FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
BERITA INTERNASIONAL
Jihad Islam Serukan Balas Dendam ke Zionis
BERITA INTERNASIONAL
Sosok Pemimpin Baru Taliban Terungkap
BERITA INTERNASIONAL
Mesir Tembak Mati Pemimpin ISIS di Sinai
BERITA INTERNASIONAL
Netanyahu Serukan Perang Terhadap Ekstrimis Yahudi
ISLAM INDONESIA
Penjelasan Kiai NU Bagi Penolak Islam Nusantara
ISLAM INDONESIA
Bisakah NU dan Muhammadiyah Berpihak Pada Islam
ISLAM INDONESIA
Presiden Turki Belajar Kehidupan Islam Indonesia
ISLAM INDONESIA
Penuhi Syarat Ini Sebelum Mengkafirkan Seseorang
BERITA INTERNASIONAL
Lebih 100 Anggota Boko Haram Tewas oleh Tentara Chad
BERITA INTERNASIONAL
Pasukan Yaman Berhasil Rebut Aden
BERITA INTERNASIONAL
Taliban Tunjuk Pengganti Mullah Omar
BERITA UMRAH DAN HAJI
Nomor Layanan SMS Center Haji dan Umrah di Jeddah
ISLAM INDONESIA
GIDI Harus Dibubarkan
31 Juli 2015
GIDI Harus Dibubarkan
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Pemerintah Tentukan Sikap Soal BPJS Syariah Pekan Depan
BERITA INTERNASIONAL
Iran Bantah Tuduhan Teror Bahrain
ISLAM INDONESIA
Said Jamin Islam Nusantara Bukan Sekte Baru
BERITA INTERNASIONAL
Taliban Berkeras Pimpinannya Masih Hidup
ISLAM INDONESIA
Iran Tawarkan Kerja Sama Bahas Islam
BERITA INTERNASIONAL
Turki Tolak Seruan Damai dengan Kurdi
BERITA INTERNASIONAL
Parade Gay dan Lesbi Berdarah di Israel
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Cara Mengatasi Ujub
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
9 Nama Anak Cucu Setan beserta ‘Perannya’
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Ibadah Sekeping Dunia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Syarat-syarat Agar Sedekah Tidak Sia-sia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Empat Macam Sikap Anak Terhadap Orang Tua
Sejarah Aliran Maturidiyah PDF Print E-mail

Sejarah Aliran MaturidiyahFiqhislam.com - Setelah wafatnya Khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah keempat, umat Islam terpecah dalam memberikan dukungan.

Ada yang meminta supaya diusut dulu penyebab wafatnya Usman dan siapa dalang di baliknya, sedangkan yang lain meminta ditegakkan dulu posisi khalifah untuk meredakan situasi yang genting.

Kondisi yang ‘mencekam’ itu membuat umat Islam terpecah dalam memberikan dukungan kepada Ali bin Abu Thalib. Ada yang mendukung dan ada pula yang menentangnya.

Akibatnya, bermunculan tuduhan saling menyesatkan di antara umat Islam. Bahkan, sampai ada kelompok yang mengafirkan kelompok lain. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan munculnya paham atau aliran teologi (akidah) dalam Islam. Di antara aliran teologi itu, salah satunya adalah aliran Maturidiyah.

Aliran Maturidiyah merupakan aliran teologi yang bercorak rasional-tradisional. Aliran ini kali pertama muncul di Samarkand, pertengahan kedua abad kesembilan Masehi. Nama aliran itu dinisbahkan dari nama pendirinya, Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi.

Al-Maturidi lahir dan hidup di tengah-tengah iklim keagamaan yang penuh dengan pertentangan pendapat antara Muktazilah dan Asy’ariyah mengenai kemampuan akal manusia.

Aliran ini disebut-sebut memiliki kemiripan dengan Asy’ariyah. Sebelum mendirikan aliran Maturidiyah ini, Abu Mansur Al-Maturidi adalah murid dari pendiri Asy’ariyah, yakni Abu Hasan Al-Asy’ari.

Dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, disebutkan, pada pertengahan abad ke-3 H terjadi pertentangan yang hebat antara golongan Muktazilah dan para ulama.

Sebab, pendapat Muktazilah dianggap menyesatkan umat Islam. Al-Maturidi yang hidup pada masa itu melibatkan diri dalam pertentangan tersebut dengan mengajukan pemikirannya.

Pemikiran-pemikiran Al-Maturidi dinilai bertujuan untuk membendung tidak hanya paham Muktazilah, tetapi juga aliran Asy’ariyah.

Banyak kalangan yang menilai, pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Muktazilah dan Asy’ariyah. Karena itu, aliran Maturidiyah sering disebut “berada antara teolog Muktazilah dan Asy’ariyah”.

Namun, keduanya (Maturidi dan Asy’ari) secara tegas menentang aliran Muktazilah. Kaum Asy’ari berhadapan dengan Muktazilah di pusatnya, yakni Basrah, sedangkan Maturidi berhadapan di Uzbekistan, di daerah Maturid. Karena itulah, Maturidiyah dan Asy’ariyah dianggap memiliki kesamaan walaupun berbeda aliran.

Menurut Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip Ahmad Hanafi dalam “Theology Islam (Ilmu Kalam)”, yang sering dipermasalahkan keduanya tidak lebih dari 10 soal dan semuanya tidak terlalu prinsip, kecuali hanya istilah.

Keduanya membela kepercayaan yang ada dalam Alquran. Dalam usahanya tersebut, keduanya mengikatkan diri pada kepercayaan itu.

Semasa hidupnya, Al-Maturidi dikenal sebagai pengikut setia Imam Hanafi yang terkenal ketat dengan keabsahan pendapat akal.

Al-Maturidi memang banyak menimba ilmu kepada para ulama dari Mazhab Hanafi, seperti Muhammad bin Muqatil Ar-Razi, Abu Bakar Ahmad bin Ishaq Al-Juzjani, Abu Nasr Al-Iyadi, dan Nusair bin Yahya.

Sebagai pengikut Imam Hanafi, tak mengherankan bila paham teologi yang disebarkan oleh Al-Maturidi memiliki banyak persamaan dengan paham-paham yang dipegang Imam Hanafi yang mengedepankan pertimbangan akal dalam memecahkan berbagai masalah keagamaan.

Hal ini pula yang menyebabkan paham Maturidiyah banyak dianut oleh kalangan ulama yang menganut Mazhab Hanafi di bidang fikih.

Terpecah dua
Namun, dalam perkembangannya, aliran Maturidiyah ini terpecah ke dalam dua kelompok, yaitu Maturidiyah Samarkand yang dipimpin oleh Al-Maturidi dan Maturidiyah Bukhara yang dipimpin oleh Abu Al-Yusr Muhammad Al-Bazdawi.

Al-Bazdawi merupakan pengikut Al-Maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid Al-Maturidi. Ia mempelajari ajaran Maturidiyah dari kedua orang tuanya.

Pengelompokan itu terjadi karena ada perbedaan pendirian mengenai wewenang akal. Bagi Maturidiyah Samarkand, akal manusia dapat mengetahui adanya Tuhan, baik dan buruk, serta mengetahui kewajiban bersyukur kepada Tuhan.

Sementara itu, aliran Maturidiyah Bukhara berpandangan bahwa akal manusia hanya dapat mengetahui adanya Tuhan serta baik dan buruk, sedangkan mengenai kewajiban manusia merupakan wewenang wahyu, bukan wewenang akal. [yy/republika]