AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Perannya Menghina Nabi Muhammad, Aktor Ini Diancam Dibunuh
    Rabu, 17 September 2014
  2. Masjid Kaum Homo Berdiri di Cape Town
    Rabu, 17 September 2014
  3. Kementerian Agama Bakal Dihapus dari Kabinet Jokowi, NU: Akankah Lebih Baik?
    Rabu, 17 September 2014
  4. RESONANSI: Basis Karakter Kemajuan
    Rabu, 17 September 2014
  5. 23 Pesepakbola Asal Kamerun Peluk Islam
    Rabu, 17 September 2014
  6. Sentuhan Islam di Universitas Tertua Inggris
    Rabu, 17 September 2014
  7. Indonesia Butuh BUMN Syariah
    Selasa, 16 September 2014
  8. 14 Orang Jamaah Haji Indonesia Meninggal Di Arab
    Selasa, 16 September 2014
  9. PKI Sering Tuntut SBY untuk Meminta Maaf
    Selasa, 16 September 2014
  10. Vonis Penjara Seumur Hidup Kasus Bahr Al-Azam untuk Muhammad Badi Dkk
    Selasa, 16 September 2014
  11. Serdadu Zionis: “Sesudah Dieksploitasi, Kami Dibuang ke Tempat Sampah”
    Selasa, 16 September 2014
  12. Aljazair Menolak Bergabung Dalam Koalisi Internasional Untuk Melawan ISIS
    Selasa, 16 September 2014
  13. Duta Besar Zionis Untuk Mesir Adalah Intelijen Mossad?
    Selasa, 16 September 2014
  14. Hamas: “Abbas Menolak Persyaratan Untuk Dicabutnya Blokade Di Gaza”
    Selasa, 16 September 2014
  15. Penelitian PBB : Menakutkan, Hidup dalam Kontrol ISIS
    Selasa, 16 September 2014
  16. Libya Megarah pada Konflik Berkepanjangan
    Selasa, 16 September 2014
  17. Rusia: AS Serang ISIS di Suriah, Sama Saja Agresi
    Selasa, 16 September 2014
  18. Muslim Australia Tolak Pengiriman Militer ke Irak
    Selasa, 16 September 2014
  19. Tren: Wanita AS Jadi Anggota ISIS
    Selasa, 16 September 2014
  20. Al Qaeda Afrika Maghribi Membelot ke ISIS
    Selasa, 16 September 2014
  21. Pura Hindu Terbesar Asia ada di Wilayah Mayoritas Muslim
    Selasa, 16 September 2014
  22. Diplomat Suriah: Teheran Dan Hizbullah Mulai Menarik Dukungannya Kepada Rezim Bashar Al Assad
    Selasa, 16 September 2014
  23. Pertama Kali, Warga China di Ningxia akan Berhaji
    Selasa, 16 September 2014
  24. Pemerintah Didesak Kembalikan Status Kewarganegaraan Muslim Rohingya
    Selasa, 16 September 2014
  25. Sutarman Mengaku Tahu Keberadaan MH370, Kepala Polisi Diraja Malaysia Terkejut
    Selasa, 16 September 2014
  26. 10 Hal dalam Islam yang Menuntun Anda kepada Kehidupan yang Lebih Baik
    Senin, 15 September 2014
  27. Muslim Muzaffarnagar Ingin Kembali Jalani Hidup Dengan Tenang
    Senin, 15 September 2014
  28. Pasukan Kurdi Berhasil Rebut 14 Desa dari Tangan ISIS
    Senin, 15 September 2014
  29. PBB Ungkap Ada Hubungan Antara Israel dan Organisasi Teroris Suriah
    Senin, 15 September 2014
  30. Kuasai Bahasa Arab, Muslim China Dapat Manfaat Besar
    Senin, 15 September 2014
Wahabi Indonesia, Berawal dari Kaum Padri PDF Print E-mail

Fiqhislam.com - Pada awal abad ke-19 M, gerakan Wahabi yang berkembang pesat di Arab Saudi mulai melemah.

Wahabi Indonesia, Berawal dari Kaum Padri Adalah Sultan Mahmud II (1785-1839 M), Sultan Kerajaan Turki Utsmani yang memerintahkan kepada Muhammad Ali, penguasa Turki Utsmani di daerah taklukan, untuk merebut Makkah dan Madinah dari tangan kaum Wahabi. Pada 1813 M, ekspedisi tersebut membuahkan hasil.

Menurut Ensiklopedi Islam, meski sempat melemah di Arab Saudi, ajaran Wahabi justru telah tersebar luas ke berbagai negara seperti India, Sudan, Libya serta ke Indonesia.

Penyebaran aliran Wahabi ke wilayah Nusantara dibawa oleh para haji yang baru pulang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Salah satunya melalui kaum Padri di Minangkabau yang dikembangkan tiga tokoh.

Guru Besar Ilmu Sejarah Pemikiran Politik Islam pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Abd A’la, dalam pidato ilmiahnya mengungkapkan, ketiga tokoh yang tertarik dengan ajaran Wahabi itu adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji Abdur Rahman dari Piobang, bagian dari Lu(h)ak Limah Puluh Kota, dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Batusangkar.

''Sekembali dari Tanah Suci antara tahun 1803 dan 1804, Haji Miskin membawa ide bahwa perubahan total dalam masyarakat Minangkabau yang (dalam anggapannya) tidak sesuai dengan ajaran Alquran harus dilakukan melalui kekuatan sebagaimana dilakukan kaum Wahabi di Arab,'' tutur Prof A'la.

Secara prinsip, kata Prof A'la, ide itu juga diamini oleh dua Haji yang lain. Sejak saat itu, gerakan kaum Padri mulai berusaha menancapkan pengaruhnya di berbagai daerah Minangkabau. Menurut dia, dalam upaya melakukan perubahan radikal, gagasan-gagasan tiga Haji itu mendapat tantangan keras dari guru-guru Tarekat Syattariyah.

Usaha ketiga tokoh itu dan tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan.

Menurut Prof Abd A'la, Haji Miskin misalnya, yang berasal dari Empat Angkat, Agam, tidak mampu meyakinkan Tuanku Nan Tuo, tokoh agama yang dulu menjadi teman seperdagangan sebelum berangkat ke Tanah Suci mengenai pola keagamaan yang akan dikembangkan.

''Karena itu ia pergi ke Enam Kota, dan tinggal di Pandai Sikat. Di sini ia tidak begitu berhasil melakukan pembaharuan, dan terpaksa angkat kaki menuju Kota Lawas. Setelah mengalami beberapa kesulitan, akhirnya Haji Miskin bersama Kaum Padri berhasil mengenalkan pembaharuan mereka,'' papar A’la.

Setelah itu, seluruh Enam Kota termasuk Kota Lawas dan Pandai Sikat menjadi benteng kaum Padri, setelah sebelumnya mereka melakukan pembakaran terhadap balai di Kota Lawas.

Menurut Prof Abd A'la, pada awalnya gerakan Padri merupakan gerakan sporadis yang ada di berbagai tempat di Minangkabau.

Dengan berlalunya waktu, para pemukanya saling berhubungan satu dengan yang lain sehingga gerakan Padri menjadi satu komunitas yang relatif terorganisir. Kekuatan kaum Padri mulai menemukan pijakan yang kokoh ketika pada 1811. Saat itu, Haji Miskin sampai di Bukit Kamang dan bertemu dengan Tuanku Nan Renceh, pemuka agama yang juga bervisi sama.

Di sana mereka sepakat merencanakan pembaharuan masyarakat secara total. Mereka didukung oleh enam pemuka lain yang kemudian disebut Harimau Nan Selapan (karena jumlahnya delapan orang). Mereka adalah Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalan, dan Tuanku di LubukAur.

Selanjutnya, pada tahun 1813 Tuanku Lintau ikut bergabung dan menjadi penganut fanatik ajaran-ajaran kaum Padri.

Sejatinya jauh sebelum itu, sekitar tahun 1807, Tuanku Muda dari Alahan Panjang dan nantinya disebut Tuanku Imam Bonjol ikut memperkuat posisi kaum Padri.

Melalui tangan dingin para pemuka itu, kaum Padri sebagaimana akan dijelaskan nanti berkembang menjadi gerakan yang menyebar di alam Minangkabau dengan segala karakteristiknya dan nantinya menguasai seluruh nagari di sana.

''Sejarah mencatat, kaum Padri tidak hanya melakukan pembaharuan keislaman di daerah Minangkabau semata. Kelompok ini juga melakukan islamisasi ke Tapanuli Selatan yang terletak di utara alam Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya,'' ujar Prof Abd A'la.

Setelah itu, paham Wahabi masih berkembang pesat di Indonesia. Pengikut manhaj dakwah Muhammad bin Abdul Wahab sangat sangat pesat pekembangannya.

Di era prakemerdekaan dan pascakemerdekkaan, pemikiran Wahabi banyak memengaruhi pemikiran Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Namun demikian, kehadiran Wahabi setelah tahun 90-an, semakin merebak dan fenomenal dengan aliran Wahabi terbaru yang menamakan diri sebagai jamaah salafiyah. Di Indonesia, gerakan salafi terpecah ke dalam beberapa kelompok.

Kelompok-kelompok Salafiyah
Sejatinya, para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab menamakan diri mereka dengan Salafiyun. Namun, para penentang dan lawan dari gerakan ini menyebutnya sebagai Wahabi. Menurut para pengikut Abdul Wahab, sebutan Wahabiyun diberikan oleh kaum orientalis agar orang menjauh.

Di kawasan Timur Tengah, aliran Salafi terpolarisasi ke dalam beberapa kelompok:

Pertama, Kelompok Salafiyah Politik. Dengan alasan universalitas risalah Islam, kelompok ini lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang akidah.

Kedua, Salafiyun Al-Albaniyun. Kelompok ini mengikuti Syekh Al-Muhandits Nashiruddin Al-Albani. Mereka memerangi fanatisme mazhab, mazhab-mazhab fikih, taklid dan loyalitas terhadapnya, sekalipun oleh kalangan awam. Tetapi pada saat yang bersamaan, mereka juga mentaklid semua pendapat Syekh Nasiruddin Al-Albani.

Ketiga, Salafiyun Al-Jamiyun. Tokohnya adalah Syekh Rabi’ Al-Madkhali. Kelompok ini sering menyerang dan menyalahkan ulama dan dai yang bertentangan dengan mereka. Keempat, pengikut Syekh bin Baz. Kelompok yang keempat ini belum terorganisir.

republika.co.id
 

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.