FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
BERITA INTERNASIONAL
AS Bisa Manfaatkan al-Qaeda untuk Tumpas ISIS
BERITA INTERNASIONAL
Pentagon Sesumbar Kim Jong-un Tak Bisa Kalahkan AS dan Korsel
BERITA INTERNASIONAL
Suami Tersangka Bom Bangkok Juga Diburu Polisi
BERITA INTERNASIONAL
Saudi Gempur Gudang Senjata Houthi
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Aset Keuangan Syariah Global Terus Berkembang
TUNTUNAN UMRAH DAN HAJI
Siapa yang Membangun Ka'bah Pertama Kali?
DUNIA ISLAM
Raja Arab Saudi Danai Renovasi Masjid Al Azhar
BERITA INTERNASIONAL
PBB: Gaza tidak Bisa Dihuni Lagi Tahun 2020
DUNIA ISLAM
Ulama Saudi Kecam Film Muhammad Karya Iran
BERITA UMRAH DAN HAJI
Tawaf di Atas Roller Board Mulai Diperdebatkan
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Sukuk Lebih Tahan Gejolak Ekonomi
BERITA INTERNASIONAL
Petisi Penangkapan Netanyahu Hampir Sampai 100 Ribu Dukungan
ISLAM INDONESIA
Prof Azyumardi: Ada Beda Penafsiran Parameter Radikal
BERITA INTERNASIONAL
ISIS Keluarkan Fatwa Mati Buat Erdogan
SEJARAH ISLAM DUNIA
Jadi Muslim, Penguasa Djenne Ubah Istana Jadi Masjid
BERITA INTERNASIONAL
Pemimpin Ikhwan Kembali Tewas di Penjara Mesir
BERITA INTERNASIONAL
Serangan Israel ke Tepi Barat, Pemimpin Senior Jihad Selamat
TEKNOLOGI
Hendak Dijatuhi Sanksi AS, Ini Reaksi China
BERITA INTERNASIONAL
Kuwait Adili 24 Terduga Mata-mata Iran
BERITA INTERNASIONAL
Mesir Panggil Dubes Inggris Gara-Gara Kritik
BERITA UMRAH DAN HAJI
Menyesal Ikut Yayasan untuk Berhaji
DUNIA ISLAM
Konflik Agama di Cinderella Prancis
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Saat Anda Hadapi Masalah, Ingat 5 Ayat Ini
ARTIKEL ISLAMI
Waktu
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Empat Kunci Ikhtiar, Meraih Hidayah Allah
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Bertasbih dengan Pahala Berlipat
ARTIKEL ISLAMI
Kami Merindukan Umar
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Siapakah Bidadari Hurun ‘In
Siapakah Pemimpin Hebat itu? PDF Print E-mail

Siapakah Pemimpin Hebat itu?Fiqhislam.com - Kepemimpinan dalam organisasi, termasuk di dalamnya perusahaan, masih tetap menjadi isu penting. Dalam lingkup organisasi yang kecil sekalipun, isu kepemimpinan dapat berkembang menjadi persoalan yang membelah orang-orang di dalamnya dalam kutub-kutub yang berseberangan. Perbedaan pandangan yang tidak lagi terakomodasi atau tidak menghasilkan titik temu berpotensi mendorong sebagian orang untuk keluar dari organisasi.

Isu kepemimpinan bukan hanya menyangkut ‘siapa’, melainkan juga ‘bagaimana’. Dalam studi manajemen, para guru berusaha mencari unsur-unsur apa sebenarnya yang menjadikan kepemimpinan itu berhasil. “Seperti apa pemimpin yang hebat itu?” adalah salah satu pertanyaan yang berusaha mereka jawab.

“Apakah seorang pemimpin layak disebut hebat hanya karena ia memiliki banyak pengikut (follower)?” Tom Peters, guru manajemen yang bukunya, In Search of Excellence, begitu mashur, mengobservasi bahwa pemimpin terbaik atau pemimpin hebat bukan menciptakan lebih banyak pengikut; mereka justru menciptakan lebih banyak pemimpin (baru).

Alih-alih berusaha mengukuhkan kekuatan dalam organisasi untuk mempertahankan posisinya, para pemimpin hebat ini justru berbagi kepemimpinan. Para pemimpin seperti ini, menurut Peters, memiliki visi jauh ke depan bahwa organisasi akan menghadapi tantangan yang bisa jadi jauh lebih sukar. Dengan berbagi kepemimpinan, organisasi dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih cerdas, lebih gesit, dan lebih kapabel dalam menghadapi tantangan-tantangan itu.

Kepemimpinan yang hebat lebih memikirkan organisasi dan tugas ketimbang dirinya sendiri. Meminjam kata-kata guru manajemen Peter Drucker, “Pemimpin hebat memahami betapa tidak penting dirinya saat dibandingkan dengan tugas yang diembannya.” Banyak chief executive officer (CEO) yang menyuburkan lahan bagi tumbuhnya kepemimpinan di dalam organisasi. CEO ini melihat, semakin banyak orang yang dapat mengasah kemampuan-memimpinnya di tiap-tiap jenjang organisasi, itu semakin baik. Ia mengambil posisi sebagai penyedia lahan dan bekal bagi pemimpin-pemimpin baru.

Apakah mereka tidak takut tersaingi? Tidak. Para pemimpin hebat percaya bahwa karakter kepemimpinan tertentu dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan tertentu. Orang seperti mendiang Winston Churchill mungkin tidak tepat bila memimpin di masa damai. Karakter dan kekuatan kepemimpinannya dibutuhkan justru ketika dunia sedang kisruh karena perang. Lebih penting dari itu, Churchill sendiri memahami bahwa di masa damai tugasnya sudah usai.

Pemimpin hebat tidak takut tersaingi sebab dengan menyediakan lahan dan kesempatan bagi lahirnya pemimpin baru, ia akan dilihat oleh orang lain sebagai pemimpin berkarakter yang mendahulukan organisasi dan tugas. Bagi orang-orang seperti ini, jabatan hanyalah salah satu sarana, bukan satu-satunya dan bukan yang utama. Pada akhirnya, mengembangkan watak dan visi adalah cara pemimpin untuk menciptakan dirinya—dan inilah tantangan yang tidak mudah diatasi oleh orang-orang yang tengah mengasah kepemimpinannya.

Nelson Mandela berjuang keras untuk menghapus apartheid yang mencengkeram bangsanya. Ia memang sempat menjadi presiden Afrika Selatan, tapi dengan segera ia memilih untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk menduduki posisi itu. Ia dipenjara selama 27 tahun oleh rezim apartheid, dan ia hanya mau menjadi presiden untuk satu kali masa jabatan (5 tahun). Tanpa menjabat sebagai presiden, kepemimpinan Mandela tetap dibutuhkan bangsanya.  [yy/tempo]

Dian R. Basuki