AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Dua Gadis Prancis Berencana Ledakan Sinogag Yahudi
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  2. Bangsa Maya Usir Yahudi dari Guatemala
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  3. Alasan ISIS tertarik pada Lady Al-Qaeda
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  4. Nidal Hasan, Psikolog Tentara AS minta Jadi warga Islamic State
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  5. Inggris Ketakutan, ISIS Diyakini Serang Eropa September
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  6. Haaretz: Imperium Israel Menuju Kehancuran
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  7. Operasi AS ke Irak Capai Kerugian US$ 7.5 Juta Perhari
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  8. An Nushrah di Perbatasan “Israel”, Netanyahu Panik
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  9. Raja Saudi : Ancaman Teror(IS)me Akan Melanda Eropa dan AS
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  10. Kemenag Tuding 20 Pesantren Ajarkan Radikalisme
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  11. Pengungsi Suriah Capai Tiga Juta, Separoh Warga Suriah Terlantar
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  12. DK PBB Dukung Yaman Perangi Pemberontak Syiah
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  13. Putin Katakan "Jangan Macam-macam dengan Rusia"
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  14. Korban Tewas dalam Konflik Ukraina Hampir 2.600 orang
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  15. HOAX! Warga Malaysia Jadi Budak Seks ISIS
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  16. Artis yang Pernah Hujat Rakyat Palestina Terbaring Koma
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  17. Sebagian Besar Pemuda Inggris Mengaku Islamofobia
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  18. Pasukan Rusia Masuki Ukraina Timur
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  19. Cameron: Skotlandia Diuntungkan Jika Tetap di Inggris Raya
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  20. Erdogan Janji Mengatasi Perpecahan di Turki
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  21. MUI akan Kaji Syiah Secara Menyeluruh
    Sabtu, 30 Agustus 2014
  22. Jabhah Nusra Kuasai Pos Keamanan di Golan, Menyandera 43 Tentara PBB
    Jumat, 29 Agustus 2014
  23. Ada Upaya Kriminalisasi Jihad dan Khilafah dalam Isu ISIS
    Jumat, 29 Agustus 2014
  24. Diyakini Jadi Mata-Mata Zionis, Anshar Baitul Maqdis Penggal Kepala 4 Pria Mesir
    Jumat, 29 Agustus 2014
  25. Inilah Bahasa Tubuh Trio Penjahat Perang; Netenyahu Lelah, Yaalon Tak Konsen, Gants Tertekan
    Jumat, 29 Agustus 2014
  26. Pidato Misyal: “Kami Tak Punya Masalah dengan Orang Yahudi”
    Jumat, 29 Agustus 2014
  27. Din Syamsudin Kembali Pimpin ACRP
    Jumat, 29 Agustus 2014
  28. Kapankah Tantangan Debat Terbuka Dr. Zakir Naik Dipenuhi Vatikan?
    Jumat, 29 Agustus 2014
  29. Badai Kehidupan
    Jumat, 29 Agustus 2014
  30. Lima Pembabakan Umat Islam Di Dunia
    Jumat, 29 Agustus 2014
Gowa, Kesultanan Islam di Timur Nusantara PDF Print E-mail

Gowa, Kesultanan Islam di Timur Nusantara

Fiqhislam.com - Pada abad ke-16 M, di wilayah timur nusantara—Sulawesi Selatan—berdiri sebuah kerajaan yang amat kuat bernama Kesultanan Gowa.

Tak diketahui secara pasti, awal mula berdirinya kerajaan itu. Menurut fakta-fakta yang ada, raja Gowa pertama memerintah pada abad ke-13 M.

Kerajaan Gowa tercatat sebagai salah satu kerajaan paling tua di wilayah Indonesia bagian timur, selain Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone.

Pada awalnya, penguasa dan rakyat Gowa adalah penganut animisme. Kekuasaan Gowa meliputi daerah pesisir semenanjung bagian selatan Ujungpandang sampai ke Bulukumba.

Gowa mencapai puncak kejayaannya ketika berubah menjadi kesultanan Islam. Tepat pada malam Jumat 9 Jumadil Awal 1014 H/ 22 September 1605 penguasa Gowa memeluk agama Islam. Dua tahun kemudian, Raja Gowa XIV I Manga’rangi Daeng Manra’bia atau Sultan Allaudin—penguasa Gowa pertama yang memeluk Islam—mengeluarkan dekrit.

Isinya, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Seluruh rakyat yang bernaung di bawah kerajaan itu harus menerima Islam sebagai agamanya. Pada puncak kejayaannya, kekuasaan Kerajaan Gowa meluas sampai ke Manado, Sumbawa, Gorontalo, dan Tomini.

Kesultanan Gowa memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di wilayah Sulawesi. Kerajaan Gowa-Tallo berhasil menaklukkan beberapa kerajaan di Pulau Sulawesi, salah satu tujuannya untuk melakukan Islamisasi. Bahkan, Kesultanan Gowa menaklukkan sejumlah kerajaan dan akhirnya memeluk Islam.

Menurut Lontara Bilang (catatan raja-raja Gowa-Tallo—Red), pada masa pemerintahan Raja Gowa X (1546-1565), Tunipalangga, telah ditemukan sebuah perkampungan Muslim di Makassar, yang penduduknya terdiri atas pedagang Melayu yang berasal dari Campa, Patani, Johor, dan Minangkabau.

Berdasarkan catatan itu pula, pada masa pemerintahan Tunijallo (1565-1590) telah didirikan sebuah masjid di Mangallekanna, tempat para pedagang bermukim. Kehadiran para pedagang Muslim tersebut membawa pengaruh terhadap penduduk setempat.

Menurut Ensiklopedi Islam, agama Islam berkembang di wilayah Sulawesi Selatan melalui dua tahapan. Pertama, secara tidak resmi, penyebaran Islam terjadi melalui jalur perdagangan.

Tahapan kedua, Islam secara resmi diterima oleh Raja Gowa-Tallo ketika tiga orang datuk yang berasal dari Kota Tengah, Minangkabau, berkunjung ke wilayah itu.

Guna memperkuat posisinya sebagai kerajaan Islam di kawasan timur nusantara itu, Kerajaan Gowa-Tallo pun sempat menjalin kerja sama dengan kerajaan Islam lainnya, khususnya Kesultanan Mataram di Jawa. Hingga kini, Islam menjadi agama mayoritas di wilayah Sulawesi Selatan.

Kerajaan Gowa. Inilah salah satu kerajaan besar di nusantara yang pernah berkuasa di wilayah timur, Pulau Sulawesi.

Menurut Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), wilayah kekuasaan Gowa meliputi daerah pesisir semenanjung bagian selatan Ujungpandang sampai ke Bulukumba.

Pada puncak kejayaannya, kekuasaan Kerajaan Gowa meluas sampai ke Manado, Sumbawa, Gorontalo, dan Tomini. Pada awalnya, ibukota kerajaan itu bernama Somba Opu.

Lalu, berubah menjadi Makassar. Ujungpandang yang pernah menjadi nama ibukota Provinsi Sulawesi Selatan pada masa itu adalah nama salah satu benteng Kerajaan Gowa.

Di era modern ini, Gowa menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Tidak ada data yang pasti mengenai awal mula berdirinya Kerajaan Gowa. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, kerajaan itu sudah berdiri sejak awal abad ke-13 M. Kesultanan Gowa bertahan hingga abad ke-20 M. Sejak 1947, kerajaan itu tak lagi memiliki kekuasaan.

Kerajaan Gowa juga tercatat sebagai salah satu kerajaan paling tua di wilayah Indonesia bagian timur, selain Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Sejak berdiri, Kerajaan Gowa sangat menonjol peranannya dalam meletakkan adat istiadat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.

Gowa juga memiliki peran penting dalam bidang perekonomian di wilayah nusantara pada masa itu. Semua bahan-bahan perdagangan penting diangkut dari ibukota kerajaan, Somba Opu, oleh pedagang-pedagang dari tanah Jawa, Sumatra, dan Melayu ke pelabuhan-pelabuhan internasional di Indonesia bagian barat.

 

Kerajaan kembar

Di awal abad ke-15 M, Kerajaan Gowa memasuki era baru. Sebab, di bagian utara Ujungpandang juga sempat berdiri Kerajaan Tallo. Pada masa itu, Raja Gowa ke-6 bernama Tunatangka'lopi, mempunyai dua orang anak laki-laki; yang sulung bernama Batara Gowa, menjadi Raja Gowa menggantikan ayahnya; dan adiknya diangkat menjadi Raja Tallo.

Kemudian, muncullah kerajaan kembar bernama Kerajaan Gowa-Tallo. Sejak raja Tallo ketiga, raja-raja Tallo menjadi mangkubumi Kerajaan Gowa.

Jalannya pemerintahan sehari-hari berada di bawah pengawasan mangkubumi atas nama raja. Ibukota Somba Opu memperkuat pertahanannya dengan mendirikan dinding tembok dari batu bata di sekeliling kota.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Gowa-Tallo tampil sebagai pemegang hegemoni politik di kawasan nusantara bagian timur.

Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-9 dan 10, wilayah kekuasaan kerajaan diperluas hingga menjangkau Pangkajene, Sidenreng, Sawito, Soppeng, Lamuru, dan Bulukumba.

Pada masa itu, kehidupan rakyat Gowa-Tallo juga mengalami kemajuan. Rakyatnya giat sekali mengembangkan keahlian pada berbagai bidang kerajinan, seperti membuat barang-barang hiasan emas, berbagai alat senjata, mesiu, dan kapal.

Berkembangnya Gowa-Tallo menjadi salah satu kerajaan yang kuat di Kepulauan nusantara tak lepas dari faktor meningkatnya kegiatan perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur.

Letak Kerajaan Gowa-Tallo yang sangat strategis di semenanjung barat daya Pulau Sulawesi menjadikannya sebagai tempat transit para pedagang dari barat nusantara ke timur, khususnya Maluku, yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis juga menjadi berkah bagi Kerajaan Gowa. Betapa tidak. Para saudagar Muslim kemudian mengalihkan kegiatan dagang mereka ke kawasan timur. Kendati bukan penghasil rempah-rempah seperti halnya Maluku, Gowa-Tallo menjadi sangat penting sebagai tempat singgah para pedagang.

Para saudagar berlabuh ke wilayah Kerajaan Gowa untuk mendapatkan perbekalan dalam pelayaran mereka.

Sejak saat itu, wilayah Kerajaan Gowa-Tallo ramai dikunjungi para pedagang, baik dari nusantara maupun dari negara-negara asing.

Pada 1538, pada masa pemerintahan raja Gowa ke-9, Somba Opu banyak dikunjungi oleh para pedagang Portugis.

Selain untuk berdagang, mereka juga bermaksud menyebarkan agama Katolik. Namun, usaha mereka tidak berhasil karena Islam telah lebih dulu berkembang di daerah itu.

 

Imigran Muslim

Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Asia Tenggara mengungkapkan, migrasi para pedagang Muslim dari kawasan barat nusantara ke wilayah Kerajaan Gowa-Tallo berlangsung secara intensif, setelah beberapa pusat perdagangan di kedua belahan Selat Malaka terus-menerus mendapat serangan militer Kesultanan Aceh.

Pada saat yang sama, pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur, yang sebelumnya berfungsi sebagai penyalur makanan untuk kebutuhan para pedagang dalam pelayaran, mulai merosot akibat kebijaksanaan ekspansi wilayah Kesultanan Mataram dan selanjutnya diambil alih oleh Gowa-Tallo.
 
Bersamaan dengan kemunculan Gowa-Tallo terjadi pergeseran dalam jaringan perdagangan dan rute pelayaran di nusantara. Bila sebelumnya jalur perdagangan adalah dari Selat Malaka ke Jawa Timur, dan kemudian Maluku, meluas melalui Selat Sunda, Makassar, dan selanjutnya Maluku.

Sejak akhir abad ke-16 M, Kerajaan Gowa-Tallo berkembang dan selanjutnya menjadi kerajaan Islam terkemuka di kawasan timur nusantara.

 

Metamorfosis Kerajaan Gowa

Gowa merupakan kerajaan terbesar setelah Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang pernah berkuasa di wilayah nusantara.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada,  kerajaan itu diperkirakan sudah berdiri sejak awal abad ke-13 M. Masyarakat dan penguasa Kerajaan Gowa menganut kepercayaan animisme.

Seiring berkembangnya Gowa menjadi pusat perdagangan di kawasan timur nusantara, para saudagar Muslim mulai berniaga ke wilayah itu.

Perlahan tapi pasti, ajaran Islam pun mulai bersemi di daerah kekuasaan Kerajaan Gowa. Agama Islam tak hanya menarik bagi masyarakat, tapi juga para penguasa kerajaan itu.

Menurut Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), penguasa Gowa pertama yang memeluk Islam adalah I Manga'rangi Daeng Manra'bia yang bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (berkuasa 1593-1639).

Ia adalah raja Gowa ke-14. Kerajaan Gowa pun bermetamorfosis menjadi sebuah kesultanan. Karena sejak 1605 M, Islam menjadi agama resmi.

Setelah Sultan Alauddin wafat pada 1639, takhta Kesultanan Gowa diduduki I Mannuntungi Daeng Mattola yang bergelar Sultan Malikussaid. Sultan Malikussaid merupakan penguasa Gowa ke-15. Ia wafat pada 1653 setelah memerintah selama 14 tahun (1639-1653).

Putra Sultan Malikussaid yang bernama I Mallombasi Daeng Mattawang menggantikannya sebagai raja Gowa ke-16. Setelah dinobatkan menjadi raja, ia mendapat gelar Sultan Hasanuddin (memerintah pada 1653-1669). Pada masa pemerintahannya, Gowa menghadapi penyerangan kompeni Belanda (VOC).

Sultan Hasanuddin akhirnya harus mengakui keunggulan tentara Belanda dan terpaksa menyetujui perjanjian perdamaian yang dituangkan dalam Perjanjian Bongaya pada 27 Juni 1669.

Dua hari kemudian, pada 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin menyerahkan takhta kesultanan kepada putranya I Mappasomba Daeng Nguraga yang mendapat gelar Sultan Amir Hamzah.

Saat naik takhta usianya baru 13 tahun. Sultan yang masih muda itu tidak lama memerintah. Sultan Amir Hamzah wafat pada 7 Mei 1674. Takhta kesultanan akhirnya diduduki saudaranya, I Mappaossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei, yang bergelar Sultan Ali. Sultan Ali hanya berkuasa selama tiga tahun (1674-1677).

Sesudah mengalami kekalahan pada 1669, raja-raja Gowa sesudah masa pemerintahan Hasanuddin bukan lagi raja-raja yang merdeka dalam penentuan politik kenegaraan. Mereka tidak lagi mempunyai kekuatan tentara maupun armada kapal.

Dan semenjak itu, kekuasaan Belanda dipusatkan di Kota Makassar, sementara Perjanjian Bongaya selalu diperbarui dan pada 1894 sudah sangat mengikat kekuasaan raja. [yy/republika]

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.