AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. Sabar dan Syukur yang Palsu
    Kamis, 18 Desember 2014
  2. Merkel: Hukuman Terhadap Rusia Tetap tak Terelakkan
    Kamis, 18 Desember 2014
  3. Tokoh Garis Keras ini akan Hilangkan Islam dari India
    Kamis, 18 Desember 2014
  4. Amerika Akan Gunakan Hak Vetonya, Gagalkan Upaya Palestina
    Kamis, 18 Desember 2014
  5. UE Siap Hapus Status Hamas, Israel Kalang Kabut
    Kamis, 18 Desember 2014
  6. Dituduh Tolak Perangi Boko Haram, 54 Serdadu Dihukum Mati
    Kamis, 18 Desember 2014
  7. 148 Orang Dibantai, Pakistan Bakal Hidupkan Hukuman Mati bagi Teroris
    Kamis, 18 Desember 2014
  8. "Mullah Radio", Pembantaian Anak Sekolah di Pakistan
    Kamis, 18 Desember 2014
  9. 230 Jenazah Ditemukan di Kuburan Massal di Suriah
    Kamis, 18 Desember 2014
  10. PM Abbott Heran 'Man Haron Monis' Tak Masuk Daftar Pengawasan
    Kamis, 18 Desember 2014
  11. Bank Syariah Harus Siap Hadapi MEA
    Kamis, 18 Desember 2014
  12. Nilai-Nilai Agama Mulai Terkikis Secara Sistematis
    Kamis, 18 Desember 2014
  13. Lukman Hakim Tegaskan RUU Perlindungan Beragama Jadi Prioritas Kemenag Saat Ini
    Kamis, 18 Desember 2014
  14. Din Syamsudin Kritik Pemerintah, Jangan Ada Isu Agama di Politik
    Kamis, 18 Desember 2014
  15. China Tuding Muslim Uighur Ikut Berperang dengan ISIS
    Selasa, 16 Desember 2014
  16. Sirah Nabawiyah Telah Diganti Kisah Fiksi Doraemon
    Selasa, 16 Desember 2014
  17. Amerika Serikat Minta Bantuan Vatikan Soal Tahanan Guantanamo
    Selasa, 16 Desember 2014
  18. Felix Siauw – Yusuf Mansur Larang Salam Natal, Ulil Abshar ‘Sewot’
    Selasa, 16 Desember 2014
  19. Orang Yang Paling Pantas Meraih Kemenangan adalah Orang Yang Telah Berjuang Keras dan Meredam Berbagai Kesulitan
    Selasa, 16 Desember 2014
  20. Maroko Adakan Forum Global Untuk Berantas Pejuang Asing Di Suriah Dan Irak
    Selasa, 16 Desember 2014
  21. Darurat al Aqsha Akibat Kepungan Warga Yahudi
    Selasa, 16 Desember 2014
  22. Aurat terhadap Anak Angkat
    Selasa, 16 Desember 2014
  23. Polisi India Larang Upacara Muslim Pindah Agama Hindu
    Selasa, 16 Desember 2014
  24. 84 Anak Tewas dalam Serangan ke Satu Sekolah di Pakistan
    Selasa, 16 Desember 2014
  25. Ini Man Haron Monis, Penyandera Kafe Sydney
    Selasa, 16 Desember 2014
  26. Pemimpin Komunitas Muslim Australia Sampaikan Duka Cita Mendalam
    Selasa, 16 Desember 2014
  27. Mantan Petinju Inggris Bantu ISIS
    Selasa, 16 Desember 2014
  28. Sejak Tegang dengan AS, Belanja Militer Rusia Gila-gilaan
    Selasa, 16 Desember 2014
  29. Merkel: Islamofobia tidak Diterima di Jerman
    Selasa, 16 Desember 2014
  30. Zionisme dan Penghapusan Agama
    Selasa, 16 Desember 2014
Tarekat Sammaniyah, Berkembang di Afrika Utara PDF Print E-mail

Tarekat Sammaniyah, Berkembang di Afrika UtaraFiqhislam.com - Di samping Naqsyabandiah, Syattariyah, Qadiriyah, dan Syadziliyah, umat Islam juga mengenal adanya Tarekat Sammaniyah.

Tarekat Sammaniyah merupakan salah satu cabang dari Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu Hasan Ali Asy-Syazili (wafat 1258) di Mesir. Pendiri Tarekat Sammaniyah adalah Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Hasani Al-Madani (1718-1775 M).

Tarekat ini berhasil membentuk jaringan yang sangat luas dan mempunyai pengaruh besar di kawasan utara Afrika, yaitu dari Maroko sampai ke Mesir. Bahkan, memperoleh pengikut di Suriah dan Arabia.

Aliran tarekat ini lebih banyak menjauhkan diri dari pemerintahan dan penguasa serta lebih banyak memihak kepada penduduk setempat, di mana tarekat ini berkembang luas.

Salah satu negara Afrika yang banyak memiliki pengikut Tarekat Sammaniyah adalah Sudan. Tarekat ini masuk ke Sudan atas jasa Syekh Ahmad At-Tayyib bin Basir yang sebelumnya belajar di Makkah sekitar tahun 1800.

Pemimpin Tarekat Sammaniyah di Sudan yang terkenal ialah Syekh Muhammad Ahmad bin Abdullah (1843-1885) yang pernah memproklamasikan dirinya sebagai Imam Mahdi (pemimpin yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh masyarakat). Ia adalah seorang pemimpin dan anggota Tarekat Sammaniyah yang sangat saleh dan kehadirannya dinanti-nantikan oleh masyarakat Sudan.

Syekh Muhammad Ahmad menghendaki adanya perbaikan-perbaikan terhadap praktik-praktik keagamaan sesuai dengan agama Islam yang benar. Ia memberikan berbagai perintah tentang bermacam-macam aspek keagamaan, seperti pengasingan (pingitan) terhadap kaum wanita dan pembagian tanah kepada rakyat, dan berusaha memodifikasi berbagai praktik keagamaan masyarakat Sudan yang pada waktu itu dilakukan sebagai tradisi. Ini semua bertujuan untuk menyesuaikan tradisi mereka dengan ajaran-ajaran syariat.

Syekh Muhammad Ahmad juga menentang pemakaian jimat, penggunaan tembakau dan alkohol, ratapan wanita pada upacara pemakaman jenazah, penggunaan musik dalam prosesi keagamaan, dan ziarah ke kuburan orang-orang suci (wali).

Dalam rangka meniru hijrah Nabi Muhammad SAW, ia dan para pengikutnya mengasingkan diri di Pegunungan Kardofan, lalu menyebut diri mereka sebagai Anshar (penolong) Nabi SAW. Lebih jauh, kelompok ini berhasil membentuk pemerintahan revolusioner dengan organisasi militer yang sangat rapi dan mempunyai sumber keuangan yang teratur serta administrasi yang baik.

Amalan Sammaniyah
Ciri-ciri Tarekat Sammaniyah adalah berzikir La Ilaha Illa Allah dengan suara yang keras oleh para pengikutnya.

Dalam mewiridkan bacaan zikir, para murid Tarekat Sammaniyah biasa melakukannya secara bersama-sama pada malam Jumat di masjid-masjid atau mushala sampai tengah malam.

Selain itu, ibadah yang diamalkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani adalah shalat sunah Asyraq (setelah Subuh) dua rakaat, shalat sunah Dhuha sebanyak 12 rakaat, memperbanyak riyadhah (melatih diri lahir batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT), dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

Berikut adalah beberapa ajarannya yang terkenal. Pertama, memperbanyak shalat dan zikir. Kedua, bersikap lemah lembut kepada fakir miskin. Ketiga, tidak mencintai dunia. Keempat, menukarkan akal basyariyah (kemanusiaan) dengan akal rabbaniyah (ketuhanan). Kelima, menauhidkan Allah SWT, baik dalam zat, sifat, maupun af'al-Nya.

Syekh Samman, sang pendiri Sammaniyah
Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan sang tokoh pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samani Al-Hasani Al-Madani Al-Qadiri Al-Quraisyi. Ia adalah seorang fakih, ahli hadis, dan sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 1132 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1718 Masehi. Keluarganya berasal dari suku Quraisy.

Semula, ia belajar Tarekat Khalwatiyyah di Damaskus. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik zikir, wirid, dan ajaran tasawuf lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah SWT yang akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah.

Demi memperoleh ilmu pengetahuan, ia rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negeri yang pernah ia singgahi untuk menimba ilmu di antaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, dan Transoxiana (wilayah Asia Tengah saat ini).

Karyanya yang paling terkenal adalah kitab Al-Insab. Ia juga mengarang buku-buku lain, seperti Mu'jamul Mashayekh, Tazyilul Tarikh Baghdad, dan Tarikh Marv.

Syekh Muhammad Samman dikenal sebagai tokoh tarekat yang memiliki banyak karamah. Baik kitab Manaqib Syekh al-Waliy Al-Syahir Muhammad Saman maupun Hikayat Syekh Muhammad Saman, keduanya mengungkapkan sosok Syekh Samman.

Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad Samman terkenal akan kesalehan, kezuhudan, dan kekeramatannya. Konon, ia memiliki karamah yang sangat luar biasa.

''Ketika kaki diikat sewaktu di penjara, aku melihat Syekh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus,'' kata Abdullah Al-Basri. Padahal, kata seorang muridnya, Syekh Samman berada di kediamannya sendiri.

Adapun perihal awal kegiatan Syekh Muhammad Samman dalam tarekat dan hakikat, menurut Kitab Manaqib, diperolehnya sejak bertemu dengan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Suatu ketika, Syekh Muhammad Samman berkhalwat (menyendiri) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu, datang Syekh Abdul Qadir Jailani yang membawakan pakaian jubah putih. ''Ini pakaian yang cocok untukmu.''

Syekh Jailani kemudian memerintahkan Syekh Muhammad Samman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon, Syekh Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW untuk menyebarkannya kepada penduduk Kota Madinah. Wallahua’lam.

Hubungan Tari Saman Aceh dengan Sammaniyah
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah provinsi paling barat di bumi nusantara. Daerah ini dikenal sebagai 'Serambi Makkah'-nya nusantara. Agama Islam yang masuk ke Indonesia dipercaya juga berawal dari wilayah ini. Tak heran bila nuansa keislaman sangat kental di provinsi paling barat di Indonesia tersebut.

Sebagaimana disebutkan, Tarekat Sammaniyah pertama kali masuk ke Indonesia melalui Aceh dan dibawa oleh Syekh Abdussamad Al-Falimbani sekitar abad ke-18, salah seorang murid Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani Al-Hasani Al-Madani, pendiri Tarekat Sammaniyah.

Tarekat Sammaniyah mengajarkan zikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah kepada murid-muridnya. Wirid dan zikir itu biasanya diamalkan seusai melaksanakan shalat lima waktu dan dengan cara duduk bersila.

Seiring dengan perkembangannya, zikir dan wirid Sammaniyah terus berkembang. Di Sudan dan Nigeria (Afrika Utara), zikir dan wirid Sammaniyah ini dilaksanakan dengan cara berdiri sambil memuji kebesaran Allah SWT. Tak hanya wirid seusai shalat lima waktu, zikir dan wirid Sammaniyah biasanya dilaksanakan pada peringatan hari besar Islam, seperti maulid Nabi SAW, Isra Mikraj, dan sebagainya.

Adakah hubungan antara zikir Sammaniyah dan tari Saman di Aceh? Belum ada penjelasan yang paling sahih mengenai keberadaan masalah ini.

Dalam beberapa literatur yang penulis temukan, tarian Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.

Siapakah Syekh Saman Aceh ini? Hingga kini, penulis belum menemukannya. Tercatat, ia adalah seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh.

Pengamat sejarah Gayo, Ir Wahab Daud, menjelaskan, tari Saman sangat identik dengan agama Islam karena tarian ini dikembangkan sebagai alat untuk mengembangkan agama Islam, khususnya di dataran tinggi Gayo Lues.

Liriknya bermakna nasihat, petuah agama, petunjuk hidup, dan sebagainya. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Tari Saman biasanya diawali dengan salam pembuka dari syekh (pemuka adat atau pimpinan dari tari Saman). Selanjutnya, disampaikan petuah-petuah tentang menjalani kehidupan umat manusia. Tarian ini dilakukan oleh sedikitnya delapan orang. Terkadang, dilakukan oleh 17 orang. Orang yang duduk pada posisi nomor sembilan (tengah) bertindak sebagai pimpinan (syekh).

Pada mulanya, tarian ini hanya merupakan permainan rakyat biasa yang disebut Pok Ane. Melihat minat yang besar masyarakat Aceh pada kesenian ini, Syekh Saman pun menyisipkan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT.

Sehingga, tari Saman menjadi media dakwah saat itu. Dahulu, latihan Saman dilakukan di bawah kolong meunasah (sejenis surau pada saat itu yang berbentuk panggung). Sehingga, mereka tidak akan ketinggalan untuk shalat berjamaah.

Sejalan dengan kondisi Aceh yang berada dalam peperangan, syekh pun menambahkan syair-syair yang menambah semangat juang rakyat Aceh. Tari ini terus berkembang sesuai kebutuhannya. Sampai sekarang, tari ini lebih sering ditampilkan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan kenegaraan.

Tak ditemukan penjelasan lain dari Wahab Daud mengenai asal mula tari Saman. Pun, demikian dengan Mudha Farsyah, peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. Ia hanya menyebutkan, tari Saman berasal dari Aceh Gayo yang diciptakan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan Islam di Aceh, khususnya Gayo. Penulis belum menemukan biografi Syekh Saman, pendiri atau pencipta tari Saman ini.

Tentu, akan sangat menarik dan semakin jelas bila ada riwayat hidup Syekh Saman ini, kemudian asal mula diciptakannya tarian ini. Benarkah tarian ini memiliki hubungan dengan Tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani Al-Hasani al-Madani? Apakah tari Saman memang merupakan budaya asli Aceh yang dikembangkan dari zikir dan wirid? Wallahua’lam.

republika.co.id

 

 

  •  Syattariyah, Tarekat dari Negeri Hindustan

  •  Tarekat Tijaniyah, Motor Penyebaran Islam di Afrika

  •  Kesesatan Tarekat Naqsyabandi Haqqani

  •  Prinsip Dasar dan Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah

  •  Aliran-Aliran Tarekat: Empat Tarekat Utama

  •  Tarekat-tarekat Sufi

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.