Tuntutlah Ilmu di Setiap Nafas

Tuntutlah Ilmu di Setiap NafasMenuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

Negara tercinta ini tak henti hentinya didera oleh ujian dan musibah. Bahkan di zaman yang katanya telah maju dimana pendidikan seharusnya bukan lagi menjadi hal yang mahal buat seluruh masyarakat, pada kenyataannya sekolah masih merupakan angan angan kosong dalam hidup sebagian anak. Seharusnya mulai pagi semua anak telah pergi ke sekolah buat belajar, ternyata masih banyak anak anak yang justru mulai pagi hari telah mengisi jalanan diperempatan lampu merah,dipasar atau  diantara keramaian menadahkan tangan atau kaleng kosong buat meminta sedekah dari orang orang yang lalu lalang atau kebetulan berhenti ditempat mereka biasa mangkal. Padahal kita sama sama tahu bahwa pekerjaan meminta minta itu bukanlah hal yang baik dilakukan oleh manusia yang sehat dan berakal yang diberi kemampuan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk memanfaatkan kemampuan dirinya semaksimal mungkin dan juga mengamalkannya buat masyarakat lainnya.

Hakim bin Hizam r.a. berkata, "Saya pernah meminta kepada Rasulullah lalu beliau memberiku. Kemudian saya meminta lagi kepada beliau, lalu beliau memberiku. Setelah itu saya meminta lagi kepada beliau, lalu beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda, 'Hai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau (indah dan menarik) dan manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan jiwa dermawan (dalam satu riwayat dengan jiwa yang bersih 7/176), maka ia diberkahi. Barangsiapa yang mengambilnya dengan jiwa yang rakus, maka ia tidak diberkahi. Ia seperti orang makan tetapi tidak pernah kenyang. Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (peminta).' Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutus engkau dengan haq (benar), saya tidak akan mengambil sedikit pun dari orang lain setelah engkau hingga aku meninggal dunia.'" Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk diberi suatu pemberian. Namun, ia menolak untuk menerima pemberian itu. Kemudian Umar memanggilnya untuk diberinya. Namun, ia enggan untuk menerimanya barang sedikit pun. Lalu, Umar berkata, "Sesungguhnya saya mempersaksikan kepada kalian wahai kaum muslimin atas Hakim, bahwa saya menawarkan haknya (yang merupakan pembagian dari Allah untuknya) dari fai' (rampasan perang tanpa terjadi kontak senjata) ini. Namun, ia enggan mengambilnya." Hakim tidak mengambilnya (sesuatu) dari seseorang setelah Rasulullah sampai ia meninggal dunia (mudah-mudahan Allah merahmatinya).

Dalam kenyataannya, kita bisa mengatakan bahwa begitu banyak anak anak yang rela berhujan berpanas dijalanan untuk mendapatkan rizki dengan meinta minta, mengharapkan belas kasihan orang banyak yang lalu lalang, yang seharusnya belum menjadi kewajiban mereka buat menafkahi diri sendiri. Karena kewajiban mereka adalah bersekolah yang merupakan hak mereka yang harus dipenuhi oleh kedua orang tua yang telah diberikan amanah oleh Allah subhanahu wata’ala buat memelihara,membesarkan, dan mendidik anak anak mereka lilahi ta’ala dijalan yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya.

Seorang datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, " Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?" Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu)." (HR. Aththusi)

Menyekolahkan anak yang merupakan kewajiban orang tua dalam upaya mendidik anak tersebut, merupakan hak anak untuk belajar dan memperoleh ilmu pengetahuan sebagaimana seharusnya agar kelak dapat dipergunakan oleh anak tersebut demi kebaikan dirinya dan demi kemaslahatan orang banyak. Dan dalam memberikan pendidikan yang baik buat anak, masing masing orang tua akan berusaha untuk menyekolahkan anaknya tersebut disekolah sekolah terbaik yang terjamin menurut pemikiran dan kemampuan masing masing orang tua. Walau sebenarnya tujuan menuntut ilmu itu bukanlah karena hal hal duniawi seperti gengsi atau pamer kemampuan, namun haruslah karena Allah subhanahu wata’ala semata.

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Belajar yang telah dimulai anak sejak dia balita hingga dewasa dan bersekolah sampai keperguruan tinggi, merupakan hal penting demi kehidupan masing masing individu, agar dia bisa menafkahi diri dan keluarganya, serta tidak mudah dibodohi oleh orang lain dan juga agar dia bisa memanfaatkan ilmunya dengan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lainnya sesuai dengan cara cara yang syar’i. Kebaikan lainnya yang didapat seseorang yang berilmu pengetahuan adalah Alalh subhanahu wata’ala meninggikan derajatnya dibandingkan manusia lain yang tidak berilmu pengetahuan.

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS Al-Mujaadilah 58 : 11]

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')

Meskipun ilmu pengetahuan itu sangatlah penting, namun lebih utama jika ilmu pengetahuan yang dimiliki itu didampingi oleh keimanan hamba hamba yang memilikinya agar tidak terjadi penyalahgunaan ilmu pengetahuan tersebut untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh Alalh subhanahu wata’ala dalam KalamullahNya Al Qur’an dan Sunnah yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya Al Qur’an itu merupakan sumber ilmu pengetahuan, dimana didalamnya terdapat banyak pengajaran yang bisa dimanfaatkan oleh orang orang yang berfikir dan berilmu pengetahuan demi kepentingan dunia dan akhirat.

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami[546]; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Al A’raaf 7 : 52)

[546]. Maksudnya: atas dasar pengetahuan Kami tentang apa yang menjadi kemashlahatan bagi hamba-hamba Kami di dunia dan akhirat. 

Orang orang yang memiliki ilmu pengetahuan haruslah lebih banyak melakukan pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, karena ilmu pengetahuan yang mereka miliki dapat dengan mudah menggelincirkan mereka kejalan yang bathil, andai didalam dada mereka tidak diisi oleh keimanan kepada yang Haq. Karena ketika seorang hamba hanya menginginkan pengetahuan masalah dunia saja tanpa mempelajari pengetahuan mengenai akhirat, maka ketimpanganlah yang akan didapatnya.

"Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ilmu pengetahuan didunia ini sangatlah banyak dan luas buat dimiliki oleh seorang hamba yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala kemampuan yang sangat terbatas, sehingga masing masing hamba hanya  memiliki pengetahuan yang sangat sedikit sekali. Tiada seorang manusiapun yang menguasai semua ilmu pengetahuan yang ada didunia ini yang sesungguhnya memiliki cabang cabang ilmu yang sangat banyak. Bahkan bangsa Yahudi yang diberikan oleh Allah kemampuan otak diatas kemampuan berfikir manusia pada umumnyapun, sebenarnya tidaklah memiliki seluruh pengetahuan yang meliputi jagad raya ini.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS Al Israa’ 17 : 85)

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang dapat memberi manfaat dan berguna untuk kita manfaatkan dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim tidak dikategorikan sebagai terbelakang dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala. Demikian pula Islam mewajibkan kita untuk menuntut ilmu-ilmu deenul Islam agar menghasilkan natijah yang sempurna, sehingga amalan yang dilakukan sesuai dan selaras dengan perintah-perintah syara’.

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar 39 : 9)

Tujuan menuntut ilmu bagi seorang hamba selain untuk kepentingan pribadi juga untuk membina kekuatan ummat Islam dan mencari kemaslahatan masyarakat manusia. Membina kekuatan umat merupakan salah satu tanggungjawab para penuntut ilmu karena merekalah yang Insya Allah bakal  memimpin di masa depan. Karena itu kemaslahatan ummat banyak bergantung kepada pemimpin dan cara memimpinnya. Dimana para ilmuan Islam juga memiliki tugas untuk menegakkan yang ma’ruf yaitu mengajak manusia menegakkan dan mendaulatkan ajaran Allah subhanahu wata’ala dan mencegah kemungkaran yaitu melarang manusia dari melakukan seluruh larangan Allah subhanahu wata’ala mulai dari hal hal yang kecil sehingga ke hal hal yang besar.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.(HR. Muslim)

Karena itulah, selagi masih muda, dan masih memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan ketika usia tua mulai menggerogoti otak manusia sehingga kemampuan berfikir dan kemampuan lainnya mulai menurun, maka janganlah dibuang buang waktu dengan hal yang sia sia, karena tiada suatu kemampuanpun yang dapat mengembalikan waktu agar bisa memberikan pengulangan kesempatan buat siapapun didunia ini.

Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata," Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap." (Arti dari Hadts No 79 - Kitab Fathu Bari) 

Semoga kita tidak termasuk golongan orang orang yang merugi dan fakir dunia akhirat ... Amien Ya Rabb ... 

Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Rabbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama. (HR. Tirmidzi dan Ahmad) 

Wallahu a'lam bishshawab ...

ruangmuslim.com