Penduduk Makkah adalah Keluarga AllahFiqhislam.com - Dalam buku Akhbar Makkah karya Al-Azraqy disebutkan bahwa Ibnu Abi Mulaikah pernah mendengar Nabi saw bersabda, “Sungguh aku telah melihat Asid di surga, dari mana serta bagaimana Asid memasuki surga.”

Kemudian ditunjukkan kepada beliau Attab putra Asid, lalu beliau bersabda, “Ini dia yang aku lihat, panggillah kemari.”

Berikutnya beliau menugaskan Attab (sebagai wakil beliau) atas Kota Makkah. Beliau bersabda kepada Attab, “Tahukah kamu atas siapakah aku menugaskanmu? Aku menugaskanmu atas Keluarga Allah, maka bersikap baiklah kepada mereka.” Beliau mengucapkan itu sebanyak tiga kali. (Lihat Al-Azraqy: 11/151).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Dahulu setiap kali aku bertemu dengan penduduk Makkah, dikatakan kepada mereka, ‘Hai Keluarga Allah’ dan ini termasuk keluarga Allah.” (Al-Azraqy: 11/151).

Diceritakan, bahwa Umar bin Khaththab RA menugaskan Nafi’ bin Abdil Harits Al-Khuza’iy atas Kota Makkah. Ketika dia datang, Umar menyambutnya seraya berkata, “Siapakah yang engkau tugaskan atas Makkah?”

Dia menjawab, “Ibnu Abza.”

“Engkau telah menugaskan seorang maula (bekas budak),” ujar Umar. Umar pun murka, hingga dia berdiri di pelana.

Nafi’ kemudian berkata, “Sesungguhnya aku mendapati dia sebagai orang yang paling mahir membaca Kitab Allah, dan paling mengerti akan Allah di antara mereka.”

Berikutnya Umar bin Khathab menunduk, hingga menempel pada pelana, lalu berkata, “Andai saja engkau tadi mengatakan hal itu. Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah saw mengatakan bahwa dengan agama ini Allah SWT akan mengangkat (derajat) berbagai bangsa, dan dengan itu pula Dia akan merendahkan bangsa-bangsa lainnya.” (Al-Azraqy: 11/151).

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Ubaidillah disebutkan, “Dahulu setiap kali penduduk Makkah bertemu, mereka saling mengatakan, ‘Hai keluarga Allah’, dan ini adalah keluarga Allah.” (Al-Azraqy: 11/152).

Asma’ binti Umais menceritakan bahwa seorang pria Muhajirin menemui Abu Bakar RA untuk mengadu.

Dia berkata, “Engkau telah menunjuk Umar sebagai khalifah kami, padahal dia seorang yang bengis, dan tidak memiliki kekuasaan. Apabila engkau memberi dia kekuasaan atas kami, niscaya dia akan lebih bengis lagi. Lalu apa yang akan engkau katakan kepada Allah jika engkau menemui-Nya nanti?”

Abu Bakar berkata, “Tolong dudukkan aku!” Lalu mereka mendudukkannya. Kemudian dia berkata, “Bukankah engkau berpisah denganku hanya karena Allah? Maka jika aku menemui-Nya nanti, aku akan mengatakan bahwa aku telah menunjuk sebaik-baik keluargamu sebagai khalifah mereka.”

Ma’mar berkata, “Aku bertanya kepada Az-Zuhry, apakah arti ucapan ‘sebaik-baik keluargamu’?” Dia mengatakan, “Sebaik-baik penduduk Makkah.” (Al-Azraqy: II/ 152).

Mu’adz bin Abi Harits bercerita kepada Ibnu Juraij. Ketika Nabi SAW menugaskan Attab bin Asid (sebagai wakil beliau) atas Kota Makkah, beliau bersabda, ‘Tahukah engkau atas siapakah aku menugaskanmu? Aku menugaskanmu atas Keluarga Allah.” (Al-Azraqy: 11/153).

Wahab bin Munabbih pernah bercerita tentang Al-Haram (Tanah Suci). Dia mengatakan, Allah berfirman, “Barangsiapa yang melindungi penduduknya, maka dia berhak mendapatkan perlindungan­Ku. Dan barangsiapa yang merusaknya, maka dia telah merusak tanggungan-Ku. Setiap raja tentu memiliki wilayah teritorial, dan lembah Makkah adalah wilayah teritorial-Ku yang Aku kuasai sendiri tanpa campur tangan makhluk-Ku. Aku adalah Allah, pemilik Makkah. Penduduknya adalah pilihan-Ku, tetangga rumah-Ku. Sedangkan para penghuni dan para pengunjungnya adalah para tamu-Ku yang menjadi tanggungan-Ku dan mendapatkan perlindungan-Ku.” (Lihat Al-Azraqy: 11/53).

Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya (Syu’aib), dari kakeknya (Abdullah bin Amr RA), bahwa Nabi SAW mengutus Attab bin Asid RA kepada penduduk Makkah, seraya bersabda, ‘Tahukah kamu, kepada siapakah aku mengutusmu? Aku mengutusmu kepada keluarga Allah, maka cegahlah mereka melakukan dua hal dalam jual-beli dan salaf (pinjaman), yaitu mengambil untung dari barang di luar tanggungjawabnya dan menjual barang yang belum diterima.” (Al-Fakihy: 111/64).

Diceritakan dari Mu’awiyah RA, ketika Nabi SAW menugaskan Attab bin Asid (sebagai wakil beliau) atas Kota Makkah, beliau bersabda, “Tahukah kamu atas siapakah aku menugaskanmu? Aku menugaskanmu atas keluarga Allah.”

Ibnu Juraij berkata, “Aku juga mendengar yang lain mengatakan hal itu.” (Lihat Al-Fakihy: 111/65). Ketika Rasulullah SAW wafat, Attab bin Asid masih tetap bertugas (sebagai wakil beliau) atas Kota Makkah.

Diceritakan pula, bahwa Nabi SAW berkata kepada Sahel, “Engkau adalah utusanku kepada penduduk Makkah. Katakanlah kepada mereka bahwa Rasulullah saw mengucapkan salam kepada mereka dan memberikan titah kepada mereka dengan tiga hal; janganlah kalian bersumpah dengan selain Allah, jika kalian sedang buang hajat, janganlah menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya, serta janganlah beristinja’ dengan tulang atau tahi hewan.” (Al-Azraqy: 111/65).

Ibnu Juraij mengatakan bahwa dia mendengar Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Dahulu setiap kali penduduk Makkah bertemu, maka dikatakan kepada mereka, ‘Hai keluarga Allah’, atau yang senada dengan itu.” (Lihat Al-Fakihy: 111/67).

Abdul Muthalib juga berkata, “Kami adalah keluarga Allah. Tinggal di dalam negeri-Nya, yang masih seperti sedia kala pada zaman Ibrahim AS. (Al-Fakihy: 111/68).

Dalam sebuah atsar diceritakan bahwa setiap malam Allah Azza Wa Jalla memandang ke arah penduduk bumi. Orang pertama yang dilihat-Nya adalah penduduk Al-Haram (Tanah Suci Makkah), sedangkan dari mereka yang pertama dilihat-Nya adalah penghuni Masjidil Haram. Barangsiapa yang dilihat-Nya sedang berthawaf, maka Dia akan mengampuninya. Barangsiapa yang dilihat-Nya sedang melakukan shalat, maka Dia akan mengampuninya. Serta barangsiapa yang dilihat-Nya sedang berdiri menghadap Ka’bah, maka Dia akan mengampuninya. (Lihat Ihya’ Ulumiddin: 1/217).

Sumber: Menguak Misteri Tempat-tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi
republika.co.id