemimpinannya dibutuhkan justru ketika dunia sedang kisruh karena perang. Lebih penting dari itu, Churchill sendiri memahami bahwa di masa damai tugasnya sudah usai.

Pemimpin hebat tidak takut tersaingi sebab dengan menyediakan lahan dan kesempatan bagi lahirnya pemimpin baru, ia akan dilihat oleh orang lain sebagai pemimpin berkarakter yang mendahulukan organisasi dan tugas. Bagi orang-orang seperti ini, jabatan hanyalah salah satu sarana, bukan satu-satunya dan bukan yang utama. Pada akhirnya, mengembangkan watak dan visi adalah cara pemimpin untuk menciptakan dirinya—dan inilah tantangan yang tidak mudah diatasi oleh orang-orang yang tengah mengasah kepemimpinannya.

Nelson Mandela berjuang keras untuk menghapus apartheid yang mencengkeram bangsanya. Ia memang sempat menjadi presiden Afrika Selatan, tapi dengan segera ia memilih untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk menduduki posisi itu. Ia dipenjara selama 27 tahun oleh rezim apartheid, dan ia hanya mau menjadi presiden untuk satu kali masa jabatan (5 tahun). Tanpa menjabat sebagai presiden, kepemimpinan Mandela tetap dibutuhkan bangsanya.  [yy/tempo]

Dian R. Basuki