FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
ARTIKEL UMUM
10 Konspirasi Terbesar dalam Sejarah
BERITA INTERNASIONAL
Hizbullah Turun Tangan Ganyang ISIS
BERITA INTERNASIONAL
Lima Tahun Sudah Konflik di Suriah
BERITA INTERNASIONAL
Tantang Obama, Presiden Venezuela Gelar Latihan Militer
BERITA INTERNASIONAL
Hamas Bangun Unit Komando AL, Israel Waspada
BERITA INTERNASIONAL
Ancaman Teroris, Kedutaan AS di Arab Saudi Tutup
BERITA INTERNASIONAL
ISIS Ancam Hancurkan Menara Eiffel dan Big Ben
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Cara Meraih Doa 70 Ribu Malaikat
BERITA INTERNASIONAL
Dukung Mursi, 41 Hakim di Mesir Dipaksa Pensiun
BERITA UMRAH DAN HAJI
Travel Haji Umrah Diminta Hati-Hati
ISLAM INDONESIA
NU: Islam Nusantara Mulai Diterima Dunia
ISLAM INDONESIA
NU Segera Terbitkan Fatwa Perangi ISIS
SEJARAH ISLAM DUNIA
Militer Ustmani Terkuat dalam Sejarah Islam
ISLAM INDONESIA
Regenerasi Ulama
15 Maret 2015
Regenerasi Ulama
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Khaulah binti Tsalabah, Perkataannya Didengar Allah
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Walau Utangmu Sebesar Gunung, Percayalah Allah Pasti Melunasinya
ARTIKEL ISLAMI
Jangan Patah Semangat untuk Terus Berdoa
ARTIKEL ISLAMI
Muslimah itu Mulia
13 Maret 2015
Muslimah itu Mulia
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Membaca Al-Quran di Atas Kuburan, Bolehkah?
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Cara Meraih Doa 70 Ribu Malaikat
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
10 Sifat Wanita Dambaan Umat
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Doa yang Dibaca ketika Sujud dalam Shalat
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Tanda-tanda Gelapnya Hati pada Diri Manusia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Doa Mustajab di Waktu Sujud
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Insya Allah, Ini Artinya
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Keajaiban Shalat Khusyu dari 6 Ulama
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
13 – Angka Terindah Menunjuk Surga
ARTIKEL ISLAMI
Muslimah itu Mulia
Siapakah Pemimpin Hebat itu? PDF Print E-mail

Siapakah Pemimpin Hebat itu?Fiqhislam.com - Kepemimpinan dalam organisasi, termasuk di dalamnya perusahaan, masih tetap menjadi isu penting. Dalam lingkup organisasi yang kecil sekalipun, isu kepemimpinan dapat berkembang menjadi persoalan yang membelah orang-orang di dalamnya dalam kutub-kutub yang berseberangan. Perbedaan pandangan yang tidak lagi terakomodasi atau tidak menghasilkan titik temu berpotensi mendorong sebagian orang untuk keluar dari organisasi.

Isu kepemimpinan bukan hanya menyangkut ‘siapa’, melainkan juga ‘bagaimana’. Dalam studi manajemen, para guru berusaha mencari unsur-unsur apa sebenarnya yang menjadikan kepemimpinan itu berhasil. “Seperti apa pemimpin yang hebat itu?” adalah salah satu pertanyaan yang berusaha mereka jawab.

“Apakah seorang pemimpin layak disebut hebat hanya karena ia memiliki banyak pengikut (follower)?” Tom Peters, guru manajemen yang bukunya, In Search of Excellence, begitu mashur, mengobservasi bahwa pemimpin terbaik atau pemimpin hebat bukan menciptakan lebih banyak pengikut; mereka justru menciptakan lebih banyak pemimpin (baru).

Alih-alih berusaha mengukuhkan kekuatan dalam organisasi untuk mempertahankan posisinya, para pemimpin hebat ini justru berbagi kepemimpinan. Para pemimpin seperti ini, menurut Peters, memiliki visi jauh ke depan bahwa organisasi akan menghadapi tantangan yang bisa jadi jauh lebih sukar. Dengan berbagi kepemimpinan, organisasi dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih cerdas, lebih gesit, dan lebih kapabel dalam menghadapi tantangan-tantangan itu.

Kepemimpinan yang hebat lebih memikirkan organisasi dan tugas ketimbang dirinya sendiri. Meminjam kata-kata guru manajemen Peter Drucker, “Pemimpin hebat memahami betapa tidak penting dirinya saat dibandingkan dengan tugas yang diembannya.” Banyak chief executive officer (CEO) yang menyuburkan lahan bagi tumbuhnya kepemimpinan di dalam organisasi. CEO ini melihat, semakin banyak orang yang dapat mengasah kemampuan-memimpinnya di tiap-tiap jenjang organisasi, itu semakin baik. Ia mengambil posisi sebagai penyedia lahan dan bekal bagi pemimpin-pemimpin baru.

Apakah mereka tidak takut tersaingi? Tidak. Para pemimpin hebat percaya bahwa karakter kepemimpinan tertentu dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tertentu. Orang seperti mendiang Winston Churchill mungkin tidak tepat bila memimpin di masa damai. Karakter dan kekuatan kepemimpinannya dibutuhkan justru ketika dunia sedang kisruh karena perang. Lebih penting dari itu, Churchill sendiri memahami bahwa di masa damai tugasnya sudah usai.

Pemimpin hebat tidak takut tersaingi sebab dengan menyediakan lahan dan kesempatan bagi lahirnya pemimpin baru, ia akan dilihat oleh orang lain sebagai pemimpin berkarakter yang mendahulukan organisasi dan tugas. Bagi orang-orang seperti ini, jabatan hanyalah salah satu sarana, bukan satu-satunya dan bukan yang utama. Pada akhirnya, mengembangkan watak dan visi adalah cara pemimpin untuk menciptakan dirinya—dan inilah tantangan yang tidak mudah diatasi oleh orang-orang yang tengah mengasah kepemimpinannya.

Nelson Mandela berjuang keras untuk menghapus apartheid yang mencengkeram bangsanya. Ia memang sempat menjadi presiden Afrika Selatan, tapi dengan segera ia memilih untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk menduduki posisi itu. Ia dipenjara selama 27 tahun oleh rezim apartheid, dan ia hanya mau menjadi presiden untuk satu kali masa jabatan (5 tahun). Tanpa menjabat sebagai presiden, kepemimpinan Mandela tetap dibutuhkan bangsanya.  [yy/tempo]

Dian R. Basuki