Fiqhislam.com - Harga diri rendah atau biasa disebut dengan minder merupakan sebuah gangguan psikologis.

PSIKOLOGI: Harga Diri Rendah (Minder) dan Faktor PenyebabnyaBiasanya orang yang mengalami harga diri rendah cenderung menjadi pemalu, menarik diri dalam kehidupan sosial dan lebih suka menyendiri daripada menujukkan diri dalam khalayak ramai.

Dalam memandang diri sendiri adalah sebuah proses penilaian yang kadang bersifat subjektif, bahkan terkadang irasional. Proses memandang dan menilai diri sendiri dipengaruhi oleh keadaan fisik (seperti kecacatan, kecantikan, ketampanan, dan lain-lain) dan psikologis (seperti tekanan dan pengalaman masa lalu, hasil pembelajaran dan lain-lain) serta sosial (keberfungsian secara sosial). Dalam memandang diri sendiri, ada dua istilah yang tidak bisa dipisahkan yaitu harga diri (self esteem) dan konsep diri (self consept).

Harga diri (self esteem) adalah penilaian orang lain terhadap diri sendiri. Penilaian ini bisa bersifat positif maupun negatif.Sedangkan Konsep diri (self concept) di definisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang diriya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sunden, 1995). Jadi konsep diri adalah penilaian yang berasal dari dalam diri sendiri. Untuk lebih jelasnya, apakah anda memiliki harga diri yang tinggi atau rendah, silahkan baca disini.

Seseorang dengan harga diri rendah, akan membatasi gerak pergaulannya, kurang aktif dan kurang percaya diri dalam berkomunikasi, dan lebih jauh lagi, tidak dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Rentang penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dapat dilihat dalam ilustrasi dibawah ini:

Penyebab seseorang mengalami harga diri rendah, banyak faktor yang melatarbelakanginya. Faktor-faktor itu antara lain:

Pola Asuh Keluarga

Pola asuh sangat mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Pola asuh yang otoriter, terkadang mengalami masalah yang maladaptif dalam menilai diri. sebaliknya, pola asuh yang permisif, terkadang kurang control, sehingga tidak bisa membedakan mana perilaku yang bisa diterima oleh masyarakat dan mana yang tidak.

Tekanan/Trauma

Trauma disini bisa disebabkan oleh banyak faktor seperti kekerasan fisik dan seksual, dan kejadian lain yang mengancam individu sehingga individu tidak bisa lepas dari bayang-bayang ancaman tersebut. Sudah tentu trauma disini bersifat patologis.

Keadaan Fisik

Keadaan fisik juga mempengaruhi harga diri seseorang. Dengan keadaan fisik yang kurang/cacat membuat individu merasa kurang sempurna, dan akan diejek oleh orang lain karena kekurangan tersebut. Hal ini yang kadang membuat seseorang minder dan tidak menerima keadaannya dengan menarik diri untuk menyembunyikan kekurangan tersebut.

Ketidakberfungsian Secara Sosial

Ketidakberfungsian secara sosial disini adalah tidak mampunya seorang individu menempatkan dirinya dalam fungsi sosial. Misalnya seorang kepala rumah tangga yang menganggur, akan merasa rendah diri dalam kehidupan sosialnya. Seorang sarjana yang menganggur, akan merasa rendah diri dan akan menarik diri dari pergaulan sosialnya, karena merasa malu dengan statusnya (karena tidak berfungsi secara sosial). (psychologymania.com)

 

Cara Mengukur Harga Diri: Apakah Anda Mempunyai Harga Diri yang Rendah?

Harga diri (self esteem) adalah penilaian orang lain terhadap diri sendiri. Penilaian ini bisa bersifat positif maupun negatif. Jika orang menilai positif terhadap dirinya, maka ia akan percaya diri dalam mengerjakan hal-hal yang ia kerjakan dan memperoleh hasil yang positif pula. Sebaliknya, orang yang menilai negatif terhadap dirinya, hasil yang didapatkan pun tidak menggembirakan. Penilaian atau evaluasi orang lain baik positif maupun negatif terhadap diri inilah yang disebut dengan harga diri (self esteem).

Setiap orang menginginkan harga diri yang positif. Mengapa demikian? Menurut Vaughan dkk (2002), ini dikarenakan oleh:

Sebenarnya harga diri (self esteem) bisa diukur sama dengan konstrak psikologi lainnya. Cara mengukurnya bisa secara eksplisit (dilakukan dengan meminta orang untuk memberikan rating; mulai dari sangat sesuai hingga sangat tidak sesuai, terhadap sejumlah pernyataan tentang diri). Pengukuran harga diri (self esteem) juga bisa secara implicit (dilakukan dengan mengukur kecepatan reaksi orang terhadap sejumlah stimulus yang diasosiasikan dengan diri subjek).

Salah satu alat ukur yang sering digunakan untuk mengukur harga diri (self esteem) secara eksplisit adalah skala Rosenberg (Baron dkk, 2006). Skala Rosenberg terdiri dari 10 item pernyataan tentang diri. Skala Rosenberg itu adalah sebagai berikut (terjemahan kedalam bahasa Indonesia):

  1. Saya merasa sebagai orang yang berguna, paling tidak sama seperti orang lain.
  2. Saya merasa memiliki sejumlah kualitas yang baik.
  3. Secara umum, saya cenderung merasa sebagai orang yang gagal.
  4. Saya mampu melakukan hal-hal sebaik yang kebanyakan orang lakukan.
  5. Saya merasa tidak memiliki banyak hal yang dibanggakan.
  6. Saya memiliki sikap positif terhadap diri sendiri.
  7. Secara umum, saya puas dengan diri saya.
  8. Saya berharap saya lebih menghargai diri saya sendiri.
  9. Saya sering kali merasa tidak berguna.
  10. Saya sering kali berpikir saya sama sekali bukan orang yang baik.

Skala diatas adalah skala untuk mengukur harga diri (self esteem). Jika pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan diri, beri angka 1. Jika tidak sesuai dengan diri, beri angka 2. Jika agak sesuai dengan diri, beri angka 3. Jika sesuai dengan diri, beri angka 4. Jika sangat sesuai dengan diri, beri angka 5.

Tetapi perlu diingat bahwa, skala diatas mempunyai pernyataan yang favorable dan unfavorable. Jika anda mendapatkan nilai yang tinggi, berarti anda memunyai harga diri yang tinggi. Jika hasil skor skala rendah, berarti anda mempunyai harga diri yang rendah. Silahkan mencoba, mengukur harga diri anda sendiri…!!!

psychologymania.com