Fiqhislam.com - Langkah baru ditempuh Rasulullah Saw dalam menyebarkan risalah Islam dan meraih dukungan masyarakat. Menjelang musim haji, Rasulullah mendatangi sejumlah kabilah, menawarkan Islam  dan menyeru mereka agar masuk Islam

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun kesepuluh nubuwah, tepatnya pada akhir Juni atau awal Juli 619 M. Rasulullah kembali ke Makkah, memulai langkah baru menawarkan Islam kepada berbagai kabilah dan individu. Beliau pun memanfaatkan momentum haji untuk melaksanakan misi mulia ini.

Menurut Az Zuhri, kabilah-kabilah yang didatangi Rasulullah antara lain Bani Amir bin Sha’sha’ah, Muharib bin Khashafah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifa, Sulaim, Abs, Bani Nash, Bani Al Bakka’, Kindah, Kalb, Al Harits bin Ka’b, Udzrah dan Hadframi. Hasilnya, tak seorangpun di antara mereka yang memenuhi seruan Rasulullah Saw. Meskipun sebenarnya, kabilah-kabilah yang disebutkan Az Zuhri itu ditawari Islam tidak dalam satu musim haji.

Bagaimana sambutan para pemuka kabilah-kabilah itu ketika menerima dakwah Rasulullah?. Di dalam kitab Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid I disebutkan Ibnu Ishaq menceritakan kepada kita salah satu peristiwa yang terjadi taktala Rasulullah menawarkan Islam kepada Bani Amir bin Sha’sha’ah. Beliau mendatangi Bani Amir dan menyeru mereka kepada Allah. Salah seorang pemuka Bani Amir, Baiharah bin Firus , berkata “Demi Allah, andaikata aku boleh menculik pemuda ini, tentu orang-orang arab akan melahapnya.” Kemudian dia melanjutkan, “Apa pendapatmu jika kami berbaiat kepadamu untuk mendukung agamamu, kemudian Allah memenangkan dirimu dalam menghadapi orang-orang yang menentangmu, apakah kami masih bisa  mempunyai kedudukan sepeninggalmu?”.

Atas pertanyaan itu, Rasulullah kemudian menjawab, ”Kedudukan itu hanya pada Allah. Dia meletakkannya menurut kehendak-Nya.” Baiharah kemudian berkata, ”Apakah kami harus menyerahkan batang leher kami kepada orang-orang Arab sepeningalmu?. Kalaupun Allah memenangkanmu, toh kedudukan itu juga akan jatuh kepada selain kami. Jadi kami tidak membutuhkan agamamu.”

Mereka semua menolak seruan Rasulullah. Bani Amir pun pulang kembali ke daerahnya. Kemudian mereka bercerita tentang peristiwa pertemuan dengan Rasulullah itu kepada seorang tetua di antara mereka yang berhalangan haji karena usianya telah lanjut. “Ada seorang pemuda Qurays dari Bani Abdul Muththalib menemui kami, yang mengaku sebagai nabi. Dia mengajak kami agar kami mau melindunginya, berdiri bersamanya dan pergi ke negeri kami bersamanya.”

Orang tua itu kemudian meletakkan kedua tangannya di atas kepala, lalu berkata, ”Wahai Bani Amir, adakah sesuatu milik Bani Amir yang tertinggal?. Adakah seseorang yang mencari barangnya yang hilang? Demi diri fulan yang ada di tangan-Nya, itu hanya dikatakan keturunan Isma’il. Itu adalah suatu kebenaran. Mana pendapat yang dahulu pernah kalian kemukakan?”

Ibnu Ishaq berkata,”Itulah yang dilakukan Rasulullah Saw. Jika manusia berkumpul untuk melakukan ibadah haji, beliau mendatangi mereka. Beliau ajak kabilah-kabilah kepada agama Allah. Beliau menawarkan diri beliau kepada mereka petunjuk dan rahmat yang beliau bawa dari Allah. Jika Rasulullah Saw mendengar kedatangan orang-orang Arab yang terhormat ke Makkah, beliau segera menemui mereka, mengajak kepada agama Allah dan menawarkan apa yang beliau miliki kepada mereka”.

Pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa ini, khususnya yang terjadi pada Bani Amir bin Sha’sha’ah, adalah bahwa Rasulullah ternyata tidak menginginkan adanya pertolongan dari kabilah-kabilah yang bersifat pamrih dengan mengharapkan diperolehnya kedudukan/kekuasaan pada mereka. Rasulullah hanya mencari kabilah yang benar-benar mau menerima Islam dan berjuang untuk kemulyaan Islam dengan segala pengorbanan untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt semata, bukan karena kedudukan. Dan harapan Rasulullah itu kelak benar-benar terjadi ketika sejumlah orang dari Madinah, Kabilah Aus dan Khazraj, menemui beliau, menerima Islam dan berbaiat untuk membela Rasulullah dan Islam.

Shodiq Ramadhan | suara-islam.com