AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Tauhid, Alasan Utama Mualaf Bersyahadat
    Selasa, 04 Agustus 2015
  2. AS Disebut Mata-Matai, Ini Tanggapan Pemerintah Jepang
    Selasa, 04 Agustus 2015
  3. Dituduh akan Dirikan Negara Islam, Belasan Aktivis Muslim Dihukum Berat
    Selasa, 04 Agustus 2015
  4. Pembunuhan Bayi Palestina Ditelan Isu Singa Cecil, Politikus Inggris Geram
    Selasa, 04 Agustus 2015
  5. Ada Partai Anti-Islam di Australia
    Selasa, 04 Agustus 2015
  6. Israel Tangkap Ekstremis Yahudi Pelaku Pembakar Bayi Palestina
    Selasa, 04 Agustus 2015
  7. BPJS Akhirnya Hadirkan Program Syariah
    Selasa, 04 Agustus 2015
  8. Pengamat HAM Kecam Kekejaman Terhadap Anak Muamar Gadhafi
    Selasa, 04 Agustus 2015
  9. China Bangun Kampus Islam Senilai Rp570 Miliar
    Selasa, 04 Agustus 2015
  10. Sekutu Houthi Sebut Presiden Yaman Harus Diadili atas Pengkhianatan
    Selasa, 04 Agustus 2015
  11. Rawan Perpecahan, Islam Nusantara Tak Perlu Digaungkan
    Selasa, 04 Agustus 2015
  12. Mulai Terdesak, Hassan Nasrallah Kirim Pasukan Khusus Syiah Hizbullah Ke Suriah
    Selasa, 04 Agustus 2015
  13. Kapan Bangsa Ini Dewasa?
    Selasa, 04 Agustus 2015
  14. Perkataan Orang-orang yang Menghadapi Kematian
    Senin, 03 Agustus 2015
  15. Membebaskan Hutang, Terbebas dari Siksa
    Senin, 03 Agustus 2015
  16. Wasiat Seorang Ibu untuk Putrinya yang Telah Menikah
    Senin, 03 Agustus 2015
  17. 8 Sifat Istri yang Dibenci Suami
    Senin, 03 Agustus 2015
  18. Jangan Menyepelekan Perkara-perkara Ini
    Senin, 03 Agustus 2015
  19. Shalat Dhuha Setara dengan 360 Shadaqah
    Senin, 03 Agustus 2015
  20. Ciri Pencela Fatwa Ulama, Bodoh dalam Fikih dan Ada Kesalahan Ilmu
    Senin, 03 Agustus 2015
  21. Injil Berusia 1.500 Tahun Ini Tegaskan Bukan Yesus Yang Disalib
    Senin, 03 Agustus 2015
  22. Pemimpin Pemberontak Muslim Thailand Tewas
    Senin, 03 Agustus 2015
  23. Mengapa Kanada Pakai Sistem Rudal Buatan Israel?
    Senin, 03 Agustus 2015
  24. Bahaya, Jika Pejabat Negara Tidak Persoalkan Bendera Israel di Tolikara
    Senin, 03 Agustus 2015
  25. Ingin Menjadi Bagian Yahudi Mesiah: Mencari Tahu Mengapa Pengaruh Israel Begitu Kuat di Tolikara
    Senin, 03 Agustus 2015
  26. Profesor AS: “ISIS Memang Brutal, Tapi AS Lebih Brutal”
    Senin, 03 Agustus 2015
  27. Berebut Kepemimpinan Ulama Boleh, Asal..
    Senin, 03 Agustus 2015
  28. Rusia Ungkap Alasan Veto Resolusi Persidangan MH17
    Senin, 03 Agustus 2015
  29. 13 Alasan yang Membuat Adebayor Memilih Islam
    Senin, 03 Agustus 2015
  30. Nabi Muhammad Dijelaskan Kitab Suci Hindu
    Senin, 03 Agustus 2015
Wahabi Indonesia, Berawal dari Kaum Padri PDF Print E-mail

Fiqhislam.com - Pada awal abad ke-19 M, gerakan Wahabi yang berkembang pesat di Arab Saudi mulai melemah.

Wahabi Indonesia, Berawal dari Kaum Padri Adalah Sultan Mahmud II (1785-1839 M), Sultan Kerajaan Turki Utsmani yang memerintahkan kepada Muhammad Ali, penguasa Turki Utsmani di daerah taklukan, untuk merebut Makkah dan Madinah dari tangan kaum Wahabi. Pada 1813 M, ekspedisi tersebut membuahkan hasil.

Menurut Ensiklopedi Islam, meski sempat melemah di Arab Saudi, ajaran Wahabi justru telah tersebar luas ke berbagai negara seperti India, Sudan, Libya serta ke Indonesia.

Penyebaran aliran Wahabi ke wilayah Nusantara dibawa oleh para haji yang baru pulang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Salah satunya melalui kaum Padri di Minangkabau yang dikembangkan tiga tokoh.

Guru Besar Ilmu Sejarah Pemikiran Politik Islam pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, Abd A’la, dalam pidato ilmiahnya mengungkapkan, ketiga tokoh yang tertarik dengan ajaran Wahabi itu adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji Abdur Rahman dari Piobang, bagian dari Lu(h)ak Limah Puluh Kota, dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Batusangkar.

''Sekembali dari Tanah Suci antara tahun 1803 dan 1804, Haji Miskin membawa ide bahwa perubahan total dalam masyarakat Minangkabau yang (dalam anggapannya) tidak sesuai dengan ajaran Alquran harus dilakukan melalui kekuatan sebagaimana dilakukan kaum Wahabi di Arab,'' tutur Prof A'la.

Secara prinsip, kata Prof A'la, ide itu juga diamini oleh dua Haji yang lain. Sejak saat itu, gerakan kaum Padri mulai berusaha menancapkan pengaruhnya di berbagai daerah Minangkabau. Menurut dia, dalam upaya melakukan perubahan radikal, gagasan-gagasan tiga Haji itu mendapat tantangan keras dari guru-guru Tarekat Syattariyah.

Usaha ketiga tokoh itu dan tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan.

Menurut Prof Abd A'la, Haji Miskin misalnya, yang berasal dari Empat Angkat, Agam, tidak mampu meyakinkan Tuanku Nan Tuo, tokoh agama yang dulu menjadi teman seperdagangan sebelum berangkat ke Tanah Suci mengenai pola keagamaan yang akan dikembangkan.

''Karena itu ia pergi ke Enam Kota, dan tinggal di Pandai Sikat. Di sini ia tidak begitu berhasil melakukan pembaharuan, dan terpaksa angkat kaki menuju Kota Lawas. Setelah mengalami beberapa kesulitan, akhirnya Haji Miskin bersama Kaum Padri berhasil mengenalkan pembaharuan mereka,'' papar A’la.

Setelah itu, seluruh Enam Kota termasuk Kota Lawas dan Pandai Sikat menjadi benteng kaum Padri, setelah sebelumnya mereka melakukan pembakaran terhadap balai di Kota Lawas.

Menurut Prof Abd A'la, pada awalnya gerakan Padri merupakan gerakan sporadis yang ada di berbagai tempat di Minangkabau.

Dengan berlalunya waktu, para pemukanya saling berhubungan satu dengan yang lain sehingga gerakan Padri menjadi satu komunitas yang relatif terorganisir. Kekuatan kaum Padri mulai menemukan pijakan yang kokoh ketika pada 1811. Saat itu, Haji Miskin sampai di Bukit Kamang dan bertemu dengan Tuanku Nan Renceh, pemuka agama yang juga bervisi sama.

Di sana mereka sepakat merencanakan pembaharuan masyarakat secara total. Mereka didukung oleh enam pemuka lain yang kemudian disebut Harimau Nan Selapan (karena jumlahnya delapan orang). Mereka adalah Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalan, dan Tuanku di LubukAur.

Selanjutnya, pada tahun 1813 Tuanku Lintau ikut bergabung dan menjadi penganut fanatik ajaran-ajaran kaum Padri.

Sejatinya jauh sebelum itu, sekitar tahun 1807, Tuanku Muda dari Alahan Panjang dan nantinya disebut Tuanku Imam Bonjol ikut memperkuat posisi kaum Padri.

Melalui tangan dingin para pemuka itu, kaum Padri sebagaimana akan dijelaskan nanti berkembang menjadi gerakan yang menyebar di alam Minangkabau dengan segala karakteristiknya dan nantinya menguasai seluruh nagari di sana.

''Sejarah mencatat, kaum Padri tidak hanya melakukan pembaharuan keislaman di daerah Minangkabau semata. Kelompok ini juga melakukan islamisasi ke Tapanuli Selatan yang terletak di utara alam Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya,'' ujar Prof Abd A'la.

Setelah itu, paham Wahabi masih berkembang pesat di Indonesia. Pengikut manhaj dakwah Muhammad bin Abdul Wahab sangat sangat pesat pekembangannya.

Di era prakemerdekaan dan pascakemerdekkaan, pemikiran Wahabi banyak memengaruhi pemikiran Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Namun demikian, kehadiran Wahabi setelah tahun 90-an, semakin merebak dan fenomenal dengan aliran Wahabi terbaru yang menamakan diri sebagai jamaah salafiyah. Di Indonesia, gerakan salafi terpecah ke dalam beberapa kelompok.

Kelompok-kelompok Salafiyah
Sejatinya, para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab menamakan diri mereka dengan Salafiyun. Namun, para penentang dan lawan dari gerakan ini menyebutnya sebagai Wahabi. Menurut para pengikut Abdul Wahab, sebutan Wahabiyun diberikan oleh kaum orientalis agar orang menjauh.

Di kawasan Timur Tengah, aliran Salafi terpolarisasi ke dalam beberapa kelompok:

Pertama, Kelompok Salafiyah Politik. Dengan alasan universalitas risalah Islam, kelompok ini lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang akidah.

Kedua, Salafiyun Al-Albaniyun. Kelompok ini mengikuti Syekh Al-Muhandits Nashiruddin Al-Albani. Mereka memerangi fanatisme mazhab, mazhab-mazhab fikih, taklid dan loyalitas terhadapnya, sekalipun oleh kalangan awam. Tetapi pada saat yang bersamaan, mereka juga mentaklid semua pendapat Syekh Nasiruddin Al-Albani.

Ketiga, Salafiyun Al-Jamiyun. Tokohnya adalah Syekh Rabi’ Al-Madkhali. Kelompok ini sering menyerang dan menyalahkan ulama dan dai yang bertentangan dengan mereka. Keempat, pengikut Syekh bin Baz. Kelompok yang keempat ini belum terorganisir.

republika.co.id
 

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.