AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Iran Dikecam atas Terjadinya Kekacauan di Suriah-Irak
    Minggu, 21 September 2014
  2. “Istri Taat Suami” itu Konsep Beradab
    Minggu, 21 September 2014
  3. Video ‘Santri TPA’ Nyanyikan Lagu Yesus harus jadi Introspeksi Para Juru Dakwah
    Minggu, 21 September 2014
  4. BNPT: Orang Yang Berpikir Ingin Tegaknya Khilafah Itu Radikal
    Minggu, 21 September 2014
  5. Turki Tidak akan Bayar Tebusan ke Negara Islam (ISIS)
    Minggu, 21 September 2014
  6. Khodorkovsky Desak Rakyat Rusia Berhimpun Tantang Putin
    Minggu, 21 September 2014
  7. 15 Tempat Paling Mustajab, Dimana Doa Tak Akan Ditolak
    Minggu, 21 September 2014
  8. Pemukim Yahudi Bermabuk-mabukan di Halaman Al Aqsha
    Minggu, 21 September 2014
  9. Struktur Pemerintahan Kekhalifahan ISIS
    Minggu, 21 September 2014
  10. TKW Indonesia Diperjual Belikan di Perbatasan Uni Emirat Arab - Oman
    Minggu, 21 September 2014
  11. Menag Minta Arab Saudi Perketat Pemberian Visa Haji Non Kuota
    Minggu, 21 September 2014
  12. Dalai Lama: Jihad dalam Islam Disalahartikan Kelompok Garis Keras
    Minggu, 21 September 2014
  13. Korban MH17 Akan Tuntut Presiden Ukrania
    Minggu, 21 September 2014
  14. Takut ISIS, 45 Ribu Warga Suriah Mengungsi ke Turki
    Minggu, 21 September 2014
  15. Apakah Kegagalan itu?
    Sabtu, 20 September 2014
  16. Tiga Golongan Manusia
    Sabtu, 20 September 2014
  17. Menag: Siapa yang Berhak Beri Pengakuan Agama?
    Sabtu, 20 September 2014
  18. Haji Nonkuota: Bayar Rp 80 Juta Fasilitas Terlunta-lunta
    Sabtu, 20 September 2014
  19. Jaga Kesimbangan Jiwa dengan Ibadah
    Sabtu, 20 September 2014
  20. Korut Ancam Serang Korsel Jika Selebaran Anti-Pyongyang Disebar
    Sabtu, 20 September 2014
  21. Pesawat Tanpa Awak Israel Jatuh di Lebanon
    Sabtu, 20 September 2014
  22. Pendiri Masjid Khusus Gay Diteriaki Pendemo akan Masuk Neraka
    Sabtu, 20 September 2014
  23. Pasukan Pemberontak Syiah Houthi Mulai Memasuki Ibukota Yaman
    Jumat, 19 September 2014
  24. Raja Abdullah Perintahkan Renovasi Masjid Al-Azhar dengan Biaya Ditanggung Saudi
    Jumat, 19 September 2014
  25. New Age Movement, Ajaran Yahudi Berbungkus Pelatihan Motivasi
    Jumat, 19 September 2014
  26. Pengamat: Akui Saja, ISIS Diciptakan Washington
    Jumat, 19 September 2014
  27. Rakyat Skotlandia Tolak Pisah dari Inggris
    Jumat, 19 September 2014
  28. Bank Syariah Pertama di Rusia Berprospek Cerah
    Jumat, 19 September 2014
  29. Polisi Federal Australia Ambil Alih Keamanan Gedung Parlemen
    Jumat, 19 September 2014
  30. GP Ansor: Buku "Makam Wali Berhala" Ganggu Ketentraman Masyarakat
    Jumat, 19 September 2014
Gowa, Kesultanan Islam di Timur Nusantara PDF Print E-mail

Gowa, Kesultanan Islam di Timur Nusantara

Fiqhislam.com - Pada abad ke-16 M, di wilayah timur nusantara—Sulawesi Selatan—berdiri sebuah kerajaan yang amat kuat bernama Kesultanan Gowa.

Tak diketahui secara pasti, awal mula berdirinya kerajaan itu. Menurut fakta-fakta yang ada, raja Gowa pertama memerintah pada abad ke-13 M.

Kerajaan Gowa tercatat sebagai salah satu kerajaan paling tua di wilayah Indonesia bagian timur, selain Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone.

Pada awalnya, penguasa dan rakyat Gowa adalah penganut animisme. Kekuasaan Gowa meliputi daerah pesisir semenanjung bagian selatan Ujungpandang sampai ke Bulukumba.

Gowa mencapai puncak kejayaannya ketika berubah menjadi kesultanan Islam. Tepat pada malam Jumat 9 Jumadil Awal 1014 H/ 22 September 1605 penguasa Gowa memeluk agama Islam. Dua tahun kemudian, Raja Gowa XIV I Manga’rangi Daeng Manra’bia atau Sultan Allaudin—penguasa Gowa pertama yang memeluk Islam—mengeluarkan dekrit.

Isinya, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Seluruh rakyat yang bernaung di bawah kerajaan itu harus menerima Islam sebagai agamanya. Pada puncak kejayaannya, kekuasaan Kerajaan Gowa meluas sampai ke Manado, Sumbawa, Gorontalo, dan Tomini.

Kesultanan Gowa memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di wilayah Sulawesi. Kerajaan Gowa-Tallo berhasil menaklukkan beberapa kerajaan di Pulau Sulawesi, salah satu tujuannya untuk melakukan Islamisasi. Bahkan, Kesultanan Gowa menaklukkan sejumlah kerajaan dan akhirnya memeluk Islam.

Menurut Lontara Bilang (catatan raja-raja Gowa-Tallo—Red), pada masa pemerintahan Raja Gowa X (1546-1565), Tunipalangga, telah ditemukan sebuah perkampungan Muslim di Makassar, yang penduduknya terdiri atas pedagang Melayu yang berasal dari Campa, Patani, Johor, dan Minangkabau.

Berdasarkan catatan itu pula, pada masa pemerintahan Tunijallo (1565-1590) telah didirikan sebuah masjid di Mangallekanna, tempat para pedagang bermukim. Kehadiran para pedagang Muslim tersebut membawa pengaruh terhadap penduduk setempat.

Menurut Ensiklopedi Islam, agama Islam berkembang di wilayah Sulawesi Selatan melalui dua tahapan. Pertama, secara tidak resmi, penyebaran Islam terjadi melalui jalur perdagangan.

Tahapan kedua, Islam secara resmi diterima oleh Raja Gowa-Tallo ketika tiga orang datuk yang berasal dari Kota Tengah, Minangkabau, berkunjung ke wilayah itu.

Guna memperkuat posisinya sebagai kerajaan Islam di kawasan timur nusantara itu, Kerajaan Gowa-Tallo pun sempat menjalin kerja sama dengan kerajaan Islam lainnya, khususnya Kesultanan Mataram di Jawa. Hingga kini, Islam menjadi agama mayoritas di wilayah Sulawesi Selatan.

Kerajaan Gowa. Inilah salah satu kerajaan besar di nusantara yang pernah berkuasa di wilayah timur, Pulau Sulawesi.

Menurut Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), wilayah kekuasaan Gowa meliputi daerah pesisir semenanjung bagian selatan Ujungpandang sampai ke Bulukumba.

Pada puncak kejayaannya, kekuasaan Kerajaan Gowa meluas sampai ke Manado, Sumbawa, Gorontalo, dan Tomini. Pada awalnya, ibukota kerajaan itu bernama Somba Opu.

Lalu, berubah menjadi Makassar. Ujungpandang yang pernah menjadi nama ibukota Provinsi Sulawesi Selatan pada masa itu adalah nama salah satu benteng Kerajaan Gowa.

Di era modern ini, Gowa menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Tidak ada data yang pasti mengenai awal mula berdirinya Kerajaan Gowa. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, kerajaan itu sudah berdiri sejak awal abad ke-13 M. Kesultanan Gowa bertahan hingga abad ke-20 M. Sejak 1947, kerajaan itu tak lagi memiliki kekuasaan.

Kerajaan Gowa juga tercatat sebagai salah satu kerajaan paling tua di wilayah Indonesia bagian timur, selain Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Sejak berdiri, Kerajaan Gowa sangat menonjol peranannya dalam meletakkan adat istiadat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.

Gowa juga memiliki peran penting dalam bidang perekonomian di wilayah nusantara pada masa itu. Semua bahan-bahan perdagangan penting diangkut dari ibukota kerajaan, Somba Opu, oleh pedagang-pedagang dari tanah Jawa, Sumatra, dan Melayu ke pelabuhan-pelabuhan internasional di Indonesia bagian barat.

 

Kerajaan kembar

Di awal abad ke-15 M, Kerajaan Gowa memasuki era baru. Sebab, di bagian utara Ujungpandang juga sempat berdiri Kerajaan Tallo. Pada masa itu, Raja Gowa ke-6 bernama Tunatangka'lopi, mempunyai dua orang anak laki-laki; yang sulung bernama Batara Gowa, menjadi Raja Gowa menggantikan ayahnya; dan adiknya diangkat menjadi Raja Tallo.

Kemudian, muncullah kerajaan kembar bernama Kerajaan Gowa-Tallo. Sejak raja Tallo ketiga, raja-raja Tallo menjadi mangkubumi Kerajaan Gowa.

Jalannya pemerintahan sehari-hari berada di bawah pengawasan mangkubumi atas nama raja. Ibukota Somba Opu memperkuat pertahanannya dengan mendirikan dinding tembok dari batu bata di sekeliling kota.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Gowa-Tallo tampil sebagai pemegang hegemoni politik di kawasan nusantara bagian timur.

Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-9 dan 10, wilayah kekuasaan kerajaan diperluas hingga menjangkau Pangkajene, Sidenreng, Sawito, Soppeng, Lamuru, dan Bulukumba.

Pada masa itu, kehidupan rakyat Gowa-Tallo juga mengalami kemajuan. Rakyatnya giat sekali mengembangkan keahlian pada berbagai bidang kerajinan, seperti membuat barang-barang hiasan emas, berbagai alat senjata, mesiu, dan kapal.

Berkembangnya Gowa-Tallo menjadi salah satu kerajaan yang kuat di Kepulauan nusantara tak lepas dari faktor meningkatnya kegiatan perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur.

Letak Kerajaan Gowa-Tallo yang sangat strategis di semenanjung barat daya Pulau Sulawesi menjadikannya sebagai tempat transit para pedagang dari barat nusantara ke timur, khususnya Maluku, yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis juga menjadi berkah bagi Kerajaan Gowa. Betapa tidak. Para saudagar Muslim kemudian mengalihkan kegiatan dagang mereka ke kawasan timur. Kendati bukan penghasil rempah-rempah seperti halnya Maluku, Gowa-Tallo menjadi sangat penting sebagai tempat singgah para pedagang.

Para saudagar berlabuh ke wilayah Kerajaan Gowa untuk mendapatkan perbekalan dalam pelayaran mereka.

Sejak saat itu, wilayah Kerajaan Gowa-Tallo ramai dikunjungi para pedagang, baik dari nusantara maupun dari negara-negara asing.

Pada 1538, pada masa pemerintahan raja Gowa ke-9, Somba Opu banyak dikunjungi oleh para pedagang Portugis.

Selain untuk berdagang, mereka juga bermaksud menyebarkan agama Katolik. Namun, usaha mereka tidak berhasil karena Islam telah lebih dulu berkembang di daerah itu.

 

Imigran Muslim

Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara mengungkapkan, migrasi para pedagang Muslim dari kawasan barat nusantara ke wilayah Kerajaan Gowa-Tallo berlangsung secara intensif, setelah beberapa pusat perdagangan di kedua belahan Selat Malaka terus-menerus mendapat serangan militer Kesultanan Aceh.

Pada saat yang sama, pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur, yang sebelumnya berfungsi sebagai penyalur makanan untuk kebutuhan para pedagang dalam pelayaran, mulai merosot akibat kebijaksanaan ekspansi wilayah Kesultanan Mataram dan selanjutnya diambil alih oleh Gowa-Tallo.
 
Bersamaan dengan kemunculan Gowa-Tallo terjadi pergeseran dalam jaringan perdagangan dan rute pelayaran di nusantara. Bila sebelumnya jalur perdagangan adalah dari Selat Malaka ke Jawa Timur, dan kemudian Maluku, meluas melalui Selat Sunda, Makassar, dan selanjutnya Maluku.

Sejak akhir abad ke-16 M, Kerajaan Gowa-Tallo berkembang dan selanjutnya menjadi kerajaan Islam terkemuka di kawasan timur nusantara.

 

Metamorfosis Kerajaan Gowa

Gowa merupakan kerajaan terbesar setelah Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang pernah berkuasa di wilayah nusantara.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada,  kerajaan itu diperkirakan sudah berdiri sejak awal abad ke-13 M. Masyarakat dan penguasa Kerajaan Gowa menganut kepercayaan animisme.

Seiring berkembangnya Gowa menjadi pusat perdagangan di kawasan timur nusantara, para saudagar Muslim mulai berniaga ke wilayah itu.

Perlahan tapi pasti, ajaran Islam pun mulai bersemi di daerah kekuasaan Kerajaan Gowa. Agama Islam tak hanya menarik bagi masyarakat, tapi juga para penguasa kerajaan itu.

Menurut Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), penguasa Gowa pertama yang memeluk Islam adalah I Manga'rangi Daeng Manra'bia yang bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (berkuasa 1593-1639).

Ia adalah raja Gowa ke-14. Kerajaan Gowa pun bermetamorfosis menjadi sebuah kesultanan. Karena sejak 1605 M, Islam menjadi agama resmi.

Setelah Sultan Alauddin wafat pada 1639, takhta Kesultanan Gowa diduduki I Mannuntungi Daeng Mattola yang bergelar Sultan Malikussaid. Sultan Malikussaid merupakan penguasa Gowa ke-15. Ia wafat pada 1653 setelah memerintah selama 14 tahun (1639-1653).

Putra Sultan Malikussaid yang bernama I Mallombasi Daeng Mattawang menggantikannya sebagai raja Gowa ke-16. Setelah dinobatkan menjadi raja, ia mendapat gelar Sultan Hasanuddin (memerintah pada 1653-1669). Pada masa pemerintahannya, Gowa menghadapi penyerangan kompeni Belanda (VOC).

Sultan Hasanuddin akhirnya harus mengakui keunggulan tentara Belanda dan terpaksa menyetujui perjanjian perdamaian yang dituangkan dalam Perjanjian Bongaya pada 27 Juni 1669.

Dua hari kemudian, pada 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin menyerahkan takhta kesultanan kepada putranya I Mappasomba Daeng Nguraga yang mendapat gelar Sultan Amir Hamzah.

Saat naik takhta usianya baru 13 tahun. Sultan yang masih muda itu tidak lama memerintah. Sultan Amir Hamzah wafat pada 7 Mei 1674. Takhta kesultanan akhirnya diduduki saudaranya, I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei, yang bergelar Sultan Ali. Sultan Ali hanya berkuasa selama tiga tahun (1674-1677).

Sesudah mengalami kekalahan pada 1669, raja-raja Gowa sesudah masa pemerintahan Hasanuddin bukan lagi raja-raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan. Mereka tidak lagi mempunyai kekuatan tentara maupun armada kapal.

Dan semenjak itu, kekuasaan Belanda dipusatkan di Kota Makassar, sementara Perjanjian Bongaya selalu diperbarui dan pada 1894 sudah sangat mengikat kekuasaan raja. [yy/republika]

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.