FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
BERITA NASIONAL
RI Terpilih Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB
BERITA INTERNASIONAL
Iran Bekuk Agen Asing di Lokasi Reaktor Nuklir
BERITA INTERNASIONAL
'Sampai Bendera Hitam Berkibar di Istana Buckingham'
BERITA INTERNASIONAL
ISIS Luncurkan Serangan ke Wilayah Kurdi di Irak
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Muharram (Suro), Bulan Yang Mulia
SEJARAH ISLAM DUNIA
Istana Golestan Jejak Imperium Persia Islam
ARTIKEL ISLAMI
Misrepresentasi Muslimah Dalam Wacana Feminis
MUALAF
Ustadz Datang, Sekampung Bersyahadat
BERITA INTERNASIONAL
Rusia Akan Selalu Dukung Pemerintah Irak dan Suriah
BERITA INTERNASIONAL
Iran Siap Kirim Senjata untuk Tentara Libanon
BERITA INTERNASIONAL
Rafsanjani: Ambisi Israel Hanya Fatamorgana
BERITA INTERNASIONAL
Anggota Knesset: Tentara Israel dan ISIS Mesin Pembunuh
ARTIKEL ISLAMI
Napas Waktu Subuh
21 Oktober 2014
Napas Waktu Subuh
ARTIKEL ISLAMI
Makna Rumah
21 Oktober 2014
Makna Rumah
MUALAF
Tahun Baru Islam di Mata Mualaf
BERITA INTERNASIONAL
Jet Tempur Prancis Serang Sasaran IS di Irak
BERITA INTERNASIONAL
Pasukan Peshmerga Irak Bantah akan ke Kobane
BERITA UMRAH DAN HAJI
Total Jamaah Haji Meninggal Sebanyak 236 Orang
RUMAH TANGGA
Mendulang Pahala Didalam Rumah
DUNIA ISLAM
Netanyahu: Al Quds Adalah Ibukota Israel
POPULER
ARTIKEL ISLAMI
Pemimpin Kafir
ARTIKEL ISLAMI
Tiga Tempat dalam Ikhlas
BERITA INTERNASIONAL
ISIS Masuk ke Makam Suleiman Turki
NABI MUHAMMAD SAW
Ambisi Utama Nabi Muhammad Saw
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Kemenangan Iblis
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Rahasia Pembuka Rezeki
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Mengapa Kematian Dirahasiakan oleh Allah
ARTIKEL ISLAMI
Tobat Terus Menerus
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Jangan Engkau Tukar Akhirat dengan Dunia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
40 Hari Setelah Orang Meninggal
ARTIKEL ISLAMI
Menjadi Orang Bahagia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Berkurban untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Ciri-ciri Ahli Syukur
Syattariyah, Tarekat dari Negeri Hindustan PDF Print E-mail

Syattariyah, Tarekat dari Negeri HindustanFiqhislam.com - Di Indonesia, terdapat banyak sekali aliran tasawuf yang dikembangkan melalui tarekat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), melalui Jam'iyyah Ahlith Thariqah Mu'tabarah An-Nahdliyyah, mengakui bahwa ada 42 tarekat yang populer di Indonesia. Salah satunya adalah Tarekat Syattariyah.

Tarekat Syattariyah pertama kali muncul di Hindustan (India) pada abad ke-15. Seperti tarekat lainnya, nama tarekat ini juga dinisbatkan pada tokoh yang menjadi pembawa atau pelopornya, yakni Syekh Abdullah Asy-Syattar.

Tarekat ini pernah menduduki posisi penting di dunia Islam karena pengaruhnya yang besar dan mendapatkan sambutan luas dari masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia.

John L Esposito, dalam Ensiklopedia Dunia Islam Modern, menyatakan, meski di banyak negara Muslim ajaran yang dibawa oleh Abdullah Asy-Syattar dikenal dengan nama Tarekat Syattariyah; di beberapa tempat, seperti Iran dan kawasan Transoksania (Asia Tengah), ia lebih dikenal dengan nama lain.

Di kedua wilayah ini, ajaran Abdullah Asy-Syattar lebih dikenal dengan nama Isqiyah karena Abu Yazid Al-Isqi dianggap sebagai tokoh utamanya. Sedangkan, di wilayah Turki Utsmani (Kerajaan Ottoman), tarekat ini disebut Bistamiyah.

Dalam perkembangannya, Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari kelompok sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat yang berdiri sendiri dan memiliki karakteristik dalam hal keyakinan dan praktik.

Sementara itu, mengenai sang tokoh, yakni Abdullah Asy-Syattar, hanya sedikit riwayat yang bisa diketahui. Dalam Ensklopedi Islam, disebutkan bahwa Abdullah Asy-Syattar ini kemungkinan besar dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara (Samarkand). Di sinilah, dia diresmikan menjadi anggota Tarekat Isqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

Namun, pada abad ke-15, popularitas Tarekat Isqiyah memudar karena perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah yang sangat pesat di kawasan Asia Tengah. Karena itu, Abdullah Asy-Syattar memutuskan pindah ke India. Semula, ia tinggal di Jawnpur. Kemudian, pindah ke Mondu, sebuah kota Muslim di daerah Malwa (Multan). Keputusan yang diambilnya ternyata tepat karena di sinilah akhirnya dia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah.

Tidak diketahui, apakah perubahan nama dari Tarekat Isqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India atau atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya pada tahun 1428 M.

Sepeninggal Abdullah Asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya. Salah seorang murid yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Syattariyah sebagai satu tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (wafat 1526 M).

Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini, Tarekat Syattariyah terus berkembang ke Makkah, Madinah, dan sampai pula ke Indonesia.

Sufi India
Tidak dapat dimungkiri bahwa penyebaran Tarekat Syattariyah ke berbagai negara Islam ditunjang oleh kemasyhuran para sufi India sehingga hal itu menimbulkan daya tarik yang besar.

Sejak abad ke-16 sampai abad ke-18, para sufi India banyak yang menetap di Makkah, Madinah, Irak, Iran, Turki, Asia Tengah, dan Asia Tenggara. Mereka berhasil menyebarkan ide-ide dan ajaran-ajaran yang mereka anut. Di antara para sufi itu adalah pengikut dan penganjur Tarekat Syattariyah.

Salah seorang tokoh sufi terkemuka dari India yang mengajarkan Tarekat Syattariyah di Makkah dan Madinah adalah Sibgatullah bin Ruhullah (wafat tahun 1606). Sementara itu, yang memopulerkan Tarekat Syattariyah di negara-negara yang menggunakan bahasa Arab adalah Ahmad Sinhawi (wafat 1619), murid Sibgatullah. Salah seorang khalifahnya adalah Ahmad Qusasi (1583-1661) yang berasal dari Palestina.

Adapun tokoh penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di Madinah adalah Ibrahim Al-Kurani (wafat 1689) yang berasal dari Turki. Ibrahim Al-Kurani tampil menggantikan Ahmad Qusasyi sebagai pemimpin tertinggi Tarekat Syattariyah. Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad Qusasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia.

Ajaran dan zikir Tarekat Syattariyah
Bila menyebut sebuah ajaran tarekat, yang paling banyak diajarkan dalam ritualnya adalah zikir. Dan zikir adalah salah satu amalan yang paling utama dalam sebuah tarekat. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, ''Ketahuilah bahwa sesungguhnya zikir itu akan menenangkan hati. Sebaik-baik zikir adalah dengan membaca Laa Ilaha Illallah.''

Karena itulah, zikir dan wirid, untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi hal yang paling utama dalam sebuah tarekat. Demikian halnya dengan Tarekat Syattariyah. Dalam ajaran dan ritualnya, tarekat ini juga banyak melafalkan kalimat-kalimat tauhid dan Asmaul Husna sebagai bagian dari wirid dan zikir.

Para pengikut tarekat ini akan mencapai tujuan-tujuan mistik (kesufian) melalui kehidupan asketisme atau zuhud. Untuk menjalaninya, seseorang terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar (orang-orang terpilih) dan abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia zikir.

republika.co.id