'Sekte' Penghapus Utang Klaim Punya 25 Juta Anggota


Fiqhislam.com - Keputusan Otoritas Jasa Keungan (OJK) memberhentikan kegiatan sekte penghapus utang umat manusia atau United Nations Swissindo Trust Internasional Orbit (UN Swissindo) tak memiliki pengaruh.

UN Swissindo terus beroperasi. Bahkan, sekte itu mengklaim pengikutnya makin berkembang pesat. Katanya, jumlah pengikutnya bertambah bertambah banyak.

Juru Bicara UN Swissindo Budi Raja mengklaim pengikutnya ada di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tak hanya Indonesia, sambung Budi, UN Swissindo juga sudah ada di negara-negara lain.

"Relawan kita ada di 34 provinsi, bahkan hingga ke desa-desa. Kurang lebih ada 25 juta relawan," kata Budi saat ditemui detikfinance di markas besar UN Swissindo yang berada di Jalan Bougenvil 3, Blok K 1-4 Nomor 24 Perumahan Griya Caraka, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

Ia mengatakan UN Swissindo terus berkembang. Secara terang-terangan UN Swissindo menolak keputusan OJK. Menurut Budi, Soegiharto Notonegoro yang akrab disapa Sino sebagai pemimpin UN Swissindo terus memperjuangkan kesejahteraan rakyat, salah satunya dengan pembebasan utang.
Bahkan, sambungnya, Sino bisa saja melalukan perlawanan terhadap OJK dengan mengerahkan seluruh pengikutnya yang berjumlah 25 juta orang itu. Namun, menurut Budi, Sino lebih memilih menjaga amanat yang diembannya sebagai pemimpin yang menyejahterakan rakyat.

"Kita tidak bermain ranah politik itu. Yang Mulai (Sino) mengemban amanah. Hari ini (pengikut) semakin bertambah. Bahkan, negara-negara di lima benua meminta ingin didahulukan (kesejahteraannya)," tegasnya. [yy/finance.detik]


'Sekte' Panghapus Utang Punya Tempat Khusus Buat Pengikutnya


'Sekte' Panghapus Utang Punya Tempat Khusus Buat Pengikutnya


Fiqhislam.com - Markas besar 'sekte' penghapus utang atau United Nations Swissindo Trust Internasional Orbit (UN Swissindo) masih membuka pintu untuk pengikut baru.

Saat detikfinance menyambangi markas besarnya yang berada Jalan Bougenvil 3, Blok K 1-4 Nomor 24 Perumahan Griya Caraka, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat beberapa pengikut setianya masih beraktivitas.

Tiga orang pengikutnya saat itu sedang bersantai sembari berbincang di pos penjagaan yang lokasinya hanya berjarak sekitar 20 meter dari markas UN Swissindo.

Tiang bendera yang menjulang tinggi menjadi pembeda antara markas milik UN Swissindo dengan rumah milik warga perumahan Griya Caraka. Selain memiliki markas utama, lembaga yang dipimpin Soegiharto Notonegoro itu memiliki rumah peristirahatan khusus bagi pengikut setianya. Lokasinya tidak jauh dari markas, hanya beda blok. Tepatnya di Blok K 2-4. Masih terpantau oleh pos penjagaan.

Rumah peristirahatan itu digunakan bagi pengikutnya yang ingin menginap. Ada bendera hitam di rumah peristirahatan tersebut. Suasananya terlihat sepi. Pasalnya, kegiatan utama berpusat di markasnya.

Sementara itu, di markas UN Swissindo terlihat belasan orang berkumpul. Beberapa di antaranya berada di dalam rumah, sebagian lagi di pendopo yang berada di halaman rumah.

Menurut Juru Bicara UN Swissindo Budi Raja, kegiatan kumpulan para pengikut itu tidak dijadwalkan secara khusus. Akan tetapi, kedatangan para pengikutnya itu berdasarkan kemauannya sendiri.

"Panggilan untuk kumpul itu atas hati nurani. Kesadaran yang tumbuh sendiri. Kalau saya pribadi, ini panggilan saya sebagai manusia. UN Swissindo bagus untuk kemanusiaan, saya harus berada di dalamnya," kata Budi saat ditemui detikfinance di markas UN Swissindo, Kamis (15/2/2018/). [yy/finance.detik]


'Sekte' Penghapus Utang Tantang Kewenangan OJK


'Sekte' Penghapus Utang Tantang Kewenangan OJK


Fiqhislam.com - United Nations Swissindo Trust Internasional Orbit (UN Swissindo) mengklaim sebagai lembaga yang bisa melunasi utang umat seluruh dunia.

Kendati Otoritas Jasa Keungan (OJK) dan Satgas Waspada Investasi telah menetapkan bahwa sekte tersebut ilegal dan operasinya wajib dihentikan.

Nyatanya UN Swissindo terus mengembangkan sayapnya. Para pengikutnya masih rutin kumpul di markas besarnya yang berada di Jalan Bougenvil 3, Blok K 1-4 Nomor 24 Perumahan Griya Caraka, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

Hari ini Kamis (15/2/2018), detikfinance menyambangi markas besar sekte yang dipimpin pria kelahiran Cilacap, Soegiharto Notonegoro, yang akrab disapa Sino. Sino mengklaim sebagai Presiden Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sino dipanggil dengan sebutan 'Yang Mulia' oleh para pengikutnya.

Rumah milik Sino yang jadikan markas besar itu memiliki gerbang utama warna hitam. Pendopo yang berukuran sekitar 3x4 meter menjadi tempat berkumpul. Sino sedang berada di dalam rumah, di pendopo itu hanya ada beberapa pengikutnya.

Usai dipersilahkan duduk di kursi warna cokelat, pria berjengot dengan berpakaian loreng cokelat menyambut kedatangan detikcfinance. Pria itu berjalan menggunakan alat bantu untuk jalan atau penyangga tubuh.

Namanya Budi Raja selaku Juru Bicara UN Swissindo. Tanpa basa-basi, Budi Raja langsung menanyakan maksud kedatangan detikfinance.

"Ya bagaimana. Yang Mulia (sino) ada di dalam. Dengan saya juga boleh. Mau tanya soal apa," kata Budi dengan wajah tersenyum.

Ya, keputusan OJK dan Satgas Waspada Investasi menjadi perbincangan awal dengan juru bicara sekte itu. Budi menegaskan UN Swissindo tak pernah takut dengan keputusan OJK.

"UN Swissindo itu ibarat sebuah angin. Tidak ada yang bisa menghentikan kecuali Tuhan itu sendiri," kata Budi dengan mata melotot.

Budi menjelaskan teori-teori soal pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia versi sektenya. Hingga mengerucut kepada pembentukan OJK. Menurutnya, tak punya kewenangan untuk memberhentikan UN Swissindo.

"Apa tugas fungsi OJK sudah benar? Kita harus tahu. UN Swissindo itu memiliki 11 program, salah satunya pelunasan utang. Ini bentuk implementasi dari UUD 45 dan Pancasila," tegasnya.

Saat berbincang dengan Budi Raja, belasan pengikut sekte tersebut datang dengan menggunakan mobil. Satu persatu berjabat tangan dengan Budi. Para pengikut pun menyimak obrolan Budi dengan detikfinance.

Budi pun melanjutkan perbincangannya tentang sikap OJK. Budi menegaskan OJK hanya lembaga jasa yang patut dipertanyakan kinerjanya. "Dia hanya jasa, atas dasar apa menghentikan. Sama sekali tak ada," tutur Budi.

Pria berjenggot itu mengatakan UN Swissindo membuka diri berkomunikasi dengan OJK. Bahkan pihaknya siap jika diundang kembali oleh OJK. Menurut Sino, OJK tak memiliki bukti untuk menyatakan bahwa UN Swissindo ilegal.

"Mana buktinya?? Hukumnya apakah sudah ada? Kita siap hadir kalau OJK bikin audiensi dengan kami," tegas Budi. [yy/finance.detik]


Voucher 'Sakti' yang Katanya Bisa Lunasi Semua Utang di Dunia


Voucher 'Sakti' yang Katanya Bisa Lunasi Semua Utang di Dunia


Fiqhislam.com - Lembaga yang mengklaim bisa menghapus utang umat manusia ternyata masih beroperasi meski sudah dilarang oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

United Nations Swissindo Trust Internasional Orbit (UN Swissindo) seolah menjadi 'sekte' yang pengikutnya makin hari makin bertambah. Para anggotanya ini ingin dibebaskan dari utang yang dulu pernah dipinjamnya.

UN Swissindo dipimpin oleh pria kelahiran Cilacap, Soegiharto Notonegoro, yang akrab disapa Sino. Sino mengklaim sebagai Presiden Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

UN Swissindo selama ini telah beroperasi di beberapa daerah dan mengaku sebagai lembaga dunia yang bisa mengeluarkan surat pelunasan utang masyarakat kepada lembaga jasa keuangan.

Caranya dengan memberikan voucher kepada masyarakat untuk mengambil uang sebesar US$ 1.200 atau Rp 15,6 juta di salah satu bank. Voucher dan surat lunas ini bisa didapat dengan hanya menyetor Rp 300-600 ribu.

Selain itu, masih ada juga biaya lain yang dihitung secara persentase total utang yang akan dilunasi. Ditambah juga biaya administrasi.

Untuk surat lunas masyarakat diminta antara Rp 300-600 ribu. Tapi masih ditambah kewajiban membayar sebesar persentase tertentu dari jumlah utang. Untuk voucher bervariasi antara Rp 5.000 dan Rp 10 ribu. [yy/finance.detik]