AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu
    Kamis, 29 Januari 2015
  2. Umat Butuh Media yang Mampu Membela Islam
    Kamis, 29 Januari 2015
  3. Obama Ditinggal Raja Salman Ketika Takbir Adzan Berkumandang
    Kamis, 29 Januari 2015
  4. Nikmat yang Diperoleh, Renungkanlah
    Kamis, 29 Januari 2015
  5. Tempat Para Roh di Alam Barzakh
    Kamis, 29 Januari 2015
  6. Dosa-dosa Pembawa Malapetaka
    Kamis, 29 Januari 2015
  7. MUI Imbau Penggila Batu Akik: “Jangan Musyrik!”
    Kamis, 29 Januari 2015
  8. Indonesia Undang Kim Jong-Un, Inilah Reaksi Amerika
    Kamis, 29 Januari 2015
  9. ISIS Ancam Penggal Obama di Gedung Putih
    Kamis, 29 Januari 2015
  10. Hamas dan Jihad Islam Puji Operasi Hizbullah di Shebaa Farms
    Kamis, 29 Januari 2015
  11. Netanyahu Terima Undangan Kongres, Obama Murka
    Kamis, 29 Januari 2015
  12. PEGIDA Tidak Berbicara Atas Nama Jerman
    Kamis, 29 Januari 2015
  13. Film 'American Sniper' Tingkatkan Anti-Muslim di AS
    Kamis, 29 Januari 2015
  14. Kegiatan Militer Israel Meningkat, Lebanon Bersikap Keras
    Kamis, 29 Januari 2015
  15. Erdogan Tolak Pemerintahan Otonom Kurdi di Suriah
    Kamis, 29 Januari 2015
  16. Manusia Sebagai Mahluk Serba Dimensi
    Kamis, 29 Januari 2015
  17. Sandera Sydney Tewas Akibat Peluru Polisi
    Kamis, 29 Januari 2015
  18. Pesepakbola Muda Jerman, Danny Blum: “Islam Memberikanku Harapan dan Kekuatan”
    Kamis, 29 Januari 2015
  19. Ustadz Nababan: Kebenaran Islam Berasal dari Sumber yang Rasional
    Kamis, 29 Januari 2015
  20. Kesiapan Pesantren Hadapi Persaingan MEA Bergantung Santri
    Kamis, 29 Januari 2015
  21. Tantangan Dakwah di Wilayah Perkotaan
    Kamis, 29 Januari 2015
  22. Kalimantan Timur Miliki Masjid Megah Senilai Rp 58 Milyar
    Kamis, 29 Januari 2015
  23. AS Kecam Serangan Hizbullah ke Israel Utara
    Kamis, 29 Januari 2015
  24. Menlu Yordania Bantah akan Lepas Al-Rishawi
    Kamis, 29 Januari 2015
  25. Pemahaman Notaris Terkait Aturan Syariah Masih Minim
    Minggu, 25 Januari 2015
  26. Keluarkan Edaran, Mataram Bakal Usir Perusahaan yang Larang Jilbab
    Minggu, 25 Januari 2015
  27. Media Arab: Standar Ganda Israel Soal Pemukiman Menjijikan
    Minggu, 25 Januari 2015
  28. Memimpin dengan Al-Quran, Janji Raja Baru Arab Saudi
    Minggu, 25 Januari 2015
  29. Waspadai Bahaya Laten PKI Gaya Baru
    Minggu, 25 Januari 2015
  30. Pentagon: Dampak Pemboman AS, ISIS Hanya Kehilangan 1 Persen Wilayah
    Minggu, 25 Januari 2015
Wahabi Indonesia, Berawal dari Kaum Padri PDF Print E-mail

Fiqhislam.com - Pada awal abad ke-19 M, gerakan Wahabi yang berkembang pesat di Arab Saudi mulai melemah.

Wahabi Indonesia, Berawal dari Kaum Padri Adalah Sultan Mahmud II (1785-1839 M), Sultan Kerajaan Turki Utsmani yang memerintahkan kepada Muhammad Ali, penguasa Turki Utsmani di daerah taklukan, untuk merebut Makkah dan Madinah dari tangan kaum Wahabi. Pada 1813 M, ekspedisi tersebut membuahkan hasil.

Menurut Ensiklopedi Islam, meski sempat melemah di Arab Saudi, ajaran Wahabi justru telah tersebar luas ke berbagai negara seperti India, Sudan, Libya serta ke Indonesia.

Penyebaran aliran Wahabi ke wilayah Nusantara dibawa oleh para haji yang baru pulang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Salah satunya melalui kaum Padri di Minangkabau yang dikembangkan tiga tokoh.

Guru Besar Ilmu Sejarah Pemikiran Politik Islam pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Abd A’la, dalam pidato ilmiahnya mengungkapkan, ketiga tokoh yang tertarik dengan ajaran Wahabi itu adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji Abdur Rahman dari Piobang, bagian dari Lu(h)ak Limah Puluh Kota, dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Batusangkar.

''Sekembali dari Tanah Suci antara tahun 1803 dan 1804, Haji Miskin membawa ide bahwa perubahan total dalam masyarakat Minangkabau yang (dalam anggapannya) tidak sesuai dengan ajaran Alquran harus dilakukan melalui kekuatan sebagaimana dilakukan kaum Wahabi di Arab,'' tutur Prof A'la.

Secara prinsip, kata Prof A'la, ide itu juga diamini oleh dua Haji yang lain. Sejak saat itu, gerakan kaum Padri mulai berusaha menancapkan pengaruhnya di berbagai daerah Minangkabau. Menurut dia, dalam upaya melakukan perubahan radikal, gagasan-gagasan tiga Haji itu mendapat tantangan keras dari guru-guru Tarekat Syattariyah.

Usaha ketiga tokoh itu dan tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan.

Menurut Prof Abd A'la, Haji Miskin misalnya, yang berasal dari Empat Angkat, Agam, tidak mampu meyakinkan Tuanku Nan Tuo, tokoh agama yang dulu menjadi teman seperdagangan sebelum berangkat ke Tanah Suci mengenai pola keagamaan yang akan dikembangkan.

''Karena itu ia pergi ke Enam Kota, dan tinggal di Pandai Sikat. Di sini ia tidak begitu berhasil melakukan pembaharuan, dan terpaksa angkat kaki menuju Kota Lawas. Setelah mengalami beberapa kesulitan, akhirnya Haji Miskin bersama Kaum Padri berhasil mengenalkan pembaharuan mereka,'' papar A’la.

Setelah itu, seluruh Enam Kota termasuk Kota Lawas dan Pandai Sikat menjadi benteng kaum Padri, setelah sebelumnya mereka melakukan pembakaran terhadap balai di Kota Lawas.

Menurut Prof Abd A'la, pada awalnya gerakan Padri merupakan gerakan sporadis yang ada di berbagai tempat di Minangkabau.

Dengan berlalunya waktu, para pemukanya saling berhubungan satu dengan yang lain sehingga gerakan Padri menjadi satu komunitas yang relatif terorganisir. Kekuatan kaum Padri mulai menemukan pijakan yang kokoh ketika pada 1811. Saat itu, Haji Miskin sampai di Bukit Kamang dan bertemu dengan Tuanku Nan Renceh, pemuka agama yang juga bervisi sama.

Di sana mereka sepakat merencanakan pembaharuan masyarakat secara total. Mereka didukung oleh enam pemuka lain yang kemudian disebut Harimau Nan Selapan (karena jumlahnya delapan orang). Mereka adalah Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalan, dan Tuanku di LubukAur.

Selanjutnya, pada tahun 1813 Tuanku Lintau ikut bergabung dan menjadi penganut fanatik ajaran-ajaran kaum Padri.

Sejatinya jauh sebelum itu, sekitar tahun 1807, Tuanku Muda dari Alahan Panjang dan nantinya disebut Tuanku Imam Bonjol ikut memperkuat posisi kaum Padri.

Melalui tangan dingin para pemuka itu, kaum Padri sebagaimana akan dijelaskan nanti berkembang menjadi gerakan yang menyebar di alam Minangkabau dengan segala karakteristiknya dan nantinya menguasai seluruh nagari di sana.

''Sejarah mencatat, kaum Padri tidak hanya melakukan pembaharuan keislaman di daerah Minangkabau semata. Kelompok ini juga melakukan islamisasi ke Tapanuli Selatan yang terletak di utara alam Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya,'' ujar Prof Abd A'la.

Setelah itu, paham Wahabi masih berkembang pesat di Indonesia. Pengikut manhaj dakwah Muhammad bin Abdul Wahab sangat sangat pesat pekembangannya.

Di era prakemerdekaan dan pascakemerdekkaan, pemikiran Wahabi banyak memengaruhi pemikiran Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Namun demikian, kehadiran Wahabi setelah tahun 90-an, semakin merebak dan fenomenal dengan aliran Wahabi terbaru yang menamakan diri sebagai jamaah salafiyah. Di Indonesia, gerakan salafi terpecah ke dalam beberapa kelompok.

Kelompok-kelompok Salafiyah
Sejatinya, para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab menamakan diri mereka dengan Salafiyun. Namun, para penentang dan lawan dari gerakan ini menyebutnya sebagai Wahabi. Menurut para pengikut Abdul Wahab, sebutan Wahabiyun diberikan oleh kaum orientalis agar orang menjauh.

Di kawasan Timur Tengah, aliran Salafi terpolarisasi ke dalam beberapa kelompok:

Pertama, Kelompok Salafiyah Politik. Dengan alasan universalitas risalah Islam, kelompok ini lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang akidah.

Kedua, Salafiyun Al-Albaniyun. Kelompok ini mengikuti Syekh Al-Muhandits Nashiruddin Al-Albani. Mereka memerangi fanatisme mazhab, mazhab-mazhab fikih, taklid dan loyalitas terhadapnya, sekalipun oleh kalangan awam. Tetapi pada saat yang bersamaan, mereka juga mentaklid semua pendapat Syekh Nasiruddin Al-Albani.

Ketiga, Salafiyun Al-Jamiyun. Tokohnya adalah Syekh Rabi’ Al-Madkhali. Kelompok ini sering menyerang dan menyalahkan ulama dan dai yang bertentangan dengan mereka. Keempat, pengikut Syekh bin Baz. Kelompok yang keempat ini belum terorganisir.

republika.co.id
 

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.