Melacak Jejak Daquqa: Kota Dinasti AnnazidFiqhislam.com - Irak memiliki sederet kota bersejarah. Selain Baghdad, Kufah, dan Basrah yang sudah masyhur, di negara itu juga terdapat sebuah kota yang juga amat penting dalam sejarah peradaban islam. Kota itu bernama Daquqa. Nama wilayah itu tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Nasa’i.

‘’Daquqa juga tercantum dalam kitab al-Futuh,’’ ujar Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith Al-Nabawi.  Kota itu terletak  di antara Irbil dan Baghdad. Menurut Syauqi, di kota itu sempat terjadi peperangan yang melibatkan kelompok Khawarij.

Kota Daquda juga biasa disebut Daquq, Dakuk, Daqooq, Tavuk, atau Tawuq. Kini, kota itu menjadi bagian dari provinsi Kirkuk  – sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara Irak. Luas Kirkuk lebih dari 9,6 kilometer persegi. Pada 2009, total populasinya mencapai 902 ribu orang.

Provinsi Kirkuk terbagi menjadi empat distrik, yaitu Kirkuk sebagai ibu kotanya, Daquqa, dan al-Hawiga. Penduduknya multietnis, ada bangsa Turki, Arab, Kurdi, dan lain-lain. Mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam bermazhab Sunni.  Sebagian lainnya menganut Islam bermazhab Syiah, Kristen, dan agama lain.

Daquqa adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah selatan kota Kirkuk. Kota bersejarah itu merupakan perkampungan tertua orang-orang Turki di Irak. Lebih dari 70 persen masyarakat di wilayah itu bermazhab Sunni, sedangkan 24 persen populasinya bermazhab Syiah.

Kota itu sempat dikuasai oleh Dinasti Annazid (990-1117 M) di era kepemimpinan Abdul Fatah Mohammad bin Annaz. Dinasti itu mengambil alih kota Daquqa dari kekuasaan Bani Uqayl pada 997 M. Selain menguasai Daquq,  dinasti yang didirikan  Bani Annaz ini juga menguasai daerah di perbatasan Iran dan Irak termasuk Kermansya, Ilam, Hulwan, Dinawar, yang semuanya terletak di bagian barat Iran.

Dinasti yang berasal bangsa Kurdi itu juga menguasai bagian tenggara Irak yang meliputi Sharazour, Daquqa, Daskara, Bandanijin, dan Namaniya. Berdasarkan sejarah bangsa Kurdi, dinasti ini disebut Ayyar, bukan Annaz. Dinasti itu juga dikenal pula dengan nama Ayyarid.

Di akhir abad ke-14 M,  Daquqa menjadi kekuatan administratif dan ekonomi provinsi Kirkuk. Kota ini terkenal sebagai sentra atau produsen teh. Selain itu, Daduqa juga masyhur karena bangunan masjidnya. Sungai yang mengalir di kota itu bermuara ke Sungai Tigris.

Dinasti Annazid yang menguasai Daquqa merupakan sebuah kekairsaran yang terletak di perbatasan antara Irak dan Iran. Kerajaan itu merupakan perwujudan periode ‘antara Arab dan Turki‘. Kehidupan masyarakat dinasti ini tergolong semi-normadik.

Mereka hidup di dalam tenda-tenda, namun mendirikan benteng sebagai pelindung. Karakteristik bangsa Annaz adalah fleksibilitas. Bisa jadi hari ini berkembang dan kemudia menyusut. Eksistensi beberapa rival keluarga Annaz berkontribusi lebih atas ketidakjelasan teritori mereka.

Abu Fatah Muhammad bin Annaz adalah pendiri dinasti yang berpusat di Hulwan ini. Ia memerintah Dinasti Annazid selama 20 tahun dan menaklukkan pemerintahan Baha al-Daula. Ia menaklukkan Daquq pada tahun 997 M dari bangsa Uqayl. Pada 1002 M, ia bergabung dengan panglima Hajjad bin Hurmuz untuk menaklukkan Bani Mazyad.

Ia juga menaklukkan Raja Khanaqin, Zahman bin Hendi. Abu Fatah juga sempat terlibat dalam pertempuran sengit melawan Hasanwayhid dari bangsa Kurdi, yang masih sedarah dengannya.  Hasanwayhid mengerahkan 10 ribu bala tentaranya,  sehingga Abu Fatah pun mengaku kalah.

Setelah Abu Fatah meninggal, kepemimpinan Dinasti Annazid dilanjutkan oleh putranya, Husam al-Din Abu Shawk. Selama 36 tahun kepemimpinannya, keadaan dinasti diwarnai konflik eksternal, terlebih lagi saudaranya Muhalhil bin Muhammad mendirikan otonomi sendiri di Syahrazur.

Ditangan Husam dinasti ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Kekuasaannya meliputi Hilla dan hingga wilayah bagian barat Iran. Ia meresmikan kekasaannya dengan menyerang perdana menteri Dinasti Buwaih, Fakhr al-Mulk. Tetapi,  ia terpaksa mundur ke Hulwan hingga rekonsiliasi tercapai.

Pada 1029, ia merencanakan penaklukan Syam al-Daula dan menghentikan Dinasti Seljuk setelah menguasai Hamadan dan menyerang Dinawar serta Asadabad. Pada tahun itu pula Husam merebut Daquq. Pad 1038,  ia menaklukkan Kermansyah. Anaknya, Abu Fatah Abu Shawk mencoba merebut teritori yang dikuasai Muhalil.

Akan tetapi,  ia dikalahkan dan ditangkap. Muhalil memperoleh bantuan dari Raja Hamadan Ala Daula bin Kakuya. Mereka merebut kembali Dinawar dan Kermansyah. Hubungan antara Muhalil dan Abu Shawk membaik setelah intervensi Jalal al-Daula. Namun Muhalil menolak melepaskan Abu Fatah bin Shawk,  sehingga suhu politik dan ketegangan kembali meninggkat di wilayah itu.

Pada 1945,  Sultan Seljuk, Toghrul Beg, berusaha merebut wilayah Annazid. Selama perang, gubernur Kurdi Hamadan melarikan diri dan Abu Shawk mundur dari Dinawar ke Kermansyah dan kemudian ke benteng Sirwan. Ia menghabiskan menghembuskan napas terakhirnya di Sirwan. Setelah itu, Dinasti Annazid dikuasai oleh Muhalil.

Perselisihan antara pegawai pemerintah Annazid dan pemerintahan Muhalil terus berlanjut, terutama ketika Said bin Abu Shawk memihak kepada Yenal -- saudara tiri Toghrul Beg. Yenal merebut Hulwan pada 1046 atas nama Hasanwayhid.

Setelah empat  tahun merajut rekonsiliasi antara Annazid dan Seljuk, Muhalil akhirnya bertemu dengan Toghrul Beg pada 1050. Muhalil mengklaim bahwa Sirwan, Daquqa, Sharazur dan Samagan adalah wilayah kekuasaannya.

Daquqa adalah kota yang kaya kandungan minyak bumi. Sehingga,  provinsi Kirkuk – induk dari kota Daquqa – diberi julukan At-Ta’mim yang berarti ‘nasionalisasi’. Julukan itu mengacu pada kepemilikan Irak  terhadap cadangan minyak bumi dan gas alam.

Sumur minyak pertama di Kirkuk ditemukan di Baba Gurgur, sebuah wilayah  tak jauh dari Kirkuk pada 1927. Tak lama kemudian, sumur minyak lainnya ditemukan di Darquqa. Jumlahnya mencapai 50 sumur minyak. Ladang minyak itu kemudian diolah oleh Perusahaan Minyak Bumi Irak pada tahun 1934.

Cadangan minyak di Kirkuk, khususnya Daquqa,  sungguh luar biasa. Setelah 70 tahun dieksplorasi, ladang minyak di Kirkuk masih mampu memproduksi, hampir setengah dari total ekspor minyak Irak.

Selama kekuasaan Saddam Husein, ladang minyak di Kirkuk mulai rusak. Antara April 2003 hingga Desember 2004 tercatat  ada 123 serangan terhadap infrastruktur energi Irak. Sekitar 7.000 kilometer sistem pipa minyak juga rusak. Irak harus memperbaiki infrastruktur tersebut dengan biaya yang tidak sedikit.

Terlepas dari pengrusakan pipa minyak, banyak juga yang mencuri dan menyabotase pipa tersebut setelah Perang Teluk berakhir. Jaringan pipa dari Kirkuk melalui Turki ke Ceyhan di Laut Mediterania merupakan satu dari dua rute utama untuk ekspor minyak Irak di bawah Program Minyak untuk Makanan setelah Perang Teluk berakhir.

Sesuai dengan mandat PBB, minyak yang melalui Turki sedikitnya harus 50 persen dari total ekspor. Terdapat dua jaringan pipa paralel dibangun pada tahun 1977 dan 1987.

Pada Maret 2003,  tentara Amerika dan Inggris menginvasi Irak untuk menggulingkan kekuasaan Saddam Husain. Sebuah pemerintahan sementara dibentuk hingga pemerintahan yang baru dapat dipilih secara demokratis. Sejak April 2003 bangsa Kurdi dan beberapa bangsa Arab kembali ke Kirkuk untuk mengambil kembali tanah mereka yang diduduki bangsa Arab yang berasal dari Irak tengah dan selatan

republika.co.id