AGENDA MUSLIM

BERITA & ARTIKEL TERKINI

  1. 7 Indikator Kebahagiaan Dunia Menurut Sahabat Ibnu Abbas
    Senin, 29 Juni 2015
  2. Pelaku Penembakan Turis di Tunisia Dikenal Ramah
    Senin, 29 Juni 2015
  3. Ada Bendera Laa Ilaaha Illallah dari Mainan Seks di Parade Gay
    Senin, 29 Juni 2015
  4. Di Mekah, Semua Masjid Dibebaskan dari Pengemis
    Senin, 29 Juni 2015
  5. 5 Tips Umroh Nyaman dan Terhindar Penipuan
    Senin, 29 Juni 2015
  6. AL Israel Tangkap Kapal Penembus Blokade Gaza
    Senin, 29 Juni 2015
  7. Turki Siap Invasi Besar-besaran ke Suriah
    Senin, 29 Juni 2015
  8. AS Lancarkan Serangan ke Afghanistan
    Senin, 29 Juni 2015
  9. Amr bin Ash, Sang Pembebas Mesir
    Senin, 29 Juni 2015
  10. Motivasi Diri Sendiri dengan Tiga Pikiran Ini
    Senin, 29 Juni 2015
  11. Saatnya Kekejaman Terhadap Rohingya Dihentikan
    Senin, 29 Juni 2015
  12. Perlukah Dunia Islam Belajar Kebebasan Beragama dari AS?
    Senin, 29 Juni 2015
  13. Penghulu Keberatan Disebut Sebagai Penerima Gratifikasi
    Senin, 29 Juni 2015
  14. Pasukan Kurdi Bersihkan Kobani dari ISIS
    Senin, 29 Juni 2015
  15. Puluhan Orang Tewas dalam Kerusuhan di Irak
    Senin, 29 Juni 2015
  16. Suasana Anak-anak Muslim Keturunan Indonesia Belajar Al Quran di Melbourne
    Senin, 29 Juni 2015
  17. Islam Agama Tercepat Pertumbuhannya di Australia
    Senin, 29 Juni 2015
  18. Xinjiang, Huiland yang Tertindas
    Senin, 29 Juni 2015
  19. PM Inggris: Serangan Saat Ramadhan adalah Penghinaan Terhadap Islam
    Senin, 29 Juni 2015
  20. Menag: Pernikahan Sejenis tidak akan Diakui di Indonesia
    Senin, 29 Juni 2015
  21. MUI Keberatan Soal UU Jaminan Produk Halal (JPH)
    Senin, 29 Juni 2015
  22. Soal Tarawih Tercepat, MUI Himbau Umat Islam Mauidhoh Hasanah
    Sabtu, 27 Juni 2015
  23. Taruhkan Nyawa, Freedom Flotilla 3 Siap Bebaskan Blokade Laut Jalur Gaza
    Sabtu, 27 Juni 2015
  24. Al-Azhar Serukan Masyarakat Internasional Bersatu Hapuskan Negara Islam
    Sabtu, 27 Juni 2015
  25. Apakah Serangan di Prancis, Kuwait dan Tunisia Terkoordinasi?
    Sabtu, 27 Juni 2015
  26. PM Tunisia Perintahkan Penutupan Puluhan Masjid
    Sabtu, 27 Juni 2015
  27. AS Temukan Indikasi Serangan ISIS pada 4 Juli
    Sabtu, 27 Juni 2015
  28. Muslim Detroit Gabungkan Acara Ramadhan dan Kemerdekaan AS
    Sabtu, 27 Juni 2015
  29. Hizbullah: Teroris di Tunisia Bagian dari Perang Melawan Islam
    Sabtu, 27 Juni 2015
  30. Kelompok Bersenjata Serang Pantai Tunisia, 37 Orang Tewas
    Sabtu, 27 Juni 2015
Prinsip Dasar dan Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah PDF Print E-mail

Prinsip Dasar dan Ajaran Tarekat NaqsyabandiyahFiqhislam.com - Menurut uraian KA Nizami dalam Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam Manifestasi (ed. Seyyed Hossein Nasr, 2003), sepanjang sejarahnya, Tarekat Naqsyabandiyah memiliki dua karakteristik menonjol yang menentukan peranan dan pengaruhnya.

Pertama, ketaatan yang ketat dan kuat pada hukum Islam (syariat) dan sunnah Nabi dan kedua, upaya tekun untuk memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekatkan negara pada agama.

Tidak seperti kebanyakan tarekat sufi lainnya, menurut Nizami, Tarekat Naqsyabandiyah tidak menganut kebijakan isolasi diri dalam menghadapi pemerintahan yang tengah berkuasa.

Sebaliknya, tarekat ini gigih melancarkan ikhtiar dalam berbagai kekuatan politik agar dapat mengubah pandangan mereka. "Raja adalah jiwa dan masyarakat adalah tubuh. Jika sang Raja tersesat, rakyat akan ikut tersesat," demikian kutipan pesan yang pernah dikatakan Syeikh Ahmad Sirhindi, dan diterapkan dalam berbagai ikhtiar tersebut. Berbicara  tentang kebijakan dan ikhtiar Tarekat Naqsyabandiyah tidak terpisahkan dari berbagai ritual ibadah yang mewarnai denyut nadinya. Pada zaman Abu Bakar as-Siddiq hingga zaman Syekh Abu Yazid al-Bistami, saat tarekat ini dikenal dengan nama Shiddiqiyah, amalan khususnya adalah dzikir khafi (dzikir dalam hati).

Ketika dikenal dengan nama Taifuriyah, tarekat ini mengedepankan tema khusus yakni cinta dan makrifat. Periode setelahnya, Khwajahganiyah, Tarekat Naqsyabandiyah diperkuat dengan delapan prinsip asas, yakni yad kard (ingat; senantiasa menyebut nama Allah), baz gasyt (kembali; mengembalikan segalanya pada Allah), dan nigah dasy (waspada; selalu menjaga pikiran dan perasaan).

Prinsip asas selanjutnya adalah yad dasy (mengingat kembali; bahwa segala sesuatu berasal dari Allah), hush dar dam (sadar sewaktu bernafas; menyadari keberadaan Allah dalam setiap hela nafas), nazar bar qadam (menjaga langkah), safar dar watan (melakukan perjalanan di daerah sendiri/batin), dan khalwat dar anjuman (sunyi sepi di tengah keramaian; selalu menyibukkan diri dengan ibadah).

Lalu, pada zaman ketika Naqsyabandiyah mulai menjadi nama tarekat ini, Syekh Muhammad Bahauddin Naqsyaband menambahkan tiga asas lagi yakni wuquf qalbi, wuquf ‘adadi, dan wuquf zamani.

Dalam www.metafisika-center.org dijelaskan, wuquf qalbi adalah menjaga setiap gerakan hati untuk selalu mengingat dan menyebut asma Allah. Wuquf zamani berarti menghitung dan memerhatikan waktu untuk tidak melewatkan waktu tanpa mengingat Allah.

Sedangkan wuquf ‘adadi berkaitan dengan bilangan, yang mengandung makna pengutamaan hitungan ganjil dalam berdzikir, sebagai penghormatan yang bersifat sunah atas kesukaan Allah pada jumlah ganjil.

Di luar semua asas tersebut, terdapat pula dua kaidah jalan yang diperkenalkan para masyayikh tarekat setelah itu sebagai bekal perjalanan mencapai kebenaran hakiki. Keduanya adalah tariqat nafsani dan tariqat ruhani.

Tariqat nafsani, seperti dijelaskan Wikipedia, mengambil pendekatan dengan mendidik diri dan menundukkan ke-aku-an, yakni ego yang ada dalam diri manusia. Dalam mengamalkan tariqat ini, seseorang harus melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengan kehendak ego. Karenanya ia dimaknai sebagai perang atau jihad dalam diri seorang Mukmin.

Sedangkan tariqat ruhani berarti pensucian ruh. Hal itu dimaksudkan agar ruh yang telah disucikan mengenali hakikat diri yang sebenarnya, sehingga ego akan menuruti dan menaatinya. Disebutkan, dari segi pengamalan, tariqat ini lebih mudah daripada tariqat nafsani.

Dalam situs www.khalidiyah.blogspot dikatakan, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah memiliki tujuan menjadi kekal berkepanjangan dalam memperhambakan diri secara lahir dan batin, serta dalam menghadirkan Allah ke dalam hati. Para sufi yang mengamalkan tarekat ini tidak bertujuan menjadi mulia, kaya, sakti, dan sebagainya, melainkan untuk mendekatkan diri dan mengharap ridha Allah semata.

Seorang tokoh Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Djalaluddin (pemegang silsilah ke-35), mengemukakan ajaran tarekat yang terdiri dari 17 tingkat mata pelajaran. Ia merupakan guru dari Muhammad Harun bin Sudji Tajul Arifin Al-Makasari II, pembawa Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Kurik.

Ke-17 tingkat mata pelajaran tersebut adalah dzikir ismu dzat, dzikir lathaif, dzikir napi isbat, dzikir wuquf, muraqabah ithlaq, muraqabah ahdiyatul af’aal, muraqabah ma’iyah, muraqabah aqrabiyah, muraqabah ahdiyatuzzat, muraqabah zatussyarfi walbuhti, maqam musyahadah, maqam mukasyafah, maqam muqabalah, maqam muqafahah, maqam fanafillah, maqam baqabillah, dan tahlil lisan 7 derajat.

Dzikir muraqabah ithlaq adalah di mana seseorang berdzikir dan ingat kepada Allah SWT bahwa Ia mengetahui keadaan-keadaanyadan melihat perbuatan-perbuatannya, serta mendengar perkataan-perkataannya.

Dzikir muraqabah ahdiyatul af’aal adalah berkekalannya seorang hamba menghadap serta memandang Allah SWT yang memiliki sifat sempurna serta bersih dari segala kekurangan, serta Maha Berkehendak.

Dzikir muraqabah ma’iyah berkekalannya seorang hamba yang ber-tawajjuh serta memandang kepada Allah SWT yang mengintai di mana saja hamba itu berada. Dzikir muraqabah aqrabiyah adalah keadaan mengingat betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya.

Sedangkan dzikir muraqabah ahdiyatuzzat adalah mengingat sifat Allah yang esa dan menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu. Dzikir muraqabah zatussyarfi walbuhti berkaitan dengan sumber timbulnya kesempurnaan kenabian, kerasulan dan ‘ulul azmi, yakni dari Allah semata.

Maqam musyahadah adalah kondisi di mana seseorang berdzikir seolah-olah dalam tahap berpandang-pandangan dengan Allah, sedangkan maqam muqabalah dalam tahap berhadap-hadapan dengan wajah Allah yang wajibul wujud.

Adapun maqam mukasyafah adalah kondisi di mana seolah terbuka rahasia ketuhanan bagi seseorang yang berdzikir. Bila berdzikir pada maqam ini dilaksanakan dengan baik, sempurna, dan ikhlas, maka seorang hamba akan memperoleh hakikat kasyaf dan rahasia-Nya.

Sementara maqam muqafahah merupakan kondisi di mana tahap ruhaniah seseorang yang berdzikir berkasih sayang dengan Allah. Dalam maqam ini, kecintaan pada selain Allah telah hilang sama sekali.

Maqam selanjutnya, fanafillah, adalah kondisi di mana rasa keinsanan seseorang melebur ke dalam rasa ketuhanan, serta secara fana melebur dalam keabadian Allah. Sedangkan maqam baqabillah adalah pencapaian tahap dzikir, di mana kehadiran hati seorang hamba hanya bersama Allah semata.

republika.co.id

 

ARTIKEL LAIN

Free joomla themes, hosting company.