Putin: Serangan Sekutu Langgar Piagam PBB


Fiqhislam.com - Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (14/4). Keduanya membahas perihal eskalasi dan serangan sekutu ke Suriah.

Pada kesempatan tersebut, Putin menyampaikan kepada Erdogan bahwa serangan sekutu ke Suriah merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB. "Presiden Rusia (Putin) menggarisbawahi bahwa langkah (serangan) negara-negara Barat melanggar secara kasar Piagam PBB dan norma-norma serta prinsip-prinsip dasar hukum internasional," kata Kremlin dalam pernyataan persnya, dilaporkan laman kantor berita Rusia TASS.

Kendati Erdogan memberi dukungan terhadap tindakan sekutu, namun kedua presiden menekankan tentang pentingnya segera menemukan solusi politik guna menyelesaikan krisis Suriah. Upaya-upaya untuk mencapai hal ini, menurut Erdogan, perlu ditingkatkan.

Pada Sabtu (14/4), Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis melancarkan serangan udara ke kota Homs dan Damaskus, Suriah. Ketiga negara mengklaim serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas penggunaan senjata kimia oleh Pemerintah Suriah di Douma, Ghouta, pekan lalu.

Adapun target dari serangan udara ketiga negara adalah fasilitas-fasilitas militer yang diduga menjadi pusat pengembangan senjata kimia Suriah. Dalam sebuah cicitan melalui akun Twitternya Presiden AS Donald Trump mengklaim serangan yang dilancarkan ke Suriah sukses.

"Serangan yang dilakukan dengan sempurna tadi malam. Terima kasih kepada Prancis dan Kerajaan Inggris atas kebijaksanaan dan kekuatan militer mereka yang baik. Tidak bisa mendapatkan hasil yang lebib baik. Misi selesai!," kata Trump.

Kendati demikian, Pemerintah Suriah mengecam serangan yang dilakukan sekutu. Mereka menuding serangan tersebut tak lain merupakan bentuk balas dendam atas kekalahan proksi teroris mereka di Ghouta. [yy/republika]


Suriah: Serangan Sekutu Balasan Atas Kekalahan Teroris


Suriah: Serangan Sekutu Balasan Atas Kekalahan Teroris


Fiqhislam.com - Perwakilan Permanen Suriah untuk PBB Bashar al-Jaafari mengatakan serangan yang dilancarkan sekutu, yakni Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis ke Suriah merupakan balasan atas kekalahan proksi teroris mereka di Ghouta. Menurutnya, ketiga negara tersebut mengontrol proksi teroris yang saat ini masih bertahan di Ghouta.

Al-Jaafari mengungkapkan, AS, Inggris, dan Prancis, telah mengatur panggung guna membenarkan agresinya ke Suriah. Dalih yang dimanfaatkan ketiga negara untuk melancarkan serangan adalah perihal penggunaan dan kepemilikan senjata kimia oleh pemerintah Suriah.

"Mereka menginstruksikan kelompok teroris untuk melakukan skenario palsu menggunakan bahan kimia di Douma, mempekerjakan saksi palsu, dan memanipulasi dugaan guna membangun alasan melakukan agresi yang terang-terangan ini, yang hanya dapat ditafsirkan sebagai balas dendam AS, Inggris, dan Prancis atas kekalahan proksi teroris mereka di Ghouta," ujar al-Jaafaridalam sesi di Dewan Keamanan PBB yang digelar pada Sabtu (14/4), dikutip laman Syrian Arab News Agency.

Ia mengatakan, AS, Inggris, dan Prancis seharusnya membaca Piagam PBB dan menyadari tanggung jawabnya, yakni melindungi perdamaian serta keamanan internasional, bukan justru melakukan hal sebaliknya. Oleh sebab itu, al-Jaafari menilai, ketiga negara tersebut harus segera menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok teroris bersenjata di Suriah. Ia juga meminta ketiga negara berhenti mencari pembenaran untuk melakukan serangan atau agresi ke Suriah.

"Setelah tujuh tahun perang teroris yang terjadi di Suriah yang dilancarkan oleh pemerintah negara-negara ini dan pion mereka di wilayah tersebut, rudal dan kapal perang serta pesawat tempur mereka tidak akan menghalangi atau mematahkan tekad kami untuk melenyapkan terorisme mereka," kata al-Jaafari.

"Kami mengulangi untuk keseribu kalinya, kami tidak akan membiarkan campur tangan asing atau siapa pun untuk menentukan masa depan kami. Kemarin saya berjanji kepada Anda bahwa kami tidak akan duduk di tangan kami jika ada agresi, dan negara Suriah memenuhi janji itu," ujar al-Jaafari menambahkan.

Pada Sabtu (14/4), AS, Inggris, dan Prancis melancarkan serangan udara ke kota Homs dan Damaskus, Suriah. Ketiga negara mengklaim serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah di Douma, Ghouta, pekan lalu.

Adapun target dari serangan udara ketiga negara adalah fasilitas-fasilitas militer yang menimbun bahan-bahan kimia. Namun sebuah fasilitas penelitian ilmiah di daerah Barzeh, Damaskus, turut hancur akibat serangan tersebut. [yy/republika]