FIQHISLAM.com

BERITA TERKINI
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Tata Cara Mandi Besar (Mandi Junub)
BERITA INTERNASIONAL
Kafe di Belgia: Anjing Silahkan, Zionis Tidak
BERITA INTERNASIONAL
ISIS Usir Orang Kristen Dari Kota Mosul
BERITA INTERNASIONAL
Khamenei Serukan Perlawanan Bersenjata di Palestina
BERITA INTERNASIONAL
Memahami Geopolitik Gaza
ISLAM INDONESIA
MUI: Baha'i Agama Produk Manusia
RUMAH TANGGA
Tidak Boleh Merusak Kepemimpinan Suami
BERITA INTERNASIONAL
Ketika Jerman Teriakkan Anti
BERITA INTERNASIONAL
Al-Qaeda Ingin Bangun 'Emirat' di Yaman Timur
BERITA INTERNASIONAL
Irak Bom Falluja, 19 Orang Tewas
DUNIA ISLAM
Bom Sasar Ulama Nigeria
BERITA INTERNASIONAL
Rouhani: Bantuan Medis Iran tak Boleh Masuk Gaza
BERITA INTERNASIONAL
Israel: Kami Pantas Mendapat Nobel Perdamaian
POPULER
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Cara Mengganti Shalat yang Ditinggalkan
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Mengapa Rasul Melarang Debat?
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
14 Amalan Penyubur Iman
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Hari Jumat dan Dajjal
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Nikmat Shalat
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Tiga Cincin Tauhid
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Berdosakah Tidak Berpolitik
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Jika Suami Minta Izin Menikah
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Empat Cara Bersyukur pada Allah SWT
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Ghibah, Hal yang Sulit Dihindarkan
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
Mengapa Hari Jumat Ada dalam Al-Quran?
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH
10 Jalan Pengampunan Dosa
ARTIKEL ISLAMI
Saat Doa Belum Terkabul
Taqarub kepada Allah dan Manusia Print E-mail
SYARIAH AKIDAH AKHLAK IBADAH

Rasulullah SAW bersabda: Pada Hari Kiamat nanti Allah SWT akan menegur kita, ''Wahai anak cucu Adam, Aku sakit, mengapa engkau tak menjenguk-Ku?'' Hamba bertanya, ''Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?'' Allah pun menjawabnya, ''Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit dan kamu tidak membesuknya.''

 

Dialog itu pun berlanjut. ''Wahai anak cucu Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku makan?'' Hamba bertanya, ''Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?'' Allah menjawab lagi, ''Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang kelaparan dan kamu tidak memberinya makan.''

''Wahai anak cucu Adam, Aku meminta minum kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku minum?'' Hamba bertanya lagi, ''Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan memberi-Mu minum, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?'' Allah menjawab, ''Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang kehausan dan kamu tidak memberinya minum.'' (HR Muslim)

Hadis ini sungguh mengesankan. Allah SWT mengajarkan pentingnya menjaga hablum minannas , hubungan horizontal antarmanusia. Islam menekankan keseimbangan, termasuk dalam ibadah yang selalu mengandung dua dimensi, yaitu vertikal (hablum minallah dan horizontal ( ablum minannas .

Mari kita perhatikan perintah shalat dalam Alquran. Perintah shalat hampir selalu dirangkai dengan perintah berzakat. ''Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk (QS Al-Baqarah [2]: 43). Kata ' amanu ' (beriman) juga selalu diikuti dengan perintah beramal shaleh, ' amilus sholihat '. Vertikal dan horizontal.

Surat Al-Ma'un (107: 1-3), lebih keras lagi. ''Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu, orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.'' Di sini, Allah SWT mengaitkan agama dengan aktivitas sosial.

Artinya, orang mukmin yang tidak peduli pada anak yatim dan fakir miskin, maka dia itu pengkhianat. Kategori orang mukmin sejati itu bukan saja terletak pada ketekunannya dalam ibadah, tetapi juga hubungan baiknya dengan manusia, bahkan dengan alam semesta; kita dilarang melakukan perusakan di bumi.

Jadi, Islam menolak pendekatan diri kepada Allah dengan cara menjauhkan diri dari kehidupan. Oleh karena itu, esoterisme itu tidak sepenuhnya didukung oleh Islam, demikian pula eksoterisme. Justru, sebagaimana hadis di awal, mendekatkan diri kepada sesama adalah media mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita seimbangkan.

Redaksi - Reporter
Red: taqi / republika.co.id

Tags