FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
ISLAM INDONESIA
Umat Islam Harus Bersyukur Punya FPI
ARTIKEL UMUM
Injiil Mathius Adalah Kitab Yahudi
ISLAM INDONESIA
Kristenisasi Sudah Melewati Batas Kesabaran
BERITA INTERNASIONAL
Hamas Rencanakan Pembunuhan Terhadap Menlu Israel
ISLAM INDONESIA
Indonesia Bela Al-Aqsha
21 November 2014
Indonesia Bela Al-Aqsha
EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN SYARIAH
Pembiayaan Syariah Terhadap UMKM Capai Rp 112 Triliun
DUNIA ISLAM
Masjid di Havana Siap Dibangun
DUNIA ISLAM
Belajar dari Konflik Kosovo-Serbia
ISLAM INDONESIA
UU Penodaan Agama Dihapus, Indonesia Bakal Kacau
ARTIKEL ISLAMI
Rezeki Kita, Soal Rasa
20 November 2014
Rezeki Kita, Soal Rasa
FIQH EKONOMI, BISNIS DAN KEUANGAN
Enam Adab Muslim Dalam Urusan Hutang-Piutang
ARTIKEL ISLAMI
Mengapa Orang Beragama Lebih Sehat?
BERITA INTERNASIONAL
Stallone dan Schwarzenegger Ajak Hollywood Bantu Teroris
DUNIA ISLAM
Erdogan: Umat Islam Tidak Percaya Diri
BERITA INTERNASIONAL
Jaksa Mesir Tuntut Hukuman Mati bagi Morsi
BERITA INTERNASIONAL
Korut Marah Diseret ke Mahkamah Pidana Internasional
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Tauhid, Pohon Kehidupan Manusia
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Jejaring Setan
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Pilih Amal Baik atau Amal Banyak
BERITA INTERNASIONAL
ISIS ‘Tebar Pesona’ di Lebanon
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Enam Cara Menahan Amarah
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Rahasia Doa Mengatasi Hutang
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Hakikat Masjid
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
15 Sifat Manusia dalam Al Quran
Pendiri Madzhab: Imam Maliki, Sosok Ulama yang Konsisten PDF Print E-mail

Pendiri Madzhab: Imam Maliki, Sosok Ulama yang KonsistenFiqhislam.com - Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu ketika Khalifah Harun Al-Rasyid memerintahkan Imam Maliki, melalui utusan sang khalifah, untuk membacakan kitab Al-Muwatha' karangannya di istana Bani Abbasiyah di Baghdad.

Namun, Imam Maliki menolak. Ia menjawab, ''Semoga Allah memuliakan raja-raja Islam. Ilmu itu asalnya dari leluhur Anda (Harun Al-Rasyid berasal dari keluarga Nabi Muhammad SAW). Jika Anda memuliakan ilmu, ilmu itu tentu jadi mulia. Dan sebaliknya, ilmu itu akan jadi hina jika Anda menghinakannya. Ilmu itu haruslah dicari, bukan ilmu yang mencari penuntutnya. Jadi ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.''

Dalam keterangan lain, Imam Maliki berkata, ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.''

Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya di Madinah dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Ketegasan sikap Imam Maliki bukan sekali saja. Berulang kali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan akidah Islamiyah, Imam Maliki menentang tanpa takut dengan risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, Gubernur Madinah.

Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Al-Mansur itu meminta seluruh penduduk Madinah melakukan baiat (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Maliki yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin jika penduduk Madinah melakukan baiat kepada khalifah yang tak mereka sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya baiat tanpa keikhlasan, seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Maliki tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Maliki sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang Imam diarak keliling Madinah dengan untanya.

Namun, ternyata Khalifah Al-Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkannya untuk meminta maaf kepada sang Imam.

Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Maliki bermukim di Ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang Imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Maliki lebih suka tinggal di Kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah, kecuali untuk berhaji.

Ini adalah gambaran ketegasan dan konsistensi Imam Maliki. Ia bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaimah bin Kutail bin Amr bin Haris Al-Asbahi. Imam Maliki lahir di Madinah pada 93 H (712 M). Ia berasal dari keluarga Arab terhormat dan berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman. Namun, setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun ke-2 H.

Sejak kecil, Imam Maliki tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya. Kakek, ayah, dan pamannya pun termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, Imam Maliki pun mempelajari ilmu hadits dari sang ayah dan pamannya. Meski demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal, seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir.

Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz (tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa, dan ilmu berdebat), Imam Jafar Shadiq, dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Maliki telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu membuat hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al-Mansur, Al-Mahdi, Al-Hadi, dan Harun Al-Rasyid, pernah jadi murid Imam Maliki.

Ulama besar Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Maliki. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat, murid terkenal Imam Maliki mencapai 1.300 orang.

Kendati berasal dari keluarga dengan status sosial tinggi, dalam mencari ilmu, Imam Maliki rela mengorbankan apa saja. Sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Ciri pengajaran Imam Maliki adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali, Khalifah Al-Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Maliki membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik dan lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki Masjid Kufah. Tetapi, Imam Maliki yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya.

Mencium tangan khalifah apabila menghadap di istana sudah menjadi adat kebiasaan di masa itu. Namun, Imam Maliki tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) yang mengunjunginya.

Demikianlah, Imam Maliki dengan kebesaran jiwanya adalah sosok ulama dan intelektual yang mau dikritik dan tidak malu dikritik. Ia juga tidak malu untuk mengatakan tidak tahu terhadap persoalan yang diajukan pada dirinya, jika memang ia tidak tahu. Imam Maliki wafat pada tahun 179 H ketika berumur 86 tahun. Ia meninggalkan tiga orang putra dan seorang putri.

Kemuliaan dan kecerdasan Imam Maliki banyak dikagumi ulama lainnya. Imam Syafi'i pernah berkata, ''Imam Maliki adalah pendidik dan guruku. Darinya kita mempelajari ilmu pengetahuan. Tidak seorang pun yang jujur dan benar bagiku selain Imam Maliki. Aku menjadikan beliau sebagai saksi antara aku dan Allah.''

Sebagai ahli hadits dan fikih, Imam Maliki banyak menuliskan pikiran-pikirannya dalam berbagai karya. Dari seluruh karyanya, salah satu yang termasyhur adalah Al-Muwatha', kitab fikih yang disusun berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan.

Kitab ini merupakan salah satu dari Kutubut Tis'ah (sembilan kitab hadits ulama di kalangan Sunni) dan menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer.

Al-Muwatha': karya fenomenal sang imam
Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al-Muwatha' takkan lahir bila Imam Maliki tidak dipaksa Khalifah Al-Mansur, penguasa khilafah Islamiyah saat itu. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al-Mansur meminta Imam Maliki mengumpulkan hadits dan membukukannya.

Awalnya, Imam Maliki enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al-Muwatha'. Kitab ini ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Khalifah Al-Mahdi (775-785 M).

Dunia Islam mengakui Al-Muwatha' sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan kitab fikih yang berisi kumpulan hadits paling sahih yang dipilih dengan penelitian sumber yang amat cermat. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Maliki hanya memasukkan 1.720 hadits.

Imam Maliki menyusun kitab ini menjadi dua bagian. Bagian pertama mengenai perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW (juga dikenal sebagai sunah) serta riwayat perkataan dan perbuatan Nabi tersebut (hadits). Kedua, mengenai pendapat dan keputusan resmi sahabat Nabi, penerus mereka, dan beberapa ulama kemudian.

Khalifah Harun Al-Rasyid ingin menetapkan Al-Muwatha' sebagai pegangan utama di negara Islam itu dan menggantungkannya di dinding Ka'bah. Namun, Imam Maliki melarangnya dengan mengutip hadits bahwa perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah rahmat. Imam Maliki juga mengatakan, kalau pendapatnya bertentangan dengan Alquran dan sunnah, hendaknya pendapat itu ditinggalkan.

Dalam menyusun kitab Al-Muwatha', Imam Maliki tidak memberikan nomor. Baru di kemudian hari beberapa pihak menambahkan nomor pada kitab Al-Muwatha' untuk memudahkan perujukan hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan.

Selain Al-Muwatha', Imam Maliki juga menyusun kitab Al-Mudawwanah al-Kubra yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Maliki atas berbagai persoalan yang dijadikan rujukan Mazhab Maliki.

Kitab lain yang dijadikan rujukan pengikutnya (Mazhab Maliki) adalah Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan al-Risalah fi al-Fiqh al-Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Ashl al-Madarik Syarh Irsyad al-Masalik fi Fiqh al-Imam Malik (karya Shihabuddin Al-Baghdadi), dan Bulgah al-Salik li Aqrab al-Masalik (karya Syekh Ahmad As-Sawi).

Pendiri Mazhab Maliki
Pandangan dan fatwa-fatwa Imam Maliki membuat banyak pihak mengaguminya. Karena itu, muncullah aliran atau Mazhab Maliki yang disandarkan pada Imam Maliki.

Sebenarnya, banyak mazhab atau aliran dalam Islam. Sampai pertengahan abad keempat, terdapat sekitar 13 mazhab terkenal yang dianut dan dijadikan rujukan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.

Dari semua mazhab yang berkembang saat ini, ada empat yang paling populer di kalangan umat Islam dan mendapatkan perhatian intelektual yang sangat besar dari para pengikutnya. Keempat mazhab itu adalah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i, dan Mazhab Hanbali.

Mazhab Maliki merupakan kebalikan dari Mazhab Hanafi. Kalau Mazhab Hanafi banyak sekali mengandalkan nalar dan logika karena kurang tersedianya nash-nash yang valid di Kufah, Mazhab Maliki justru kebanjiran sumber-sumber syariah. Sebab, mazhab ini tumbuh dan berkembang di kota Nabi SAW sendiri (Madinah), di mana penduduknya adalah anak keturunan para sahabat.

Imam Maliki sangat meyakini bahwa praktik ibadah yang dikerjakan penduduk Madinah sepeninggal Rasulullah SAW bisa dijadikan dasar hukum meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang sahih pada umumnya.

Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Alquran, sunah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli Madinah), qiyas (analogi), dan al-maslahah al-mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Makkah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Maroko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut Mazhab Maliki kini menyusut.

Mayoritas penduduk Makkah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Maroko saat ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.

republika.co.id