<data:blog.pageName/> – <data:blog.title/> <data:blog.pageName/> – <data:blog.title/> <data:blog.title/>

Menggores Untung dari Kerajinan Kaligrafi Cangkang Telur PDF Print E-mail

Menggores Untung dari Kerajinan Kaligrafi Cangkang TelurBanyak orang menganggap cangkang atau kulit telur sebagai sampah tak bernilai. Namun, bagi mereka yang jeli melihat peluang, cangkang telur bisa menjadi bahan kerajinan kaligrafi nan indah. Perajin pun bisa meraup omzet hingga puluhan juta. Tak hanya itu, kerajinan kaligrafi cangkang telur ini bisa menembus pasar ekspor.

Siapa bilang cangkang atau kulit telur tak memiliki nilai ekonomis. Lewat sentuhan tangan-tangan kreatif, cangkang telur yang sudah tak terpakai bisa disulap menjadi kerajinan kaligrafi nan cantik dan diminati pasar luar negeri.

Bertempat di sebuah workshop, di daerah Lubang Buaya, Jakarta, Cahyudi Susanto mengembangkan kerajinan kaligrafi berbahan kulit telur. Cahyudi yang akrab disapa Yudhi ini mengaku ketertarikannya menggunakan kulit telur sebagai bahan kaligrafi ini karena ia peduli terhadap lingkungan. "Di sekitar tempat tinggal saya, banyak berserakan sampah telur," kata Yudhi, yang juga masih seorang karyawan perusahaan swasta ini.

Lantas, ia melihat peluang pembuatan kerajinan dari kulit telur. Yudhi pun melakukan kolaborasi antara seni dan religi sebagai lahan bisnisnya.

Sebelum menggeluti usaha ini, Yudhi memang memiliki hobi menggambar dan menulis kaligrafi dengan media kertas ataupun komputer. Baru pada 2009, inspirasi Yudhi untuk membuat seni kulit telur ini muncul.

Semangat Yudhi ini pun terus terpacu, karena dua alasan. Pertama, ia bisa mendapatkan cangkang-cangkang telur ini gratis. Kedua, bahan baku cangkang telur ini juga mudah di cari. "Dalam seminggu, saya bisa memperoleh empat kantong kresek besar," jelas Yudhi.

Karena ingin mempertahankan warna alami dari telur, Yudhi tidak mencampurkan bahan pewarna tambahan untuk pembuatan kaligrafinya. Alhasil, Yudi hanya mengolah tiga warna untuk mempercantik kerajinan kaligrafinya.

Ketiga warna tersebut diperoleh dari tiga jenis telur yang berbeda. Warna putih diperoleh dari kulit telur ayam kampung. Warna cokelat berasal dari kulit telur ayam negeri. Adapun, warna biru didapat Yudhi dari kulit telur bebek.

Membuat kaligrafi dari kulit telur ini juga tak mudah. Yudhi harus melalui lima tahap dalam pembuatan kaligrafi berbahan kulit telur ini.

Terlebih dulu, ia harus mencuci cangkang telur dan dijemur hingga kering. "Yang perlu diperhatikan adalah pada saat menjemur, karena lukisan akan mengeluarkan bau amis jika cangkang tidak benar-benar kering," kata Yudhi.

Ketika memulai pembuatan kaligrafi ini, Yudhi memilih untuk membuat background atau gambar latar terlebih dahulu. Pasalnya, jika langsung membuat tulisan inti, hasil yang diperoleh akan kurang memuaskan. Background akan mendominasi gambar sehingga justru menutupi tulisan kaligrafinya "Bentuk tulisannya nanti timbul," jelas Yudhi.

Untuk menempelkan pecahan-pecahan cangkang telur, Yudhi hanya membutuhkan lem kayu sebagai perekat. Sebelum melalui tahap finishing, kaligrafi terlebih dulu dihaluskan dengan menggunakan amplas supaya teksturnya keluar.

Untuk membuat satu buah kerajinan kaligrafi, Yudhi membutuhkan waktu hingga tiga hari. Tak heran, banderol harga produk seni ini lumayan mahal. Yudhi menjual satu kaligrafi cangkang telur ini berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Selain tingkat kerumitan dalam pembuatan, patokan harga juga tergantung dari ukurannya.

Hanya, karena tak menjadi pekerjaan utama, produksi kaligrafi Yudhi juga tak banyak. Dalam sebulan, ia hanya mampu membuat sepuluh kaligrafi dalam berbagai bentuk dan ukuran. Yudhi pun menghitung, omzet penjualan yang didapatkan dari penjualan kaligrafi berkisar Rp 20 juta.

Meski begitu, konsumen Yudhi sudah beragam. Tak hanya diminati oleh konsumen di pasar lokal atau domestik, kaligrafi cangkang telur ini juga dilirik oleh konsumen di negeri tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darusalam. Maklum, selain unik, produk kaligrafi ini juga kuat. Pasalnya, kulit telur banyak mengandung kalsium, sehingga tidak akan mudah rapuh oleh serangan rayap.

Yudhi bilang, selain memanfaatkan sampah menjadi barang bernilai guna, penggunaan cangkang telur juga dapat menyerap karbondioksida (CO2) sebanyak tujuh kali dari berat telur.

Selain Yudhi, kerajinan kaligrafi dari cangkang telur ini juga ditekuni oleh Hendra Setiawan. Pria asal Martapura, Kalimantan Selatan ini tertarik menggeluti kerajinan berbahan cangkang telur setelah melihat tayangan televisi yang mengulas tentang pemanfaatan cangkang telur. Lantas, ia pun mencoba mengembangkan kerajinan kaligrafi.

Selain dari para tetangganya, Hendra memperoleh cangkang-cangkang telur dari pedagang martabak yang mangkal di sekitar tempat tinggalnya. Alhasil, dalam sehari, Hendra bisa mengumpulkan hingga 200 butir cangkang. "Saya mendapatkan cangkang-cangkang telur ini secara gratis," ujar Hendra, yang mulai menekuni usaha ini sejak satu tahun yang lalu.

Dengan bantuan beberapa anggota keluarganya, Hendra membutuhkan waktu sekitar lima hari hingga satu minggu. Dengan waktu selama ini biasanya menghasilkan satu model kaligrafi dengan ukuran 40 cm x 60cm.

Jika dibandingkan dengan harga jual kaligrafi buatan Yudhi, banderol harga kaligrafi cangkang telur milik Hendra lebih murah. Ia mematok harga Rp 250.000 untuk tiap karyanya.

Meski masih dalam skala kecil, penjualan kaligrafi cangkang telur buatan Hendra ini sudah menjangkau kota-kota besar yang ada di Kalimantan.

Namun tak seperti perajin produk-produk yang bernapaskan Islam lainnya, Hendra maupun Yudhi tak bisa menikmati berkah di bulan Ramadhan. Menurut pengalaman mereka, semakin mendekati bulan Ramadhan, biasanya penjualan kaligrafi-kaligrafinya tersebut cenderung stabil, dan tidak ada lonjakan permintaan.

kontan.co.id

 

ARTIKEL LAIN