Haji, Konferensi Internasional MusliminPADA tahun keenam Hijriah, Nabi Muhammad saw bermaksud melaksanakan ibadah Haji. Jemaah haji yang pertama ini berhenti di Hudaibiyah untuk memulai ihram. Makkah waktu itu masih dikuasai kaum musyrik. Walaupun Nabi menegaskan bahwa kedatangannya hanya untuk berhaji, berat bagi mereka untuk menyaksikan seorang warga yang pernah diusir dari negeri itu datang dengan segala kebesaran. Mereka memandang, haji Nabi bukan sekadar ritual namun bernuansa politis.

Melihat permusuhan yang ditampakkan oleh orang Mekkah, Nabi mengadakan taklimat kilat. Para sahabat bersumpah setia untuk membela Nabi. Ini merupakan sebuah komitmen politik yang penting. Sumpah setia ini dikenal sebagai ‘Bai’atur Ridhwan’. Ketegangan antara kedua belah pihak berakhir ketika Rasul membuat perjanjian Hudaibiyah. Setahun kemudian sesuai perjanjian itu, Nabi sekali lagi datang untuk melakukan umrah. Penduduk Mekah menyingkir ke bukit-bukit sambil mengintip apa yang bakal dilakukan umat Islam. Setelah perjalanan jauh, tentu saja para sahabat memasuki Mekkah dalam keadaan lelah. Tetapi Nabi menyuruh para sahabatnya untuk melakukan Thawaf sambil berlari. Ketika melakukan Sa’i para sahabat disuruh berlari juga. Nabi ingin menunjukan kekuatan umat Islam--semacam ‘Show of Force’.

Setahun setelah itu, Rasullullah dan para pengikutnya memang berhasil menaklukan Mekah tanpa perlawanan berarti. Apa yang dilakukannya pada ‘Umrah Al-Qadha’ telah berdampak politik yang besar. Pada tahun 10 Hijrah, Nabi Muhammad melakukan ibadah Haji Akbar. Karena haji ini adalah haji terakhir, ahli sejarah kemudian menyebutnya sebagai Haji Wada’ (haji perpisahan). Di Arafah, Nabi pun berkhutbah, yang juga merupakan khutbah perpisahan. Apa yang dikatakan Nabi pada masa itu dalam khutbahnya sama sekali tidak berkenaan dengan ibadah ritual.

Dalam khutbah itu, Nabi memulainya dengan menekankan kewajiban menghormati darah dan kehormatan seseorang. Sekarang kita menyebutnya dengan istilah penegakan Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Nabi juga meminta perhatian para jemaah haji terhadap sistem ekonomi jahiliyah yang tidak adil, yang diwujudkan dalam praktik riba. Nabi berbicara lagi tentang hak-hak perempuan, dan berpesan kepada kaum mukmin untuk melindungi dan menghormati mereka. Jadi khutbah Nabi berkenaan dengan persoalan politik, ekonomi dan sosial.

Di Mina, pada hari penyembelihan kurban, turun ayat ‘Baraah’. Artinya dekrit pembebasan dari ketergantungan kepada kaum musyrik. “Baraah” adalah proklamasi kemerdekaan tanah suci. Di sana, di bukit Mina, Ali Bin Abi Thalib berdiri menyampaikan dekrit Nabi yang berisi, antara lain: orang musyrik tidak boleh mendekati Baitullah, tidak boleh thawaf sambil telanjang dan setiap perjanjian harus dipenuhi. Ali juga membacakan ayat ‘Baraah’: “Dan pengumuman dari Allah dan Rasulnya kepada manusia pada waktu Haji akbar bahwa Allah berlepas diri dari kaum musyrik, begitu pula Rasulnya.(QS 9:3).

Tradisi ini dilanjutkan para sahabat sepeninggal Nabi. Umar Bin Khattab memanggil Amr Bin Ash, Gubernur Mesir pada musim haji dan memintanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya. Seorang warga Mesir mengadu kepada Khalifah bahwa anak Amr telah menjebloskannya ke penjara. Umar menghukum anak gubernur itu dengan cambukan di hadapan para jemaah haji. Waktu itu, Umar berkata : “ Hai Amr, mengapa engkau memperbudak manusia padahal ibunya telah melahirkannya sebagai seorang yang merdeka”.

Usman Bin Affan pernah mengirim surat ke semua daerah kekuasaan Islam. Ia mengimbau orang-orang mengadukan segala perilaku birokrat yang merugikan rakyat. “Bila ada yang pernah dicaci maki atau dianiaya”, tulis Usman, “datanglah pada musim haji, supaya ia dapat mengambil haknya dari aku dan dari pejabatku”.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam “Al-`ibadah fi Al-Islam”, menulis, para khalifah menyadari akan nilai haji internasional ini. Mereka menjadikan haji sebagai tempat pertemuan antara mereka dan rakyat yang datang dari pelosok negeri yang jauh dan antara mereka dan para pejabat mereka dari berbagai daerah. Bila ada orang yang tertindas atau ingin mengadukan persoalannya, ia dapat menemui khalifah tanpa perantara dan tanpa penghalang. Di sanalah rakyat dapat berhadapan dengan khalifah tanpa segan atau takut. Di situ yang teraniaya dilindungi dan haknya dikembalikan walaupun hak itu harus diambil dari pejabat atau bahkan dari khalifah.

Menurut Alquran, memang ibadah haji diperintahkan: “agar mereka menyaksikan berbagai manfaat buat mereka dan berzikir pada hari-hari yang ditentukan” (QS 22:28). Menurut para Mufassir, ayat ini menyebutkan dua dimensi haji: dimensi manfaat dan dimensi zikir. Al-Thabari, dalam tafsirnya, menyebut manfaat itu meliputi dunia dan akhirat. Mahmud Syaltut, menyebut dimensi-dimensi ideologi, politik, sosial dan budaya sebagai kandungan makna “manfaat”. Pada waktu hajilah, kata Syaltut, bertemu para pemikir dan ilmuan, ahli-ahli pendidikan dan kebudayaan, para negarawan dan ahli pemerintahan, ahli-ahli ekonomi, para ulama, dan juga para ahli militer kaum muslim. Inilah konferensi umat Islam yang terbesar.

Sayang, belakangan ini dimensi “manfaat” itu sudah diabaikan. Yang ditonjolkan bahkan ditegaskan berkali-kali untuk selalu diingat oleh para jemaah adalah dimensi zikir. Bila kita berangkat haji, niatkanlah hanya untuk beribadah. Begitulah pesan para pembimbing haji. Bila kita pulang dari haji, pengalaman rohani sajalah yang mesti kita ceritakan. Bagian pertama ayat Al-hajj di atas seakan-akan telah kita hilangkan. Pedagang Indonesia dari berbagai daerah dulu berjualan di sekitar Masjidil Haram. Sekarang tidak. Dahulu jemaah haji berbincang tentang situasi negeri mereka dan beberapa orang diantaranya pulang ke negerinya menjadi pejuang-pejuang kemerdekaan. Sekarang tidak. Bila ada juga diskusi antara para jemaah, yang didiskusikan adalah cara-cara ritual haji, dan tidak jarang sambil saling menyalahkan.

Untunglah itu semua hanya terjadi pada masyarakat awam. Ketika para pejabat negara naik haji, kita tahu mereka berbincang dengan pejabat di Arab Saudi bukan hanya tentang haji, melainkan berbincang mengenai situasi negaranya dari segala aspek, ekonomi, politik dan sebagainya. Ketika para pemimpin Islam berkumpul di Mekah, mereka bukan melulu berbincang mengenai haji, namun juga mengenai keadaan umat Islam seantero dunia ini.

Haji dapat mewujudkan efek duniawi dan ukhrawi sekaligus. Efek spiritual, moral, sosial dan ekonomi. Selain itu, konferensi tahunan yang digelar di Arafah adalah simbol kesatuan pikir kaum muslimin. Dalam haji dijumpai persamaan yang nyata antara raja dan rakyat biasa, semua menggunakan pakaian yang sama. Bahkan mereka menepikan semua atribut materi, keturunan, kekayaan dan jabatan. Allahu a‘alam.

Oleh Munawar A Djalil | Serambinews.com
* Penulis adalah alumnus Universitas Malaya dan pemerhati masalah keagamaan tinggal di Sigli.