<data:blog.pageName/> <data:blog.title/> <data:blog.pageName/> <data:blog.title/> <data:blog.title/>
24 April 2014
Siapakah Imam Mahdi Itu? PDF Print E-mail

Siapakah Imam Mahdi Itu? Fiqhislam.com - Umat Islam, baik Sunni maupun Syiah meyakini akan datangnya keyakinan bahwa pada akhir zaman akan datang seorang juru selamat yang akan menyelamatkan kehidupan umat manusia di muka bumi dari ketidakadilan, kesengsaraan, dan kekejaman yang akan membawa pada kebahagian dan kedamaian, bernama Imam Mahdi.

Harapan dan klaim akan datangnya Imam Mahdi atau Ratu Adil selalu hadir pada setiap zaman.  Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, faktor-faktor historis dan sosiologis yang terjadi di kalangan umat Islam,  pada abad pertama Hjiriah, setelah Rasulullah SAW wafat pada 632 H,  telah memunculkan pengharapan akan datangnya Imam Mahdi.

Keyakinan akan datangnya seorang juru penyelamat atau Imam Mahdi berakar kuat,  baik di kalangan Sunni maupun Syiah. Keyakinan umat Islam akan datangnya Imam Mahdi pada akhir zaman tak lepas dari keberadaan hadis Nabi SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, ’’Dunia akan dipimpin oleh seseorang dari keluargaku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya dunia ini hanya tinggal sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu, sehingga ia akan memimpinnya.’’

Menurut Ensiklopedi Islam, Imam Mahdi adalah seorang juru selamat dia akhir zaman. Imam  Mahdi diyakini sebagai seorang Muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah SWT untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

‘’Istilah Imam Mahdi muncul dan berhubungan dengan aqidah mahdawiyyah,’’ tulis Ensiklopedi Islam. Yakni, keyakinan bahwa pada akhir zaman akan datang seorang juru selamat yang akan menyelamatkan kehidupan umat manusia di muka bumi dari ketidakadilan, kesengsaraan, dan kekejaman yang akan membawa pada kebahagian dan kedamaian.
 
Lalu seperti apa figur Imam Mahdi yang dinantikan itu? Ada empat pendapat tentang figur Imam Mahdi.  Menurut kelompok pertama,  Imam Mahdi adalah seorang yang berasal dari keturunan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW. Ia berasal dari ahlulbait, yang namanya sama dengan Nabi SAW. Imam mahdi akan datang pada akhir zaman.

Menurut kelompok kedua, Imam Mahdi hanya figur seorang penyelamat kehidupan umat Manusia. Penganut pendapat ini menegaskan, figur Imam Mahdi tak harus berasal dari keturunan Fatimah Az-Zahra saja, yang jelas ia adalah seorang Muslim.

Kelompok ketiga berpendapat, bahwa Imam mahdi bukan merupakan figur seseorang, tetapi lambang atau simbol kemenangan yang haqq (benar) terhadap yang batil atau simbol kemenangan terhadap ketidakadilan. Anggapan ini banyak dianut oleh pemikir-pemikir modern.

Pendapat keempat menyatakan bahwa Imam Mahdi adalah figur yang jelas, berasal dari keturunan Fatimah atau ahlulbait, dan merupakan salah seorang dari imam-imam ahlulbait. Tiga pendapat pertama lebih banyak dianut kalangan ahlusunah waljamaah, dan pendapat keempat dianut oleh pengikut Syiah.

Sejak awal abad pertama Hijriah telah banyak tokoh di berbagai belahan dunia Islam yang mengaku atau dianggap sebagai Imam Mahdi. ‘’Harapan datangnya Mahdi ke tengah-tengah masyarakat Islam mencerminkan makna pengharapan yang makin meningkat dan tetap menjadi sumber laten tantangan kepuasan moral dan tirani politik dalam pemerintah Muslim,’’ ujar Esposito.

Imam Mahdi: dari Zaman ke Zaman

Setelah Rasulullah SAW wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah/ Juni  632 M, muncul sebuah pengharapan di kalangan umat Islam akan kedatangan seorang ratu adil atau dikenal dengan Imam Mahdi. Keyakinan akan datangnya seorang juru penyelamat atau Imam Mahdi berakar kuat,  baik di kalangan Sunni maupun Syiah.

Menurut Ensiklopedi Islam, Imam Mahdi adalah seorang juru selamat dia kahir zaman. Imam  Mahdi diyakini sebagai seorang Muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah SWT untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

‘’Istilah Imam Mahdi muncul dan berhubungan dengan aqidah mahdawiyyah,’’ tulis Ensiklopedi Islam. Yakni, keyakinan bahwa pada akhir zaman akan datang seorang juru selamat yang akan menyelamatkan kehidupan umat manusia di muka bumi dari ketidakadilan, kesengsaraan, dan kekejaman yang akan membawa pada kebahagian dan kedamaian.

John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, mengungkapkan,  Mahdi (orang yang diberi petunjuk ilahiah) merujuk pada figur eskatologis yang akan hadir untuk memimpin pada masa keadilan dan keyakinan sejati menjelang tibanya hari kiamat.

‘’Asal usul kata Mahdi tak ditemukan dalam Alquran, kaum Muslim awal menggunakan gelar kehormatan itu untuk Nabi SAW dan empat khalifah pertama,’’ ujar Esposito. Keyakinan umat Islam akan datangnya Imam Mahdi pada akhir zaman tak lepas dari keberadaan hadis Nabi SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, ’’Dunia akan dipimpin oleh seseorang dari keluargaku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya dunia ini hanya tinggal sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu, sehingga ia akan memimpinnya.’’

Rasulullah juga bersabda, ‘’Al-Mahdi berasal dari keturunanku. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan pemerataan sebagaimana telah dipenuhi oleh kezaliman dan dan ketidakadilan, ia akan berkuasa selama tujuh tahun.’’ (HR At-Tirmizi).

Menurut Ensiklopedi Islam, sebagian ulama menganggap hadis mengenai kedatangan Imam Mahdi itu bersifat mutawatir, karena  diriwayatkan oleh banyak pihak, sehingga dipastikan hadis itu benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Lalu sejak kapan harapan akan munculnya  harapan dan sosok yang diklaim sebagai Imam Mahdi itu muncul?  Menurut Esposito begitu banyak pengklaim Imam Mahdi dalam sejarah peradaban Islam. Guru Besar  Studi Islam pada  Universitas Universitas Georgetown, Amerika Serikat  (AS) itu mengungkapkan,  istilah Imam Mahdi dikembangkan oleh kalangan Syiah untuk menjuluki Muhammad Ibnu Hanafiyah.

Putra Khalifah Ali yang mengorganisasikan sebuah revolusi pada 685 M itu sangat dihormati oleh pengikut Syiah.  Muhammad Ibnu Hanafiyah, kata Esposito,dipandang sebagai ‘’orang yang mendapat petunjuk’’, tidak dianggap mati, tetapi diyakni tersembunyi.

‘’Dia diyakni memiliki pengetahuan esoteris yang diperlukan untuk membebaskan para pengkitnya dari penindasan dan untuk menegakkan masyarakat yang adil,’’ papar Esposito. Kaum Syiah juga menganggap Muhammad bin Hasan Al-Askari – Imam ke-12 – yang gaib pada tahun 878 M, dianggap sebagai Imam Mahdi.

Dalam perkembangan sejarah Islam, sosok yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi tak terhitung jumlahnya. Pada setiap abad, selalu ada saja tokoh yang memiliki pengikut yang banyak sebagai seorang Imam Mahdi.  Pada abad ke-10 M, misalnya, Khalifah Dinasti Fatimiyah yang pertama, Muhammad Ubaid Allah (wafat 934 M) mengaku sebagai Imam Mahdi.

‘’Dengan menampakkan  diri di Jabal Massa yang terletak di wilayah Maghribi (Afrika Utara),  dia mengaku sebagai keturunan dari anak perempuan Nabi SAW, Fatimah, dan sebagai saudara laki-laki dari Imam ke-12 yang tersembunyi,’’ ungkap Esposito.

Pada abad ke-12 M, pendiri gerakan reformasi Al-Muwahhidun, Muhammad Ibnu Tumart (wafat 1130 M), juga mengaku sebagai Imam Mahdi yang berasal dari keturunan Khalifah Ali.  Memasuki abad ke-15, berbagai kelompok Islam mulai menghidupkan kembali harapan mereka akan masa depan yang lebih baik.

Di kota suci Makkah dan Madinah, papar Esposito, sejumlah ulama menulis pendapat mereka  untuk mempertegas keyakinan umum akan kemunculan seorang mujaddid  (pembaru) pada abad peralihan.

Bahkan, seorang ahli fikih Sunni terkemuka, Ibnu Al-Hajar Al-Maliki, menyatakan Imam Mahdi akan muncul pada milenium itu. Menurut Ibnu Al-Hajar, Imam Mahdi itu berasal dari keturunan Fatimah, putri Nabi. Namanya akan sama dengan nama Nabi, serta orangtuanya sesuai dengan nama orangtua Nabi. 

Pada abad ke-15 M, di anak Benua India juga bermunculan tokoh yang mengaku sebagai Mahdi.  Pada 1495 M, seorang tokoh bernama Sayyid Muhammad dari Jaunpur mengaku sebagai Imam Mahdi. Uniknya, ia mengaku sebagai Imam Mahdi saat berada di Makkah, sembari  melaksanakan thawaf mengelilingi Ka’bah.

Saat kembali ke India, di Masjid Utama Taj khan Salar di Ahmebad, Sayyid Muhammad kembali mengumumkan klaimnya sebagai Imam Mahdi.  Untuk memperkuat pengakuannya sebagai Mahdi, disebutkan pula bahwa nama kedua orangtuanya adalah Abdullah dan Aminah.

Esposito mencatat, datangnya abad ke-13 Hijriah (1785-1883) sempat memunculkan harapan besar dari kaum Muslim akan datangnya Imam Mahdi. Pada zaman itu, paling tidak ada tiga orang pemimpin gerakan reformasi di Afrika Barat yang mengaku sebagai Mahdi untuk memperkuat jihad yang mereka lakukan. Ketiganya adalah Syeik Usuman Dan Fodio dari Sakoto, Syekh Ahmadu Bari dari masina, dan Al-Hajj Umar Tal dari Kerajaan Tukolor.

Harapan akan datangnya Imam Mahdi dari Timur, kata Esposito, sempat menarik gelombang imigran Afrika Barat sampai ke Nil. Pada abad ke-19, lalu muncullah seorang yang mengaku Imam Mahdi di Sudan, bernama Mahdi Muhammad Ahmad dari Sudan.

Di Mesir juga sempat muncul beberapa tokoh yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Para tokoh yang mengaku sebagai Mahdi itu menjadi pemimpin pemberontakan rakyat melawan penjajah Prancis. Bahkan, menjelang akhir abad ke-19 M, revolusi Mahdi melawan penjajah Eropa merebak di berbagai negara berpenduduk Islam, seperti India, Aljazair, Senegal, Ghana, dan Nigeria.

Imam Mahdi dalam Peradaban Manusia

Muhammad Baqir As-Sadr dalam Al-Mahdi Al-Muntazhar fi Fikril Islamy, mengungkapkan, ide kemunculan Imam Mahdi  yang akan menyebarluaskan keadilan  dan kesejahteraan melalui kemunculannya pada kahir zaman diyakini oleh tiga agama besar serta mayoritas penduduk dunia.

‘’Imam Mahdi itu akan memusnahkan kezaliman dan penindasan di seluruh penjuru dunia, dan merealisasikan keadilan  dan kesederajatan  di dalam negara yang mulia,’’ ujar As-Sadr. Menurut dia, orang-orang Yahudi pun memiliki keyakinan yang sama, sebagaimana orang nasrani menyakini akan kembalinya Isa AS.

Bahkan, kata As-Sadr,  orang-orang Zoroastrian membenarkan penantian mereka terhadap Bahramsyah. Hal serupa juga diyakini orang-orang Kristen Al-Ahbasy yang menantikan kembalinya raja mereka bernama Theodore, seperti Imam Mahdi pada akhir zaman. ‘’Begitu juga orang-orang hindu menyakini kemablinya Wishnu dan orang-orang Majusi meyakini hidupnya kembali Usyider,, tuturnya.

Filosof Bertrand Russel sempat berkata, ‘’ Sesungguhnya dunia sedang menunggu tokoh reformasi yang akan menyatukan dunia di bawah bendera tunggal dan satu panji.’’ Soal kemunculan sosok Mahdi juga sempat diutarakan ilmuwan Albert Einstein.

Sang pencetus teori relativitas itu berkata, ‘’Sesungguhnya hari ketika dunia dipenuhi dengan perdamaian dan ketentraman, dan manusia di dalamnya saling mencintai dan bersaudara tidak akan lama lagi.’’  Pemikir Islam, Ibnu Khaldun juga berkomentar tentang kemunculan Imam Mahdi.

‘’Ketahuilah bahwa yang masyhur di kalangan umat Islam sepanjang zaman adalah pada akhir zaman pasti akan muncul seorang pria dari keluarga Nabi, yang menegakkan agama, menampakkan keadilan, ditaati kaum Muslim, serta menjadi penguasa kerajaan-kerajaan Islam, yang bernama Al-Mahdi,’’ ujar penulis Kitab Al-Mukadimah itu.

Menurut As-Sadr, kaum Muslim yang terdiri dari beragam mazhab dan firkah juga meyakini kemunculan Imam Mahdi AS di akhir zaman, seperti yang telah dikabarkan Rasulullah SAW. Menurut Syekh Ahmad Amin, ulama dari Al-Azhar Mesir, Ibnu Hajar telah mengkaji hadis-hadis yang diriwayatkan mengenai Imam Mahdi.

‘’Ia menemukan sekitar lima puluh hadis. Hadis-hadis tersebut sampai pada derajat mutawatir,’’ ungkap  Syekh Ahmad Amin mengutip pernyataaan Ibnu Hajar.  Sadi bin Masyur mengungkapkan, ketika Imam Mahdi muncul, tak seorangpun yang tak masuk Islam. Lalu kapankah Imam Hamdi yang ditunggu oleh semua umat manusia itu akan datang? Wallahu ‘Allam.

Inilah Imam Mahdi Menurut Sunni dan Syiah

Ada empat pendapat yang berkembang di dunia Islam tentang sosok yang akan menjadi Imam Mahdi.

Siapa sosok juru selamat yang akan datang di akhir zaman?  Pertanyaan ini barangkali telah muncul beberapa abad silam. Hingga kini, umat Muslim di berbagai negara masih terus memperbincangkannya. Menurut Ensiklopedi Islam,  terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai figur Imam Mahdi.

‘’Ada empat pendapat tentang figur Imam Mahdi,’’ tulis Ensiklopedi Islam. Menurut kelompok pertama,  Imam Mahdi adalah seorang yang berasal dari keturunan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW. Ia berasal dari ahlulbait, yang namanya sama dengan Nabi SAW. Imam mahdi akan datang pada akhir zaman.

Menurut Ensiklopedi Islam, pendapat pertama ini dianut oleh mayoritas (jumhur) ahlusunah waljamaah. Sebagian ulama Sunni menambahkan, nama ayah Imam Mahdi yang akan menjadi juru penyelamat dunia di akhir zaman juga bernama Abdullah, sama seperti nama bapaknya Nabi SAW.

Menurut kelompok kedua, Imam Mahdi hanya figur seorang penyelamat kehidupan umat Manusia. Penganut pendapat ini menegaskan, figur Imam Mahdi tak harus berasal dari keturunan Fatimah Az-Zahra saja, yang jelas ia adalah seorang Muslim. Tak heran, jika sejak abad pertama Hijriah sudah sangat banyak orang yang mengaku dan disebut sebagai Imam Mahdi.

Kelompok ketiga berpendapat, bahwa Imam mahdi bukan merupakan figur seseorang, tetapi lambang atau simbol kemenangan yang haqq (benar) terhadap yang batil atau simbol kemenangan terhadap ketidakadilan. ‘’Anggapan ini banyak dianut oleh pemikir-pemikir modern,’’ tulis Ensiklopedi Islam.

Ketiga pendapat tentang figur Imam Mahdi di atas itu banyak dianut oleh kalangan Sunni atau ahlusunah waljamaah. John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, mengungkapkan, pada umumnya kaum Sunni berpendapat bahwa kehadiran Imam Mahdi pada hakitanya  adalah mewakili pandangan akan adanya pembaruan keyakinan, bukan adanya reinkarnasi Tuhan, seperti dalam ajaran Syiah.

‘’Menurut Kaum Sunni, figur Imam Mahdi yang terpilih bukanlah orang-orang yang kembali dari persembunyian,’’ papar Esposito. Wahana penting untuk menyebarkan paham ini dilakukan melalui ajaran dan tulisan para sufi, termasuk  sufi yang sangat berpengaruh, Ibnu Arabi (wafat 1240 M).

Muhammad Baqir As-Sadr dalam Al-Mahdi Al-Muntazhar fi Fikril Islamy, mengungkapkan,  sebagian ulama Sunni juga turut menjelaskan kesahihan hadis-hadis mengenai Imam Mahdi. Imam Tirmizi (wafat 279 H), misalnya, mengomentari tiga hadis mengenai Imam Mahdi. ‘’Hadis ini hasan sahih,’’ ujar Imam Tirmizi.

‘’Sesungguhnya hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh Allamah Hilli atas kemunculan Imam Mahdi adalah hadis-hadis sahih,’’ tuturt Ibnu Taimiyah, ulama Sunni terkemuka (wafat 728 H).  Sebagian ulama Sunni juga menyatakan, hadis-hadis tentang akan tibanya figur Imam Mahdi menjelang hari kiamat adalah mutawatir atau bersumber dari Nabi SAW.

Imam Mahdi dalam Syiah

Lalu bagaimana kaum Syiah meyakini akan datangnya Imam Mahdi?  Figur Imam Mahdi menurut penganut aliran Syiah mewakili pendapat kelompok keempat.  Menurut pendapat Syiah, Imam mahdi adalah figur yang jelas, berasal dari keturunan Fatimah atau ahlulbait, dan merupakan salah seorang dari imam-imam ahlulbait.

Meski begitu, di kalangan penganut aliran Syiah pun, terdapat perbedaan pendapat mengenai figur dari imam-imam itu yang diyakini sebagai Imam Mahdi. Menurut Ensiklopedi Islam, terdapat tiga golongan utama tentang sosok Imam Mahdi dalam Syiah.

Pertama, kelompok Kaisaniyah yang menganggap bahwa Muhammad bin Hafiah, putra Ali bin Abi Thalib adalah Imam Mahdi. Kedua, Syiah Ismailiyah as-Sabiyyah ( Syiah tujuh imam), menganggap bahwa  Isma’il bin Jafar as-Sadiq sebagai  Imam Mahdi. Ketiga, Syiah Dua Belas, yang menganggap Muhammad Al-Muntazar bin hasan Al-Askari, imam yang ke-12 sebagai Imam Mahdi.

Syiah Dua Belas memiliki penganut yang mayoritas hingga kini. Dalam pandangan mereka, Muhammad Al-Muntazar adalah Imam Mahdi yang dijanjikan. Akan tetapi, menurut penganut Syiah Dua Belas ini, pada tahun 329 H, sosok imam mereka itu digaibkan oleh Allah SWT dari alam nyata.

Menurut pandangan penganut Syiah, Imam mahdi  akan hadir untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan terhadap kaum tertindas dan menegakkan keadilan. ‘’Yang oleh penganut Syiah dimaksudkan sebagai penghapus kekhalifahan penindas dan kembali pada Islam yang murni.

Para penganut Syiah juga meyakini bahwa , Imam Mahdi akan datang untuk mengislamkan dunia. Di antara berbagai faksi Syiah, papar Esposito, perbedaan tentang figur atau tokoh yang akan menjadi Imam Mahdi merupakan salah satu faktor utama yang membuat Syiah terbagi ke dalam beberapa sekte.

Para pengikut Syiah menyakini, ketika Imam Mahdi muncul dari kegaiban yang ditetapkan oleh Tuhan, maka dunia akan dipenuhi dengan keadilan, sebagaimana  sekarang dunia dipenuhi dengan ketidakadilan. Tak heran, jika setiap generasi muncul sebuah keyakninan bahwa Imam Mahdi akan mucul pada masa mereka.

Mereka yang Mengaku Imam Mahdi

Inilah figur-figur yang sempat mengklaim diri sebagai Imam mahdi:

Al-Abbas
Ia mengaku dirinya sebagai Al-Mahdi Al-Muntazhar di Rif, Afrika pada 690-700 H. Al-Abbas memimpin pemberontakan melawan penguasa di zamannya, namun gagal. Ia bahkan meninggal dunia akibat terbunuh.

Muhammad
Ia mengaku sebagai al-Mahdi al-Muntazhar pada awal abad ke-12 Hijriah. Para ulama Kurdistan melalui sebuah sidah bersepakat untuk menyatakan sosok yang mengaku Imam Mahdi itu telah kafir.

Muhammad bin Abdullah
Mengaku sebagai Al-Mahdi al-Muntazar, di daerah pegunungan Aqar. Akibatnya, ia dan ayahnya dibuang ke Istanbul Turki dan tak diizinkan lagi untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Muhammad Jampuri
Ia memproklamirkan diri sebagai al-Mahdi al-Muntazhar, di India. Para pengikutnya menamakan diri Al-Qattaliyah. Mereka memusuhi dan membunuh siapa saja yang merintangi perjuangannya.

Mahdi Damanhuriyah
Ia dikenal pula sebagai Mahdi Tripoli. Ia mengaku sebagai al-Mahdi al-Muntazar, kira-kira tahun 1828. Ia memimpin pasukan melawan kolonial Prancis di Mesir.

Muhammad Ahmd bin Andullah al-Mahdi
Lahir pada 12 Agustus 1844, di Provinsi Dongola, Sudan. Keluarganya mengaku memiliki garis keturunan langsung dari Rasulullah SAW. pada 1881, ia menyatakan diri sebagai al-Mahdi al-Muntazhar, pada usia 30 tahun. Ia bersama pengikutnya memberontak terhadap penguasa Mesir yang menjadi boneka Inggris.

Sekarmaji Maridjan Katrosuwiryo
Terlahir di Cepu, Jawa Timur pada 4 Februari 1905, kartosuwirya dikenal sebagai pendiri Negara Islam Indonesia (NII), yang diproklamirkan pada 7 Agustus 1949.  Ia mengaku sebagai Ratu Adil (Imam Mahdi), seperti yang diramalkan oleh pujangga terkenal, Jayabaya. Ia juga mengaku seorang keturunan Raden Fatah, penyebar Islam dari Demak. N sumber: Imam mahdi dalam Alquran dan Injil karya Hajaruddin KMA.

Oleh Heri Ruslan
republika.co.id